Tampilkan postingan dengan label Kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kudus. Tampilkan semua postingan

07/12/10

I Love My Ibu

Hari ini ibuku berulang tahun ke-49.

Untuk satu hal aku membenci ulang tahunku dan ulang tahun orang-orang yang kusayangi. Hal itu adalah jika kita berulang tahun maka bilangan usia kita bertambah secara diskrit. 17, 18, 19, 20....

Aku ingin aku, dan orang-orang dalam hidupku termasuk ibuku, tidak pernah bertambah tua. So we can live in our forever...haha, tapi itu enggak mungkin, emang kita vampir :p

Kalau ada peri yang bisa mengabulkan permintaan, pasti dia bakal protes deh. Soalnya permintaanku untuk ulang tahun ibuku banyak banget.

Aku ingin beliau tetap sehat dan bugar, sehingga dapat melihatku sebagai orang yang berhasil sampai puas :p

Aku ingin beliau tetap cantik :)

Aku ingin beliau tetap, dan terus bertambah bahagia, disayangi dan menyayangi

Aku ingin beliau tetap dan akan terus bertambah sukses dan cerdas

Aku ingin usianya dirahmati Allah; termasuk di dalamnya segala perbuatan, perkataan dan pemikirannya.

Ahh, aku sayang ibuku banget :D

Kangen sama beliau..sama pelukannya, suaranya yang kudengar langsung (bukan lewat telepon), ciumannya (secara langsung, bukan lewat sms), masakannya, tatapan matanya...semuanya.

Aku sayang ibu

Aku sayang ibu

Aku sayang ayah

Selamat ulang tahun ibuku :)

Saat ini aku belum bisa memberimu sesuatu yang terlalu berharga.

Aku masih seperti ini, belum punya karir yang hebat sepertimu.

Belum bisa membayar belanjaan kita, seperti yang biasa kau lakukan ketika kita belanja berdua.

Belum mendapat apa-apa. Malah sebaliknya mungkin sering memberimu kepanikan, sering menjengkelkan, merepotkan dan membuatmu heran.

Ibu, aku tahu aku tidak akan mampu membalas semua jasamu.

Terlalu banyak yang telah kau berikan dan terlalu banyak pula yang telah aku dapatkan darimu.

Allah merahmati umurmu.

Merahmati setiap detik yang kau gunakan untuk menemaniku dan membimbingku tumbuh dewasa sampai seperti ini. Setiap doa yang kau panjatkan. Setiap tetes peluh, darah dan air mata. Setiap kata yang kau ucap untukku. Setiap pikiran tentang aku. Malaikat mencatat semuanya dan mereka akan bersaksi untukmu, tentang cintamu padaku. Semoga itu semua menjadi ladang amalmu.

"Kalau aku ditanya "siapa orang yang paling kau sayangi?".

Tanpa ragu aku akan menjawab "ibuku".

"Kenapa?"

Well, aku mencintainya

Bukan sekedar karena Allah memerintahkanku begitu;

Bukan sekedar karena ia mencintaiku, cintanya yang kurasakan di tubuhku, yang telah ada untukku bahkan sebelum aku benar-benar ada di dunia ini;

Bukan sekedar karena hal-hal hebat yang dilakukannya untukku;

Tapi aku benar-benar mencintainya, karena ia adalah ibuku, wanita hebat yang dipilih Allah untuk aku"

(dan aku merasa terpilih karena Allah memilihnya untukku).

Tiap hari aku bersyukur karena ia ibuku

Terima kasih Allah, terima kasih ibu

Benar...kalau ditanya siapa orang yang paling kusayangi aku akan menjawab dengan mantap "ibu dan ayahku". Ya, menurutku merekalah kedua orang yang paling pantas kuberi julukan "orang terkasihku di dunia". Pokoknya both of them is my most loved people alive deh, hahaha.

Aku kan belum menikah, jadi orang di dunia ini yang paling kucintai itu ya orang tuaku...jangan pada cemburu ya (geer banget deh, haha). Dan aku melaksanakan kewajiban mencintai itu dengan bahagia dan senang hati sekali :)

Yogyakarta, 6 Desember 2010 (terakhir diedit tanggal 7 Desember 2010)

03/11/09

Lentog Tanjung is The Best Breakfast Ever!

Lentog is The Best Breakfast Ever!


Lentog? Ih, apa itu lentog? Buat yang berasal bukan dari Kudus mungkin nggak tau apa itu lentog. Well, lentog itu nama makanan. Di Kudus banyak dijual pagi-pagi sebagai menu sarapan. Kalo udah agak siangan dikit, udah bubar tuh yang pada jualan. Kali ini aku akan membedah sajian bernama lengkap lentog Tanjung ini (wah bahasanya sok-sok kayak pembawa acara kuliner gitu, nggayane pol). Emang makanan ini berasal dari desa Tanjung, kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia (lengkap banget). Tapi sekarang sudah tersebar ke seluruh penjuru kabupaten. Jadi gampang banget kalo mau cari orang jualan lentog di Kudus. Di GOR Wergu juga banyak tuh yang jualan.

Penampilan? Seperti ini nih...



Walopun penampilan dan namanya nggak begitu komersil (len-tog, pronunciation-nya lentok) dan ndeso, rasanya jangan tanya....enak banget (menurut aku). Jadi laper nih. Hiks, Liong emang kayaknya paling lemah sama makanan enak. Dan jangan khawatir, insyaallah lentog 100% halal, asal belinya secara halal lho.

Lentog terdiri dari 3 penyusun utama :
• Lontong. Udah pada tau kan lontong itu apa. Itu lho beras yang dimasak didalem daun pisang, kayak ketupat tapi bentuknya silinder dan warnanya keijo-ijoan (klorofilnya daun pisang luntur kali). Kayak lemper tapi nggak ada isinya, beras doang. Nah, yang khas dari para pedagang lentog di Kudus, mereka kalo motong lontong itu bukan bulet-bulet tapi miring-miring. Kenapa? Mungkin biar artistik. Kalo lebaran biasanya ibu masak lontong opor dan sambel goreng tu, nah aku ikut-ikutan para bakul (penjual-red) lentog deh, motongnya miring-miring...

• Sayur gori. Itu adalah nangka muda (gori) yang dimasak pake santen encer. Aku nggak tahu bumbunya apa aja, yang jelas beda jauh rasanya ma gudeg Yogya, walopun sama-sama dari gori. Gorinya rasanya lembut-lembut piye di lidah (lha piye?). Dulu waktu masih kecil, kalo makan lentog aku nggak memakan sayur ini, alias nggak doyan. Tapi dengan bertambahnya usia dan kerakusan, karena masih laper ya udah aku ganyang aja deh itu sayur. Lumayan nambah nutrisi (halah, padahal karena rakus).

• Tahu-tempe yang dimasak pake santen encer (nggak tahu namanya apa). Nah, ini dia part of lentog yang paling bikin lidahku menari-nari (halah). Terutama tahunya! Wenak (enak, red) banget deh! Biasanya aku sisihin bagian ini buat dimakan paling akhir. Save the best for last, kata temenku gitu. Kalo tempenya sih biasa aja. Malah cenderung aneh deh rasanya. Tapi tahunya...haaa...jadi makin laper.

Sebagai pelengkap, dijual sate telur puyuh yang dibacem dan kerupuk. Sate telur puyuh ini, asli cocok banget dimakan sama lentog. Enggak tahu kenapa, udah jodohnya mungkin. Buat yang doyan banget pedes dan nggak bisa makan tanpa cabe, tenang aja. Dalam paket pembelian default (halah!) biasanya lentog dilengkapi dengan beberapa CABE RAWIT yang (kayaknya) dikukus. Cabenya utuh, nggak dipotong-potong apalagi dihaluskan. Aku nggak begitu doyan pedes, jadi dijamin mangar-mangar (dooh, bahasa Indonesianya mangar-mangar tuh apaan yak) kalo sampe keceplus (nggigit secara nggak sengaja, red). Jadi sebelum makan, biasanya nyari-nyari lomboknya dulu, terus dua butir lombok rawit itu aku cacah-cacah pake sendok biar ancur lalu aku aduk-aduk biar pedesnya merata. Wuhh, mbayangin aja udah bikin kemringet (keringetan, red). Slurrp! Di beberapa penjual lentog juga aku nemuin sambel cabe merah yang –entah gimana cara bikinnya- teksturnya cair banget dan berminyak. Tenang aja, pasti boleh kok minta sambel lagi kalo kurang pedes.

Jadi buat anda-anda yang belum pernah ke Kudus, jangan lewatkan sarapan istimewa ini. Biar pengalaman gitu. Gizinya juga menurutku lumayan lengkap sebagai sebuah sarapan pagi. Karbohidrat, protein, lemak, mineral, serat, ada. Hmmm, vitaminnya kita tambah sendiri kali ya (ato sayur gori ada vitaminnya?). Sayangnya, tiap porsi lentog itu kecil nggak begitu ngenyangin, walaupun udah cukup bisa mengganjal perut (daripada nggak sarapan). Jadi, jangan malu-malu nambah, hehehe. Tenang aja, sampai tulisan ini diturunkan, harga seporsi lentog+sate telur+kerupuk cukup Rp 4.000,- saja. Murmer to?
Haa....I miss lentog very much

31/10/09

Hal-Hal Sederhana yang Saat Ini Aku Rindukan

aduh, tiba-tiba pingin pulang kampung...
kangen sama jalan Jogja-Kudus,
kangen sama tulisan "SELAMAT DATANG DI KABUPATEN KUDUS" yang ada di Karanganyar itu...
kangen dijemput sama bapak terus diajak beli martabak :)
kangen sama rumah
sama ibu, bapak, adik,
kangen masakan ibu
kangen sama genjrengan gitar en betotan bass yang dimainkan adikku tiap malem
kangen liat tivi seharian sampe mata pegel
kangen sama kamar orange
kangen jalan sama ibu
kangen pingin ejek-ejekan ma adik
kangen sarapan lentog
kangen puter-puter kota naik motor
aku kangen semua tentang itu :0

31/08/09

Kudus

Kabupaten Kudus Tercinta

Haa...betapa cintanya aku ma kabupaten Kudus (iya, Kudus itu kabupaten saudara-saudara, bukan kota...). Tapi berhubung orang Indonesia sukanya membuat segala sesuatu jadi simpel, ya udah lah disebut aja kota Kudus, kota Kudus gitu...ya uwis lah. Dikutho-kuthokke (dikota-kota-kan, Red). Walopun menurutku rasanya kayak sedikit ngaku-ngaku. Biarpun kabupaten, Kudus kan damai dan makmur. Sugih! Tau nggak lo??? (bahh...sok banget, hehehe). So, pede aja...

Kudus itu di Jawa Tengah, di daerah Pantura alias Pantai Utara Jawa. Buka atlas pulau Jawa deh kalo nggak ngerti. Ato tanya aja ma Om Google sana. Pas dulu awal masuk kuliah ada tuh temen-temen yang nggak ngerti Kudus itu dimana. Hiks-hiks...mungkin kalian juga nggak ngerti?? Wah, piye to...oke oke, kali ini saya nggak akan menghakimi anda (ngapain juga?). Akan saya berikan sedikit clue. Tau ROKOK cap Djarum nggak? Yang sekarang variannya macem-macem. Ada Djarum 76, Djarum Black, banyak deh. Iklannya kreatif-kreatif banget. Eits, saya bukan perokok ya (dan sebagai calon farmasis saya sama sekali NGGAK merekomendasikan anda untuk merokok). Nahh! Perusahaan rokok Djarum itu ya di Kudus!

Selain Djarum, bertebaran juga banyaak perusahaan rokok lain di Kudus, misalnya Sukun, Djamboe Bol, Nojorono, dan lain-lain (yang ngrokok pasti apal deh, hayooo...). Itu yang perusahaan menengah ke atas. Yang kelas teri? Jelas lebih banyak. Malah ada tuh istilah “rokok tingwe” alias rokok “nglinting dhewe”. Artinya melinting (tembakau) sendiri (jadi rokok, buat dikonsumsi sendiri biasanya). Di deket rumahku ada satu perusahaan rokok juga. Perusahaan kecil sih. Tapi bener-bener memberdayakan masyarakat lho. Buktinya semua perusahaan rokok itu, dari yang kelas hiu sampe kelas plankton, sanggup menyerap 100 ribu karyawan. Oh wow, buat sebuah kabupaten kecil tentu aja jumlah segitu luar biasa. Walaupun aku takut juga waktu dulu katanya rokok mau difatwa haram. Oh no! Mau dikemanain karyawan sebanyak itu? Oh iya, secara rokok itu dikenai cukai oleh pemerintah, maka kabupaten Kudus mampu menyumbangkan 50 triliun rupiah kepada APBN 2009. Hahaha...makanya udah bilang kan tadi diatas, Kudus iku cilik-cilik sugih (Kudus itu kecil-kecil kaya). So, be proud to be a Kudusian!

Eh iya, ternyata nggak cuma perusahaan rokok aja yang ada di Kudus. Di Kudus ada PURA, perusahaan kertas terbesar se-Asia Tenggara sampai saat ini. Inget duit 100 ribuan yang terbuat dari plastik itu? yang ada kembangnya warna pink tua itu lho. Itu dicetak di Pura. Kalo lewat di depan salah satu bangunannya Pura yang deket terminal Jati itu, wah, futuristik! Dengan lampu-lampu dan sebagainya. Keren. Dengan adanya pabrik-pabrik rokok dan kertas, resmilah Kudus sebagai kota industri. Di deket (ya nggak deket-deket amat sih) rumahku, ada pabrik gula. Terus ini nih yang makin maju. Industri konveksi rumahan! Jumlahnya banyaak banget. Menghasilkan beraneka pakaian (sekarang banyaknya kerudung) dengan mutu yang bervariasi banget. Istilahnya, dari yang murahan sampai alusan ada. Produk-produk itu bisa ditemui di Pasar Kliwon (katanya sering dijadiin sentra kulakan para pedagang dari luar kota juga). Asyik lho, belanja kerudung di Pasar Kliwon. Toko-tokonya, ditata lumayan rapi untuk ukuran sebuah pasar yang selalu rame. Dan kalo bisa nawar, insyaallah nggak bakal kecewa.

Enough talking ‘bout the industry, sekarang mari bercerita tentang keindahan kota Kudus. Di sebelah utara, ada Gunung Muria, yang kawasan wisatanya dinamakan Colo. Disana juga ada makam Sunan Muria, salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa. Udaranya sejuk (walaupun gunungnya sendiri nggak begitu tinggi) dan lumayan tenang, soalnya wisatawannya nggak terlalu rame. Ada air terjunnya juga! Ada pemancingannya...oh, udah lama banget aku nggak main kesana. Di pemancingan, selain bakar ikan kita juga bisa makan PECEL DAUN PAKIS (pakis=tanaman paku-pakuan, mostly semanggi, Marsillea crenata). Disini kita juga bisa lihat Kudus dari atas. Di Colo ada Bengkel Seni Takim, patut dikunjungi para pecinta seni sejati. Eh iya, buat ibu-ibu yang lagi mengandung, bisa beli dan mengkonsumsi “parijoto” (bener nggak ya nulisnya?) di Colo. Denger-denger, kalo pas hamil makan ini ntar anaknya cakep. Hihihi...belum teruji secara klinis sih. Aku sebenernya pingin nguji, tapi kan harus diuji pre-klinis ke mencit dulu. Nah, ini yang susah. Gimana caranya membedakan mencit yang cakep (karena induknya dipapar parijoto saat hamil) dan mencit yang biasa aja (karena tidak dipapar parijoto)?

Selain itu, buat ente-ente yang beragama Islam, sempatkanlah mengunjungi masjid Menara Kudus, simbol kota Kudus. Disitu ada makamnya Sunan Kudus. Menaranya konon adalah hasil dari perpaduan berbagai budaya yang ada di Kudus. Rumah-rumah di sekitar masjid ini unik-unik lho, antik-antik piye...gitu (lha piye?). Eh iya, sampe sekarang kalo Idul Adha masyarakat Kudus tuh nyembelihnya kambing dan kerbau. Sapi kan binatang yang suci buat pemeluk Hindu, so Sunan Kudus (penyebar agama Islam di Kudus) menyuruh kita menghormati kepercayaan itu dengan tidak menyembelih sapi. Ajaran itu masih ada sampai sekarang.

Makanan khas? Buat oleh-oleh kalo dari Kudus, biasanya orang-orang beli jenang Kudus. Makanan manis dari tepung ketan, kelapa, dan gula jawa. Kayak dodol tapi lebih kenyal dan nggak asam sama sekali. Kalo makanan “berat”, ada lentog (udah pernah saya tulis di postingan tersendiri), soto Kudus, garang asem, dan nasi pindang (ini dari daging merah lho, bukan dari ikan). Semuanya pas di lidah saya, kecuali jenang..nggak tahu kenapa, saya agak kurang sreg dengan kemanisannya itu (sori-sori buat para penggemar jenang). Tapi jenang adalah tentengan wajib buat para sanak saudara dan handai tolan (halah!) kalo kita pergi ke luar kota. Eh, ada satu lagi ding, roti duren! Enak. Rotinya bunder-bunder dan rasanya duren banget. Berhubung aku penggemar duren ya aku suka, hehehe. Ngomong-ngomong, jadi inget para bakul (pedagang, red) duren yang mangkal di Durian Street (dari Proliman belok ke selatan). Mantep banget kalo lewat situ, aroma duren menyerbak dan bikin kepingin, hihihi.

Kudus itu kota kecil. Literally! Denger-denger, Kudus itu kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Kayaknya sih bener. Kalo lagi di Kudus, mau kemana-mana, selama masih berada dalam jangkauan wilayah kabupaten Kudus, rasanya deket. Misalnya dari rumahku ke terminal, dari terminal ke pasar, bahkan dari rumahku sampe gunung Muria aja rasanya deket. Daripada dari rumahku sampe Gunung Merapi, hayoo? (Ya iyaaalah...). Maklum, soalnya ya itu tadi, wilayahnya kecil. Akibatnya, kalo aku keluar kota, mau kemana-mana kerasa jauh. Misalnya kalo mau ke rumah Eyang di Semarang, kan naik bus sampai terminal Terboyo tuh. Nah, dari Terboyo sampai Banyumanik, ya Allah lama banget....malah kayaknya lebih lama dari perjalanan antar kotanya sendiri. Iya sih, Terboyo-Banyumanik itu adalah “Semarang Ujung ke Ujung”. Tapi kalo di Kudus, “Kudus Ujung ke Ujung” itu jauh, jauh lebih singkat. Coba aja berangkat dari terminal Kudus (di Jati) sampe Jekulo sono (yang berbatasan dengan Pati). Nggak membutuhkan waktu selama itu. Begitu juga kalo di Yogya. Ya begitulah resikonya tinggal di kota kecil. Eh, maksudku kabupaten kecil.

Di Koran Kompas pernah ada artikel tentang wajah Kudus sekarang. Diceritain kalo sekarang Kudus itu penuh dengan ruko. Emang bener sih. Di tiap pinggir jalan yang rada gede dikit, ruko. Di deket sekolahan, ruko. Di tanah kosong, mau dibangun ruko. Ruko, ruko, dan ruko mulu. Sampai-sampai udah merambah di deket rumahku. Ada ruko juga! Haduh, bisa-bisa Kudus bukannya kota industri lagi, tapi kota ruko. Mungkin keberadaan ruko karena daya beli Kudusian yang meningkat. Tapi dampaknya? kebanyakan ruko dan sedikit industri berarti kita nggak bisa memproduksi tapi terus mengkonsumsi. Ruwet. Selain ruko, di Kudus juga udah ada 3 pusat perbelanjaan yang katanya modern (inisial M, R, dan A). Belum lagi minimarket-minimarket yang makin menggusur warung-warung kecil. Belum lagi pasar Kliwon, hihihi. Wah, gimana nggak makin konsumtif aja tuh para Kudusian? Walaupun sedikit bikin bangga sih, soalnya kan katanya (entah katanya siapa) kalo punya banyak perbelanjaan modern alias mol itu modern, hihihi. Soalnya dari beberapa kabupaten yang pernah saya kunjungi, wah, kayaknya Kudus di atas angin dalam hal perekonomian. Tapi orang-orang Kudus (Kudusian kalo saya nyebutnya, awas kalo diplesetin) bukan orang-orang yang snob kok, kecuali yang emang dasarnya snob (halah! Wis ngerti aku).

Jadi menurutku Kudus tuh kabupaten yang sedang memajukan diri tapi masih kentel sifat-sifat khas orang dari kota kecil di Jawa. Misalnya :

  • Masih ewuh-ewuh, yah masih adat ketimuran lah
  • Logatnya kentel. Kalo orang Kudus, kalo ngomong ada question tag-nya, “tah”. Misalnya “opo?” jadi “opo TAH?”. Jangan lupa ngomongnya sambil sedikit mengerutkan kening, nah, begitu, mulut terbuka sedikit, yap, sudah betul. Biarpun ente-ente menganggapnya ndeso bin katrok tapi saya akan terus memakainya, hahaha. Ngapain juga malu akan dialek itu. Jaga gengsi? Gengsine sopo? Malah bangga dan bisa memotivasi dong. Jangan-jangan suatu saat ada ilmuwan ngetop bertaraf internasional dari Indonesia yang ternyata berdialek Kudus. Lha sapa ngerti? Iso wae to? (siapa tahu? Bisa jadi, kan? – red). Heran juga, aku sama orang tua dibiasain bahasa Indonesia tapi kok begitu keluar rumah luntur semua ya ajarannya. Beginilah peer pressure akibat dari bergaul mbek konco-koncoku (temen-temenku) di Kudus sono yang notabene njawanine pol nek ngomong (Jawa banget kalau berbicara, red). Hehehe...piss!
  • Sebagian besar penduduknya juga masih sarapan pake nasi (bukan pake roti, pasta, atau sereal kayak orang kaya di kota besar). Penduduknya belom keranjingan makanan cepet. Nagapain juga cepet, ha wong masak alon-alon biar sehat juga bisa kok. Tekanan hidup nggak segede di kota besar kali. Yang ibu-ibunya nggak sempet masak (terus kenapa nggak mempekerjakan pembantu, biar bisa dimasakin?). Alhamdulillah meskipun ibuku wanita karir, masih sempet masak makanan sehat buat kita-kita sekeluarga.
  • Di kampung sering banget diadain selametan (kendurian, syukuran, you name it). Bayi baru lahir, selametan. Bayi puputan (lepas tali pusernya), selametan. Sunatan? Nikahan?, selametan juga (walaupun udah menggelar resepsi di gedung mewah juga). Yang diundang bapak atau laki-laki di rumah, terus pulangnya dibawain nasi gurih+ayam kampung...enak banget. Tetanggaku ada tuh yang hobi ngadain selametan, namanya bu Sakem dan pakde Sukoyo. Ayamnya enak banget. Dibumbu kayak opor tapi santannya encer.
  • Orang-orang yang baru ketemu (apalagi kalo udah dewasa) ngobrolnya masih pake bahasa Jawa Krama. Nawar di toko juga pake bahasa Krama. Pokoknya Javanese everywhere deh. Paling di mol-mol tuh mbak SPGnya pake bahasa Indonesia. Tapi kalo ada orang yang nggak bisa Javanese ya pake bahasa Indonesia lah, atau bahasa Inggris (weleh, nggaya banget, nggak ding! Kecuali kalo udah bisa bahasa Inggris trus ketemu bule)
  • Nah ini nih...kalo di sekolahan dan main sama temen, ngomongnya bisa bebas pake basa Jawa sengoko-ngokonya! Aw...how I miss it! Rasanya kepribadianku bener-bener keluar kalo diekspresikan dengan media bahasa Jawa Ngoko, hahaha. Palingan kalo sms-an, pakenya aku-kamu. Bukan elo-gue.

Kudus, cukup kemewahan untuk dipakai sebagai tempat berfoya-foya. Cukup sederhana buat dipakai tempat hidup sederhana. Maksude? Gini lho, kalo kita mau hidup mewah di Kudus, bisa (asal duitnya ada). Nginep aja tiap malem di hotel Griptha itu. Mewah to...terus tiap hari keramas di salon, makan di Kenari atau Garuda, naiknya mobil mewah. Tenang, kita-kita nggak bakal sirik kok. Tapi kalau mau hidup apa adanya juga bisa. Kudus kan kabupaten, jadi palingan biaya hidupnya nggak sebegitu besar kalo dibandingin ma kota besar.

Ah, Kudus. Tempat dimana aku selalu dan ingin selalu pulang. Walaupun udah kerja di kutub utara sekalipun! Aku yakin anda-anda juga bangga dengan kabupaten or kota anda, seperti aku bangga pada Kudus. Harus lah! Jangan menafikan identitas asli anda, mentang-mentang udah merantau ke kota besar, udah kaya, udah sukses, dan udah-udah yang lainnya. Banggalah akan ke’medhok’-an dialek anda (aduh, medhok bahasa Indonesianya apa ya? Masa ‘mateng’ sih?). Aja digawe-gawe (jangan dibuat-buat, Red). Ntar kalo orang seluruh Indonesia menghilangkan dialeknya masing-masing, nggak beragam lagi dong kita-kita. Hihihi.







p.s :

Wait-wait...kayaknya kok postingan ini jadi kayak promosi wisata ya? Ah, nggak apa-apa deh, aku ikhlas kok meskipun enggak dibayar. Buat Kudus...hehehe.


Keterangan

bahasa Jawa krama : Tingkatan bahasa Jawa tinggi, bahasa Jawa halus, dipakai untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, yang dihormati, pada Tuhan, atau pada orang yang baru dikenal (yang seumur atau lebih tua)

bahasa Jawa ngoko : Tingkatan bahasa Jawa rendah, bahasa Jawa kasar, dipakai untuk berbicara dengan orang yang lebih muda atau sebaya (yang sudah akrab), dan pada diri sendiri.



27/08/09

Ibu dan Bapakku

Ya Allah, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku...

Doa yang sama, doa yang itu-itu aja, yang selalu kuucap sehabis salat dan kadang-kadang saat sujud.

Doa buat kedua orang yang paling aku cintai saat ini.

Kedua orang yang, biologically, masing-masing menyumbangkan setengah genomnya sehingga saat kedua “paronan” (setengah, red) genom itu bersatu, atas izin Allah terbentuklah makhluk bergenom 22XX bernama ****** ************ alias Liong (maklum, tadi pagi habis kuliah biologi molekuler).

Kedua orang yang, psychologically, punya andil besar dalam membentuk kepribadian, prinsip, dan kecerdasanku jadi seperti ini. Dari melihat cara mereka bersikap, aku belajar berperilaku.

Kedua orang yang, economically, masih menanggung seluruh biaya hidupku.

Kedua orang yang dipercaya Allah untuk membesarkanku.

Kedua orang yang terketik sebagai “pasangan suami istri sah” di akta kelahiranku.

Kedua orang yang paling mencintaiku dengan cinta tertulus yang bisa diberikan seorang manusia, bahkan sebelum aku ada di dunia ini.

Kedua orang yang lebih menderita dari aku saat aku sakit.

Kedua orang yang menjadi guru pertamaku. Yang mengenalkanku pada dunia ini dan mengajariku bagaimana menghadapi itu semua.

Yang selalu kuajak bermain saat aku kecil, diantara kesibukan mereka. Yang membujukku agar berhenti menangis. Yang selalu memastikan aku berbahagia dan aman sekaligus, setiap saat.

Kedua orang yang telah dan terus berusaha mengerti setiap tingkah lakuku. Yang tidak protes saat aku batal pulang kampung sesuai waktu yang sudah kujanjikan sendiri. Yang selalu memaklumi dan memaafkanku. Yang berkata “tidak apa-apa” saat nilaiku turun drastis. Yang tidak marah saat ulanganku gagal. Yang tersenyum padaku bahkan saat aku tidak bisa tersenyum untuk diriku sendiri.

Ibuku, orang yang melahirkanku. Memberiku makan dan perlindungan bahkan sebelum aku lahir. Memasak dan mengurus rumah tiap hari (padahal bekerja di kantor juga). Yang membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan membimbingku belajar di rumah saat aku SD. Yang menjagaku ketika aku bermain, agar aku tidak terluka. Yang memastikan aku makan dan tidur dengan baik. Yang selalu menyuruhku agar jangan ngoyo dalam belajar. Yang meneruskan pendidikan masternya sambil bekerja dan mengurus rumah, kemudian...lulus tepat waktu dengan gelar cum laude. Lambat laun, seiring bertambahnya umurku, beliau menjadi temanku. Yang bisa kuajak berjalan-jalan, bercerita. Aku bukan orang yang mudah membuka diri – andai saja aku begitu, pastilah lebih banyak lagi yang bisa kuceritakan. Orang yang mengajariku memasak, berdandan, membersihkan rumah, dan hal-hal praktis lainnya. Orang yang selalu, selalu, berusaha menyenangkanku. Yang menyisihkan makanannya untukku. Yang membelikanku aneka jajanan yang kusuka saat kami berbelanja. Yang menungguku dengan sabar sementara aku memilih-milih pakaian atau sepatu di mall. Yang mau menemaniku berjalan-jalan setelah seharian bekerja. Yang tetap tersenyum saat melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya jadi tugasku. Entah apa yang membuat wanita ini sedemikian sabar padaku. Ibu, aku begitu mencintaimu...

Bapakku, orang yang pertama kali mengumandangkan adzan dan iqomah di kehidupanku. Imam di keluargaku. Laki-laki paling penyayang yang pernah kutemui. Dalam diamnya, aku tahu ia menyayangiku. Yang mengantarkanku dengan motor kenangan kami, di hari pertama aku masuk TK. Yang mengajariku naik sepeda roda dua. Yang selalu menungguku selama paling tidak tiga puluh menit di pom bensin saat aku pulang dari Yogya naik bis, sebelumnya ia sudah membelikanku aneka roti yang kusenangi. Setelah aku naik di boncengannya, ia akan bertanya apa yang aku inginkan untuk makan malam. Yang mau mengantarkanku kemana saja, lalu pulangnya berkata “mbak Lia pingin dibelikan apa?”. Yang ikhlas bekerja keras seharian demi keluarga. Yang hobi mentraktir di tempat makan favoritku saat aku pulang kampung. Yang mengajariku membaca dan rajin membawaku ke toko buku saat aku kecil. Yang membuatku jadi seorang kutu buku dan alhamdulillah, jadi mampu membaca cepat. Yang mengajariku berbahasa Inggris dan memakai internet. Yang membelikanku beberapa ekor ayam saat aku kelas 5 SD, agar aku dan adikku berpengalaman memelihara hewan. Yang pernah mengajakku dan adikku main layang-layang sehabis pulang kerja. Yang mengantarku ke mantri saat jempolku terluka. Yang tidak keberatan menyapu, mengepel, menyetrika pakaian...yang selalu memastikan aku baik-baik saja. Yang memberiku beberapa prinsip yang masuk akal. Yang dahulu berusaha sekuat tenaga untuk kuliah, dan sekarang berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkanku...terima kasih bapak, aku begitu mencintaimu...

Aku sudah lupa kapan terakhir kali mereka marah padaku. Atau mungkin mereka memang tidak pernah marah padaku. Aku juga tidak ingat kapan mereka memaksaku, melarangku, tidak mempercayaiku, menuntutku, menghakimiku....

Yang aku ingat, setiap hari mereka menunjukkan kasih sayang mereka padaku.

*****

Allah menebarkan kasih sayangnya di muka bumi.

Dan, sebagai salah satu “jalur” kasih sayangnya untukku, Allah memilih ibu dan bapakku. Allah tidak pernah salah. Betapa beruntungnya aku bisa memiliki mereka sebagai orang tuaku. Betapa beruntungnya ibu memiliki bapak, dan sebaliknya, begitu beruntungnya bapak memiliki ibu.

Sekali lagi, betapa beruntungnya aku, dan adikku, memiliki mereka berdua.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, terima kasih ya Allah, segala puji bagiMu...

******

Tadi waktu menunggu salat Isya’ berjamaah dimulai, tiba-tiba selintas pikiran muncul di otakku. Muncul begitu saja, seperti lampu pijar yang tiba-tiba menyala dan tidak bisa dimatikan.

Pikiran itu adalah “betapa beruntungnya aku memiliki ibu dan bapakku. Juga adikku”.

Entah pikiran itu muncul dari hati yang bersih, atau justru dari setan yang ingin mengganggu kekhusyukan salatku, aku nggak tau. Tanpa terasa, pipiku basah. Bukan, aku bukan kangen berat sama mereka. Kalau kangen sih selalu, karena itu sebisa mungkin aku akan selalu pulang untuk mereka, dan untuk diriku sendiri. Tapi aku nangis bukan gara-gara itu. Tapi karena mengingat apa saja yang sudah mereka lakukan untukku. Semua yang kutuliskan diatas, belum apa-apa. Karena masih banyak lagi bukti cinta mereka padaku.

Lalu muncul satu pertanyaan “Terus apa yang sudah aku lakukan untuk mereka? Buang-buang duit? Habis-habisin beras? Atau apa?”.

Kenangan satu tahun lalu berputar. Saat aku diterima sebagai mahasiswa. Maaf, aku tekankan cerita ini bukan dimaksudkan untuk menyombong. Saat itu, tengah malam, jam 00.00 lebih sedikit, ibuku mengirim SMS ke content provider hasil UM UGM. Lalu datang SMS balasan yang menyatakan aku diterima. Aku terbangun mendengar kegembiraan mereka berdua. Bertiga kami mengucap syukur pada Allah. Mereka berterima kasih padaku, “makasih ya mbak, atas usaha mbak..”. Cara mereka menyayangiku sungguh unik. Seharusnya aku yang berterima kasih, atas dukungan doa, moril, dan materil dari mereka. Tapi, mereka malah berterima kasih padaku. Dan saat itu juga kegembiraanku, rasa lega yang ada padaku karena sudah diterima kuliah, mendadak kalah oleh kepuasan yang muncul karena melihat wajah mereka yang tampak sangat bahagia.

Lalu saat akhir semester 1 kemarin, saat alhamdulillah aku mendapat IP yang bagus. Tidak dapat diungkapkan betapa puas dan bersyukurnya aku melihat wajah mereka yang gembira. Mereka mengucapkan selamat dan terima kasih. Betapa seringnya mereka mengucapkan terima kasih padaku. Seolah hanya AKU lah yang menentukan segala kesuksesan yang terjadi. Mereka segera melupakan jasa mereka padaku. Itulah contoh cara hidup yang tidak pernah mereka ucapkan secara gamblang - namun dari cara mereka memperlakukanku, aku belajar agar sebaiknya kita tidak membesar-besarkan apa yang sudah kita berikan pada orang lain. Kemudian ketika akhir semester 2, IPku turun cukup drastis, namun ketika aku mengucapkan maaf, mereka malah berkata tidak apa-apa. Kemudian kami melanjutkan segala sesuatu seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Berapapun IPku, mereka tetap gembira menyambut kedatanganku, menanyakan kesehatanku...sungguh semua sikap itu berbicara lebih banyak dan lebih tegas daripada sekedar berjam-jam berkata-kata bahwa mereka cinta padaku. Dan cara mendidik seperti itu malah memacuku lebih keras untuk berusaha dengan maksimal di semester 3 ini. Aku pasti bisa mengembalikan prestasiku seperti semester 1 lalu. Amin...

Oh iya, satu lagi. Aku ingin lulus dengan gelar cum laude. Untuk pamer? Bukan. Buat apa? Aku ingin ibu dan bapakku, berpakaian resmi, mengapitku yang mengenakan toga dan selempang bertuliskan cum laude. Lalu seorang fotografer handal memotret kami. Lalu mereka mendengar namaku dipanggil. Mereka lebih dari pantas mendapat kebanggaan seperti itu. Aku ingin menjadi farmasis yang sukses. Aku harus berhasil dalam kehidupan ini. Aku ingin orang-orang tahu, mereka berhasil membesarkanku. Kalian pernah lihat sebuah iklan yang mengisahkan seorang arsitek yang diwawancarai banyak wartawan? Ia berkata “Kalau ingin tahu cara membesarkan arsitek, tanya bapak saya”. Ya, aku ingin juga berkata seperti itu. Siapa yang mau bertanya “Bagaimana cara membesarkan seorang farmasis?” ? dan aku akan berkata dengan mantap “Silakan tanya kepada ibu dan bapak saya”.

Ya Allah, berikanlah aku waktu dan kemampuan untuk membahagiakan orang tuaku, seperti mereka telah membahagiakanku. Amin ya rabbal ‘alamin.

Kamar kos,

Selasa 25 Agustus 2009

22.30 WIB

p.s. : Korban nulis postingan ini meliputi 1 buah kaos dan 4 lembar tisu buat menghapus air mataaa....hua....dasar berlebihan.