Tampilkan postingan dengan label posting berbahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label posting berbahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

24/10/15

Bersama Setiap Kesulitan ada Kemudahan

Berada di tepian jurang di atas samudera, aku berpegangan erat pada akar belukar yang berjuntai di tebing sebelahku. Akar-akar itu tipis. Namun ternyata cukup kuat. Demi mencegah diri agar tidak jatuh dalam gulungan ombak, kucengkeram mereka kuat-kuat, sambil terus melangkah perlahan. One step at a time, one step at a time..aku terus melangkah.

Aku yakin, ada yang menungguku. Aku yakin, beberapa jiwa tergantung pada tekadku untuk terus melaju. Aku tidak akan jatuh. Aku tidak boleh jatuh. Entah sudah berapa banyak peluh, darah dan air mata tercurah, sudah tak kupedulikan lagi. Aku terus melangkah mempercayakan langkah pada belukar-belukar tipis. Sesekali peganganku terlepas, sesekali belukar-belukar itu putus akibat terlalu kencang kujadikan pegangan. Sebelum terhempas, buru-buru kuraih belukar lain.

Jika mau menengadah, sebenarnya dapat kulihat tali-tali lain yang lebih kuat daripada sekedar belukar. Namun ketika aku mencoba meraih sebuah tali kekar itu, tali itu justru naik ke atas, membuatku susah meraihnya. Kupertaruhkan keberuntunganku, aku melompat untuk meraihnya, namun apa daya tali itu justru merosot, hampir memukulku menuju ganasnya ombak di bawahku. Ternyata tidak berguna memohon bantuan pada tali itu, tidak jika aku hampir mengorbankan nyawaku.

Tali lain yang dulu tampak selalu ada, selalu bersama kakiku melangkah, kini makin sering menghilang. Kadang naik tak terjangkau, kadang menghilang tak terlihat. Kurasa sudah cukup rintihan untuk memanggil, sebaiknya terus saja melangkah tanpa merintih.

Karena merintih itu menguras energi.

Mungkin karena terlarut dalam pikiranku sendiri, tak kulihat jalanan yang mulai licin. Tanganku masih meraba-raba belukar dan kakiku masih melangkah perlahan, namun pikiranku kini telah berada pada mode auto pilot. Bagian pikiran yang digunakan untuk menjaga fokus sedang asyik berkeliaran merenung tentang berbagai skenario seandainya dan bagaimana jika.

Fungsi auto pilotku tidak dilatih untuk sangat berhati-hati. Dalam sepersekian detik, kakiku meluncur. Refleksku segera menyadari aku akan terjatuh dan ia segera melontarkan kedua kakiku, memutar badanku sekian rupa sehingga untuk sesatuan waktu yang singkat, aku melayang di udara. Aku dapat memilih untuk jatuh.

Namun tentu bukan pilihan mudah itu yang kuambil. Sudah kubilang, ada yang menungguku. Entah apa, namun kuyakin ada hal besar yang menungguku di balik tebing curam nan mematikan ini. Sudah kubilang pula, ada yang bergantung padaku. Dalam bisikan "aku tidak akan menyerah" itu, kulihat sebuah tempat aman. Tak seberapa luas, namun aman untuk menjatuhkan diri alih-alih menyerah pada ganasnya ombak. Tak buang waktu, kulontarkan tubuhku ke tempat itu. Ajaib, ketemuan akar sangat besar yang bisa menjadi pegangan, ya Allah, betapa cintanya Dirimu padaku.

Berucap syukur, kugenggam erat akar besar yang kuat itu. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Kubuka perbekalan dan kuambil sekedar untuk menghilangkan dahaga, lapar dan lelahku. Aku bahkan tidak tahu apakah bekalku akan cukup sampai aku menemukan apa yang menjadi tujuanku. Bagaimana aku bisa tahu? Jika aku tidak tahu seberapa jauh aku berada dari tujuan itu. Namun aku yakin, Allah Mencintaiku.

Selepas beristirahat, kupeluk tubuhku sendiri. Benar makin kupahami bahwa terkadang, pada tiap ujian dan musibah, yang manusia punya hanya dua hal. Tuhan dan dirinya sendiri. Tidak ada harta, tak ada ilmu, tak ada sahabat bahkan kekasih, tak ada siapapun. Ia hanya berdua. Bersama Tuhannya yang syukurlah, sebenarnya Mencintainya.

Kukeluarkan salah satu surat cintaMu. Untuk kesekian kalinya coba kuresapi surat itu. Surat di mana Kau Menuliskan untukku, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Kau Menulisnya dua kali. Berulang. Seolah aku tak akan langsung teryakinkan dengan hanya satu janji. Berapa Dirimu sangat Mengenalku yang keras kepala, yang tak mudah percaya. Yang sering lalai dan lupa. Lupa akan janjiMu ini.

Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan.

Kurapalkan janjiMu itu berkali-kali. Kucoba untuk Mempercayainya kali ini. Perlahan mulai kuyakin, pasti Kau tidak akan Mengecewakanku. Tidak akan pernah. Aku percaya padaMu, bahwa kau Mencintaiku. Dan aku percaya bahwa Kau Sesuai dengan persangkaanku.

18/09/15

Resep Masakan: Amalia's Homemade Pancake

Sesuai dengan yang kutulis di entri Cooking is Fun! And Sweet :) pada kesempatan ini aku ingin "mengembalikan semua sebagian knowledge (tentang masak-memasak) yang kudapat dari internet itu dalam bentuk posting resep" ". Ya, di entri ini aku akan berbagi resep yang sudah terbukti berhasil dan sukses kupraktekkan di dapur. Sumber dari resep ini (dan insyaallah resep-resep lain yang kuposting nanti) adalah dari internet. Setelah menemukan resep di internet, biasanya aku akan mencobanya langsung tanpa modifikasi. Jika hasilnya tidak sesuai standarku (yang lumayan tinggi lho kalau tentang masakan buatanku sendiri), maka aku akan melakukan modifikasi dan mencobanya lagi, lagi dan lagi. Enggak kapok-kapok sampai berhasil, hehe.

Pancake ini cocok dijadikan menu sarapan ataupun snack sebagai teman minum teh. Beragam topping bisa dipakai sebagai pelengkap pancake ini. Mulai dari madu, susu kental manis, margarin+keju, beraneka macam selai, es krim, sampai buah-buahan segar seperti strawberry dan pisang. Bahkan aku pernah makan pancake ini pakai abon sapi, hahaa..dan rasanya enggak aneh-aneh banget sih, meskipun enggak lazim. Homemade Pancake ini mudah untuk dibuat, dan karenanya aku cukup sering membuatnya. Sampai-sampai aku telah mengembangkan variasi lain yaitu Pancake Oatmeal yang lebih sehat dan lebih empuk. Kali ini, aku berbagi resep yang basic dulu ya, Amalia's Homemade Pancake. 


AMALIA'S HOMEMADE PANCAKE
(untuk 4 buah pancake berdiameter 18 cm)

Bahan:
  • 10 sendok makan tepung terigu serbaguna 
  • 3 sendok makan susu bubuk full cream
  • 100 mL (kira-kira setengah gelas) air matang
  • 2 sendok makan margarin
  • 1 butir telur ayam negeri berukuran besar
  • Setengah sendok makan gula pasir
  • 1,5 sendok teh baking soda (a.k.a Natrium Bikarbonat)
  • 1 sendok teh vanili bubuk
  • Topping sesuai selera


Alat:
  • Wajan antilengket
  • Sutil kayu
  • Baskom
  • Pengaduk (bisa pakai sendok makan, pengaduk spiral maupun mixer elektrik)
  • Sendok makan, sendok teh, sendok sayur dan gelas (sebagai alat ukur)
  • Kompor dan bahan bakarnya :p


Cara Membuat:
  • Lelehkan margarin menggunakan api kecil, namun jaga agar jangan sampai mendidih karena pendidihan akan merusak aroma lezat margarin. Bila sebagian besar margarin sudah meleleh, matikan api. Sisa margarin akan meleleh di wajan. Biarkan sampai margarin agak mendingin.
  • Larutkan susu bubuk dan gula pasir dalam air. 
  • Campurkan larutan gula-susu dan margarin leleh, aduk sampai rata.
  • Masukkan telur dan vanili bubuk, aduk sampai rata.
  • Masukkan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk rata.
  • Terakhir, masukkan baking soda, aduk sebentar saja asal rata.
  • Panaskan wajan anti lengket (kira-kira sepuluh detik) menggunakan api kecil (jangan menambahkan minyak ataupun margarin saat memasak pancake karena akan menyebabkan permukaan pancake tidak matang merata dan mulus). 
  • Tuangkan satu sendok sayur adonan, biarkan sampai gelembung-gelembung udara terbentuk dari adonan dan naik ke permukaan (enjoy watching the bubbles surface and pop. This is the most interesting part of making pancakes)
  • Ketika permukaan atas adonan mulai tampak mengering, balikkan pancake dengan sutil kayu.
  • Lanjutkan proses memasak selama 30 detik.
  • Pancake siap disajikan dengan topping sesuai selera.

Foto-foto:
Gunakan api kecil saja :)

Gelembung-gelembung udara mulai naik ke permukaan, artinya anda berada di jalur yang benar :D

Menurutku seperti inilah pancake yang "benar", warna cokelatnya relatif merata, tidak belang-belang
.
Diolesi selai cokelat-kacang, hmmm :)

Kitchen Science:
Baking Soda, alias natrium carbonat (NaHCO3), atau soda kue adalah suatu bahan kimia yang umum dipakai dalam pembuatan kue dan berfungsi untuk mengembangkan adonan. Saat larutan berair yang (misalnya adonan pancake) yang mengandung baking soda dipanaskan, akan terjadi reaksi penguraian baking soda menjadi karbon dioksida yang berwujud gas. Gas inilah yang kita amati saat proses pematangan pancake (gambar kedua). Karena kelarutan gas dalam air itu rendah, dan gas dalam air bersifat tidak stabil, maka aku selalu menambahkan baking soda di tahap akhir, tepat sebelum adonan dipanaskan. Setelah baking soda ditambahkan, jangan mengaduk adonan terlalu kencang karena hal tersebut akan mendesak gas terlarut dalam larutan untuk keluar ke udara, sehingga mengurangi gelembung-gelembung yang timbul.
Bagaimana dengan keamanan bahan tambahan makanan ini? Jangan khawatir, baking soda aman kok :) dan insyaallah halal, lha wong cuma garam karbonat gitu, Biasanya disintesis dari garam dapur, ammonia dan kalsium karbonat (gamping). Jadi, baking soda tidak berasal dari makhluk hidup ya. Berikut ini ada beberapa link tentang baking soda, bisa diklik:

  • Selayang pandang baking soda dan proses pembuatannya, Wikipedia
  • Mekanisme kerja baking soda ketika digunakan dalam pembuatan kue, (written by a PhD who i suppose, is great in kitchen too)dari chemistry.about.com

Seperti biasa terkadang posting-ku melebar kemana-mana, hehe. Sekian dulu ya, selamat mencoba dan semoga berkenan :)

16/09/15

HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi (Personal Review)

(1)
Ketika ku mendengar bahwa, kau sudah tak lagi dengannya
Dalam benakku timbul tanya
Masih adakah dia, di hatimu bertahta?
Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu?
Namun, siapkah kau tuh jatuh cinta lagi? :)

Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(2)
Kini ku tak lagi dengannya, sudah tak ada lagi rasa ;)
Antara aku dengan dia
Siapkah kau bertahta di hatiku, adinda?
Karena ini saat yang tepat untuk singgah di hatiku
Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku :)

(1)
Pikirlah saja dulu, hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku, melangkah menuju ke hatimu

(1) (2)
Pikirlah saja dulu, hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku, melangkah menuju ke hatimu
Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia :)

(1) (2)
Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?
:D


*****
Kali pertama mendengar lagu ini, aku sudah menduga kalau lagu ini pasti lagunya HiVi. I think they nailed it again, menurutku lagu ini keren banget. Liriknya, musiknya, dan tentu saja vokalnya. Rasanya aku bisa melihat dan merasakan si penyanyinya tersenyum kala selesai menyanyikan satu larik lagu. Persis seperti yang kurasakan saat mendengarkan lagu mereka yang berjudul "Mata ke Hati". Bener deh, suara mereka tuh, terkesan riang banget gitu. Seperti sedang menyanyi sambil tersenyum. Menimbulkan rasa ceria di hati dan bikin pingin senyum, hehe. Menurutku, karakter vokal dari kedua vokalis utama HiVi sangat cocok dengan mood lagu mereka yang sebagian besar bersifat riang gembira ala orang ketemu jodoh gitu, hahaha. Oh iya, video klipnya juga bagus lho. They play with silhouettes. 



Enggak bosan-bosannya aku mendengar dan menyanyikan lagu ini. Sehabis mandi, sebelum berangkat ke kantor, saat bersiap-siap hendak pergi, saat memasak, saat mencuci, aku selalu memutar dan menyanyikan lagu ini, Dua kali karaokean, dengan orang-orang berbeda, inilah lagu pertama yang terlintas di otakku saat menyusun playlist. Saat berjalan kaki ke kantor, saat mandi, i sing this song without thinking. Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi (dengan lagu HiVi)? Jawabannya, mengutip dari video klipnya, adalah #SIAP, hihi.

24/05/15

Matahari Terbit Lebih Awal

Bagiku, pada hari itu, matahari terbit lebih awal. Belum genap pukul dua dini hari, namun duniaku telah gegap gempita oleh sebuah cahaya yang aku tahu persis berasal dari mana.

***

Bagiku, pada hari itu, bintang tampak lebih awal. Belum genap pukul sebelas di pagi hari, namun sore yang menenangkan telah naik di duniaku. Berkilauan akan pendar bintang yang aku tahu persis berasal dari mana.

***

Matahari.
Dan bintang.

02/03/15

Cooking is Fun! and Sweet :)

Sejak bekerja di sini, sejak tinggal di bangunan mess ini, aku jadi gemar berjalan-jalan dan memasak. Kegemaranku berjalan-jalan ke tempat baru dan menghafalkan peta sebenarnya sudah ada sejak dahulu, Bedanya kini aku sudah punya uang sendiri untuk membeli tiket perjalanan. Rasanya berjalan-jalan adalah cara ternikmat untuk menghabiskan sisa uangku yang mungkin tak seberapa, setelah dipotong tabungan rutin, ongkos makan dan ongkos-ongkos yang lain.

Jika sedang tidak berjalan-jalan di akhir pekan, aku gemar bereksperimen membuat masakan-masakan baru. Begitu juga ketika aku masuk kerja shift 2 (masuk jam 3 sore), sebisa mungkin aku berusaha untuk membawa bekal makanan sendiri. Rupanya di zaman "kekinian" seperti sekarang, kemampuan dan kegemaran memasak dianggap cukup langka untuk dimiliki oleh seorang wanita berumur 24 tahun. Cukup banyak orang yang terkejut saat mengetahui bahwa aku sering memasak makananku sendiri. Cukup banyak orang yang terheran kala mendapatiku membawa suatu bekal makanan yang mungkin tampak tidak biasa. Dan tentu saja orang-orang heran kala mengetahui bahwa ternyata aku hafal harga terkini komoditas-komoditas pangan seperti beras, kacang hijau, udang, daging ayam, daging sapi dan lain sebagainya :p 

Dahulu saat aku kuliah di Yogyakarta, aku sama sekali tidak pernah memasak di kost. Sebabnya, tidak ada kompor dan peralatan-peralatan memasak di sana. Lagipula, jauh lebih mudah untuk membeli makanan di warung-warung sekitar kost. Paling-paling aku hanya memasak ketika sedang pulang kampung, itupun hanya makanan sederhana seperti sayur bayam, spaggeti saus Bolognese, nasi goreng, ayam goreng, sup dan sayur asam. Namun di sekitar tempat tinggalku di sini, hanya ada sedikit pilihanku untuk "makan di luar", Warung-warungnya begitu-begitu saja, tidak ada warung makan yang benar-benar sesuai seleraku. Maka aku pun bertekad untuk memasak. Dengan kemampuan bahasa Sunda yang minimal saat itu (sekarang juga masih belum jago sih), aku mencoba berbelanja ke warung dan pasar tradisional. 

Sebagai pemasak pemula saat itu, masakanku pun itu-itu saja. Tumis sayuran pertamaku rasanya tidak enak. Ya iyalah, mana ada orang lain yang memasak tumis sayuran berbumbu bawang putih, kecap dan jahe? Seharusnya aku memakai lengkuas. Mendoan pertamaku juga terasa aneh di lidah. Menu andalanku cuma 2: ayam dan udang saus asam manis. Itulah masakanku yang paling pantas dibanggakan. Selain itu aku hanya bisa memasak sayur bayam, sayur asam, sayur sop dan aneka lauk yang digoreng. Sampai akhirnya aku menemukan metode ampuh untuk menyelamatkan rasa masakanku: bertanya pada ibuku! Alhasil, setiap hari aku bertanya pada Ibuku, bumbu apa saja yang diperlukan untuk menghasilkan suatu masakan dengan rasa yang wajar. Perlahan-lahan, aku akhirnya bisa membuat tumis kangkung, tumis kacang panjang dan aneka masakan yang umum disajikan di meja makan keluarga Indonesia (keluarga Jawa pada khususnya). Rasa mendoanku pun mulai membaik, bahkan kini tempe mendoan buatanku sudah mendapat reputasi di kalangan penghuni mess, haha. Khasanah pengetahuanku juga bertambah kala Ibu petugas kebersihan di mess mengajariku untuk membuat tahu bacem, sayur bobor, bakwan dan lotek. Hmmm...

Setelah beberapa saat aku memasak menu-menu "wajar" seperti itu, lama-lama aku merasa bosan juga. Maka aku pun mulai mencari-cari variasi menu untuk dimakan sehari-hari. Tempat pertamaku bertanya tentang resep-resep masakan aneh, tentu saja Chef Google. Cukup masukkan kata kunci seperti "resep spaghetti carbonara", "resep nasi goreng rempah", "resep ikan bakar teflon", dan lain sebagainya, dalam hitungan detik akan muncul resep yang kita inginkan. Berdasarkan pengalaman, resep online yang memiliki jaminan sukses tertinggi justru berasal dari blog-blog pribadi. Dengan masing-masing cerita personal tersendiri di tiap resep yang di-publish. Resep-resep itu pasti sudah berhasil di-trial dengan sukses oleh para penulisnya. Disertai dengan foto-foto (yang umumnya) sederhana, justru resep itu terkesan jujur dan meyakinkan di mataku. Semoga suatu saat aku bisa mengembalikan semua knowledge yang kudapat dari internet itu dalam bentuk posting resep.

Ya, memasak itu menyenangkan. Demikian juga menyusun menu untuk seminggu, berandai-andai mau makan apa seminggu ke depan. Berbelanja di pasar tradisional, meski kadang pasarnya becek dan bau. Makanan yang dulu kukira hanya bisa dimakan di "luar" seperti selat Solo, nasi goreng rempah, aneka macam pasta, penyetan, chicken cordon blue, steam boat, pizza, tahu aci, cireng, pancake, ikan bakar, martabak mini, nasi kuning, jamur crispy dan lain-lain, ternyata dapat dibuat sendiri di rumah. Memasak itu bagaikan me time buatku, saat memasak yang ada di pikiranku hanyalah berusaha untuk mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan tentu saja menebak-nebak, seperti apa rasanya nanti. Kalau hasilnya enak dan bagus, pasti senang sekali. Jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, tentu saja agak kecewa. Namun tetap saja waktu-waktu memasak itu menenangkan dan mengasyikkan. Just me and myself, with the stove and kitchen utensils, listening to the music in my headset and the fizzle of water forced out of the raw groceries. Suara pisau memotong daun sawi, suara ulekan beradu dengan alasnya, suara bahan yang mendidih, suara sutil menggaruk penggorengan. Aroma bawang yang ditumis, aroma nasi yang baru matang, aroma ikan yang digoreng. Aroma tomat segar, aroma vanili yang terkena panas, aroma daun salam yang direbus. Begitu tenang dan perlahan, memungkinkan kita untuk menikmati setiap proses. It is like i am in my own, quieter word. And I like it.

Kegemaranku memasak ternyata bersambut kala ada teman messku yang mengajakku membeli oven dan mixer. Semenjak itu, kami rajin membuat kue, dengan harapan tinggi bahwa suatu saat nanti kami akan menjadi juragan bakery. Terakhir pulang kampung, aku membawa kue sukade buatanku sendiri. Terakhir kali temanku berulang tahun, aku membuatkannya cake ulang tahun buatanku sendiri. Mungkin teman-temanku dulu juga tidak akan menyangka, ternyata aku yang dulu jarang sekali memasak sekarang begitu antusias turun ke dapur. Aku yang dulu baru hafal aroma kencur setelah melakukan praktikum di laboratorium Analisa Kandungan Tanaman Obat itu, kini mempunyai koleksi bumbu-bumbu yang cukup lengkap, mulai dari jahe, kunyit, lengkuas, temu kunci, bawang merah, bawang bombay, jeruk nipis, daun jeruk, daun salam sampai kembang lawang (star anise), kayu manis, kapulaga, jintan, ketumbar dan tentu saja merica berbentuk butiran-butiran utuh. Belum lagi bahan-bahan membuat kue yang cukup lengkap.

Sekali lagi, masakanku tidak selalu sukses. Namun rasa excited sekaligus ketenangan yang kurasakan saat memasak begitu adiktif, sehingga aku tidak pernah kapok. Saking niatnya, aku membeli juga pancake dan muffin dari kafe dan bakery yang sudah cukup terkenal agar aku tahu, bagaimana sih rasa dan tekstur pancake dan muffin yang "benar" itu? Ternyata pancake harus cokelat merata bagian dasarnya, agar ketika dibalik tampak cokelat mulus nan cantik juga licin berkilap, bukan kuning berbintik-bintik hitam. Pancake juga harus mengembang, bukan bantat. Muffin harus cukup ringan dan berpori teksturnya, bukan padat seperti pound cake. Di dapur, aku dapat bertindak seperti formulator industri-industri farmasi me-too di Indonesia yang berusaha meniru persis produk inovator, haha. Membuat masakan me-too alias KW juga berguna untuk mengobati rasa kangen akan makanan-makanan kesukaanku yang susah kutemukan sekarang, misalnya capjay ndeso pakai kekian palsu (bukan cap cay Cina) ala warteg dekat kost-ku dulu; atau rujak kangkung yang di Jogja disebut sebagai "plecing kangkung", padahal ternyata keduanya merupakan dua jenis makanan yang berbeda. 

Satu lagi hal yang kusadari setelah aku belajar memasak adalah, ternyata benar bahwa setiap orang yang mau belajar memasak, pasti akhirnya akan bisa memasak. Practice makes perfect, walaupun aku belum perfect banget juga haha. 

Oh iya, kenapa umumnya orang menganggap bahwa orang-orang yang hobi belajar masak itu merupakan orang-orang yang sedang bersiap-siap berumah tangga ya? Bukan berarti mereka 100% salah sih, namun sepertinya dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan memasak untuk mengarungi kehidupan berumah tangga, bukan? Meskipun memang aku yang suka makan ini yakin bahwa ketersediaan dan kualitas makanan yang kita masukkan ke tubuh itu merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan ini :p A great food awakes your sense of taste and your soul as well. Makan enak aja sudah bisa bikin kita lebih happy, kan? Terus kan kasihan kalau anak-anak tidak mendapat asupan makanan yang halal, bergizi, bersih dan enak ("enak"-nya memang sengaja digaris bawah). Sedangkan menurutku memasak untuk suami adalah salah satu cara konkrit untuk menyatakan cinta. Thing I'll do after marriage. Soalnya, I want him to be the first man I am cooking for (selain adikku, ayahku dan mungkin beberapa orang lain yang beruntung kecipratan mencicipi masakanku walaupun tak pernah kubuatkan masakan secara khusus). Ternyata sebegitu pentingnya arti makanan buatku ya? Hehe...dasar aku suka makan.

Memasak untuk seseorang itu benar-benar merupakan tanda cinta
Bukankah menyenangkan, pulang saat petang dan ditawari makanan hangat yang baru saja dimasak?
Bukankah rasanya dicintai, ketika dibuatkan camilan kesukaan di sore hari?
Bukankah menentramkan, kala mengetahui makanan kita malam ini disiapkan secara teliti dan hati-hati oleh seseorang yang kita cintai?

Dan...sampai di akhir tulisan ini, tiba-tiba aku merasa lapar lagi.

25/12/14

Subconscious

Ayahku menunggu di luar. Adikku juga, sepertinya. Mereka akan mengantarkanku menemui teman-teman kuliahku yang juga sudah menungguku di suatu kafe.

Namun aku malah memasuki sebuah toko buku. Oh bukan, lebih tepat disebut toko alat tulis. Tas plastiknya yang berwarna kuning, bukan putih, langsung membuatku tersadar akan tempatku berada. Kenapa pula aku akan menemui teman-teman kuliahku di sini? Kenapa pula adik dan ayahku menungguku?

Aku tahu mereka menungguku. Namun aku merasa aku harus tetap melangkah memasuki toko itu.

Rasanya aku tidak membawa apa-apa, namun kudapati petugas penitipan barang tersenyum ramah seraya menyerahkan kartu deposit padaku. Entah apa yang kutitipkan padanya.

Aku terus melangkah. Hei, benarkah ini toko alat tulis? Karena kulihat banyak sepatu dan sandal diobral di bagian depan toko. Kuputuskan untuk melihat-lihat sebentar. Harganya murah-murah. Namun tak kutemui wedges bertumit rendah berwarna cream.

Karena barang yang kuinginkan tidak pernah diobral murah.

Menyerah, aku melangkah ke bagian tengah toko. Di sebelah kiri, kulihat tumpukan binder yang dipajang untuk ditawarkan. Sebenarnya yang kubutuhkan bukan binder, melainkan notes kecil untuk mencatat tugas-tugasku.

Namun aku tetap berjongkok untuk melihat-lihat aneka binder itu. Kuambil binder di bagian pojok kiri, binder teratas. Entah kenapa, tanpa melihat covernya aku langsung membuka binder itu.

Aneh, toko ini menjual binder baru berisi kertas bekas.

Pada halaman acak pertama yang kubuka, kudapati sebuah grafik yang sepertinya menggambarkan nasib obat dalam tubuh. Samar-samar kubaca, "Brinzolamide" ada di judul grafik itu. Grafik itu terasa familiar: tarikan garisnya, cara penulisan angka 7, cara penulisan huruf b dalam satu tarikan garis lengkung. Bukankah ini tulisanku?


Caraku menuliskan tanggal di pojok kanan atas. Memberi judul. Menulis lugu apapun yang kupahami saat itu.


Ini catatanku. Dijual di toko ini. Tak kupikirkan fakta bahwa dulu semasa kuliah aku tak mencatat memakai kertas binder. Aku benar-benar yakin bahwa ini catatanku. Penasaran, kubuka lembar selanjutnya.

Dan tertulis dengan spidol warna jingga, tulisan-tulisanku. Perasaan-perasaan yang temanya cukup baru. Berpuluh-puluh halaman. Aku tenggelam membaca curahanku sendiri. Benarkah aku pernah sampai seperti itu? Tanpa pikir panjang kumasukkan binder itu dalam kantong belanjaan yang tiba-tiba sudah ada dalam genggaman.

Entah kenapa aku membuka binder lain. Masih tulisan-tulisan yang sama, ditulis dengan tinta jingga. Tulisanku juga! Buru-buru kumasukkan binder kedua itu dalam kantong belanjaan. Dengan panik aku membuka satu persatu semua binder yang dipajang. Aku tahu, aku harus membeli semua binder yang memuat tulisan-tulisanku.

Terlintas pemikiran untuk menuntut toko ini, karena telah menjual kertas-kertasku tanpa sepengetahuan dan izinku. Namun akhirnya aku membeli 2 binder tadi, sebuah pensil bermotif kulit zebra dan sebuah stabilo hijau berlambang angsa. Kubayar tunai.

Aku melenggang keluar, geli dan heran kenapa kertas-kertas berisikan tulisan-tulisanku bisa ada di toko ini. Untung aku cepat-cepat membelinya sebelum kertas-kertas keramat tadi jatuh ke tangan orang lain! Aku tersenyum mengingat keberuntunganku.

Kubuka tas belanja berwarna kuning yang kini kupegang. Kuambil dua binder yang kubeli, aku ingin membaca ulang tulisan-tulisanku. Namun senyum dan langkahku terhenti kala kusadari kedua binder itu hanya memuat kertas-kertas kosong. Pasti ada yang salah! Pasti belanjaanku tertukar. Cepat-cepat aku menuju kasir. Ini tak boleh terjadi. Tulisan-tulisanku tak boleh dibaca oleh siapapun.

Kuingat mereka yang sudah menungguku. Entah sudah berapa lama mereka menungguku yang asyik sendiri di dalam toko. Namun aku harus mengamankan dua binder berisi tulisan-tulisanku itu. Terus aku berlari. Rasanya meja kasir terasa jauh sekali, namun akhirnya aku sampai juga.

Tepat ketika akan kutanyakan perihal tertukarnya belanjaanku, aku terbangun. Ah.

02/11/14

Himalaya

(A song by Maliq & D'Essentials)


Coba khayalkan sejenak, sepuluh tahun lagi hidupmu
Coba bayangkan sejenak, misalkan ada aku yang menemani hari demi hari yang tak terhitung
Misalkan itu aku yang terakhir untukmu

Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu di aku, di aku
Dan kamu, pastikan kamu melihat aku, saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi

Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi sekarang
Kita renungkan sejenak cara agar semua bisa terjadi walau kutahu tak semudah itu
Tapi coba sekali lagi, bayangkan aku...

Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu di aku, di aku
Dan kamu, pastikan kau melihat aku, saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi


****
Lagunya bagus, liriknya romantis, Sederhana tapi mengena.
Aku paling suka pas bagian "dan kamu, pastikan kamu melihat aku, saat kugapai puncak tertinggi".
:)

22/10/14

Past and Present

Masa lalu takkan begitu menggiurkan, jika sekarang kita berbahagia.

Kangen Kampus

Beberapa saat yang lalu aku membaca sebuah artikel di internet tentang sisi-sisi kehidupan anak UGM. Bagi yang berminat bisa membacanya  di sini. Setelah membaca artikel itu, mataku berkaca-kaca karena rindu. Huaaa, aku kangen sekali dengan masa-masa kuliah di UGM dulu. Bukan berarti aku tidak bersyukur atas keadaanku yang sekarang, tapi sampai saat ini aku masih merasa bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa yang menyenangkan. Ibarat bayi yang harus lahir dari rahim ibu, saat meninggalkan masa kuliah dan memasuki dunia kerja aku pun menangis. Sebabnya, aku seperti dipaksa untuk keluar dari rahim ibu, dari kenyamanan. Siapa lagi yang memaksa kalau bukan diriku sendiri, hehe. But actually, I like to force myself like that :p

Kembali ke topik utama. Aku merasa beruntung dan senang sekali karena bisa belajar di UGM selama 5 tahun. Kuliah di UGM merupakan cita-citaku sejak SD. Saat ibuku kuliah S2, aku sering diajak pergi ke Jogja, sekalian untuk berlibur. Ibuku selalu mengajakku ikut ke kampusnya, kampus Fakultas Pertanian UGM. Saat memasuki kampus UGM yang luas, aku yang masih berusia 10 tahun langsung terkagum, Kampusnya sangat luas, bus kota masuk dengan bebas. Sejauh mata memandang, tampak para mahasiswa. Mereka tampak begitu dewasa dan pintar-pintar semua. Sepanjang jalan berdiri bangunan-bangunan sederhana yang papan namanya memuat nama-nama luar biasa, misalnya "Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam". Sungguh mengesankan. Dulu, perpustakaannya masih berupa bangunan lama, tapi tentu saja besar dan mengesankan. Sayang dulu, ketika aku masih kelas 5 SD, tak banyak buku-buku di sana yang bisa kubaca. 

Fakultas Pertanian kala itu pun tak kalah mengesankan. Di berbagai penjuru tampak kelompok-kelompok mahasiswa berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak mengerti karena mereka menggunakan banyak istilah teknis bidang keilmuan mereka. Teman-teman ibuku di pasca sarjana pertanian, seperti umumnya para mahasiswa di Jogja, juga ramah-ramah dan baik. Sembari menunggu ibuku mengurus entah apalah di suatu ruangan, aku memandangi rumput di bawah kakiku sembari bertekad. Besok kalau sudah besar, aku mau kuliah di UGM! Keinginan itu menancap benar di pikiranku. I must and I will. Meskipun saat itu aku belum tahu kalau aku akan ingin menjadi seorang Apoteker,

Ketika tiba saatnya bagiku untuk memilih universitas tempatku melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, dengan percaya diri aku memilih UGM, kampus impianku sejak kecil. Bukan, aku bukan murid terpintar di kelas, apalagi di sekolah, Tapi aku, yang selalu berusaha mengandalkan logika ini, ada kalanya bertindak berdasarkan intuisi. Intuisi "I must and I know I will" itu tadi. Seperti lagu Savage Garden yang judulnya I Knew I Loved You before I Met You, hehe. Menurutku, pada pandangan-pandangan pertama, kita telah memutuskan apakah sesuatu atau seseorang itu akan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan kita. Berdasarkan pengamatan kita di awal-awal, kita sudah tahu, kelak kita akan menganggapnya sebagai apa. When I saw UGM for the first times, I know that I must and I will, be there. Intuisi. Walaupun soal UM (Ujian Masuk)-nya susah sekali, tapi entah kenapa aku tenang-tenang saja. Mungkin karena saat itu umurku baru 17 tahun? Bisa jadi.

Aku merasa bahagia sekali ketika ibuku membangunkanku malam itu, dan memberi tahuku bahwa aku diterima di Fakultas Farmasi UGM. Saking bahagianya, aku tak bisa tidur lagi sampai pagi.

Dan tanpa terasa, sudah lebih dari setahun lalu aku lulus dari UGM. Waktu berjalan sangat cepat. It feels just like yesterday when I first spending the night alone in Jogja. I was alone, but I didn't feel alone at all. Semuanya mengalir saja. Senang, sedih, bahagia, galau, warna-warni lah. Semuanya mengalir saja. Beraneka mata kuliah datang dan pergi. Semuanya penting dan jujur, sebagian besar menarik buatku. Sekarang kusadari betapa nikmatnya berangkat pagi untuk kuliah dan praktikum seharian. Belajar dalam keadaan yang tenang dan nyaman. Di dunia kerja, belajar dilakukan sambil melakukan hal lain. Bahkan terkadang, untuk belajar tentang sesuatu yang sebenarnya berkaitan dengan pekerjaan kita, kita harus mencuri-curi waktu. I can't imagine a better place to pursue my bachelor and Apotechary degree, really. Just like I can't imagine to take another major besides pharmacy. Maybe it's my intuition speaking again, tapi beneran deh UGM itu keren banget. Googling sendiri sajalah, kenapa UGM itu keren, hehe.

Oh iya, aku sadar bahwa UGM, meskipun menurutku kerennya selangit, tetap saja mempunyai kekurangan, Kekurangan yang menurutku paling mengganggu dan mendesak untuk segera diperbaiki adalah kurangnya pengenalan terhadap dunia nyata. Dari percakapanku dengan beberapa teman sejawat Apoteker dari universitas lain, UGM (khususnya Fakultas Farmasi) memang lebih unggul di ranah teoritis. Mendalam sekali kami mempelajari orbital yang terlibat dalam reaksi kimia, proses pembelahan sel, proses terpicunya sistem imunitas spesifik, eksitasi elektron yang mendasari suatu analisa kimia, kinetika kimia dalam stabilita suatu zat aktif farmasi, apa yang terjadi antar molekul air dan minyak pada proses terbentuknya korpus emulsi. Mendalam sekali kami mempelajari teori balance score card, hierarki kebutuhan manusia, teori ciri-ciri profesi, teori komunikasi. Well, semua itu penting, namun waktu kami habis untuk mempelajari teori. Kurangnya persentuhanan kami dengan dunia nyata menjadikan kami sedikit kikuk dan terkaget ketika memasuki suatu industri, rumah sakit atau apotek. Maka sekarang aku setuju jika masa PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di industri atau rumah sakit akan ditambah durasinya menjadi 6 bulan dari semula hanya 2 bulan. Aku pun setuju jika sebaiknya kuliah tamu dari berbagai golongan praktisi ditambah frekuensinya. Sedangkan bagi mereka yang memang tertarik untuk mendalami teori, dapat melanjutkan studinya ke jenjang master alih-alih mengambil program profesi Apoteker. 

Praktikum-praktikum yang ada pun menurutku terlalu sederhana dan perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini di dunia nyata. Memang mahasiswa yang cerdas akan mampu menyari prinsip dari praktikum-praktikum yang ada untuk kemudian diterapkan dalam pengujian-pengujian lain yang lebih canggih di kemudian hari. Namun ada baiknya Farmasi UGM juga memperbaiki diri dengan memperbarui topik-topik praktikum yang telah ada. Akan lebih baik jika praktikum yang ada dirancang untuk lebih menggali kemampuan mahasiswa dalam berpikir mandiri, namun dengan tetap memelihara budaya teamwork. Mata praktikum yang telah menerapkan hal ini antara lain adalah praktikum Analisis Farmasi dan Analisis Obat, Kosmetika dan Makanan. Yang mana pada dua praktikum ini (which I proudly had ever been working at, as a technical assistant, hehe), praktikan harus mencari metode analisa untuk menganalisa suatu sediaan farmasi. Setelah itu, mereka harus mengkonsultasikannya pada dosen pembimbing sebelum menerapkan metode itu saat praktikum. It was fun, really. Meskipun ada juga yang masih mengandalkan laporan kakak kelas sebagai sumber metode analisa, tapi lumayan lah, enggak terlalu copy-paste banget. Karena kita harus mempertahankan metode itu di depan dosen pembimbing praktikum, jadi setidaknya kita harus paham tentang metode yang kita usulkan dan akan kita terapkan. Kira-kira seperti itu juga tahap pengembangan metode analisa di the real laboratory.

Ah, lagi-lagi tulisanku melebar kemana-mana.
Intinya, aku akan membeli kalender UGM 2015 di Kopma, untuk kemudian dipajang di meja kantor sebagai penawar rindu (atau malah akan semakin menambah rindu?).

Well,Have a nice day, readers :)

25/08/14

My Thoughts about My Job

I am thankful that I get this job before I was graduated. Sorry if this sounds rude, but honestly I can not imagine me being jobless and doing nothing everyday. My dream job was to be a quality-operational excellence specialist in a pharmaceutical industry. I was, and still am, quite interested on how to make a dependable system that is efficient yet able to assure the quality of the product produced. In other words, how to get higher quality yet higher yield with the same, or less, money, time and effort. It is both science and art because not only we have to understand the process, but we need to be able to manage people, machinery/instrument, starting material, environment and of course, the process itself.

However, destiny brought me to be a analytical development pharmacist. This job was not my first choice, but I took it after a long and thoughtful contemplation. Will I like this job? Will I passionately talk about my job to my friends that actually have no idea about what analytical development is? And the most important question I asked myself was: If I face problems and obstacles when I am doing my job, will this passion enough to help me go through? 

As you should agree, in a pharmaceutical industry, all of starting materials that will be processed to be finished product (active pharmaceuticals ingredients, inactive pharmaceuticals ingredients and packaging meterials) should be chosen very carefully, then tested to assure their quality. Why? Because starting material is one of the 5 affecting the product quality. And it is impossible for a pharmaceutical company to make all of the starting materials by itself. So, we literally rely in other parties (other manufacturers) to provide us something that will greatly affecting the quality of our product. My job is to assure that my company choose the dependable manufacturer that provides the highest quality yet offers the most reasonable prices. How do I do that? 

I correspondence with the starting material manufacturer, asking them about everything my company needs to know about their product quality and their company's reputability. I communicate with the Purchasing Department to make sure that my company get the most from the transactions we make future, or made in the past. I develop analytical methods to test the product. I validate, or verify the method. I communicate and work together with the Quality Control Department to make sure that those methods are applicable to be implemented in my company. Each of those activities can be broken into many sub-activities. That is why I am so busy in the office, because there are so many things to do and so many problems to solve. But hey, long before I decided to work in a pharmaceutical industry, I know that the pressure of working in an industry is enormous. But I decided to work here anyway. Why? Because I think I am still young. 

Yeah, I am full of youthfulness. I am in the peak of my physical and mental energy. I can work for 13 hours straight and still be okay when I get up in my bed the next morning. I can be pressured like this 5 days a week, yet I don't have to worry if I will get a -God Forbid- heart attack, major depression or any sort of mental illness. I literally don't have anybody depends on me financially. Alhamdulillah both of my parents are perfectly capable to support themselves and my brother. I can spend all of my salary to have fun every weekend, or maybe everyday, just to balance all of these pressure with leisure (but thank God I got enough financial education and still save a good amount of money every month and make an infestation plan). My parents and my brother are great. They always be my greatest inspiration, motivation and support in everything I do. I also have satisfying social relationship with some carefully selected people. Along with my parents, my brother and of couse my very own self, they are my true support system. They are people I love, depend to, and care about. With this level of energy, this amount of love from my support system and enough money in my youth, it is actually tempting to play safe-take an "easy" job. But why play safe? I don't want to play safe right now. My youthfulness is not going to stay forever. I want to make the most of it so I can enjoy it after my youth passes. 

I want to make the most of these youth times so that someday when I start a family I don't have to abandon them just because I still have to work as hard as I do now. I don't want to abandon them just because I "wonder what I actually capable of in career", because I have pushed myself to the limit and taste it all before I have them as my family. I agree that a woman should get the highest education so she can raise smart children. But I also think that a woman should experience what it is like to work hard and be pressured at work, so she can be a great mom. I think being a mother is physically and mentally harder than work in an industry sometimes. So I'd like to think that my job is a sort of preparation in starting a family later. I always think that a husband and a wife should be best friends. A husband should understand and support his wife's dreams and ambitions, including her dream career (and a wife should understand and support his too, vice versa). But children? 

Being a helpless creatures they are, they have to have their mother being with them. They need their mother to nurture them, feed them and play with them. They need their mother to assure the quality of the food they take, the clothes they wear, the air they breathe, the words they hear, and basically everything for them. They need their mother to They need their mother to teach them how to walk, to speak, to communicate, to go to the toilet by themselves, to eat their own meal and to believe in themselves. They need their mother to told them that they are special and loved. They need their mother to take them to school on their first day of school. They need their mother to take care of them when they are sick. They need their mother to listen to their first cry, their first word, their first stories and all of their stories. When that time comes, my job will not be my main focus.

I would like to believe that I do everything by choice. My own choice. Actually this belief helps me a lot. I choose to be here. As someone that is still learning how to be a responsible adult that can hold herself together, I will do everything to well...to hold myself together :)

24/08/14

Terjawab (Owalah Moment*)

Kata mereka, Allah selalu Menjawab permintaan kita. Dengan cara-Nya sendiri. Pada waktu yang sudah Ditentukan oleh-Nya. Kalau kataku, Allah selalu Menjawab semua pertanyaanku. 

Allah Menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Semua pertanyaanku, walaupun hanya pertanyaan sederhana seperti mengapa wortel berwarna jingga. Ternyata hal itu disebabkan karena wortel mengandung beta-karoten, suatu molekul yang memang berwarna jingga. Beta karoten ini bisa diubah menjadi vitamin A. Jadi benar bahwa makan wortel baik untuk kesehatan mata (agar beta karoten dalam wortel dapat diserap maksimal, sebaiknya wortel dipotong-potong kecil dan dimasak dengan sedikit minyak dahulu sebelum dimakan). Oh iya, sebenarnya dulu wortel itu bermacam warnany. Ada yang berwarna putih (wortel liar), kuning, merah dan ungu. Keanekaragaman warna wortel semakin beragam ketika seorang ilmuwan pintar, melalui rekayasa genetika, menghasilkan wortel berwarna jingga. Kemudian para petani negeri Belanda memilih untuk hanya menanam wortel berwarna orange sebagai bentuk kecintaan mereka pada kerajaan yang berkuasa saat itu. Jadilah wortel yang kita kenal sekarang hanya berwarna jingga.

Allah Menjawab pertanyaaan-pertanyaanku. Semua pertanyaanku, termasuk pertanyaan sulit seperti mengapa kita tidak bisa mendapatkan sesuatu di masa lalu. Pertanyaan itu menjadi suatu pertanyaan yang sulit, karena aku tahu pasti jawaban atas pernyataan itu tidak akan ada di internet. Aku tidak bisa meng-google pertanyaanku untuk mendapatkan jawabannya. Tidak ada textbook yang membahas hal yang kutanyakan itu. Pun aku tidak bisa menanyakan hal itu kepada orang lain. Pertanyaan itu juga menjadi pertanyaan yang membingungkan, karena saat itu kita sangat menginginkan hal itu. Ingin sekali sampai bersikeras. Hampir aku menarik kesimpulan bahwa ada memang akan ada satu atau beberapa pertanyaan yang tidak akan kita temui jawabannya di dunia ini. Ternyata tidak begitu.

Allah akan Menjawab pertanyaan kita. Allah Menjawabnya pada waktu yang tepat. Saat kita telah siap untuk mendengarkan dan merasakan jawaban itu. Saat pikiran kita telah terbuka. Saat logika dan akal sehat kita telah kembali. Saat emosi pengundang subyektivitas telah mereda. Saat itulah Allah akan Membisikkannya pada kita.

Atau mungkin Allah telah Memberikan jawaban-Nya padaku beberapa waktu yang lalu. Melalui berbagai pertanda. Melalui kata-kata nasihat dari orang-orang tercinta. Melalui insting akan bahaya yang terkadang muncul. Namun mungkin saat itu pikiranku masih tertutup, logikaku sedang lumpuh dan akal sehat kita terkalahkan oleh emosi. Sehingga aku masih saja merasa tidak mengerti.

Hari ini aku mendapatkan banyak pengetahuan baru. Hari ini, hampir tak terhitung kali aku mengalami owalah moment* karena aku membaca koran, main ke museum, berdiskusi, bercakap-cakap dan berjalan-jalan. Namun owalah moment sesungguhnya adalah ketika aku pulang, membuka pintu kamarku kemudian duduk untuk berpikir sebentar. Akhirnya aku mengerti. And it feels good. Terima kasih Allah, sudah Menjawab pertanyaanku. Pasti setelah ini aku akan menanyakan hal-hal lain.

*owalah moment sama aja sih artinya dengan Eureka moment, tapi karena aku orang Jawa jadi aku memilih untuk menggunakan owalah moment saja.

03/05/14

Dua Peri Gigiku

Sejak aku kecil, kira-kira kelas 1 SD, Ibu dan Bapakku sudah mengharuskanku menggosok gigi sebelum tidur. Sebagai anak kecil yang suka bermain sampai terlalu capek dan ingin langsung tidur, aku membenci keharusan itu. Aku belum mengerti manfaat menyikat gigi. Mungkin ibu dan bapak pernah menerangkannya padaku, tapi aku lupa. Pokoknya aku kesal sekali kalau diminta gosok gigi ketika sudah mengantuk. Apalagi ibuku hampir selalu mengawasi dan akan menyuruhku menggosok gigi dengan benar, tidak sekedar berbusa saja namun harus digosok cukup lama dan mencakup semua bagian gigi,

Pernah suatu malam aku tertidur di ruang keluarga. Aku kelelahan karena seharian bermain bersama saudara-saudaraku dari luar kota. Namun ibu dan bapak benar-benar tak mau tahu, mereka tetap menyuruhku menggosok gigi. Malam itu aku menangis di kamar mandi karena capek, mengantuk dan tentu saja kesal. Saat itu aku benar-benar tak mengerti, buat apa sih? Kenapa mereka tidak membiarkanku tidur saja? Aku benar-benar tak mengerti, ibu dan bapakku yang tak pernah menyuruhku masuk peringkat 10 besar di kelas, tak pernah memaksaku membantu pekerjaan rumah, tak pernah menyuruhku les ini-itu, tak pernah melarangku berteman dengan siapa pun...selalu memaksaku untuk menyikat gigi sebelum tidur? Menurutku saat itu, menggosok gigi sebelum tidur itu enggak penting banget.

Meskipun aku malas-malasan seperti tiu, ibu dan bapakku tak pernah bosan memaksaku menggosok gigi sebelum tidur.

Tahun-tahun terus berlalu. Kadang aku masih malas menggosok gigi sebelum tidur.

Tahun-tahun kembali berlalu. Tanpa kusadari aku sudah tidak pantas disebut anak kecil lagi. Aku sudah berbeda. Satu hal yang paling kurasakan, ketika aku berada di tempat umum, orang-orang memanggilku "mbak" dan bukan lagi "dik".

Tanpa kusadari juga, menggosok gigi sebelum tidur sudah menjadi kebiasaan. Ketika aku merasa sudah waktunya buatku untuk tidur, maka tanpa berpikir lagi aku segera pergi ke kamar mandi, menyikat gigi. Sekarang ditambah dengan kebiasaan mencuci muka. 

Dan bila tak sengaja aku tertidur tanpa sempat menggosok gigi (sangat jarang terjadi), maka aku akan terbangun dengan perasaan risih dan tidak enak. As if I were a dragon breathing fire, begitulah adikku membuat perumpamaan. Nafas naga, hahaha, menjijikkan sekali.

Kebiasaan yang ditanamkan padaku itu ternyata kebiasaan yang sangat berguna. Satu-satunya sakit gigi yang pernah kualami adalah sakit ketika salah satu gigi susuku akan digantikan oleh gigi tetap, saat aku kelas 3 SD. Setelah itu, aku tak pernah merasakan sakit gigi lagi. Kunjungan ke dokter gigi adalah hal yang mudah dan tidak menakutkan, karena umumnya karang gigi terbentuk agak banyak hanya di belakang gigi bawahku saja (diakibatkan karena susunan gigi bawahku yang memang terlalu rapat). Selain itu, nothing. 

Pernah seorang mahasiswa kedokteran gigi akan membersihkan karang gigiku. Ketika dosennya memeriksaku, dosen itu bertanya, "oh, kamu sudah selesai membersihkannya?". Padahal mahasiswa kedokteran gigi itu belum melakukan apa-apa! 

Pada kesempatan lain kira-kira dua tahun setelah kejadian itu (tepatnya hari selasa lalu), seorang dokter gigi, sembari memeriksa gigiku, bertanya "kamu pernah tambal gigi?", dan ketika aku menjawab tidak, ia tampak agak takjub. Ia dan rekan sejawatnya setuju, gigiku sehat sekali. Mungkin aku merasa gigiku tak rapi susunannya dan warnanya pun tidak putih pula, namun ternyata menurut mereka gigiku sehat. Kata seorang dokter gigi pula, hygiene mulutku baik dan hal itu harus dipertahankan.

Aku yakin ceritanya akan berbeda jika dulu ketika aku kecil orang tuaku tidak bersikeras untuk menanamkan kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur. Oh iya, ibuku juga membiasakanku sarapan dulu sebelum mandi. Jadilah aku selalu menggosok gigi ketika mandi, seusai sarapan (bukan sebelum sarapan).

Ah, pagi itu, di tempat para dokter gigi berpraktik itu, aku mengerti betapa cintanya kedua orang tuaku padaku. Aku teringat kata-kata yang entah kubaca dari mana, yang berbunyi, "kala kau merasa bahwa orangtuamu sedang menggunting kedua sayapmu, sebenarnya yang mereka lakukan adalah menjaga sayap-sayap itu supaya tidak patah", dan kalimat itu sangat tepat diterapkan untukku dan gigiku. 

Aku janji, ketika aku punya anak nanti, aku akan membiasakannya untuk menyikat gigi seusai sarapan (bagusnya sih, 30 menit seusai sarapan). Dan tentu saja aku akan memaksanya untuk selalu menggosok gigi sebelum tidur! Biarlah ia menganggapku galak dan nggak penting, aku hanya ingin menjadi peri gigi yang melindungi giginya dari karies dan lubang.

Terima kasih ibu...terima kasih ayah, sudah menjadi peri gigiku :D

Waktu

Bagiku, waktu tak pernah menjanjikan apa-apa
Tidak menghapus semua luka, tidak pula menciptakan lupa
Namun kadang, yang diperlukan hanyalah waktu

22/12/13

Ikhlas

"Ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas yang bahkan tidak mengandung kata "ikhlas" di dalamnya"

Well, sebenarnya aku kurang bisa menangkap makna kalimat itu. Mungkin maknanya adalah, ikhlas itu ada dalam hati. Ikhlas itu ketika kita bahkan tidak menyadari bahwa kita sedang mengikhlaskan sesuatu, karena kita begitu lapang hati atas semua yang terjadi. Sampai-sampai kita tidak sadar bahwa kita sedang dan telah ikhlas. Mungkin seperti itu.

Menurutku, keikhlasan bisa dibangun perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit. Mungkin ada orang yang langsung bisa ikhlas ketika kehilangan sesuatu. Namun rasanya banyak pula manusia yang perlu waktu untuk berproses menuju keikhlasan. Banyak yang perlu alasan untuk menjadi ikhlas, entah keyakinannya pada Tuhan, entah karena rasa cintanya pada diri sendiri, entah karena untuk kepentingan orang lain, entah karena apapun.

Bagaimanapun tahapannya dan apapun alasannya, keikhlasan itu pasti terasa sangat membebaskan ketika telah dicapai. Ketika akhirnya kata-kata "aku ikhlas, ya Allah..." itu terucap, rasanya seperti melepaskan beban imajiner yang dipikul sekian lama. Seperti melepaskan seekor anjing yang telah meronta untuk dilepaskan tali kekangnya. Seperti melepaskan kaca mata buram yang kita pakai terlalu lama.

14/12/13

Perasaan adalah Perasaan

Perasaan adalah perasaan. Hidup bersamanya bukan kemalangan (Tere Liye, 2013).
So, I was not blaming myself, when I was running my fingers through my hair this afternoon. Just like I was about a year ago. My hair was not as smooth as it was when I was in high school. But it still is. You were right. I touch my hair, and yes. It is smooth. And I cut it short.


Perasaan adalah perasaan. Hidup bersamanya bukan kemalangan (Tere Liye, 2013).
I can now accept the fact that no matter how tiring my day is, sometimes I still feel kind of empty. No matter how many things I've been thinking of, my brain will never be too busy to try comprehending this perasaan. Sometimes I check my phone without even thinking. Then I put it down again. Unconsciously, because it was my routine. Everything was not the same, so I wonder why it is still be my routine. 


Perasaan adalah perasaan. Hidup bersamanya bukan kemalangan (Tere Liye, 2013).
People younger than me are telling me stories about their life. It hurts, not because I want to be young again like them. It hurts because I want to go back. For once, I want to be in the same life phase like they are going through right now. The most energetic times of my life, the best feeling in the world.. Times when I found out that human can experience that level of happiness. 


Perasaan adalah perasaan. Hidup bersamanya bukan kemalangan (Tere Liye, 2013).
I think I can take it all, the good and the bad, forever. But maybe I am wrong, so God Shift the way. Or so I thought. Maybe I was, and I am guilty for not trying hard. But I just can't. And I am sorry. I will not ask God for another chance anymore, because how many times He Gave me, and I messed it?


Perasaan adalah perasaan. Hidup bersamanya bukan kemalangan (Tere Liye, 2013).
So I think it is okay to write about this. Maybe, letting out the feelings, instead of suppress it, will make it better, for real. Not just better for some occasions and make it worse at another, so...


Perasaan adalah perasaan
Hidup bersamanya bukan kemalangan
Hei, bukankah dia memberikan kesadaran betapa indahnya dunia ini?
Hanya orang-orang terbaiklah yang akan menerima kabar baik
Hanya orang-orang bersabarlah yang akan menerima hadiah indah
(Tere Liye, 2013).

02/11/13

Random Chat with A Stranger -- Part 2

Postingan ini tentang berbincang-bincang dengan orang asing yang kita temui. Di manapun. Aku pernah bilang, I like strangers. Aku suka sama orang asing. Karena kita tidak tahu apa yang mungkin mereka bawa ke hidup kita hari itu. Sampai-sampai aku pernah bikin postingan tentang percakapanku dengan seorang stranger di Omegle judulnya Random Chat with a Stranger. Ketika membaca percakapanku dengan orang asing itu, seorang temanku berkomentar "ini strangernya beneran pinter atau cuma delusional ya Li? jangan-jangan dia gila?". Haha, delusional pun tak mengapa, yang penting I had a good time and I got new knowledges.

Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan seorang asing di perjalanan menuju kampung halaman. Ternyata mereka (ia dan orang yang dulu asing baginya itu) nyambung abis. Serasa bertemu soul brother di dalam bus antar kota deh jadinya. Tentu saja, temanku itu bisa tahu bahwa ia nyambung dengan si stranger itu setelah ia bercakap-cakap. Aku tidak akan bisa menulis cerita ini, seandainya dulu ketika mereka bertemu temanku itu malah curiga; atau asyik dengan smartphone-nya, bukunya, atau pikirannya sendiri sehingga malah mengabaikan orang asing yang mengajaknya ngobrol dan hanya menjawab sekedarnya ketika ditanyai. 

Aku sendiri, cukup sering menempuh perjalanan. Maklum, aku kuliah dan bekerja di luar kota kelahiran. Dan aku enggak terlalu tahan sama perasaan kangen, hehe. Jadi naik bus atau kereta selama berjam-jam sudah biasa buatku. Sebenarnya, me being me, adalah orang yang jarang membuka percakapan kecuali kalau benar-benar ingin atau terpaksa. Tapi kalau diajak bicara, apalagi oleh orang asing, biasanya aku langsung fokus ke si pengajak bicara. Alasan pertamaku melakukan itu adalah alasan kesopanan. Kedua, memang aku suka bercakap dengan orang asing, walaupun sering malu untuk memulai duluan. Pernah temanku heran melihatku bisa ngobrol begitu akrabnya sama seorang ibu-ibu di kereta, sampai ngomongin jodoh segala. Aku malah heran kenapa mereka merasa heran. Really? It is not that hard. Bahkan untuk seorang sepertiku. Makin asing orangnya, kadang justru percakapan menjadi semakin mudah, karena kita bisa menanyakan banyak hal ke orang itu. Seru deh. Pernah pula aku diberi durian monthong di atas kereta. Karena duriannya masih terbungkus rapi di stereofoam dan plastik berlabel sebuah supermarket, akupun menerimanya. Kalau enggak, pasti aku sudah menolaknya karena takut dijadikan korban pembiusan. Haha. Aku juga pernah ngobrol dengan seseorang yang maaf, agak kurang sehat jiwanya di dalam bus. Hmm, aku jadi menyelami pikiran mereka, mereka yang kata orang lain gila. Kasihan juga sih. 

Menurutku percakapan dengan orang asing itu bisa sangat membuka wawasan, kalau kita memang mau dan bersedia membuka wawasan kita. Hidup terlalu singkat untuk menjadi orang yang membatasi dengan siapa kita mau bicara. Sikap berhati-hati memang diperlukan, but just take care of yourself. I heard and read enough stories on how to be careful in public place. Apalagi aku pernah kehilangan handphone-ku sampai nangis-nangis, jadi tahulah bagaimana harus menjaga diri dan milikku di tempat-tempat rawan. Pengalaman kehilangan HP ini juga bukan karena ngobrol dengan orang asing, tapi semata karena keteledoranku mengantongi HP di saku celana jeans. Bukan kebiasaanku untuk mengantongi HP seperti itu, tapi ndilalah...ya sudahlah alhamdulillah sekarang aku punya HP baru meskipun sempat bingung karena susah sekali mencari HP yang setara dengan HP-ku yang hilang itu. Intinya jangan lebai lah, kesimpulannya, ngobrol dengan orang asing gak akan membuat kita kecopetan selama kita hati-hati. Buktinya, pengalamanku itu. Walaupun gak ngobrol dengan orang asing, tetap saja aku kecopetan karena teledor. Sebaliknya, pada berbagai kesempatan lain aku sudah berbincang dengan puluhan orang asing dan tidak pernah kecopetan atau terlecehkan karena itu. Alhamdulillah karena Allah masih dan selalu Melindungiku. 

Kuakui tidak semua orang asing datang dengan sopan, yang bersuit-suit dan menyapa di pinggir jalan dengan kurang sopan juga ada. Tapi seseorang pernah menasihatiku, bahkan bila kita disapa dengan sapaan "Assalamualaikum" yang bernada menggoda pun, kita harus menjawabnya demi keselamatan kita sendiri. Katanya, kalau salamnya tidak dijawab, orang yang berniat macam-macam sama kita justru akan semakin terpicu hasratnya utnuk berbuat jahat. Tentu cara menjawab salamnya bukan dengan nada menggoda pula, tapi dengan suara tegas yang terdengar oleh si pemberi salam. Atau cukup dengan gerakan bibir, asal si pemberi salam tahu bahwa kita sudah menjawab salamnya. Kalau kita tidak menjawab, hal itu justru akan semakin memicu niatan jahat dari si penggoda. Aku pernah baca trik-trik menghindari tindak kriminal, ya bener sih, justru kalau kita merasa ada seseorang yang mengincar kita sebagai korban, kita malah harus mengajaknya bicara. Cara paling mudah adalah dengan bertanya "jam berapa sekarang?". Konon dengan mengajaknya bicara, kita tidak akan menarik lagi sebagai korban. Nah! Katanya memang itu trik psikologi untuk mematahkan niat jahat seseorang. Hmm mohon dikoreksi bila aku salah. 

Aku mengingat-ingat beberapa percakapan dengan orang asing yang hanya kutemui sekali itu...sekarang mereka ada di mana ya? Entahlah...but I wish them the best.

Tahukah kamu, bahwa ada bus cepat (via jalan tol) ke Cimahi dari daerah Jatinangor?
Tahukah kamu, bahwa menjaga tubuh dan penampilanmu mungkin bisa menambah kebahagiaanmu?
Tahukah kamu, bahwa tim marketing perusahaan X berpenampilan lebih glamor daripada sang pemilik perusahaan?
Tahukah kamu, bahwa para penyedia jasa karoseri mobil sekarang berlomba-lomba memperebutkan pasar karoseri mobil untuk menjadi mobil ambulans?
Tahukan kamu, rezeki selalu datang dari arah yang tidak diduga?
Tahukah kamu, bahwa ternyata para alumni dari fakultas Y universitas X merasa malu karena ada beberapa orang alumni yang tersangkut kasus korupsi?
Tahukah kamu, tugu Jogja diduga dipugar untuk menyimbolkan sesuatu?
Tahukah kamu, pabrik Kimia Farma di Bandung sejak dulu digunakan untuk memproduksi obat dari tanaman kina?
Tahukah kamu, jalan-jalan pintas di kota ini?
Tahukah kamu, rutin bercanda dengan pasanganmu kelak akan membuatmu begitu bahagia untuk jangka waktu yang lama?
Tahukah kamu, walaupun jarang ditunjukkan, sebenarnya seorang ayah sangat cinta dan bangga pada anaknya?
Tahukah kamu perbuatan-perbuatan ekstrim apa yang dilakukan oleh seorang orang tua, hanya agar anaknya selamat dan bahagia?
Tahukah kamu bahwa hidup ini tak seindah cerita di novel?
Tahukah kamu betapa susahnya mencari uang?
Tahukah kamu bahwa Malioboro itu masih dianggap sebagai tujuan wisata utama bagi orang yang jarang ke Jogja?
Tahukah kamu bahwa banyak sekali kelompok pengajian di pulau Jawa yang rutin mengunjungi kota Kudus setiap tahun untuk melakukan ziarah Sunan Muria dan Sunan Kudus?

Mungkin aku tak akan pernah tahu, atau tidak segera tahu akan hal itu, bila kalian tak menerangkannya untukku. Untuk semua orang asing yang telah mengajakku bicara di dunia ini, terima kasih :)

Aku percaya, kita bisa mendapat lebih banyak informasi lagi hanya dengan mau membuka telinga dan mulut untuk berkomunikasi dengan lebih banyak tipe manusia.Informasi di sini berarti fakta ya, bukan gosip atau opini gak jelas. Ya kan sudah kewajiban kita sebagai seseorang yang dikaruniai otak untuk selalu menyaring apa yang kita dengar dan memfilter apapun yang akan kita keluarkan dari mulut.

Have a good life, readers :)




29/10/13

Jogja Memang Istimewa

Lima tahun lamanya aku menetap di Jogja untuk kuliah. Pulang ke Kudus sekali-sekali. Waktu hendak pertama kali pergi ke Jogja untuk menetap, sama sekali tidak ada rasa takut. Entah kenapa. Mungkin karena aku sangat excited untuk kuliah di fakultas impianku, di kampus impianku. Aku tidak terlalu memikirkan, bagaimana kalau aku homesick, bagaimana kalau aku tidak bisa menyesuaikan diri, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Aku mantap-mantap saja berangkat. Mungkin karena di sana aku mendapat teman-teman yang bener-bener tulus dan baik, karena ibu kosku care, atau karena Jogja memang kota yang menyenangkan, aku langsung merasa kerasan. Ternyata jadi mahasiswa yang ngekos itu enggak susah kok. 

Lima tahun di Jogja, banyak sekali kenangan yang kubuat bersama orang-orang di sana. Tidak semuanya indah sih, sekali lagi tidak semuanya indah, tapi pasti secara keseluruhan, kenangan-kenangan itu manis buatku dan aku enggak yakin apakah aku bisa melupakan semuanya. Di kampus, di kos-kosan dan di berbagai sudut di seluruh penjuru Jogja, aku membuat kenanganku sendiri bersama orang-orang yang kukenal di sana. Kadang pula aku pergi sendirian, tak jadi masalah. Aku kangen pada beberapa jalan di Jogja, kangen sekali. Thanks to ingatanku yang kadang enggak penting, setiap kali melewati jalan tertentu, kadang ingatanku tentang kejadian-kejadian yang terjadi di jalan itu muncul sedetail-detailnya di otakku. Lengkap dengan ingatan exact tentang hal yang kupikirkan dan kurasakan saat itu. Ah! 

Jogja benar-benar istimewa buatku.

Mungkin orang yang belum pernah tinggal beberapa lama di Jogja dan tidak menjalin hubungan dengan orang-orang di Jogja, tak akan bisa mengerti keistimewaannya.

Jujur saja, menjelang kepergianku dari kota ini, berhari-hari lamanya aku cuma tidur kurang dari 5 jam sehari (rekor banget buat aku). Aku susah tidur dan ketika terjaga, mataku langsung melek semelek-meleknya menyadari bahwa aku akan segera pergi dari Jogja. I was crying on the train that taking me away from Jogja. Perjalanan yang berat buatku. Bukan karena aku malas atau takut memulai pekerjaanku, tapi...meninggalkan sesuatu yang telah lama kita pegang itu berat sekali, kan? Makin menjauhi Jogja, kurasakan makin kuat cengkeraman daerah itu padaku. Aku ingin turun di stasiun terdekat dan asal naik saja kereta apapun yang menuju ke timur, aku mau tinggal di Jogja saja. Tapi aku enggak punya pilihan itu, kan.

Sekarang sudah sebulan lebih dua puluh hari aku tidak menginjak tanah Jogja. Rekor terlamaku, bahkan dulu ketika aku mendapatkan libur akhir semester selama dua bulan, aku masih mencari alasan untuk pergi ke Jogja. Sekedar untuk mengisi KRS dan tentu saja menemui teman-teman. Sekedar tidur semalam di kosku yang nyaman. 

Tak bisa kupungkiri bahwa hal yang membuatku sangat mencintai Jogja adalah orang-orang yang kutemui di sana. Aku bersyukur banget karena aku mendapatkan beberapa (lumayan banyak) sahabat dan teman baik selama kuliah di Jogja. Persahabatan yang dalam dan tulus itu benar-benar ada, persahabatan-persahabatan itu bersemi dan tumbuh di Jogja. Entah kenapa, persahabatan yang kubentuk dari bangku kuliah itu terasa lebih dalam dan mengasyikkan. Mungkin karena aku makin bertambah usia, sehingga aku makin memerlukan orang untuk berbagi. Untuk bercerita dan menceritakan sesuatu padaku. Mengenal orang sedalam-dalamnya sehingga akhirnya kita bisa mengenalnya lebih dari sekedar "yang terlihat dari luar" itu ternyata menyenangkan dan fulfilling. Serasa hidup lebih berarti deh, hehe. Ah, beruntungnya aku sudah mengenal mereka. Namun kenapa ya, ketika satu persatu dari mereka mulai meninggalkan Jogja sepertiku, aku masih cinta dan kangen sekali sama Jogja? Mungkin Jogja itu memang merupakan setting yang pas untuk kenangan-kenangan indah. 

Menurutku, kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul (3 kota dan kabupaten yang paling sering kukunjungi di provinsi DIY), semua relatif bersih dan teratur. Seperti Kudus juga, enggak jorok lah kotanya. Tidak semua kota dianugerahi ke-tidak-jorok-an seperti itu lho. Di Jogja, kita bebas berjalan kaki kemanapun tanpa takut akan menginjak sampah atau terkena lumpur hitam yang baunya enggak enak. Walaupun sekarang mulai sering macet, tapi jalanan di Jogja masih relatif teratur. Makanan di Jogja juga enak-enak dan masih relatif murah. Aku enggak suka gudeg, tapi itu bukan halangan, masih banyak pilihan lain. Terus orang Jogja itu mayoritas ramah-ramah banget. Ya ada juga sih yang judes, tapi mereka yang judes itu adalah para outlier yang jumlahnya enggak banyak, haha. Di Jogja, mau cari apa-apa juga gampang. Dari barang paling sederhana sampai paling canggih, bisa didapat. Maklumlah, Jogja kan kota pelajar sekaligus kota pariwisata. Jadi para pengusaha kreatif di Jogja pun berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhan para pendatang maupun para turis yang maunya kadang aneh-aneh, hehe. 

Parahnya, sepertinya aku lebih hafal tempat-tempat di Jogja daripada di Kudus :o Ya, buatku Kudus itu akar, asal. Sejauh apapun aku melangkah hari ini dan nanti, aku akan selalu ingat akarku. Dasarku. Kudus juga rumah buatku, kan ayah dan ibuku ada di sana (meskipun sekarang ibu dan adikku pun sedang menuntut ilmu di Jogja, ahhh beruntungnya mereka). Kudus adalah tempat aku akan selalu kembali. Kudus yang tenang dan simpel, Kudus yang kecil dan nyaman untuk ditinggali. Kudus itu ibarat orang tua. Namun Jogja ibarat teman. Teman yang selalu menyambut kita kapanpun kita meninggalkan rumah. Teman yang selalu siap sedia menemani kita bersenang-senang, juga menampung kesedihan kita. If Kudus is calm and reserved, then Jogja is fun and friendly.

Aku enggak tahu siapa yang menciptakan slogan "Yogyakarta Berhati Nyaman", mungkin ia seseorang yang lama tinggal di Jogja kemudian pernah pergi meninggalkan Jogja; kemudian tiap kali kembali ke Jogja, hatinya terasa nyaman kembali. Mungkin. Bukan cuma aku lho yang kangen sekali sama Jogja, banyak teman-teman kuliahku yang sekarang sudah meninggalkan Jogja sepertiku juga merasakan hal yang sama. Jogja memang istimewa. Jogja selalu menarikku untuk kembali. Tak lama lagi, insyaallah. Walau sekedar tuk memuaskan mata, hati dan telingaku akan suasana Jogja. Dan tentu saja untuk menemui sahabat-sahabat :)

Akhir kata, aku ingin menutup postingan lebai penuh kerinduan ini dengan sebuah lagu dari band Everyday, judulnya "Kapan ke Jogja Lagi". Ah, lagu ini aku banget.


Kapan ke Jogja Lagi
(Everyday)

Berbagi manisnya secangkir teh hangat
Menikmati canda dan tawa di sudut jalan
Duduk dan santai, sekedar cerita bersama sahabat
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Oh, kali ini aku jatuh cinta
Bukan pada orang, tapi pada suasana dan kota
Kenangan indah dan manis hias tawaku penuh riang
Hatiku nyaman, hatiku senang, dududududu

Seribu kenangan dan kisah buatku ingin kembali
Nikmati lagi, jatuh cinta lagi
Hati indah dan ceria kan selalu aku rindukan
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Dan hatiku bertanya, kapan ke Jogja lagi? 
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan?

Jogja menyimpan banyak cerita
Kisahku, kisahmu dan mereka....

:))))

27/10/13

YOU are Still Here

Terima kasih Tuhan, telah Mempertemukanku dengan beberapa orang hebat dalam hidupku.

Kenapa dari sekian milyar orang di dunia ini, aku bertemu dengannya? Atau dengannya? Dengan mereka?
Kenapa dari sekian banyak tempat di dunia, ini, kami bisa berada di sana?
Kenapa dari sekian banyak kesempatan yang mungkin bisa terjadi, Kau pertemukan kami?
Kenapa dari sekian banyak pemikiran yang bisa timbul, Kau percikkan pikiran-pikiran itu?

Kubuktikan lagi kuasa-Mu, ketika kusadari betapa orang-orang dalam hidupku telah mengubah caraku memandang dunia, memandang diriku sendiri, juga mengubah caraku memandang-Mu.

Tapi aku memutuskan untuk mencoba mensyukuri semua itu. Karena setelah mereka pergi, atau menghilang sejenak, atau tak ada di sampingku, Kau tetap ada di sini. 
Mereka yang kau kirimkan dalam hidupku itu, ternyata telah membantuku mencintai-Mu lebih dalam lagi.
Dan atas semua itu, aku menjadi semakin yakin...bahwa Kau benar-benar Mencintaiku. 

Kau benar-benar mencintaiku.
Dengan cinta-Mu yang unik dan sempurna. Yang melebihi kemampuan logikaku dalam mencerna sesuatu.
Apapun yang terjadi, kumohon, jagalah cintaku ini pada-Mu...

:")

06/08/13

Tipe Kepribadian menurut Helen Fischer

Aha, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang sesuatu yang bertemakan pop-science. Lebih tepatnya, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang apa-apa di blog ini, huhu. Oke, kali ini aku ingin menulis tentang tipe-tipe kepribadian lagi. Sebelumya aku sudah pernah menulis tentang tipe kepribadian juga, yaitu tentang Tipe Kepeminpinan (model DISC). Nah, kalau penggolongan kepribadian menurut model DISC dibuat untuk memudahkan kita melihat tipe kepemimpinan seseorang, kali ini aku ingin menulis tentang penggolongan tipe kepribadian Love Type menurut Helen Fischer. 

Helen Fischer berteori bahwa tipe kepribadian seseorang sangat menentukan dengan siapa ia akan jatuh cinta. Beliau juga berteori bahwa ada empat kelompok persarafan (neural system) utama yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Aktivitas saraf yang paling dominan pada seseorang akan menentukan kepribadian orang tersebut. Empat kelompok neural system itu adalah sistem dopamin, serotonin, testosteron dan estrogen/oksitoksin.

Tipe pertama, orang dengan sistem dopamin yang dominan. Orang-orang tersebut memiliki kecenderungan untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Mereka suka berpetualang, spontan, pemberani (suka mengambil resiko), berenergi tinggi tapi cepat bosan. Mereka kadang mengalami kesulitan untuk 'berpikir panjang' alias sangat impulsif sehingga sering terkesan sembrono dan boros. Oh iya, mereka juga Dianugerahi daya konsentrasi yang unik, yang mana mereka bisa begitu cepat mempelajari sesuatu dalam sekejap. Kemampuan yang juga dimotori oleh dopamin ini memang mendukung hobi mereka untuk mencoba sesuatu yang baru dan keberanian mereka untuk mengambil resiko. Kita bisa menemukan mereka di puncak gunung tertinggi, menyelam di laut lepas, main paralayang, atau sedang blusukan di daerah asing. Helen Fischer menyebut mereka sebagai "the Adventurer".

Berteman dengan mereka bisa menyenangkan, aku punya dua teman akrab yang menunjukkan ciri-ciri the Adventurer ini. Mereka selalu bersemangat dan jarang banget terlihat loyo kecuali kalau lagi sakit. Pokoknya kalau dekat-dekat dengan mereka tuh jadi ikut semangat juga, walaupun mereka tidak bisa mentoleransi kebosanan dan kadang-kadang memaksakan kehendak, wkwkwk. Sifat mereka yang random dan unpredictable juga kadang menjadi hiburan tersendiri bagiku (loh?? haha). Ya, alam berpikir mereka sangat berbeda dengan alam pikirku. Mereka hobi memutuskan sesuatu dengan sangat cepat (bahkan terkesan tanpa pertimbangan logis yang cukup di mataku), tapi kuakui, dalam keadaan-keadaan tertentu kita membutuhkan orang seperti mereka dalam kelompok :) Misalnya kita lagi travelling bareng, menurutku akan sangat menyenangkan kalau ada satu atau dua orang the Adventurer dalam kelompok kita.

Menurut Helen Fischer, the adventurer cenderung jatuh cinta dengan sesama adventurer juga. Kalau poin ini sih aku setuju banget, secara logika dan secara aktual memang poin ini benar. Temanku yang tergolong the adventurer bilang kalau dia ingin seseorang yang bisa diajak berpetualang bersama. Memang menurut Helen Fischer, the adventurer ini mencari "playing mate" alias teman bermain. Berdua bersama, mereka sama-sama menjelajahi dunia.

Berlawanan dengan the adventurer, tipe kedua yaitu orang dengan sistem serotonin yang dominan, lebih suka memastikan keamanan dan berusaha meminimalkan resiko. Helen Fischer menyebut mereka sebagai si pembangun, the builder. The builder ini sangat patuh dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. The builder selalu terlihat tenang, stabil, kalem dan terkendali. Mereka juga selalu mengkalkulasi setiap resiko dari apapun yang mereka kerjakan dan menerapkan manajemen resiko untuk meminimalkan resiko itu. Sayangnya sifat itu menjadikan mereka terkesan lambat berpikir. Mereka ingin terlihat wajar di mata orang lain, selalu menuruti peraturan dan rencana yang sudah dibuat. Pokoknya mereka itu enggak neko-neko meski kadang jadi terkesan kolot dan kaku. Tampilan mereka sehari-hari klasik dan konvensional. Oh iya, mereka juga suka membangun dan memelihara hubungan dengan orang lain. Menurutku the builder itu tipe-tipe orang yang mengangguk sopan dan minta izin ke aku sebelum mereka duduk di sebelahku ketika aku naik bus umum. Atau orang-orang yang mau repot-repot menghubungi teman-temannya untuk reuni. Mereka memang tidak keberatan untuk go out of their way untuk memelihara jaringan sosial mereka dan mereka selalu tampak sopan.

Hmm, aku kenal juga sih dengan orang-orang tipe the builder ini. Ya, mereka memang tidak keberatan untuk repot, untuk ribet, untuk rempong, asal hubungan sosial mereka terpelihara dengan baik. Pilar masyarakat, begitu Helen Fischer mendeskripsikan the builder. Menurutnya pula, the builder cenderung untuk jatuh cinta dengan sesama the builder juga. Soalnya, the builder itu mencari teman bermasyarakat, social mate. Berdua bersama, mereka bisa membangun social network yang lebih luas dan lebih stabil lagi.

Kesimpulan sementara? The adventurer dan the builder cenderung jatuh cinta pada orang-orang yang sejenis dengan mereka. Like dissolves like.

Tipe ketiga, orang yang banyak dipengaruhi oleh testosteron. Testosteron memang dikenal sebagai hormon laki-laki, tapi hormon ini ada juga pada wanita. Helen Fischer menyebut mereka sebagai the director (diterjemahkan sebagai "pengarah"). Menurutnya, otak para director banyak terpapar testosteron sehingga umumnya para director itu memiliki kemampuan spasial dan matematika yang oke. Namun mereka memiliki kemampan sosial dan berbahasa yang kurang baik. Mereka pandai memahami sistem-sistem yang didasari aturan teratur (rule-based systems), misalnya tata surya, sistem pencernaan manusia, musik, mesin, komputer, bursa efek dan lain sebagainya. Daya konsentrasi mereka sangat dalam, sekali terfokus pada suatu hal mereka akan sulit untuk mengalihkan konsentrasinya pada hal lain. Ditenggarai mereka memiliki hasrat seksual dan agresivitas yang lebih tinggi pula, mengingat seperti itulah efek testosteron pada tubuh manusia. Sebagian besar director memang laki-laki, tapi ada juga wanita yang peka terhadap pengaruh testosteron tersebut dan berkembang menjadi seorang director. Kata Helen Fischer, seorang director bisa saja berwujud sebagai seorang wanita yang terkesan lembut dan feminin di luar, namun sebenarnya ia adalah seseorang yang menuntut kesempurnaan dan sangat logis di dalam, karena otaknya sudah terlanjur terpapar testosteron. Ngomong-ngomong, jejak paparan testosteron dalam tubuh seseorang bisa dilihat dari jari jemari di tangan kanannya. Orang yang terpapar testosteron selama masih dalam kandungan, akan memiliki tangan kanan dengan jari manis yang lebih panjang daripada jari telunjuknya. Tapi tidak semua director memiliki ciri fisik itu, bisa saja otak mereka baru terpapar testosteron ketika mereka menginjak masa remaja.

The director merupakan orang yang apa adanya, tak suka berbasa-basi, praktis dan pragmatis. Mereka membanggakan diri sebagai orang yang logis. Mereka memiliki standar yang tinggi dan rela melakukan apapun untuk memperjuangkan standar itu, walaupun harus bersaing. The director memang tidak takut dengan persaingan, perdebatan atau perselisihan, karena mereka memang sangat percaya diri dengan kemampuannya.  Justru mereka menyukai perdebatan yang logis untuk mencapai suatu kesimpulan. Kata Helen Fischer, merekalah sang penggapai bintang, penggerak kemajuan berpikir dalam suatu peradaban manusia. Ciri lain dari seorang director adalah "an almost perfect separation of emotion and logical thought", mereka bisa mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh emosi alias bisa sangat objektif. Masih menurut Helen Fischer, mereka adalah individu-individu yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam menahan dan mengesampingkan rasa sakit, baik sakit fisik maupun sakit hati. Pengaruh testosteron juga menjadikan mereka seorang altruis yang suka menolong dan melindungi orang lain secara spontan. Walaupun begitu, mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang lebih rendah dibandingkan tipe kepribadian lain. Mereka bisa tampak tega menjurus kejam, asyik dengan pikirannya sendiri, enggan berbasa-basi dan tidak terlalu peduli pada orang lain. Mereka kadang tampak mengintimidasi dan tidak ramah. Mereka juga tidak peka terhadap sinyal-sinyal emosi dari orang lain. Emosi membuat mereka kebingungan dan akhirnya, ketika emosi mereka benar-benar memuncak, mereka bisa saja kehilangan kontrol dan meledak dalam kemarahan. 

Menurut Helen Fischer, the director berpendapat bahwa berkencan adalah suatu tugas (bukan suatu kesenangan), dan setelah 'tugas' itu selesai mereka ingin segera beralih menyelesaikan urusan lain. Maklumlah, mereka tidak terlalu lihai melakukan multi-tasking. Karena mereka tidak terlalu memperhatikan emosi, mereka juga enteng saja meninggalkan hubungan yang tidak sesuai standar mereka. Walaupun begitu, sekali menemukan orang yang cocok, mereka akan mengarahkan fokusnya yang dalam dan luar biasa pada orang itu. The director mendambakan pasangan yang cerdas sebagai pendamping berpikir (thinking mate).

Tipe keempat adalah the negotiator. Mereka adalah orang yang banyak dipengaruhi oleh estrogen dan oksitoksin. Memang estrogen dikenal sebagai hormon wanita, namun pria juga memiliki hormon estrogen. Beberapa pria sejati menunjukkan cir-ciri dominan the negotiator ini karena mereka terkena paparan estrogen semasa dalam kandungan. Dalam sebagian besar hal, the negotiator sangat berlawanan dengan the director. Pengaruh estrogen menjadikan mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang baik. Mereka lihai berkata-kata, ekspresif dan pandai membaca emosi orang lain. Mereka berusaha mencari arti dari setiap gestur, nada bicara dan ekspresi lawan bicara. Mereka pandai berbasa-basi dan suka menyenangkan orang lain, meskipun itu artinya mereka harus mengorbankan pendapat dan kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak keberatan untuk berubah dan menyesuaikan diri demi orang lain. Hal tersebut berlawanan dengan sifat the director.

Gaya berpikir mereka konsentris dan menjaring, bukan linear seperti the director. Artinya, mereka bisa melihat berbagai kemungkinan, dari berbagai sudut pandang, untuk memecahkan suatu masalah. Mereka juga lihai melakukan multi tasking. Namun mereka agak lemah dalam hal-hal teknis seperti membaca peta atau memahami cara kerja mesin-mesin. Mereka juga sering terlihat ragu-ragu dan tak tegas, serta terlalu sensitif akan perasaannya sendiri maupun perasaan orang lain.

The negotiator berpendapat bahwa jatuh cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya pada orang yang dijatuh cintai. Mereka imajinatif dan romantis meskipun kadang tak logis. Menurut Helen Fischer, the negotiator mencari teman jiwa alias soulmate.

You know what, menurut Helen Fischer, director cenderung jatuh cinta pada negotiator, begitu juga sebaliknya. Mungkin terdengar aneh ya? Sifat mereka sangat berlawanan...tapi kenyataannya mereka memang saling menarik dan tertarik kepada satu sama lain. Mungkin ini yang namanya opposite attracts, yin-yang, perbedaan yang melengkapi, atau apalah itu istilahnya. Rupanya, baik director maupun negotiator sama-sama mencari percakapan yang berbobot dan teoritis. Mereka tidak menyukai percakapan yang dangkal tanpa substansi. Bedanya, director meninjau suatu hal dari satu perspektif dan negotiator meninjau suatu hal dari berbagai perspektif. Menurut Helen Fischer juga, dengan perbedaan gaya berpikir ini, mereka justru bisa bersinergi untuk memecahkan masalah apapun, they make a great team gitu deh. Melalui percakapan, mereka saling menarik satu sama lain. Kalau menurut Helen Fischer, fenomena ketertarikan antara dua pribadi berlawanan ini disebabkan oleh insting biologis manusia untuk mencari pasangan yang dapat melengkapi gen-gennya. Sehingga ketika nanti mereka mempunyai anak, anak mereka nantinya bisa menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik dibanding mereka. Saling melengkapi begitu, kali ya?

Penasaran dengan tipe kepribadian ini? Coba ikut tesnya di sini. Aku sudah dua kali mencoba tes itu, kali pertama memakai bukunya Helen Fischer (judulnya Why Him, Why Her?) dan yang kedua memakai kuis online di link yang aku tampilkan di kalimat sebelum kalimat ini. Hasilnya sama kok, so aku menyimpulkan bahwa tes ini cukup robust dan precise ^.^ aku sama sekali tidak kaget ketika mengetahui hasil tesku. Bener banget sih menurutku, haha. Perlu diketahui, selain tipe kepribadian utama, menurut Helen Fischer tipe kepribadian kedua juga cukup mempengaruhi kepribadian seseorang. Jadi nanti hasil tes kita akan disajikan dalam format tipekepribadian1/tipekepribadian2, misalnya negosiator/petualang, atau pengarah/pembangun. Iya sih, menurutku tidak ada seorang pun yang murni seorang adveturer, builder, director atau negotiator. Kita adalah kombinasi yang khas dari keempat traits itu.

Akhirnya..aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan "percaya enggak percaya, terserah anda", hoho. Iya sih Helen Fischer mengemukakan teori-teori yang kukemukakan di atas berdasarkan penelitiannya yang dilakukan bertahun-tahun dan melibatkan ribuan responden. Menurutku hasil penelitiannya masuk akal kok. Tapi sekali lagi, mau percaya atau tidak, semuanya terserah anda.

Semoga tulisanku ini bermanfaat. Have a good life, reader!