30/10/17

Hello, Blogspot :)

Hello, Blogspot.
It's been a while.

Sudah lama sekali aku tidak menulis disini.
Hari ini, aku kembali.
Banyak sekali yang sudah berubah sejak terakhir kali aku menulis disini. I have been changing so much. It's overwhelming sometimes lol.

Menurutku ada 2 perubahan mayor yang terjadi.


  • I am married now! 
Well yeah, do you believe it? From girlfriend to wife. From "i don't even think with whom i end up with" to "it's for my husband". Kadang aku juga enggak percaya 😂 i might be the chillest bride-to-be ever back then, but believe me, i am not that easy-going when it comes to my role as a wife.  Haha sudah deh, masih suka malu kalau cerita tentang kehidupan pernikahan. Might be better to keep my stories private.


  • I move to another town and change job
Kenapa? It's for my husband 😂 meski telah kuniatkan untuk mengikuti suami, namun terkadang aku masih merindukan kehidupan lamaku. Cukup sering memimpikan kehidupanku yang dulu, dalam tidur maupun sadar (alias daydreaming). Bukan kehidupan sebelum menikah sih yang kumimpikan. Namun kehidupan setelah menikah di kota itu. Di rumah itu. Di kantor itu. Bersama teman-temanku yang itu. Aaah mungkinkah ini hanyalah aku yang belum move on dari Bandung sebagaimana aku dulu yang belum move on dari Yogyakarta. Semoga begitu, dan semoga aku bisa segera betah dengan apapun yang kumiliki sekarang.

Demikian perubahan mayor yang terjadi pada kehidupanku. Mungkin dengan lebih banyak waktu yang kumiliki sekarang, aku bisa menulis lebih banyak lagi.

Bye blogspot, thanks for listening 😊

*maaf jika tata letak tulisan berantakan dan kalimat berbahasa Inggris tidak dicetak miring, karena aku membuat entri ini memakai ponsel 😀

02/07/16

Bernadette: I’ll help Raj in here. Why don’t you go keep my dad company?

Howard: He doesn’t want me in there. I’m the creepy little guy who ******* with his daughter.

Bernadette: Don’t be silly, he loves you.

Howard: Does he?

Bernadette: Okay, he cares about you a lot.

Howard: Really?

Bernadette: I do crap for you all the time. Get out there.

28/02/16

Live in The Moment

Stop and smell the flowers. Give the sincerest smile. Forget everything and really really concentrate to one particular task. Watch the sky turns orange..

:)

24/10/15

Bersama Setiap Kesulitan ada Kemudahan

Berada di tepian jurang di atas samudera, aku berpegangan erat pada akar belukar yang berjuntai di tebing sebelahku. Akar-akar itu tipis. Namun ternyata cukup kuat. Demi mencegah diri agar tidak jatuh dalam gulungan ombak, kucengkeram mereka kuat-kuat, sambil terus melangkah perlahan. One step at a time, one step at a time..aku terus melangkah.

Aku yakin, ada yang menungguku. Aku yakin, beberapa jiwa tergantung pada tekadku untuk terus melaju. Aku tidak akan jatuh. Aku tidak boleh jatuh. Entah sudah berapa banyak peluh, darah dan air mata tercurah, sudah tak kupedulikan lagi. Aku terus melangkah mempercayakan langkah pada belukar-belukar tipis. Sesekali peganganku terlepas, sesekali belukar-belukar itu putus akibat terlalu kencang kujadikan pegangan. Sebelum terhempas, buru-buru kuraih belukar lain.

Jika mau menengadah, sebenarnya dapat kulihat tali-tali lain yang lebih kuat daripada sekedar belukar. Namun ketika aku mencoba meraih sebuah tali kekar itu, tali itu justru naik ke atas, membuatku susah meraihnya. Kupertaruhkan keberuntunganku, aku melompat untuk meraihnya, namun apa daya tali itu justru merosot, hampir memukulku menuju ganasnya ombak di bawahku. Ternyata tidak berguna memohon bantuan pada tali itu, tidak jika aku hampir mengorbankan nyawaku.

Tali lain yang dulu tampak selalu ada, selalu bersama kakiku melangkah, kini makin sering menghilang. Kadang naik tak terjangkau, kadang menghilang tak terlihat. Kurasa sudah cukup rintihan untuk memanggil, sebaiknya terus saja melangkah tanpa merintih.

Karena merintih itu menguras energi.

Mungkin karena terlarut dalam pikiranku sendiri, tak kulihat jalanan yang mulai licin. Tanganku masih meraba-raba belukar dan kakiku masih melangkah perlahan, namun pikiranku kini telah berada pada mode auto pilot. Bagian pikiran yang digunakan untuk menjaga fokus sedang asyik berkeliaran merenung tentang berbagai skenario seandainya dan bagaimana jika.

Fungsi auto pilotku tidak dilatih untuk sangat berhati-hati. Dalam sepersekian detik, kakiku meluncur. Refleksku segera menyadari aku akan terjatuh dan ia segera melontarkan kedua kakiku, memutar badanku sekian rupa sehingga untuk sesatuan waktu yang singkat, aku melayang di udara. Aku dapat memilih untuk jatuh.

Namun tentu bukan pilihan mudah itu yang kuambil. Sudah kubilang, ada yang menungguku. Entah apa, namun kuyakin ada hal besar yang menungguku di balik tebing curam nan mematikan ini. Sudah kubilang pula, ada yang bergantung padaku. Dalam bisikan "aku tidak akan menyerah" itu, kulihat sebuah tempat aman. Tak seberapa luas, namun aman untuk menjatuhkan diri alih-alih menyerah pada ganasnya ombak. Tak buang waktu, kulontarkan tubuhku ke tempat itu. Ajaib, ketemuan akar sangat besar yang bisa menjadi pegangan, ya Allah, betapa cintanya Dirimu padaku.

Berucap syukur, kugenggam erat akar besar yang kuat itu. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Kubuka perbekalan dan kuambil sekedar untuk menghilangkan dahaga, lapar dan lelahku. Aku bahkan tidak tahu apakah bekalku akan cukup sampai aku menemukan apa yang menjadi tujuanku. Bagaimana aku bisa tahu? Jika aku tidak tahu seberapa jauh aku berada dari tujuan itu. Namun aku yakin, Allah Mencintaiku.

Selepas beristirahat, kupeluk tubuhku sendiri. Benar makin kupahami bahwa terkadang, pada tiap ujian dan musibah, yang manusia punya hanya dua hal. Tuhan dan dirinya sendiri. Tidak ada harta, tak ada ilmu, tak ada sahabat bahkan kekasih, tak ada siapapun. Ia hanya berdua. Bersama Tuhannya yang syukurlah, sebenarnya Mencintainya.

Kukeluarkan salah satu surat cintaMu. Untuk kesekian kalinya coba kuresapi surat itu. Surat di mana Kau Menuliskan untukku, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Kau Menulisnya dua kali. Berulang. Seolah aku tak akan langsung teryakinkan dengan hanya satu janji. Berapa Dirimu sangat Mengenalku yang keras kepala, yang tak mudah percaya. Yang sering lalai dan lupa. Lupa akan janjiMu ini.

Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan.

Kurapalkan janjiMu itu berkali-kali. Kucoba untuk Mempercayainya kali ini. Perlahan mulai kuyakin, pasti Kau tidak akan Mengecewakanku. Tidak akan pernah. Aku percaya padaMu, bahwa kau Mencintaiku. Dan aku percaya bahwa Kau Sesuai dengan persangkaanku.