Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

27/03/15

Pixy Perfect Eyeliner

Sudah cukup lama aku tidak menulis review kosmetik. Apakah itu artinya aku semakin jarang menggunakan kosmetik? Hahaha...jujur, yang ada sih kebalikannya. Akhirnya, setelah 23 tahun hidup di dunia ini aku baru menyadari bahwa lipstik itu benda yang cukup ajaib. Sebelumnya aku hanya menggunakan lip balm saja. Pertama kali beli lipstik sendiri, aku agak terheran melihat hasilnya. Ya, sama seperti dulu ketika aku pertama kali menyadari keajaiban bedak two-way cake seperti yang pernah kutulis pada posting terdahulu

Make up tools really are an amazing tools. Tools to be used wisely. Aku tetap pada pendirianku bahwa make-up itu sebaiknya jangan dipakai setiap hari. Menurutku make up itu cukup dipakai saat hang out dan pada saat menghadiri acara-acara tertentu saja. Kalau dipakai setiap hari, nanti jadinya enggak spesial. Kalau ke kantor atau cuma pergi sebentar saja, aku cuma memakai bedak tabur warna putih (bedak bayi juga bisa) dan lip balm. Tapi kalau akan pergi hang out, aku sekarang sering berdandan terlebih dulu, Menurutku, seorang wanita yang sehari-hari enggak pernah dandan cukup membutuhkan empat tools saja untuk terlihat "sudah dandan". Keempat tools itu adalah bedak, pensil alis/eye shadow warna hitam pekat (untuk membentuk alis, menurutku warna hitam lebih cocok untuk orang Indonesia, jika dibandingkan dengan warna cokelat), eye liner dan lipstik. Pada kesempatan kali ini aku akan menuliskan tentang eye liner favoritku yaitu Perfect Eyeliner dari Pixy.

Pixy Perfect Eyeliner (diambil dari website resmi Pixy Indonesia, http://pixy.co.id/)

Aku sudah menggunakan eye liner ini sejak tahun 2012, walaupun dulu aku cuma pakai eye liner pas datang kondangan dan pemotretan buku tahunan. Dulu kemasannya masih berwarna pink muda polos, kalau tidak salah pada pertengahan tahun 2014 Pixy meluncurkan desain kemasan baru. Bagus sih, kebetulan cocok dengan seleraku yang senang dengan perpaduan warna hitam dan pink. Terkesan feminin dan agak centil, tapi kokoh karena ada unsur hitamnya. Kenapa dulu aku membeli produk ini? Tidak salah lagi, aku bertanya dulu pada tante Google tentang eye liner yang bagus. Setelah membaca banyak review positif tentang produk ini, baru aku membelinya. Dan aku puas dengan hasilnya :D

Hal pertama yang aku suka saat pertama kali menggunakan produk ini adalah bentuk aplikatornya. Aplikatornya berbentuk mirip tongkat, terlihat keras dan kaku dengan ujung yang meruncing. Walaupun demikian, ternyata ujungnya masih cukup luwes, bisa sedikit meliuk saat digunakan. Karena bentuk aplikator yang sedemikian rupa, menurutku Perfect Eyeliner ini relatif lebih mudah digunakan daripada eye liner lain yang aplikatornya serupa kuas. Menurutku aplikator kuas terlalu lentur sehingga lebih sulit digunakan, terutama saat kita perlu membuat garis yang tipis. Oh iya, aplikator Perfect Eyeliner ini cukup runcing kok, sehingga kita bisa menarik garis tipis dengan tingkat presisi yang bagus. Berbagai gaya memakai eye liner pun bisa kita dapatkan dengan eye liner ini.

Winged style..so wearable for daily look

Double trouble bold style (dipadu dengan eye shadow hitam)...sepertinya hanya cocok digunakan pada pesta indoor di gedung pada malam hari :p

Garis tipis yang presisi (eye liner hanya sebagai komplemen untuk lebih menegaskan bentuk mata, karena pada foto ini sudah dipakai eye shadow dengan warna-warni yang cukup mencolok)

Hal kedua, dan sebenarnya merupakan hal utama yang membuatku begitu setia me-repurchase produk ini adalah stabilitasnya. Eye liner ini sangat awet ketika kupakai, mampu bertahan dari pagi sampai malam, padahal kulit wajahku berminyak. Pernah aku mencoba eye liner merek lain (merk internasional) yang harganya jauh lebih mahal, namun eye liner mahal tersebut sudah luntur ketika kupakai dari sore sampai malam. Tentu saja hal tersebut sangat mengganggu penampilan, mending enggak usah pakai eye liner sekalian. Kalau diamati, eye liner ini membentuk lapisan tipis (film) yang melekat di kulit kelopak mata. Ketika dihapus menggunakan make up remover (aku memakai Maybelline Make Up Remover Eye & Lip), lapisan tipis Pixy Perfect Eyeliner ini terkelupas menjadi lempengan-lempengan hitam. Hal ini berbeda dengan eye liner lain yang jenisnya menyatu dengan kulit dan larut menjadi kehitaman jika dihapus dengan make up remover. Aku menghindari jenis eye liner semacam itu karena eye liner semacam itu pasti akan larut oleh minyak yang dihasilkan oleh kulit (smudge). Oh iya, Pixy Perfect Eyeliner  ini bersifat water proof juga ya :)

Satu hal kecil yang agak kurang kusuka dari produk ini adalah warna hitamnya yang sangat intens dan mengkilap (glossy). Haha, ini merupakan pendapat yang sangat subyektif berdasarkan seleraku karena produk ini sengaja diformulasikan agar menghasilkan "warna hitam glossy yang pekat" (dikutip dari website resmi Pixy Indonesia). Hal ini semata penilaian subyektifku karena aku suka dengan tampilan alami, istilahnya tampilan "my face but better" gitu...jadi kalau pembaca juga sealiran denganku, sebaiknya aplikasikan produk ini tipis saja untuk penggunaan sehari-hari agar penampilan kita tidak terkesan lebai alias berlebihan sehingga ujung-ujungnya wajah kita jadi terlihat menyeramkan. 

Terkait dengan hal tersebut di atas, seperti sudah membaca pikiranku, Pixy pun meluncurkan produk baru pada tahun 2014 lalu (ih aku kegeeran banget ya, hoho). Namanya Bold to Last Gel Eyeliner. Pertama kali aku tahu produk ini ketika berbelanja di counter Pixy. Petugas SPG menawarkan produk eye liner baru yang katanya, menghasilkan tampilan yang matte, tidak glossy seperti Perfect Eyeliner yang sudah biasa kupakai. Bentuknya gel dan aplikatornya berupa kuas, tapi kaku. Karena tertarik dengan iming-iming bahwa produk tersebut menghasilkan "hasil matte yang natural", aku pun membeli produk itu. Namun jujur, aku tidak terlalu suka dengan produk Bold to Last Gel Eyeliner. Mengapa? Produk tersebut lebih susah untuk dioleskan (aplikatornya tidak senyaman aplikator Perfect Eyeliner), lebih ribet (aplikatornya harus dibersihkan sehabis digunakan), dan warna hitamnya sama pekatnya dengan Perfect Eyeliner. Jadi, tujuan awalku membeli produk ini yaitu ingin mendapatkan hasil akhir yang tampak lebih natural, tidak tercapai. Justru aku agak kesulitan membentuk garis tipis menggunakan Bold to Last Gel Eyeliner. Memang tampilan paling natural didapat jika kita memakai eye liner pensil, namun eye liner pensil tidak seawet Pixy Perfect Eyeliner. Hiks-hiks, inilah akibatnya jika membeli peralatan make-up tanpa berkonsultasi pada tante Google terlebih dahulu. 

Karena eksperimen yang tidak sukses tersebut, jadilah aku tetap setia menggunakan Pixy Perfect Eyeliner dan tidak jadi beralih ke produk lainnya. I think I will forever use this eye liner :) Oh iya, harga produk ini cukup terjangkau lho. Seingatku harganya sekitar tiga puluh lima ribu rupiah saja :D tidak mahal kan? Menurutku harga yang mahal bukan jaminan kualitas suatu peralatan make up. Kalau membeli produk perawatan mahal masih oke lah, karena kebutuhan kulit dan tubuh kita berbeda-beda dan perawatan memang jalan agar tubuh kita tetap terjaga. Namun untuk membeli produk make up, aku lebih memilih untuk percaya pada rekomendasi tante Google daripada percaya pada harga yang selangit.

Dari skala 1 sampai 10, aku memberikan nilai 9 untuk produk ini :) This product is totally recommended.
 

29/10/13

Jogja Memang Istimewa

Lima tahun lamanya aku menetap di Jogja untuk kuliah. Pulang ke Kudus sekali-sekali. Waktu hendak pertama kali pergi ke Jogja untuk menetap, sama sekali tidak ada rasa takut. Entah kenapa. Mungkin karena aku sangat excited untuk kuliah di fakultas impianku, di kampus impianku. Aku tidak terlalu memikirkan, bagaimana kalau aku homesick, bagaimana kalau aku tidak bisa menyesuaikan diri, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Aku mantap-mantap saja berangkat. Mungkin karena di sana aku mendapat teman-teman yang bener-bener tulus dan baik, karena ibu kosku care, atau karena Jogja memang kota yang menyenangkan, aku langsung merasa kerasan. Ternyata jadi mahasiswa yang ngekos itu enggak susah kok. 

Lima tahun di Jogja, banyak sekali kenangan yang kubuat bersama orang-orang di sana. Tidak semuanya indah sih, sekali lagi tidak semuanya indah, tapi pasti secara keseluruhan, kenangan-kenangan itu manis buatku dan aku enggak yakin apakah aku bisa melupakan semuanya. Di kampus, di kos-kosan dan di berbagai sudut di seluruh penjuru Jogja, aku membuat kenanganku sendiri bersama orang-orang yang kukenal di sana. Kadang pula aku pergi sendirian, tak jadi masalah. Aku kangen pada beberapa jalan di Jogja, kangen sekali. Thanks to ingatanku yang kadang enggak penting, setiap kali melewati jalan tertentu, kadang ingatanku tentang kejadian-kejadian yang terjadi di jalan itu muncul sedetail-detailnya di otakku. Lengkap dengan ingatan exact tentang hal yang kupikirkan dan kurasakan saat itu. Ah! 

Jogja benar-benar istimewa buatku.

Mungkin orang yang belum pernah tinggal beberapa lama di Jogja dan tidak menjalin hubungan dengan orang-orang di Jogja, tak akan bisa mengerti keistimewaannya.

Jujur saja, menjelang kepergianku dari kota ini, berhari-hari lamanya aku cuma tidur kurang dari 5 jam sehari (rekor banget buat aku). Aku susah tidur dan ketika terjaga, mataku langsung melek semelek-meleknya menyadari bahwa aku akan segera pergi dari Jogja. I was crying on the train that taking me away from Jogja. Perjalanan yang berat buatku. Bukan karena aku malas atau takut memulai pekerjaanku, tapi...meninggalkan sesuatu yang telah lama kita pegang itu berat sekali, kan? Makin menjauhi Jogja, kurasakan makin kuat cengkeraman daerah itu padaku. Aku ingin turun di stasiun terdekat dan asal naik saja kereta apapun yang menuju ke timur, aku mau tinggal di Jogja saja. Tapi aku enggak punya pilihan itu, kan.

Sekarang sudah sebulan lebih dua puluh hari aku tidak menginjak tanah Jogja. Rekor terlamaku, bahkan dulu ketika aku mendapatkan libur akhir semester selama dua bulan, aku masih mencari alasan untuk pergi ke Jogja. Sekedar untuk mengisi KRS dan tentu saja menemui teman-teman. Sekedar tidur semalam di kosku yang nyaman. 

Tak bisa kupungkiri bahwa hal yang membuatku sangat mencintai Jogja adalah orang-orang yang kutemui di sana. Aku bersyukur banget karena aku mendapatkan beberapa (lumayan banyak) sahabat dan teman baik selama kuliah di Jogja. Persahabatan yang dalam dan tulus itu benar-benar ada, persahabatan-persahabatan itu bersemi dan tumbuh di Jogja. Entah kenapa, persahabatan yang kubentuk dari bangku kuliah itu terasa lebih dalam dan mengasyikkan. Mungkin karena aku makin bertambah usia, sehingga aku makin memerlukan orang untuk berbagi. Untuk bercerita dan menceritakan sesuatu padaku. Mengenal orang sedalam-dalamnya sehingga akhirnya kita bisa mengenalnya lebih dari sekedar "yang terlihat dari luar" itu ternyata menyenangkan dan fulfilling. Serasa hidup lebih berarti deh, hehe. Ah, beruntungnya aku sudah mengenal mereka. Namun kenapa ya, ketika satu persatu dari mereka mulai meninggalkan Jogja sepertiku, aku masih cinta dan kangen sekali sama Jogja? Mungkin Jogja itu memang merupakan setting yang pas untuk kenangan-kenangan indah. 

Menurutku, kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul (3 kota dan kabupaten yang paling sering kukunjungi di provinsi DIY), semua relatif bersih dan teratur. Seperti Kudus juga, enggak jorok lah kotanya. Tidak semua kota dianugerahi ke-tidak-jorok-an seperti itu lho. Di Jogja, kita bebas berjalan kaki kemanapun tanpa takut akan menginjak sampah atau terkena lumpur hitam yang baunya enggak enak. Walaupun sekarang mulai sering macet, tapi jalanan di Jogja masih relatif teratur. Makanan di Jogja juga enak-enak dan masih relatif murah. Aku enggak suka gudeg, tapi itu bukan halangan, masih banyak pilihan lain. Terus orang Jogja itu mayoritas ramah-ramah banget. Ya ada juga sih yang judes, tapi mereka yang judes itu adalah para outlier yang jumlahnya enggak banyak, haha. Di Jogja, mau cari apa-apa juga gampang. Dari barang paling sederhana sampai paling canggih, bisa didapat. Maklumlah, Jogja kan kota pelajar sekaligus kota pariwisata. Jadi para pengusaha kreatif di Jogja pun berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhan para pendatang maupun para turis yang maunya kadang aneh-aneh, hehe. 

Parahnya, sepertinya aku lebih hafal tempat-tempat di Jogja daripada di Kudus :o Ya, buatku Kudus itu akar, asal. Sejauh apapun aku melangkah hari ini dan nanti, aku akan selalu ingat akarku. Dasarku. Kudus juga rumah buatku, kan ayah dan ibuku ada di sana (meskipun sekarang ibu dan adikku pun sedang menuntut ilmu di Jogja, ahhh beruntungnya mereka). Kudus adalah tempat aku akan selalu kembali. Kudus yang tenang dan simpel, Kudus yang kecil dan nyaman untuk ditinggali. Kudus itu ibarat orang tua. Namun Jogja ibarat teman. Teman yang selalu menyambut kita kapanpun kita meninggalkan rumah. Teman yang selalu siap sedia menemani kita bersenang-senang, juga menampung kesedihan kita. If Kudus is calm and reserved, then Jogja is fun and friendly.

Aku enggak tahu siapa yang menciptakan slogan "Yogyakarta Berhati Nyaman", mungkin ia seseorang yang lama tinggal di Jogja kemudian pernah pergi meninggalkan Jogja; kemudian tiap kali kembali ke Jogja, hatinya terasa nyaman kembali. Mungkin. Bukan cuma aku lho yang kangen sekali sama Jogja, banyak teman-teman kuliahku yang sekarang sudah meninggalkan Jogja sepertiku juga merasakan hal yang sama. Jogja memang istimewa. Jogja selalu menarikku untuk kembali. Tak lama lagi, insyaallah. Walau sekedar tuk memuaskan mata, hati dan telingaku akan suasana Jogja. Dan tentu saja untuk menemui sahabat-sahabat :)

Akhir kata, aku ingin menutup postingan lebai penuh kerinduan ini dengan sebuah lagu dari band Everyday, judulnya "Kapan ke Jogja Lagi". Ah, lagu ini aku banget.


Kapan ke Jogja Lagi
(Everyday)

Berbagi manisnya secangkir teh hangat
Menikmati canda dan tawa di sudut jalan
Duduk dan santai, sekedar cerita bersama sahabat
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Oh, kali ini aku jatuh cinta
Bukan pada orang, tapi pada suasana dan kota
Kenangan indah dan manis hias tawaku penuh riang
Hatiku nyaman, hatiku senang, dududududu

Seribu kenangan dan kisah buatku ingin kembali
Nikmati lagi, jatuh cinta lagi
Hati indah dan ceria kan selalu aku rindukan
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Dan hatiku bertanya, kapan ke Jogja lagi? 
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan?

Jogja menyimpan banyak cerita
Kisahku, kisahmu dan mereka....

:))))

06/08/13

Tipe Kepribadian menurut Helen Fischer

Aha, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang sesuatu yang bertemakan pop-science. Lebih tepatnya, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang apa-apa di blog ini, huhu. Oke, kali ini aku ingin menulis tentang tipe-tipe kepribadian lagi. Sebelumya aku sudah pernah menulis tentang tipe kepribadian juga, yaitu tentang Tipe Kepeminpinan (model DISC). Nah, kalau penggolongan kepribadian menurut model DISC dibuat untuk memudahkan kita melihat tipe kepemimpinan seseorang, kali ini aku ingin menulis tentang penggolongan tipe kepribadian Love Type menurut Helen Fischer. 

Helen Fischer berteori bahwa tipe kepribadian seseorang sangat menentukan dengan siapa ia akan jatuh cinta. Beliau juga berteori bahwa ada empat kelompok persarafan (neural system) utama yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Aktivitas saraf yang paling dominan pada seseorang akan menentukan kepribadian orang tersebut. Empat kelompok neural system itu adalah sistem dopamin, serotonin, testosteron dan estrogen/oksitoksin.

Tipe pertama, orang dengan sistem dopamin yang dominan. Orang-orang tersebut memiliki kecenderungan untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Mereka suka berpetualang, spontan, pemberani (suka mengambil resiko), berenergi tinggi tapi cepat bosan. Mereka kadang mengalami kesulitan untuk 'berpikir panjang' alias sangat impulsif sehingga sering terkesan sembrono dan boros. Oh iya, mereka juga Dianugerahi daya konsentrasi yang unik, yang mana mereka bisa begitu cepat mempelajari sesuatu dalam sekejap. Kemampuan yang juga dimotori oleh dopamin ini memang mendukung hobi mereka untuk mencoba sesuatu yang baru dan keberanian mereka untuk mengambil resiko. Kita bisa menemukan mereka di puncak gunung tertinggi, menyelam di laut lepas, main paralayang, atau sedang blusukan di daerah asing. Helen Fischer menyebut mereka sebagai "the Adventurer".

Berteman dengan mereka bisa menyenangkan, aku punya dua teman akrab yang menunjukkan ciri-ciri the Adventurer ini. Mereka selalu bersemangat dan jarang banget terlihat loyo kecuali kalau lagi sakit. Pokoknya kalau dekat-dekat dengan mereka tuh jadi ikut semangat juga, walaupun mereka tidak bisa mentoleransi kebosanan dan kadang-kadang memaksakan kehendak, wkwkwk. Sifat mereka yang random dan unpredictable juga kadang menjadi hiburan tersendiri bagiku (loh?? haha). Ya, alam berpikir mereka sangat berbeda dengan alam pikirku. Mereka hobi memutuskan sesuatu dengan sangat cepat (bahkan terkesan tanpa pertimbangan logis yang cukup di mataku), tapi kuakui, dalam keadaan-keadaan tertentu kita membutuhkan orang seperti mereka dalam kelompok :) Misalnya kita lagi travelling bareng, menurutku akan sangat menyenangkan kalau ada satu atau dua orang the Adventurer dalam kelompok kita.

Menurut Helen Fischer, the adventurer cenderung jatuh cinta dengan sesama adventurer juga. Kalau poin ini sih aku setuju banget, secara logika dan secara aktual memang poin ini benar. Temanku yang tergolong the adventurer bilang kalau dia ingin seseorang yang bisa diajak berpetualang bersama. Memang menurut Helen Fischer, the adventurer ini mencari "playing mate" alias teman bermain. Berdua bersama, mereka sama-sama menjelajahi dunia.

Berlawanan dengan the adventurer, tipe kedua yaitu orang dengan sistem serotonin yang dominan, lebih suka memastikan keamanan dan berusaha meminimalkan resiko. Helen Fischer menyebut mereka sebagai si pembangun, the builder. The builder ini sangat patuh dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. The builder selalu terlihat tenang, stabil, kalem dan terkendali. Mereka juga selalu mengkalkulasi setiap resiko dari apapun yang mereka kerjakan dan menerapkan manajemen resiko untuk meminimalkan resiko itu. Sayangnya sifat itu menjadikan mereka terkesan lambat berpikir. Mereka ingin terlihat wajar di mata orang lain, selalu menuruti peraturan dan rencana yang sudah dibuat. Pokoknya mereka itu enggak neko-neko meski kadang jadi terkesan kolot dan kaku. Tampilan mereka sehari-hari klasik dan konvensional. Oh iya, mereka juga suka membangun dan memelihara hubungan dengan orang lain. Menurutku the builder itu tipe-tipe orang yang mengangguk sopan dan minta izin ke aku sebelum mereka duduk di sebelahku ketika aku naik bus umum. Atau orang-orang yang mau repot-repot menghubungi teman-temannya untuk reuni. Mereka memang tidak keberatan untuk go out of their way untuk memelihara jaringan sosial mereka dan mereka selalu tampak sopan.

Hmm, aku kenal juga sih dengan orang-orang tipe the builder ini. Ya, mereka memang tidak keberatan untuk repot, untuk ribet, untuk rempong, asal hubungan sosial mereka terpelihara dengan baik. Pilar masyarakat, begitu Helen Fischer mendeskripsikan the builder. Menurutnya pula, the builder cenderung untuk jatuh cinta dengan sesama the builder juga. Soalnya, the builder itu mencari teman bermasyarakat, social mate. Berdua bersama, mereka bisa membangun social network yang lebih luas dan lebih stabil lagi.

Kesimpulan sementara? The adventurer dan the builder cenderung jatuh cinta pada orang-orang yang sejenis dengan mereka. Like dissolves like.

Tipe ketiga, orang yang banyak dipengaruhi oleh testosteron. Testosteron memang dikenal sebagai hormon laki-laki, tapi hormon ini ada juga pada wanita. Helen Fischer menyebut mereka sebagai the director (diterjemahkan sebagai "pengarah"). Menurutnya, otak para director banyak terpapar testosteron sehingga umumnya para director itu memiliki kemampuan spasial dan matematika yang oke. Namun mereka memiliki kemampan sosial dan berbahasa yang kurang baik. Mereka pandai memahami sistem-sistem yang didasari aturan teratur (rule-based systems), misalnya tata surya, sistem pencernaan manusia, musik, mesin, komputer, bursa efek dan lain sebagainya. Daya konsentrasi mereka sangat dalam, sekali terfokus pada suatu hal mereka akan sulit untuk mengalihkan konsentrasinya pada hal lain. Ditenggarai mereka memiliki hasrat seksual dan agresivitas yang lebih tinggi pula, mengingat seperti itulah efek testosteron pada tubuh manusia. Sebagian besar director memang laki-laki, tapi ada juga wanita yang peka terhadap pengaruh testosteron tersebut dan berkembang menjadi seorang director. Kata Helen Fischer, seorang director bisa saja berwujud sebagai seorang wanita yang terkesan lembut dan feminin di luar, namun sebenarnya ia adalah seseorang yang menuntut kesempurnaan dan sangat logis di dalam, karena otaknya sudah terlanjur terpapar testosteron. Ngomong-ngomong, jejak paparan testosteron dalam tubuh seseorang bisa dilihat dari jari jemari di tangan kanannya. Orang yang terpapar testosteron selama masih dalam kandungan, akan memiliki tangan kanan dengan jari manis yang lebih panjang daripada jari telunjuknya. Tapi tidak semua director memiliki ciri fisik itu, bisa saja otak mereka baru terpapar testosteron ketika mereka menginjak masa remaja.

The director merupakan orang yang apa adanya, tak suka berbasa-basi, praktis dan pragmatis. Mereka membanggakan diri sebagai orang yang logis. Mereka memiliki standar yang tinggi dan rela melakukan apapun untuk memperjuangkan standar itu, walaupun harus bersaing. The director memang tidak takut dengan persaingan, perdebatan atau perselisihan, karena mereka memang sangat percaya diri dengan kemampuannya.  Justru mereka menyukai perdebatan yang logis untuk mencapai suatu kesimpulan. Kata Helen Fischer, merekalah sang penggapai bintang, penggerak kemajuan berpikir dalam suatu peradaban manusia. Ciri lain dari seorang director adalah "an almost perfect separation of emotion and logical thought", mereka bisa mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh emosi alias bisa sangat objektif. Masih menurut Helen Fischer, mereka adalah individu-individu yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam menahan dan mengesampingkan rasa sakit, baik sakit fisik maupun sakit hati. Pengaruh testosteron juga menjadikan mereka seorang altruis yang suka menolong dan melindungi orang lain secara spontan. Walaupun begitu, mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang lebih rendah dibandingkan tipe kepribadian lain. Mereka bisa tampak tega menjurus kejam, asyik dengan pikirannya sendiri, enggan berbasa-basi dan tidak terlalu peduli pada orang lain. Mereka kadang tampak mengintimidasi dan tidak ramah. Mereka juga tidak peka terhadap sinyal-sinyal emosi dari orang lain. Emosi membuat mereka kebingungan dan akhirnya, ketika emosi mereka benar-benar memuncak, mereka bisa saja kehilangan kontrol dan meledak dalam kemarahan. 

Menurut Helen Fischer, the director berpendapat bahwa berkencan adalah suatu tugas (bukan suatu kesenangan), dan setelah 'tugas' itu selesai mereka ingin segera beralih menyelesaikan urusan lain. Maklumlah, mereka tidak terlalu lihai melakukan multi-tasking. Karena mereka tidak terlalu memperhatikan emosi, mereka juga enteng saja meninggalkan hubungan yang tidak sesuai standar mereka. Walaupun begitu, sekali menemukan orang yang cocok, mereka akan mengarahkan fokusnya yang dalam dan luar biasa pada orang itu. The director mendambakan pasangan yang cerdas sebagai pendamping berpikir (thinking mate).

Tipe keempat adalah the negotiator. Mereka adalah orang yang banyak dipengaruhi oleh estrogen dan oksitoksin. Memang estrogen dikenal sebagai hormon wanita, namun pria juga memiliki hormon estrogen. Beberapa pria sejati menunjukkan cir-ciri dominan the negotiator ini karena mereka terkena paparan estrogen semasa dalam kandungan. Dalam sebagian besar hal, the negotiator sangat berlawanan dengan the director. Pengaruh estrogen menjadikan mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang baik. Mereka lihai berkata-kata, ekspresif dan pandai membaca emosi orang lain. Mereka berusaha mencari arti dari setiap gestur, nada bicara dan ekspresi lawan bicara. Mereka pandai berbasa-basi dan suka menyenangkan orang lain, meskipun itu artinya mereka harus mengorbankan pendapat dan kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak keberatan untuk berubah dan menyesuaikan diri demi orang lain. Hal tersebut berlawanan dengan sifat the director.

Gaya berpikir mereka konsentris dan menjaring, bukan linear seperti the director. Artinya, mereka bisa melihat berbagai kemungkinan, dari berbagai sudut pandang, untuk memecahkan suatu masalah. Mereka juga lihai melakukan multi tasking. Namun mereka agak lemah dalam hal-hal teknis seperti membaca peta atau memahami cara kerja mesin-mesin. Mereka juga sering terlihat ragu-ragu dan tak tegas, serta terlalu sensitif akan perasaannya sendiri maupun perasaan orang lain.

The negotiator berpendapat bahwa jatuh cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya pada orang yang dijatuh cintai. Mereka imajinatif dan romantis meskipun kadang tak logis. Menurut Helen Fischer, the negotiator mencari teman jiwa alias soulmate.

You know what, menurut Helen Fischer, director cenderung jatuh cinta pada negotiator, begitu juga sebaliknya. Mungkin terdengar aneh ya? Sifat mereka sangat berlawanan...tapi kenyataannya mereka memang saling menarik dan tertarik kepada satu sama lain. Mungkin ini yang namanya opposite attracts, yin-yang, perbedaan yang melengkapi, atau apalah itu istilahnya. Rupanya, baik director maupun negotiator sama-sama mencari percakapan yang berbobot dan teoritis. Mereka tidak menyukai percakapan yang dangkal tanpa substansi. Bedanya, director meninjau suatu hal dari satu perspektif dan negotiator meninjau suatu hal dari berbagai perspektif. Menurut Helen Fischer juga, dengan perbedaan gaya berpikir ini, mereka justru bisa bersinergi untuk memecahkan masalah apapun, they make a great team gitu deh. Melalui percakapan, mereka saling menarik satu sama lain. Kalau menurut Helen Fischer, fenomena ketertarikan antara dua pribadi berlawanan ini disebabkan oleh insting biologis manusia untuk mencari pasangan yang dapat melengkapi gen-gennya. Sehingga ketika nanti mereka mempunyai anak, anak mereka nantinya bisa menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik dibanding mereka. Saling melengkapi begitu, kali ya?

Penasaran dengan tipe kepribadian ini? Coba ikut tesnya di sini. Aku sudah dua kali mencoba tes itu, kali pertama memakai bukunya Helen Fischer (judulnya Why Him, Why Her?) dan yang kedua memakai kuis online di link yang aku tampilkan di kalimat sebelum kalimat ini. Hasilnya sama kok, so aku menyimpulkan bahwa tes ini cukup robust dan precise ^.^ aku sama sekali tidak kaget ketika mengetahui hasil tesku. Bener banget sih menurutku, haha. Perlu diketahui, selain tipe kepribadian utama, menurut Helen Fischer tipe kepribadian kedua juga cukup mempengaruhi kepribadian seseorang. Jadi nanti hasil tes kita akan disajikan dalam format tipekepribadian1/tipekepribadian2, misalnya negosiator/petualang, atau pengarah/pembangun. Iya sih, menurutku tidak ada seorang pun yang murni seorang adveturer, builder, director atau negotiator. Kita adalah kombinasi yang khas dari keempat traits itu.

Akhirnya..aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan "percaya enggak percaya, terserah anda", hoho. Iya sih Helen Fischer mengemukakan teori-teori yang kukemukakan di atas berdasarkan penelitiannya yang dilakukan bertahun-tahun dan melibatkan ribuan responden. Menurutku hasil penelitiannya masuk akal kok. Tapi sekali lagi, mau percaya atau tidak, semuanya terserah anda.

Semoga tulisanku ini bermanfaat. Have a good life, reader!

10/04/13

Vaseline Complete Care - Body Lotion That Works

Disclaimer: Posting ini dibuat untuk kepentingan review saja, tidak dimaksudkan untuk kepentingan promosi. Produk yang diulas dalam postingan ini dibeli dengan uang pribadi saya. Untuk masalah kulit yang lebih serius, berkonsultasilah secara langsung dengan dokter spesialis kulit dan apoteker anda :)

Tanpa terasa, sudah cukup lama juga aku tidak menulis review kosmetik. Kenapa ya? Aku sendiri juga heran. Padahal mengamati kosmetika yang beredar di pasaran itu sebenarnya minatku. Melihat-lihat komposisi kosmetik yang dipajang di rak supermarket itu menyenangkan, apalagi kalau supermarketnya lagi sepi sehingga aku tidak perlu menolak tawaran para sales girl kosmetik yang mempromosikan produknya, hehe.

Kali ini aku akan menulis tentang body lotion Vaseline Complete Care.



Body lotion ini diproduksi oleh PT. Unilever Indonesia, Cikarang, Bekasi. Namun Vaseline sendiri merupakan merk internasional yang telah ada sejak tahun 1870 dan sekarang berada di bawah bendera Unilever Global. Vaseline Complete Care merupakan salah satu varian body lotion Vaseline di Indonesia selain Vaseline Healthy White Healthy White, Vaseline Total Moisture Aloe Fresh, Vaseline Cocoa Glow, Vaseline Firming dan lain-lain.

Aku mulai memakai lotion ini kira-kira setelah ujian skripsi terbuka (inget banget ya, haha). Kenapa aku tertarik untuk membeli Vaseline Complete Care ini? Dulu aku merasa kulit tangan dan kakiku lumayan kering. Ya enggak sampai bersisik atau mengelupas sih, tapi kalau dipegang dan dielus kok kurang licin menurutku. Kalau dibandingkan dengan kulit tubuh yang lembab, halus dan licin, wah jauh banget. Padahal sudah teratur pakai body lotion lho. Maka aku pun berpikir untuk mencoba body lotion baru yang lebih ampuh untuk melembabkan dan menghaluskan kulit.

Tak lama setelah itu aku melihat body lotion yang dipakai ibuku di rumah. Saat itu beliau memakai Vaseline Complete Care ini. Dari tulisan di kemasannya, aku jadi tahu bahwa body lotion ini mengandung AHA dengan kadar 8,6%. Cring! Aku jadi ingat kuliah kosmetologi. AHA (Alpha Hydroxy Acid) atau asam alfa-hidroksi sebenarnya adalah nama golongan senyawa kimia. Menurut ilmu kimia organik yang kuketahui, AHA merupakan asam karboksilat yang memiliki tambahan gugus hidroksil di atom karbon pertama setelah atom karbon hidroksilnya, zzzzz ya pokoknya gitu deh (skip aja penjelasan ini, haha). Salah satu anggota golongan senyawa AHA yang digunakan dalam perawatan kulit adalah asam laktat, dan asam laktatlah yang terkandung dalam Vaseline Complete Care.

Lantas kenapa asam laktat dalam Vaseline Complete Care ini membuatku mau membeli dan memakai body lotion ini? Adakah hubungan antara struktur kimia asam laktat dengan aksinya dalam menghaluskan kulit? Haha, tentu saja ada, tapi aku enggak mencari tahu sampai segitunya kok. Yang jelas, sudah banyak penelitian in vivo yang membuktikan efektifitas asam laktat dalam menghaluskan dan meningkatkan kelembaban kulit. Hal ini antara lain dikarenakan oleh sifat asam laktat yang suka air (dapat menarik molekul air). Jadi, kelembaban di kulit kita tidak akan mudah hilang jika kita memakai lotion yang mengandung asam laktat. 

Asam laktat juga berfungsi sebagai chemical exfoliant alias zat yang dapat mempercepat pergantian sel kulit mati dengan sel kulit baru. Efek exfoliant dari asam laktat ini dapat menjadikan kulit lebih halus, lebih lembut, lebih ‘licin’ (istilahku sendiri, haha), membantu mencerahkan kulit dan menghilangkan noda-noda hitam di kulit. Sebenarnya secara tradisional kita juga bisa pakai lulur sebagai physical exfoliant, tapi selain memakan waktu, kadang butiran lulur juga terlalu kasar sehingga dikhawatirkan terjadi iritasi. Selain itu menurutku efek melembabkan dan menghaluskan dari lulur hanya bertahan singkat, tidak sebanding dengan waktu yang dikeluarkan untuk luluran, hehe. Hmm, kalau aku pingin efek halus dan licinnya aja sih, aku sudah suka dengan warna kulit tubuhku ini kok. Meskipun enggak putih tapi kan warnanya sudah merata, hoho.

Oh iya, hampir lupa, selain berperan dalam melembabkan kulit dan mempercepat pergantian sel kulit (exfoliant), asam laktat juga dapat mempercepat pembentukan kolagen. Oleh karena itu asam laktat kadang dipakai dalam formula kosmetika anti-aging alias kosmetik yang ditujukan untuk memperlambat proses penuaan. Kalau pembentukan kolagen dipercepat, kulit akan menjadi lebih kencang dan akan lebih lambat menua, soalnya penuaan kulit itu antara lain disebabkan oleh menurunnya produksi kolagen.

Walaupun begitu, semua zat tetap merupakan racun jika tidak digunakan dengan tepat. Asam laktat juga begitu. Walaupun menurut para ahli perawatan kulit asam laktat digolongkan sebagai AHA yang lumayan smooth alias enggak galak alias lembut untuk kulit, namun tetap saja ada efek tidak dikehendaki yang timbul pada orang-orang yang memang sensitif. Efek tidak dikehendaki itu antara lain timbulnya rasa panas, merah atau gatal pada kulit. Memang sedikit rasa panas atau gatal itu wajar saat awal-awal pemakaian, karena asam laktat itu kan exfoliant. Kadang kalau habis luluran juga kan terasa agak perih kan? Ibaratnya, kulit kita sedang digosok untuk melepaskan sel kulit matinya, kan wajar kalau timbul sedikit rasa panas atau pedih. Namun kalau gejala kemerahan, panas, perih dan gatal pada kulit dirasakan mengganggu dan terjadi terus-menerus setelah pemakaian, berarti orang tersebut memang tidak cocok dengan asam laktat dan tidak boleh memakai lotion ini.

Selain itu, asam laktat juga dapat menyebabkan hipersensitivitas terhadap sinar matahari. Maksudku, asam laktat dapat menyebabkan kulit jadi lebih peka terhadap sinar matahari, misalnya jadi kulitnya akan lebih cepat memerah dan terbakar setelah terkena sinar matahari dibandingkan dengan kulit yang tidak memakai asam laktat. Oleh karena itu, menurutku sebaiknya kita pakai lotion ini di sore hari saja. Sebaiknya jangan memakai lotion ini sebelum kita beraktivitas di bawah sinar matahari. Kalau kita sudah teratur memakai lotion ini pun, sebaiknya hindari paparan sinar matahari dengan cara memakai baju tertutup, payung, slayer dan sarung tangan.

Wah panjang juga ya penjelasanku tentang asam laktat, alasan utamaku memakai lotion ini. Aku memakai lotion ini sehari sekali, yaitu sehabis mandi sore. Saat kulit masih lembab, oleskan body lotion ini agar kelembaban sehabis mandi itu dikunci oleh asam laktat yang terkandung dalam lotion. Aku tidak memakainya di pagi hari sebelum beraktivitas untuk meminimalkan efek sensitif terhadap sinar matahari (padahal kulit tubuhku itu ala badak banget alias gak sensitif, haha..tapi jaga-jaga sajalah). Pada pagi hari aku pakai lotion atau body butter lain sesuai kebutuhan, merk-nya ganti-ganti tidak jadi masalah. Kalau sedang banyak beraktivitas di ruang ber-AC ya pakai body butter. Kalau sedang sering naik motor atau beraktivitas di luar ruangan ya pakai lotion yang mengandung tabir surya (misalnya yang mengandung etil parametoksi sinamat). Kalau lagi kumat pelitnya ya pakai lotion yang murah aja -_- haha.

Bagaimana hasilnya?
Menurutku hasilnya bagus sih. Kulitku jadi lebih halus dan tidak kering lagi. Berarti benar kalau asam laktat memang bagus untuk memperbaiki kelembaban dan kehalusan kulit. Tapi aku baru ingat kalau kulit tangan dan kakiku itu berbulu halus namun lebat dan panjang...hahaha, jadi walaupun pakai body lotion sehebat apapun ya tetap gak bisa licin banget kecuali kalau di-shave, haha. Tapi setidaknya kulit jadi lembab, halus dan tidak kering. Suka deh :D efek melembabkannya awet, bukan sekedar lembab di awal tapi beberapa jam kemudian kering lagi.

Oia, terakhir aku membeli body lotion ini seharga Rp. 21.300,- untuk kemasan 200 ml (aku beli di supermarket dekat kawasan UGM). Harganya memang sedikit lebih mahal daripada kompetitiornya, namun mengingat manfaatnya aku merasa harga segitu wajar deh buat body lotion ini. Menurutku, daripada beli body lotion merk terkenal yang mahal namun belum teruji manfaatnya, mending beli ini lah. Kandungannya jelas, asam laktat, sudah terbukti efektifitasnya. Haha, jangan-jangan manfaat yang kudapatkan setelah empat tahun lebih belajar ilmu farmasi adalah bisa memilih body lotion that works alias body lotion yang efektif ya? ;p

Dari skala 1-10 aku memberikan nilai 8,8 untuk body lotion ini. Dan aku akan selalu membeli lagi body lotion ini alias repurchase over and over again mengingat dia punya manfaat anti aging juga. Begitulah review-ku tentang body lotion Vaseline Complete Care. Semoga bermanfaat :)

10/11/12

November, Bulan Peduli Epilepsi

Seperti biasa, saat aku browsing untuk mengerjakan tugas kuliah, selalu saja aku nyasar kemana-mana. Untunglah malam itu sepertinya aku nyasar ke tempat yang benar (emang bisa ya nyasar ke tempat yang benar? Hehe). Saat sedang mencari jurnal bertopik epilepsi, ujung-ujungnya aku masuk ke fanpage Komunitas Epilepsi Indonesia di Facebook. Sudah apply jadi anggota sih, semoga cepat direspon. Dan aku baru tahu kalau ternyata bulan favoritku, November, merupakan bulan peduli epilepsi di Amerika sana. Ya, aku memang peduli dengan epilepsi. Sebenarnya sebagai calon apoteker harusnya aku peduli dengan semua penyakit sih..tapi boleh dikatakan bahwa kepedulianku terhadap epilepsi lebih tinggi dibanding kepedulianku terhadap penyakit lain, tanpa mengesampingkan signifikansi masing-masing penyakit pada penderitanya. 

Di blog ini juga aku sudah pernah menulis tentang epilepsi, mulai dari pengalaman, info-info singkat sampai tentang profil farmakologi singkat dari beberapa obat-obatan anti epilepsi. Meskipun menurut statistik jumlah pengunjung yang menengok postingan tentang epilepsi jauh lebih sedikit dibanding jumlah pengunjung yang menengok postinganku tentang review kosmetik, tapi aku tetap semangat kok :) 

Epilepsi sendiri merupakan penyakit yang cukup unik; pada keadaan tanpa serangan alias saat sedang tidak kumat, jika diperiksa penderita tidak menunjukkan gangguan apapun. They look perfectly healthy, begitu yang tertulis di slide kuliah. Bahkan gelombang otak mereka pun normal, hanya menjadi kacau saat terjadi serangan saja. Beberapa orang yang tercatat di sejarah ternyata juga punya riwayat epilepsi, antara lain Gregor Mandel, berarti sebenarnya orang epilepsi tidak selalu (maaf) retarded alias mengalami keterbelakangan mental kan? Kecuali kalau epilepsinya parah sekali, sering mengalami status epileptikus dan tidak pernah diobati. Namun penderita epilepsi sering merasa minder karena penyakit mereka, juga sering menjadi cemas dan panik. Padahal emosi negatif dapat memicu serangan.

Mengingat ini bulan peduli epilepsi, sebagai orang yang sehat, yuk kita coba berempati. Beruntunglah sekarang kita sehat, hari esok siapa yang tahu? Kalau ada orang dalam kehidupan kita yang punya epilepsi, menurutku ada 1 hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk mereka. Apa itu? Perlakukan mereka seperti orang biasa. Mereka sehat kok, namun kadang kena serangan, itu saja. Di luar itu, mereka seperti kita. Punya cita-cita, punya nama, punya teman, punya orang tua, punya kehidupan. Tidak usah menatap mereka dengan 'that look' kalau mereka berkata bahwa mereka punya epilepsi. Katakan saja "oh really? Are you willing to tell me something about that?". Kalau mereka dengan sukarela bercerita, that's another story. Kalau tidak, oke, lanjutkan saja kehidupan seperti sebelumnya. Orang dengan epilepsi TIDAK pernah meminta supaya mereka punya epilepsi lho. Tentu saja mereka semua ingin sehat dan sembuh. 

Kalaupun kita pernah harus melihat mereka sedang kena serangan, tolong jangan lari. Amankan mereka, jangan sampai jatuh dari ketinggian, apalagi masuk ke air, kena api, listrik dan bahaya lainnya. Miringkan ke samping agar jalan nafasnya tidak tersumbat. Lepaskan sepatu atau ikat pinggang yang terlalu kencang. Tunggu sampai serangannya mereda (umumnya kejang epilepsi tidak berlangsung lama, kecuali pada keadaan status epileptikus: kalau kejang sudah hampir 5 menit, segera bawa ke UGD). Setelah ia sadar, beri minum. Boleh ditanya, tapi jangan lanjut bertanya kalau ia terlihat bingung. Lebih lengkapnya baca artikelku di buletin Piogama aja deh, hehe.

Epilepsi, seperti penyakit lain, bukan sesuatu untuk ditertawakan. Masih banyak guyonan lain yang lebih lucu daripada guyonan tentang penyakit seseorang. Sekali lagi ingat, mereka tidak pernah memilih untuk kena epilepsi. Apalagi dijelaskan kalau banyak kasus epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui alias idiopatik alias tiba-tiba muncul begitu saja -__- yah, 'idiopatik' adalah jawaban yang tidak kusukai karena enggak jelas banget, tapi kenyataannya memang begitu. Menurutku idiopatik adalah jawaban paling konyol, terkesan pasrah dan enggak tahu, tapi ia juga merupakan puncak dari segala pengetahuan. Lha kalau memang sudah diperiksa benar-benar dan tidak ada penyebab lain, berarti kan memang 'idiopatik' adalah jawabannya. Menyebalkan ya? hehe.

Lantas bagaimana kalau kebetulan kita sendiri punya epilepsi? Menurutku sih, berdasarkan kuliah farmakoterapi tanggal 30 Oktober 2012 kemarin, tetap semangat! Tetap optimis...pasti punya epilepsi bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi percayalah pasti semua hal ada alasannya. Dan alasan itu adalah, kamu lebih kuat dari sebagian besar orang di muka bumi ini. Begitulah. Ingat tulisanku di atas, epilepsi bisa disembuhkan. Jangan putus asa menelateni obat yang sedang diminum. Jangan pernah melewatkan jadwal minum obat. Obat-obatan ini seperti magic, meskipun tetap kesembuhan ada di tangan Tuhan dan di tanganmu sendiri: makanya harus rajin minum obat kalau ingin sembuh. 

Kalaupun obat yang diminum tidak bisa mencegah serangan, jangan putus asa. Berkonsultasilah ke dokter dan apoteker. Mereka akan mengganti dengan obat lain. Operasi juga bisa jadi solusi, sudah banyak kisah kesembuhan penderita setelah mereka dioperasi. Oh iya, sebelum kumat biasanya penderita bisa merasakan 'aura' alias tanda kalau epilepsinya akan kumat, misalnya merasa pusing mendadak, bingung, dsb. Penderita harus bisa mengenalinya. Penderita juga harus bisa mengenali dan menghindari pemicu, jadi jangan sampai kecapekan, terlalu stres, terlalu lapar, terlalu sedih, pokoknya yang terlalu-terlalu itu jelek deh. Kalau penderita bisa me-manage itu semua (menghindari pemicu dan mengenali aura), aku yakin penderita itu sudah selangkah lebih dewasa. Dewasa itu kan bisa me-manage apa-apa yang kita punya dan hal-hal yang kita akan hadapi kan? :) Jangan membuat alasan untuk merasa sedih, was-was dan putus asa, namun juga jangan membuat alasan untuk tidak berusaha. Epilepsi tidak membuatmu lebih tidak berharga, kamu tetap bisa hebat, mengejar mimpimu dan memperjuangkan hidupmu. Aku baca cerita seorang mantan penderita epilepsi yang sembuh setelah dioperasi, bagus kata-katanya...izinkan aku mengutipnya disini:

“SAYA DULU PERNAH MENGHADAPI MENGHADAPI MASALAH YANG LEBIH BERAT SEPERTI TINDAKAN OPERASI ATAU SERANGAN EPILEPSI YANG JIKA MUNCUL DI SAAT DAN TEMPAT YANG SALAH, BISA BERAKIBAT FATAL. SAYA BISA MENGHADAPI MASALAH ITU. DAN TENTUNYA SEKARANG SAYA BISA MENYELESAIKAN MASALAH YANG DAMPAKNYA TIDAK SEBERAT EPILEPSI” (ASKA PRIMARDI, YAYASAN EPILEPSI INDONESIA, aska.primardi@ina-epsy.org)

Benar sekali kata pak Aska ini, dalam bahasaku aku berkata: "Allah sudah Mempercayaimu sedemikian besarnya sampai ia Percaya bahwa kau bisa hidup dengan epilepsi. Allah percaya kamu bisa, kamu kuat menghadapi semua dampak dari penyakit ini. Kamu akan bertahan dan menginspirasi. Allah juga pasti Mempercayaimu juga untuk hal-hal yang lebih kecil dari epilepsi ini. Semangatmu dan optimismemu akan membuatmu semakin luar biasa dan Dipercaya :) 


Saya pemilik blog ini, dan saya peduli epilepsi.




Catatan Kuliah Farmakoterapi Epilepsi

Beberapa minggu lalu aku sudah diberi kuliah tentang farmakoterapi epilepsi! Sepanjang kuliah itu aku tidak menguap sama sekali, rasanya begitu semangat menyimak dan mencatat apa yang disampaikan dosen kemudian mengkritisi dan menanyakannya. I really, really have a thing about this, and I care too. Coba saja semua kuliah terasa menarik seperti kuliah itu ya, hehe.

Dari kuliah itu, aku jadi tahu berbagai hal baru tentang epilepsi. Epilepsi merupakan gangguan sistem saraf pusat yang ditandai dengan suatu bangkitan, salah satunya berupa kejang (seizure)..ah kalau ini sih, udah banyak yang tahu ya. Tapi tahukah pembaca bahwa ada jenis epilepsi yang 'hanya' ditandai dengan sentakan otot tiba-tiba, terkulai tiba-tiba, bengong atau meringis tanpa sebab (bukan karena mengingat kekonyolan diri sendiri misalnya v^^), dan kejang hanya pada sebagian tubuh saja? Ya, ternyata manifestasi epilepsi berbeda-beda, dan pengobatan epilepsi yang tepat adalah pengobatan yang disesuaikan dengan jenis kejangnya, menggunakan satu jenis obat saja, dilakukan sesingkat mungkin dan diiringi dengan pengawasan yang ketat akan kadar obat dalam darah

Hmm, pengobatan epilepsi di Indonesia, seperti banyak hal lain juga, belum dilaksanakan dengan benar sesuai teori. Sayang sekali lho. Kenapa? Karena sebenarnya epilepsi merupakan penyakit yang angka kesembuhannya tinggi. 70-80% Orang yang pernah didiagnosis epilepsi dan diobati dengan benar bisa sembuh sama sekali alias tidak pernah kejang lagi sepanjang hidupnya dan bisa lepas obat. Kalau sudah minum obat anti epilepsi selama 2 tahun dan obatnya cocok (dalam arti penderita tidak pernah kejang selama 2 tahun minum obat dan tidak terlalu terganggu dengan efek samping obat tersebut), maka dosis obat anti epilepsinya bisa diturunkan dosisnya karena ia sudah dianggap sembuh.  Isn't that great? Allah kurang baik gimana coba? :D 

Oh iya, waktu kuliah aku tanya begini (sehubungan dengan info itu):
"Epilepsi kan disebabkan oleh ketidak seimbangan faktor eksitasi dan inhibisi di otak sehingga zzz zzzz zzzzzz (anggap saja tidak penting). Lalu apakah hanya dengan minum obat selama 2 tahun ketidak seimbangan itu bisa membaik selama seumur hidup?"

Lalu ibu dosen yang cantik pun menjawab:
"Kekambuhan epilepsi tergantung jenis kejangnya, ada jenis epilepsi yang tingkat kesembuhannya sangat tinggi*, ada juga yang agak rendah. Tapi prinsipnya, memang jika diobati dengan benar epilepsi bisa sembuh. Oh iya, selain dipengaruhi oleh jenis kejangnya, kesembuhan epilepsi juga dipengaruhi progresivitas penyakit dan apakah penderitanya pernah mengalami status epileptikus atau tidak (status epileptikus: serangan kejang pada seluruh tubuh disertai hilang kesadaran alias grand mal, berlangsung lebih dari 5 menit, bisa terjadi lebih dari 2 kali berturut-turut tanpa adanya pemulihan kesadaran di antara 2 kejang tersebut). Kalau sudah pernah status epileptikus, maka itu artinya sudah terjadi kerusakan saraf yang lebih parah"

Nah, begitu hebatnya para penemu obat-obatan anti epilepsi itu. Kalau boleh kubilang, obat anti epilepsi itu life-changing drugs. Bayangin dong, awalnya was-was bakalan kumat jadi bisa tenang dan percaya diri pergi kemana-mana, bukannya itu life-changing? Makanya aku mendoakan supaya orang yang menemukan obat-obatan epilepsi, terutama natrium valproat, di ujung hidupnya berada pada keadaan yang baik dan nantinya Dimasukkan ke surga, aamiin. Sudah pernah kutulis kalau aku kagum dengan valproat: tidak menimbulkan efek mengantuk (non sedatif), aman untuk anak, pokoknya secara keseluruhan valproat itu efek sampingnya minimal dibanding yang lain, meskipun masih punya efek toksik terhadap hati (liver), tapi itu masih lumayan kalau dibanding obat epilepsi yang lain. Tapi tiap penderita kan berbeda-beda ya...tidak semua cocok dengan valproat. Karena itu perlu dipertimbangkan rasio resiko dan manfaat masing-masing obat untuk masing-masing penderita. Perlu diingat juga kalau obat-obatan epilepsi itu hampir semuanya merupakan obat yang mempengaruhi obat lain di dalam tubuh (kami menyebutnya sebagai induktor enzim sitokrom P-450). Karena itu penderita epilepsi harus berkonsultasi dulu dengan apoteker sebelum minum obat lain. Dan seperti yang sudah pernah kutulis juga...oh i hate this, hampir semua obat epilepsi itu bersifat teratogenik alias berbahaya buat janin (bisa menimbulkan cacat bawaan pada bayi yang sedang dikandung, kalau penderita sedang hamil dan minum obat anti epilepsi).

Olala, lantas apakah penderita epilepsi tidak boleh hamil?
Kata dosenku, memang sebaiknya penderita menunda kehamilan dulu sampai ia benar-benar bebas kejang dan bisa berhenti minum obat. Namun jika ia memang sangat ingin hamil, itu pilihan pribadi dan tidak ada yang bisa melarangnya. Solusi dari apoteker adalah seperti ini: Sebelum hamil (saat mulai merencanakan kehamilan), penderita harus minum suplemen asam folat setiap hari karena asam folat dapat menurunkan resiko cacat pada bayi. Lalu pengobatan epilepsi dilakukan dengan satu jenis obat saja, dalam dosis serendah mungkin untuk mencegah efek yang tidak diinginkan pada bayi. Sekarang sudah ada beberapa obat epilepsi baru yang efek teratogeniknya lebih kecil, sayang belum semua beredar di Indonesia.

Ngomong-ngomong tentang epilepsi dan wanita usia subur, ada temuan menarik. Estrogen, hormon wanita, ternyata bersifat epiletogenik alias memicu timbulnya serangan epilepsi. Namun progesteron, hormon wanita yang lain, untunglah bersifat mencegah timbulnya serangan epilepsi. Nah, saat kadar estrogen jauh lebih tinggi  daripada progesteron, misalnya saat menstruasi, serangan epilepsi akan lebih sering terjadi pada penderita. Ini namanya catamenial epilepsy, serangan epilepsi saat masa menstruasi. Penderita wanita yang sering mengalami catamenial epilepsy harus hati-hati saat menopause kelak, karena saat menopause juga terjadi ketidak seimbangan hormon.

Sekian penggalan dari catatan kuliah farmakoterapi epilepsi tertanggal 30 September 2012. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di postingan selanjutnya yang masih bertemakan epilepsi. Sebenarnya tadi aku menulis untuk 1 posting saja, namun karena hasilnya terlalu panjang dan pembahasannya terlalu melebar aku membaginya jadi dua. Sekian, semoga bermanfaat :)



* Maafkan aku yang tidak sempat mencatat satu persatu jenis kejang mana yang paling mudah sembuh sampai yang paling susah sembuh; namun aku ingat kalau nilai kesembuhan untuk kejang grand mal itu ada di tengah-tengah dibanding nilai kesembuhan jenis kejang yang lain. Artinya, peluang masih baik.





16/06/12

Vaksin

Kemarin, hari Kamis 14 Juni 2012, PIOGAMA mengadakan diskusi kecil-kecilan, namanya PoPi (Pojok Piogama). Waaah, sebagai anggota yang baik (maksudku anggota yang galau enggak punya kerjaan), tentu aku datang dong, apalagi fasilitator diskusinya dosen favoritku. Menurutku, kuliah yang diberikan dosen itu keren, nyeleneh tapi membuka wawasan, I think moral of his lectures is: Sebelum mempercayai berita yang beredar di luar, kita harus berpikir kritis dan mencari dasar ilmiah dulu. Wah bakalan panjang sih kalau aku tulis semua yang membekas dari kuliah beliau...di kesempatan ini aku ingin menuliskan beberapa hal yang aku mengerti dari diskusi itu. Tapi enggak semua ya. Oh iya, diskusinya berjudul "Manfaat dan Resiko Vaksin, Mana yang Lebih Besar?".


****

Sejak pertama kali dikembangkan oleh Edward Jenner, manfaat vaksin dalam peradaban manusia yang paling remarkable sampai saat ini adalah kesuksesan vaksin dalam mengeradikasi (melenyapkan) penyakit cacar (cow pox) dari muka bumi. Pada tahun 1975, dunia dinyatakan bebas cacar (bukan cacar air lho, beda virusnya). Sekarang yang sedang diusahakan adalah mengeradikasi polio dari muka bumi ini. Kesuksesan vaksin polio dalam melindungi serangan virus tsb mencapai 100%. Vaksin sendiri merupakan salah satu preparat farmasi yang berisi agen patogen (misalnya virus dan bakteri) yang dimatikan, dilemahkan, atau berisi bagian dari agen patogen tersebut (misal dinding sel, protein dsb). Pemberian vaksin bertujuan untuk memicu tubuh menghasilkan antibodi terhadap agen patogen yang dimaksud tanpa menimbulkan penyakit seperti jika tubuh terkena penyakit dari patogen tersebut (=klo kita divaksin polio, maka tanpa terserang polio tubuh kita sudah punya antibodi terhadap virus polio, dan sewaktu-waktu jika ada virus polio yang masuk ke tubuh, antibodi itu akan menghancurkan virus tsb sehingga kita gak kena polio).

*****

Waktu paro antibodi yang dihasilkan oleh tubuh terhadap virus polio di dalam OPV (oral polio vaccine) mencapai 3000 tahun (trolololo). Sedangkan antibodi terhadap virus cacar dari vaksin cacar memiliki waktu paro 90 tahun. Artinya antibodi yang dihasilkan oleh kedua jenis vaksin tersebut sangat stabil sehingga vaksinasi hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup.

*****

Namun sayangnya tidak semua vaksin memiliki angka keberhasilan proteksi 100%. Vaksin BCG (pencegah TBC), misalnya, hanya memiliki nilai keberhasilan/kemanjuran 0-80%. Pada populasi di Georgia, Amerika Serikat, angka keberhasilan vaksin ini 0%. Namun pada populasi di Inggris, nilai kemanjurannya 80%. Di Indonesia? Seperti biasa belum ada data -__________-  Kenapa perbedaan respon orang terhadap vaksin ini bisa terjadi? Semuanya tergantung gen kita. Vaksin ini dibuat dari bakteri Mycobacterium bovis, bakteri yang menyebabkan  TB (tuberkolosis) pada sapi namun tidak menyebabkan TB pada manusia. Protein dinding sel bakteri tsb mirip dengan protein dinding sel Mycobacterium tubercolosis (yang menyebabkan TB pada manusia). Diharapkan sistem imun kita akan mengenali protein dinding sel tersebut, kemudian menghasilkan antibodi yang bisa mengenali Mycobacterium tubercolosis juga. Namun berhubung kita semua merupakan mutan (dalam artian profil genetika kita unik dan berbeda-beda satu sama lain), maka ada orang yang bisa menghasilkan antibodi jika diberi vaksin tsb, ada juga yang tidak.

*****

Bagaimana dengan kontroversi tentang mudharat vaksin? Ada beberapa kasus yang memicu hal tsb, antara lain vaksin rotavirus yang menyebabkan penyumbatan saluran cerna sehingga vaksin tsb ditarik dari peredaran. Kemudian pernah dilaporkan seorang anak meninggal setelah diberi virus DPT (vaksin kombinasi pencegah Difteri, Pertusis dan Tuberkolosis). Hal ini dapat disebabkan karema vaksin DPT dibuat dari bakteri pertusis, dimana bakteri tersebut memiliki lipid A pada dinding selnya. Lipid A merupakan suatu pirogen kuat, dapat menimbulkan demam sampai 40 derajat celcius dan mengakibatkan kematian. Sekarang telah dikembangkan vaksin DaPT ("a"-nya berarti "acellular"). Dalam vaksin DaPT, bakteri diganti dengan glikoprotein yang memiliki aktivitas imunogenik sama dengan bakteri utuh. Glikoprotein ini bukan pirogen sehingga tidak menyebabkan demam. Sayang harganya 10x lipat vaksin DPT biasa 

*****

Pernah juga dilaporkan kasus seorang anak terkena polio beneran setelah divaksin dgn OPV (oral polio vaccine, vaksin polio yang ditelan itu, kayak pas zaman kita TK). Well, OPV dibuat dari virus polio yang dimutasi. Virus polio wild type (yang asli, gak dimutasi) hidup di mukosa usus manusia dan dapat menembus sel usus, kemudian menimbulkan penyakit. Virus polio yang digunakan dalam pembuatan OPV dimutasi sehingga tidak bisa menembus mukosa usus. Lantas kalau dia tidak bisa menembus mukosa usus, bagaimana bisa memicu pembentukan antibodi? Ingat mucosal immunology (kuliahnya bu Retno, PhD, buat yang udah ambil Rek.Antibodi sih). Sel dendritik bisa mengambil virus diluar sel usus kemudian mempresentasikannya ke sel B dan sel T, kemudian sel T akan menghasilkan antibodi. Antibodi yang dihasilkan karena respon imun thd virus umumnya memiliki waktu paruh yang lama, umumnya bisa sampai seumur hidup. Karena itulah OPV dapat melindungi dari polio dengan tingkat keberhasilan 100%. Namun ingat, virus polio dalam OPV itu merupakan virus yang dimutasi, yang mana memiliki perbedaan 1 jenis asam amino dengan virus wild type. Kemungkinan terjadinya mutasi balik, yaitu virus yang sudah dimutasi itu kembali lagi sifat virulensinya alias menjadi virus wild type yang dapat menimbulkan polio, selalu ada. Oleh karena itu, sangat mungkin seorang anak yang menerima OPV justru terkena polio. karena itulah, di Amerika sekarang OPV gak dipakai lagi. Sebagai gantinya dipakai virus polio yang dimatikan dan diberikan melalui injeksi (injeksi intramuskular ya harusnya?).

*****



Vaksin dibuat dari patogen yang dimatikan, dilemahkan atau dari bagian tertentu patogen tersebut. Untuk yang dibuat dari patogen yang dimatikan, bahan tambahan yang digunakan untuk mematikan patogen antara lain adalah formaldehid. Menjelang tahap akhir pembuatan vaksin, formaldehid dipisahkan dari vaksin tersebut, namun jejak atau sisa-sisa (traces) dari  formaldehid dapat tersisa di vaksin tersebut. Nah, kata berita, formaldehid ataupun formalin (larutan formaldehid dalam air) berbahaya bagi kesehatan? Tahukah anda bahwa sebenarnya, secara normal darah kita mengandung formaldehid dalam kadar 6-10 ppm. Secara alami, makanan yang kita konsumsi sehari-hari mengandung formalin: kerang hijau, daging yang dibakar, bahkan sayuran. Demikian juga kain yang kita pakai untuk pakaian, diproses pula dengan formaldehid. Sebenarnya, formaldehid di dalam tubuh cepat dieksresi (dikeluarkan) dan penelitian pada ayam membuktikan bahwa formaldehid tidak diakumulasi di dalam otot, hepar, kulit dan telur. Formaldehid berbahaya jika masuk ke tubuh melalui pernafasan, bisa menyebabkan kanker nasofaring (walaupun hal ini juga membutuhkan waktu yang lama, bisa sampai 40 tahun). Formaldehid juga berbahaya jika uapnya terkena mata, karena bersifat iritan. Walaupun begitu, sekali lagi, formaldehid dalam vaksin tidak perlu dikhawatirkan karena kalaupun ada, kadarnya pastilah sangat kecil sekali. Jauh lebih sedikit daripada yang terdapat di dalam sate atau daging asap.

*****

Selain formaldehid, zat tambahan lain pada vaksin yang dikhawatirkan menyebabkan efek buruk adalah timerosal. Timerosal digunakan sebagai pengawet, merupakan suatu senyawa merkuri organik dan sulit dieksresi dari tubuh. Padahal, kalau seseorang divaksinasi lengkap dari sejak ia lahir sampai akil baligh, ia  akan menerima 70 vaksinasi sehingga jumlah timerosal yang masuk ke tubuhnya lumayan banyak. Diduga timerosal memicu timbulnya autis pada anak sehingga sekarang tidak digunakan lagi. Namun anehnya, walaupun sekarang timerosal sudah tidak digunakan lagi, prevalensi kasus autisme pada anak tidak berkurang. Logikanya, timerosal tidak memicu autis. Lantas kenapa kasus autisme masih ada? "Kurang perhatian dari orang tua mungkin?" (Kata dosenku).

*****


Tujuan vaksinasi sendiri adalah agar tubuh kita menghasilkan antibodi terhadap suatu penyakit tanpa harus terkena penyakit itu. Setelah antibodi terbentuk, tubuh mampu menghancurkan patogen penyebab penyakit. Pada sebagian besar kasus, manfaat vaksinasi masih lebih besar daripada mudharatnya, apalagi jika kita hendak memasuki daerah endemik penyakit tertentu. Untuk keselamatan diri sendiri kita harus divaksin terlebih dahulu. Begitu juga tenaga kesehatan yang hendak memasuki rumah sakit dan berinteraksi dengan pasien hendaknya divaksin hepatitis B (karena hepatitis B sangat mudah menular, antara lain melalui alat makan yang dipakai bersama). Namun seperti biasa kita harus kritis memilih vaksin yang hendak kita masukkan ke tubuh. Vaksin rotavirus misalnya. Vaksin yang ditujukan untuk mencegah diare karena virus ini menghasilkan antibodi yang hanya mampu bertahan selama 6-12 bulan. Kecuali kita hendak memasuki daerah endemik diare, vaksin ini tidak diperlukan. Toh melalui makanan kita sehari-hari, mungkin kita sudah terpapar virus itu dan sudah punya antibodi terhadap rotavirus. Vaksin HPV (Human Papiloma Virus) yang ditujukan untuk mencegah kanker leher rahim hanya efektif jika diberikan pada anak wanita berumur 9-16 tahun. Kenapa? Setelah menginjak usia 16 tahun, kemungkinan seseorang sudah pernah terpapar HPV sehingga sudah punya antibodi terhadap HPV. Namun sebagian besar orang yang terpapar HPV tidak menunjukkan gejala, terutama orang yang kekebalan tubuhnya bagus. Karena itu vaksinasi HPV pada gadis remaja berumur lebih dari 16 tahun perlu dikaji lagi manfaatnya mengingat biayanya yang tidak murah.

*****


17/03/12

Endorphin Surge (Exercising Makes You Feel Great)

Hmmm, i think i had an endorphin surge today today :D
(surge here means sudden increase, not fluctuation)  

What is endorphin, you may ask? 
Endorphin is one of many substances found in our body that acts as neurotransmitter. Means, endorphin's function is to deliver nerve signal in our body. If endorphin binds with its specific receptor, it creates effect resembling opiates' effect. Yeah, i talked about opiates that includes morphine and heroine. Similar to those two opiates, endorphin creates an analgesic effect and a "feel-good" feeling in our body. The name endorphin itself comes from two words: ENDOgenous and MORPHINe, means endorphin is a morphine-like substances produced by our own body. Thanks to Allah the Merciful, it doesn't create an addiction like any exogenous opiate does.

Endorphin's production in human's body are influenced by few things, some of them are exercise, pain, loving someone, sex, and eating spicy food. Pain? Yes. According to Wikipedia, immediately after injury happened, endorphin is released to the blood stream to stop nerve cells from releasing more pain signal. This allows the organism to be in control with him/herself and continues with his/her activity for a period of time. Hmmm, let me think...I remembered a few days ago when some skin in my hand was burnt by my motorcycle's tailpipe and immediately after the burnt i didn't feel anything. I just reflectively pulled my hand from the tailpipe and the first thing i could think is to cool my hand, so i put my hand below a running water. After a ten minutes or so, i began to feel the stinging pain T,T 
So, i think i believe that for a minutes after the burnt happen, the endorphin takes control, therefore i didn't feel any pain for the first few minutes.

The easiest and simplest way to achieve increasing endorphin production for me, though, is by exercising. With a serious exercising, i can feel great with no obvious reason but endorphin surge. The last endorphin surge i can recall before today is the afternoon when i did yoga for the first time. Mmm, i know most yoga's poses for beginners look easy to do because they are so light and seem relaxing instead. The instructor tell us not to force our body, just do the pose as our body can afford it. If our body can't, just do as what we can. With regular exercise, our body's ability will be increased. But, after about one and a half hour of doing yoga, i was drenched in sweat. And in the last minutes of yoga, the relaxation part, suddenly i felt great. I don't know why, my body felt just great. Like i got an awesome present or achieve something great, but i didn't. One word to describe that: Endorphin surge.

The "feel-great" feeling after doing that yoga session lasted quite long, even after i slept on it overnight. The morning after that, i still felt kind of great, although not as intense as the day before. The endorphin must had been metabolized by my system and the "feel-great" feeling slowly diminished. Too bad, my second and next yoga sessions didn't generate the same effect. Maybe because i didnt' enjoy the poses practiced, or because i didn't go with my friend, i don't know.

Today, though, i feel the endorphin surge again. So, after come to an event in my campus, i went to mechanic to get my motorcycle checked and the oil lubricant changed. Turned out i had to wait for a quite long time because the mechanic had many works to be done. I decided to have a walk to a supermarket to buy some fruit. In a lazy days, i would use public transportation and sit in the seat nearest to the bus door, then let my mind wandering while i watch the road. But today i wanted to take a walk. It took about 25 minutes to walk from the mechanic to the supermarket. I walked slowly and observed things. Too bad my camera was out of order so i couldn't take pictures of that cute cat i met and a demonstration held by some college student near traffic light. I met two seniors on the way and had a conversation. Nothing to hurry, right? The mechanic said that it might take a long time before i could get my motorcycle done. 

After bought some fruits, i walked back to the mechanics. Took another 25 minutes but i chose a different route. And in the way back to the mechanic, i felt it! Endorphin surge! Slowly my body felt great. I hummed happily, but slowly that i am sure nobody would hear except myself. Everything looked great. I found a kind of flower that grown in my former house when i was a little girl, about 4 or 5 years old. I touched the flower when i was little, it felt so hairy but interesting to touch, in a non hurtful way. I remembered there were white and pink flowers in front of my former house, but this afternoon i just found the pink one. I stopped for a moment to touch the flower, wow, it felt the same like when i was little (zzz, you don't say Lia??? Haha, of course it does!).

Yeah, i still feel awesome. Hmm, i am going to sleep now, ready to metabolize this precious endorphin. Maybe this is how being on drug feel like? Why being addicted of illegal things if you can achieve the same effect just by exercising? Let's get a weekly dose of our endorphin by exercising!
*a motivation for myself*

08/02/12

Mimpi

Aku pernah baca kalo manusia itu sebenarnya sering sekali bermimpi ketika tidur. Namun begitu kita bangun, mimpi itu segera dilupakan sehingga kita tidak ingat tahu dan tidak ingat kalau sebenarnya kita bermimpi (pertanyaan nomor 1: kok tahu? gimana cara menelitinya sehingga bisa dapat data itu? apakah alat untuk "mengintip" mimpi orang lain sudah ditemukan? hehe).

Tapi bersyukur juga ding karena kita bisa melupakan mimpi-mimpi yang kita alami ketika tidur. Soalnya, kalau buat aku sih, mengingat mimpi itu bisa bikin kepikiran.

Yup yup, mengingat mimpi itu bikin kepikiran. Aku sih agak percaya dengan teori yang bilang kalau mimpi itu salah satu cara otak kita untuk memberi tahu kita apa yang sebenarnya kita inginkan. Untuk dapat menjadi aktor, aktris atau obyek utama dalam mimpi yang akan kita ingat, suatu obyek harus benar-benar penting...maybe? Aku masih ingat salah satu mimpi saat aku masih TK. Salah satu mimpi saat SMP. Hmmm, kalau materi kuliah yang diajarkan dua bulan lalu saja aku lupa, lalu kenapa aku ingat mimpi-mimpi lama itu? Pasti para pemeran utama dalam mimpi itu penting banget.

Nah, akhir-akhir ini aku mengalami mimpi yang jelas banget. Malah di mimpi terakhir, aku sadar kalau aku ngimpi terus terbangun. Eh pas ketiduran lagi, mimpinya berlanjut. Bener-bener kayak film deh. Settingnya juga bagus lho, artistik gitu. Tapi pas bener-bener bangun dan 100% sadar (enggak lanjut tidur lagi) aku jadi mikir: Wah, ternyata sekeras apapun kita meyakinkan diri sendiri, dan mungkin orang lain, tapi sebenarnya kita tidak bisa membohongi diri sendiri. 

Actually we know exactly what we want. But sometimes we just repress it so it would be more acceptable and 'logic' for others, for our pride, or maybe for our 'idealism'. We can't run from our mind anyway, one that keeps remembering what we exactly want (me, 2012). 

Fakta-fakta tentang mimpi yang aku ingat (lagi males tanya om Google, so cek sendiri kebenarannya ya, siapa tahu aku salah ingat):
  1. Segala sesuatu tentang mimpi kita tidak muncul begitu saja. Sebenarnya kita sudah pernah melihatnya di dunia nyata. Jadi settingan mimpiku yang artistik kemarin itu bukan karena aku orang yang berjiwa seni tinggi, tapi sebenarnya aku sudah pernah melihatnya sebelumnya...setelah aku ingat-ingat ada salah satu tempat di mimpiku yang mirip dengan kolam dan taman di dekat PT.San*e Farma Steril di Padalarang, Bandung (salah satu destinasi KKL-ku kemarin, walaupun mimpiku ini enggak ada hubungannya sama sekali dengan KKL). Aku pernah baca kata-kata seorang ahli mimpi, intinya "the face you see in your dream, maybe he's the person you met in the street when you were little". Otak kita tidak membuat file baru di mimpi, cuma membuka folder aja, hehe.
  2. Orang buta juga bermimpi. Mimpi mereka muncul sebagai sensasi bau, rasa, sentuhan, dan suara.
  3. Otak mengatur tubuh kita agar kita tidak bergerak dengan lebai ketika bermimpi, so sebenarnya saat tidur kita mengalami paralisis alias kelumpuhan.
  4. Kita melupakan sebagian besar mimpi kita. Kalaupun saat bangun tidur kita bisa ingat mimpi kita, besar kemungkinan setelah beberapa jam kita akan lupa mimpi itu.
  5. Mimpi manusia-manusia di bumi ini ternyata mirip: mimpi jatuh/terpeleset, memimpikan orang dekat meninggal, mimpi terlambat, dan mimpi yang terkait seksualitas.
  6. Lingkungan luar mempengaruhi mimpi. Suara, sentuhan, dan bau dari luar bisa masuk ke mimpi kita. Otak bisa mengarang skenario dadakan untuk meyakinkan kita bahwa goyangan-goyangan dari tangan orang lain saat membangunkan kita adalah sentakan dari ular yang berusaha mematuk hidung kita (ini pengalaman pribadiku sendiri, mimpi dipatuk-patuk ular saat sedang dibangunkan). Pernah juga aku mimpi lagi mendengar suatu lagu, eh ternyata emang adikku lagi menyetel lagu itu keras-keras.
  7. Keadaan internal tubuh kita juga mempengaruhi mimpi kita. Misal kita haus, kita bisa mimpi sedang minum air. Saat bangun, waaa hausnya luar biasa alias ternyata kita haus beneran (pengalaman pribadi juga ini). Pernah juga mimpi pingin pipis tapi begitu nemu toilet enggak bisa pipis, ternyata saat bangun aku butuh ke toilet beneran alias kebelet banget, hehe.
Weird but interesting, right?

23/01/12

Dyatlov Pass Incident

Aku akan jadi orang pertama yang mengakui kalau aku itu takut nonton film horor. Alasannya sederhana, aku enggak pingin jadi orang penakut yang takut pergi ke kamar mandi sendirian kalau malam, atau pergi kemana-mana sendirian. Pokoknya aku pingin menghilangkan ketakutan pada hal-hal tidak rasional seperti takut tidur di tempat gelap (sekarang sudah enggak lagi, ternyata tidur dalam kegelapan itu baik untuk kesehatan lho), takut cacing (eww, kalau ketakutan tidak rasional yang ini sih belum sembuh benar), dan takut-takut enggak penting yang lain. Menurutku nonton film horor itu bikin paranoid enggak jelas.

Tapi, aku suka Detective Conan. Walaupun menurutku gambarnya itu creepy alias nyeremin abis, sadis dan bisa menimbulkan ketakutan tidak rasional seperti yang sudah aku ceritakan diatas. Tapi ceritanya bikin penasaran! Aoyama Gosho is a genius. Berarti kecerdasan setara Conan (Shinichi) itu benar-benar ada di dunia ini, lha wong ada orang yang bisa bikin ceritanya kok, lengkap dengan skenario cara membunuh korban segala, hiii serem! 

Kesimpulannya, secara teori, semua pembunuhan dan kematian di dunia ini bisa dijelaskan penyebabnya. Tapi ternyata ada banyak unsolved deaths di dunia nyata yang menyeramkan ini. Hmm, dunia ini butuh lebih banyak orang yang bisa berpikir seperti Shinichi Kudo.

Saat ini, baru saja aku membaca salah satu kisah unsolved death tentang kasus kematian 9 orang pendaki pada bulan Februari 1959, di Dyatlov Pass, Pegunungan Ural, Rusia. Siapa yang bisa memecahkan kasus ini? berikut data dari kejadian tersebut:
  1. Ketika tenda para korban ditemukan, tampak bahwa tenda itu dirusak dari dalam, seolah mereka sangat terburu-buru untuk keluar dari tenda tersebut.
  2. Mereka ditemukan dalam keadaan (maaf) tidak berpakaian lengkap, bahkan ada yang ketika ditemukan hanya memakai pakaian dalam. Padahal suhu saat itu sekitar -15 derajat celcius alias dingin sekali. 
  3. 2 Korban yang ditemukan pertama kali dinyatakan meninggal karena hipotermia. Ada sedikit retak di tulang tengkorak, namun itu bukan luka fatal. Namun, tanpa ada bekas-bekas penganiayaan dan pembelaan diri, korban ketiga sampai keenam ditemukan dalam keadaan patah tulang dan mengalami internal injuries yang sangat parah. Anehnya, tidak ada kerusakan pada jaringan lunak. Menurut tim forensik, kerusakan seperti itu disebabkan oleh terkena benda kecil yang bergerak sangat cepat. Perkiraan lain menyatakan bahwa diperlukan kekuatan setara sebuah mobil yang bergerak cepat untuk menimbulkan kerusakan seperti itu. Yang paling menyeramkan, salah seorang diantara mereka ditemukan dalam keadaan tidak berlidah lagi (hiii!). 
  4. Tidak ada jejak kaki yang ditemukan di TKP, kecuali jejak kaki kesembilan korban. Dan jejak kakinya itu seperti jejak kaki orang berjalan, bukan jejak kaki orang yang sedang berlari. Ingat, mereka berada pada suhu -15 derajat celcius tanpa pakaian lengkap. Kalau dilogika kan seharusnya mereka berlari-lari cari tempat yang lebih hangat. Yang lebih aneh lagi, jejak kaki itu mengarah ke arah tenda mereka, seolah mereka ingin kembali ke tenda.
  5. Ditemukan radioaktifitas dalam intensitas tinggi pada pakaian mereka, namun tidak ada jejak radioaktif ditemukan di TKP.
  6. Kulit mereka terlihat sun-kissed, alias tanned, alias warnanya berubah kecoklatan seperti orang yang baru saja berjemur di bawah sinar matahari. Padahal, sekali lagi, saat itu musim dingin bersuhu -15 derajat celcius!
  7. Kelompok pendaki lain yang berada sekitar 50 kilometer dari tenda kelompok ini melihat ada lingkaran  berwarna jingga di langit, dari arah TKP (ada yang bilang ini cuma gosip, bikinan orang-orang yang pingin membuat cerita ini jadi lebih menakutkan dari yang sebenarnya).
Cukup membingungkan, pembaca? Untuk poin nomor 2, ada sebuah fenomena perilaku yang sepertinya bisa menjelaskannya. Namanya paradoxical undressing (link dari wikipedia: klik ini). 20-50% orang yang meninggal akibat hipotermia ditemukan melakukan hal ini. Jadi alih-alih mencari pakaian lain untuk dipakai agar mereka tidak semakin kedinginan, mereka justru berusaha melepaskan semua pakaian yang melekat di badan. Akibatnya, mereka semakin kehilangan panas tubuh, dan akhirnya meninggal dunia. Penyebab fenomena ini belum diketahui pasti, namun diduga orang yang hipotermia parah itu hipotalamusnya (bagian otak yang mengatur suhu) mengalami malfungsi sehingga mereka melakukan hal tersebut. Teori lain menjelaskan bahwa ketika kedinginan, otot akan menyempitkan pembuluh darah agar tubuh tidak semakin kehilangan panas tubuh. Pada keadaan hipotermia, otot-otot itu kelelahan, sehingga akhirnya otot-otot tersebut akan berelaksasi secara spontan dan menjadikan pembuluh darah yang semula menyempit jadi melebar kembali. Selanjutnya terjadi aliran darah dan panas yang sangat mendadak, dan hal ini dipersepsikan sebagai sensasi kepanasan. Akibatnya orang yang hipotermia tadi ingin melepaskan baju hangatnya. Ya, sesuai namanya, paradoxical undressing, benar-benar sebuah paradoks.

Opini lain menyatakan, bisa saja mereka menjadi korban dalam percobaan senjata baru Uni Soviet, you know, the radioactivity...tapi menurutku itu belum menjelaskan semuanya. Kalau aku kok malah kepikiran UFO ya, hehehe...jangan-jangan itu kerjaan alien yang lagi penelitian. Dunia ini kan luas, egois banget kalo kita mikir bahwa cuma kita saja yang punya kehidupan. Siapa tahu di galaksi lain ada bentuk kehidupan lain yang benar-benar berbeda dari kita? Mungkin mereka enggak butuh air dan oksigen, who knows? Tapi masak mereka menghancurkan para pendaki itu tanpa sebab, apakah ada salah paham? Membingungkan juga.

Atau mungkin ini perbuatan manusia, tapi dia kejam dan psikopat sehingga pekerjaannya begitu rapi. Atau ada informasi yang ditutupi dari investigasi kasus ini? aku bingung dan penasaran! 

Yang ingin tahu lebih banyak, bisa klik disini:
atau tanya om Google dengan kata kunci "Dyatlov Pass Incident"

18/07/10

Pharmacist Recommended : Verile Facial Wash

DISCLAIMER : Posting ini dibuat untuk kepentingan review saja, tidak dimaksudkan untuk menggantikan advis tenaga medis. Posting ini juga tidak dibuat untuk kepentingan promosi, produk yang diulas dalam postingan ini dibeli dengan kocek pribadi si blogger :p

Jerawat disebabakan karena sumbatan kelenjar minyak karena tertutup oleh minyak, sel-sel kulit mati, debu, dan lain-lain. Dengan adanya bakteri Propionibacterium acne, sumbatan ini terinfeksi, menimbulkan inflamasi dengan tanda kemerahan, bengkak, dan nyeri pada kulit.

Sebenarnya, tubuh kita sudah punya mekanisme khusus untuk menghadapi bakteri P.acne dan bakteri/mikroba pathogen (penyebab penyakit) lain yang ada di kulit. Kulit kita memiliki pH sekitar 5,5 (pH air murni = 7,00). Artinya, kulit kita bersifat asam, seperti es jeruk, hehehe…pH asam ini berfungsi untuk membunuh mikroba penyebab penyakit, karena umumnya mikroba-mikroba pengganngu tersebut cuma bisa hidup di pH netral (sekitar 7,00). Dengan kata lain, keasaman alami kulit membunuh mereka.

Pelindung asam pada kulit ini akan hilang setelah kita membersihkan kulit dengan sabun. Kenapa? Karena sabun memiliki pH>7,00; dengan kata lain sabun memiliki sifat basa. Sifat ini disebabkan karena kandungan surfaktan pada sabun itu. Coba cek komposisi sebuah sabun/shampoo, pasti ada deh kandungan bahan-bahan ini:

- Sodium (natrium)/Potassium (kalium)/Amonium Lauryl Sulfat

- Sodium (natrium)/Potassium (kalium)/Amonium Laureth sulfat

- Stearic/caprilic/capric acid (asam stearat/kaprilat/kaprat) + Kalium/Natrium Hydroxide (KOH atau NaOH)

- Dll, tanya om google aja

Surfaktan itu berfungsi biar minyak di kulit kita (yang dikeluarkan oleh kelenjar minyak di kulit) tercuci dan kulit jadi bersih. Menurut nature-nya, air tidak bisa melarutkan minyak. Karena itu, agar minyak di kulit bisa lepas, saat mandi kita pakai sabun dan shampoo. Surfaktan itu akan mengelilingi molekul minyak. Minyak yang dikelilingi surfaktan ini bisa terbawa oleh air yang kita pakai untuk membilas tubuh. Ya,kira-kira sederhananya seperti itu. Karena itu, sesudah kita mandi, kulit akan terasa kesat dan tampak tidak berminyak lagi. Kan lemaknya sudah digandeng sama si surfaktan biar bisa terbawa oleh air.

Kulit sudah bersih, tapi sifat basa dari surfaktan itu akan menghilangkan pelindung asam dari kulit. Percayailah prinsip kimia sederhana ini : Kalau asam ketemu basa, keasamannya pasti akan berkurang, bahkan bisa berubah menjadi netral atau basa. Yup, setelah kita membersihkan tubuh pakai surfaktan ini, untuk beberapa saat, kulit kita kehilangan suasana asamnya. Padahal seperti sudah dijelaskan, suasana asam ini penting untuk membunuh mikroba jahat di kulit. Akibatnya, kulit lebih rentan juga terkena infeksi dari bakteri P.acne dan jerawat pun muncul. Dulu temenku nyoba sabun wajah merek tertentu, dan setelah pakai sabun itu jerawatnya malah muncul gila-gilaan. Beneran deh, aku liat wajahnya yang semula mulus bagai wajah bayi berubah jadi jerawatan. Sekarang aku tahu kenapa. Masalah pH alias keasaman kulit!

Nah, apa itu berarti kita nggak boleh pakai sabun muka lagi? Nanti bersihin muka pakai apa dong? Susu pembersih dan toner juga belum tentu pH-nya sama dengan pH kulit kita lho. Malah mereka meninggalkan sisa di kulit setelah pemakaian. Kalau sabun, kan, dibilas dengan air jadi tidak bersisa di wajah. Makanya aku berniat buat mencari pembersih muka yang isohidris (pH-nya sama) dengan pH kulit. Perburuan pun dimulai!

Sekitar setengah jam aku berputar-putar di sebuah tempat belanja, di rak kosmetik tempat berbagai produk facial wash dipajang. Aku amati satu-satu ingredients alias bahan-bahan penyusunnya. Hmm, rata-rata standar sih, semua mengandung surfaktan (seperti yang sudah aku sebutkan diatas), parfum, dan bahan-bahan tambahan. Bahan tambahan yang dipakai bervariasi, mulai dari scrub/butiran halus (untuk mengangkat sel kulit mati), berbagai macam ekstrak tumbuhan (yang diklaim mampu mencerahkan kulit, mencegah penuaan dini, dll), triklosan, asam salisilat (sebagai anti bakteri), bahkan ada yang pakai activated charcoal alias karbon aktif! FYI, activated charcoal sering dipakai sebagai obat diare (penyerap racun di saluran pencernaan). Maksudnya si produser mungkin biar facial wash tersebut mampu menyerap kotoran di wajah secara optimal. Okeii…kreativitas mereka patut kita apresiasi.

Nah, aku akhirnya menemukan sebuah produk yang memiliki pH 5,5. Merk-nya Verile. Selama ini memang setahuku Verile itu dipromosikan sebagai anti jerawat ya. Ketika kubaca keterangan di bungkusnya, facial wash ini mengandung:

- Tea tree oil

Setahuku tea tree oil memiliki aktivitas antiinflamasi dan bisa mengobati jerawat dan ketombe. Bahkan, aku pernah baca tips cara menghilangkan jerawat, dengan cara menempelkan minyak esensial ini langsung ke titik jerawat. Soalnya, minyak esensial ini mampu membunuh bakteri juga.

- Vitamin E

Seperti yang sudah dijelaskan di kemasannya, vitamin E berfungsi sebagai anti oksidan. Anti oksidan dapat menangkap dan menetralkan radikal bebas (blurrppp…ngomongin apa sih ini?). Intinya, anti oksidan dapat menetralisir pengaruh buruk lingkungan seperti polusi dan sinar UV dari sengatan matahari yang dapat mengakibatkan kulit jadi kusam dan menua (keriput, misalnya). Setahuku vitamin E juga dapat mencerahkan kulit. Hehe…dari pengamatanku kayaknya vitamin E itu bukan bahan yang lazim ditambahkan pada kosmetik anti jerawat, ya. Tapi nggak apa-apa lah, mungkin fungsinya sebagai pencerah kulit dan mencegah kekusaman kulit.

- Triclosan

Kalau ini mungkin sudah terkenal, ya. Triklosan berperan sebagai anti bakteri. Zat ini laziiim banget ditambahkan sebagai anti bakteri dalam kosmetik anti jerawat sampai aku bertanya-tanya apakah bakteri P.acnes sudah kebal terhadap zat ini. Lagipula, bukankah pH asam dari produk ini sebenarnya sudah cukup buat melawan bakteri penyebab jerawat itu? Hmm…moga-moga triklosan mampu membantu menekan jumlah bakteri penyebab jerawat.

Produk ini dikemas dalam kemasan tube ukuran 40 ml. Entah ada ukuran lain atau enggak, kalau di tempatku beli sih Cuma ada satu macam kemasan ini. Harganya sekitar sebelas ribu rupiah, nggak lebih dari dua belas ribu. Mungkin sedikit lebih mahal dari para kompetitornya, tapi setelah membaca komposisinya aku nggak ragu buat mencoba. Lagian kan memang sudah waktunya beli sabun muka…yang lama sudah habis J

Produk berupa cairan bening kayak air, tapi sedikit lebih kental. Baunya segar, nggak begitu menyengat. Digosok dengan air menghasilkan busa lembut dan rasanya nyaman saat dipakaikan ke kulit wajah (kalau di mukaku sih nggak berasa perih, panas, atau lengket). Mudah dibilas juga, nggak meninggalkan sisa yang lengket. Minyak wajah juga bisa terangkat dengan baik.

Oh iya satu lagi…kalau pingin mengobati jerawat jangan berharap banyak sama benda apapun, mati ataupun hidup. Berharaplah pada Tuhan. Hahaha…jangan terlalu berharap banyak sama benda ini. Emang sih sabun ini bagus, tapi dia tetep aja sabun, yang sifatnya :

- Dipakai dalam kadar yang rendah.

Kalau mau dipakai, sabun itu dibusakan dulu pakai air kan? Lalu berubah jadi busa yang volumenya gede, berpuluh kali lipat dari jumlah yang kita keluarkan dari wadahnya? Jadi dibusakan sama pengaruhnya seperti diencerkan. Artinya…mungkin kadar zat-zat aktif yang ada di dalamnya sudah nggak masuk kadar minimal buat ngefek (alias bisa jadi udah nggak berefek sama sekali). Di satu sisi hal ini bagus karena meminimalkan resiko iritasi, alergi, dan bahaya lain (seperti misalnya zat aktif masuk ke dalam tubuh menembus kulit). Tapi di sisi lain, ya itu…manfaat sabun jadi nggak lebih dari sekedar surfaktan alias pencuci minyak dan kotoran saja. Tapi facial wash ini punya keuntungan dengan pH-nya yang 5,5. pH segini ini mampu melawan kuman ‘jahat’. Jadi selain sebagai pencuci minyak dan kotoran di kulit wajah, juga mampu mempertahankan kemampuan alami kulit dalam melawan bakteri pencegah jerawat.

- Segera dibilas setelah dipakai

Setelah kita membusakan sabun, lalu kita usapkan di wajah, kan? Setelah itu apa busanya kita diamkan? Nggak, kan? Melainkan langsung kita bilas. Dan yang benar memang seperti itu. Kalau kita diamkan dulu malah kulit kita bisa menjadi terlalu kering, karena surfaktan membabat habis minyak pelindung kulit. Nah, kalau setelah beberapa detik dibilas, berapa persen sih bahan aktif yang mampu bekerja? Untunglah facial wash ini bahan aktifnya (kecuali vitamin E) semua bersifat anti bakteri, nggak aneh-aneh. Kalau kebanyakan zat aktif malah mubazir, lha wong habis dipakai langsung dibilas juga…

Selama seminggu aku pakai sabun ini sih nggak ada masalah. Justru jerawat di muka pada ngumpet, alias nggak muncul, hehe…tapi kebahagiaanku cuma berlangsung seminggu. Setelah itu tiga jerawat nggak tau malu menggempur wajah ini (halah). Tapi menurutku wajar sih jerawat-jerawat itu, penyebabnya (besar kemungkinan semoga karena) faktor hormonal. Setelah beberapa hari udah enggak meradang lagi tuh…tapi meninggalkan kenang-kenangan berupa tiga tonjolan di pipi kanan. Sial…udah capek-capek merawat muka, tapi malah…oh ya sudahlah. Paling nggak tonjolan itu nggak meradang, cuma benjol aja (mari kita tunggu ceritanya ± 40 hari lagi, kemungkinan besar sih akan terjadi peradangan lagi). Sempat terbersit pikiran buat menusuk tonjolan ajaib itu, tapi aku takut nanti timbul bekas bolong kayak cewek genit keseringan facial. Jerawat bertahan seminggu. Noda hitamnya bertahan beberapa bulan. Tapi…noda bolong akibat careless facial treatment bisa bertahan seumur hidup! Akhirnya aku pasrah aja. Benjolan itu nggak meradang, artinya nggak terinfeksi kuman? Wah, hebat juga nih sabun.

Berarti dari pengalamanku dapat disimpulkan kalau Verile facial wash emang mampu meminimalkan infeksi bakteri dan peradangan yang menyertai infeksi itu. Tapi, produk ini nggak mencegah komedo. Komedo itu kan terjadi karena pori-pori tersumbat minyak dan debu kan...kalau jerawat terjadi karena sumbatan itu terinfeksi. Jadi kalau sumbatan pori nggak dicegah (misalnya produksi minyak tetep banyak sehingga pori tersumbat), ya komedo tetep muncul lah. Tapi paling nggak komedo itu lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi jerawat. Saat tulisan ini diturunkan sebenarnya di mukaku ada benjolan kecil gitu…mirip jerawat sih, tapi nggak sebegitu sakit dan merah. Cuma benjol aja. Hmmm…memang untuk memiliki muka yang 100% mulus itu diperlukan keberuntungan ya. Hehehe.

Haduh…ternyata review-ku malah melebar kemana-mana ya. Moga-moga nggak membingungkan. Yang jelas aku merekomendasikan produk ini karena mampu meminimalkan aktivitas bakteri penyebab jerawat dan infeksi, gitu deh! Layak dicoba.