Tampilkan postingan dengan label cool stuffs in my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cool stuffs in my life. Tampilkan semua postingan

18/09/15

Resep Masakan: Amalia's Homemade Pancake

Sesuai dengan yang kutulis di entri Cooking is Fun! And Sweet :) pada kesempatan ini aku ingin "mengembalikan semua sebagian knowledge (tentang masak-memasak) yang kudapat dari internet itu dalam bentuk posting resep" ". Ya, di entri ini aku akan berbagi resep yang sudah terbukti berhasil dan sukses kupraktekkan di dapur. Sumber dari resep ini (dan insyaallah resep-resep lain yang kuposting nanti) adalah dari internet. Setelah menemukan resep di internet, biasanya aku akan mencobanya langsung tanpa modifikasi. Jika hasilnya tidak sesuai standarku (yang lumayan tinggi lho kalau tentang masakan buatanku sendiri), maka aku akan melakukan modifikasi dan mencobanya lagi, lagi dan lagi. Enggak kapok-kapok sampai berhasil, hehe.

Pancake ini cocok dijadikan menu sarapan ataupun snack sebagai teman minum teh. Beragam topping bisa dipakai sebagai pelengkap pancake ini. Mulai dari madu, susu kental manis, margarin+keju, beraneka macam selai, es krim, sampai buah-buahan segar seperti strawberry dan pisang. Bahkan aku pernah makan pancake ini pakai abon sapi, hahaa..dan rasanya enggak aneh-aneh banget sih, meskipun enggak lazim. Homemade Pancake ini mudah untuk dibuat, dan karenanya aku cukup sering membuatnya. Sampai-sampai aku telah mengembangkan variasi lain yaitu Pancake Oatmeal yang lebih sehat dan lebih empuk. Kali ini, aku berbagi resep yang basic dulu ya, Amalia's Homemade Pancake. 


AMALIA'S HOMEMADE PANCAKE
(untuk 4 buah pancake berdiameter 18 cm)

Bahan:
  • 10 sendok makan tepung terigu serbaguna 
  • 3 sendok makan susu bubuk full cream
  • 100 mL (kira-kira setengah gelas) air matang
  • 2 sendok makan margarin
  • 1 butir telur ayam negeri berukuran besar
  • Setengah sendok makan gula pasir
  • 1,5 sendok teh baking soda (a.k.a Natrium Bikarbonat)
  • 1 sendok teh vanili bubuk
  • Topping sesuai selera


Alat:
  • Wajan antilengket
  • Sutil kayu
  • Baskom
  • Pengaduk (bisa pakai sendok makan, pengaduk spiral maupun mixer elektrik)
  • Sendok makan, sendok teh, sendok sayur dan gelas (sebagai alat ukur)
  • Kompor dan bahan bakarnya :p


Cara Membuat:
  • Lelehkan margarin menggunakan api kecil, namun jaga agar jangan sampai mendidih karena pendidihan akan merusak aroma lezat margarin. Bila sebagian besar margarin sudah meleleh, matikan api. Sisa margarin akan meleleh di wajan. Biarkan sampai margarin agak mendingin.
  • Larutkan susu bubuk dan gula pasir dalam air. 
  • Campurkan larutan gula-susu dan margarin leleh, aduk sampai rata.
  • Masukkan telur dan vanili bubuk, aduk sampai rata.
  • Masukkan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk rata.
  • Terakhir, masukkan baking soda, aduk sebentar saja asal rata.
  • Panaskan wajan anti lengket (kira-kira sepuluh detik) menggunakan api kecil (jangan menambahkan minyak ataupun margarin saat memasak pancake karena akan menyebabkan permukaan pancake tidak matang merata dan mulus). 
  • Tuangkan satu sendok sayur adonan, biarkan sampai gelembung-gelembung udara terbentuk dari adonan dan naik ke permukaan (enjoy watching the bubbles surface and pop. This is the most interesting part of making pancakes)
  • Ketika permukaan atas adonan mulai tampak mengering, balikkan pancake dengan sutil kayu.
  • Lanjutkan proses memasak selama 30 detik.
  • Pancake siap disajikan dengan topping sesuai selera.

Foto-foto:
Gunakan api kecil saja :)

Gelembung-gelembung udara mulai naik ke permukaan, artinya anda berada di jalur yang benar :D

Menurutku seperti inilah pancake yang "benar", warna cokelatnya relatif merata, tidak belang-belang
.
Diolesi selai cokelat-kacang, hmmm :)

Kitchen Science:
Baking Soda, alias natrium carbonat (NaHCO3), atau soda kue adalah suatu bahan kimia yang umum dipakai dalam pembuatan kue dan berfungsi untuk mengembangkan adonan. Saat larutan berair yang (misalnya adonan pancake) yang mengandung baking soda dipanaskan, akan terjadi reaksi penguraian baking soda menjadi karbon dioksida yang berwujud gas. Gas inilah yang kita amati saat proses pematangan pancake (gambar kedua). Karena kelarutan gas dalam air itu rendah, dan gas dalam air bersifat tidak stabil, maka aku selalu menambahkan baking soda di tahap akhir, tepat sebelum adonan dipanaskan. Setelah baking soda ditambahkan, jangan mengaduk adonan terlalu kencang karena hal tersebut akan mendesak gas terlarut dalam larutan untuk keluar ke udara, sehingga mengurangi gelembung-gelembung yang timbul.
Bagaimana dengan keamanan bahan tambahan makanan ini? Jangan khawatir, baking soda aman kok :) dan insyaallah halal, lha wong cuma garam karbonat gitu, Biasanya disintesis dari garam dapur, ammonia dan kalsium karbonat (gamping). Jadi, baking soda tidak berasal dari makhluk hidup ya. Berikut ini ada beberapa link tentang baking soda, bisa diklik:

  • Selayang pandang baking soda dan proses pembuatannya, Wikipedia
  • Mekanisme kerja baking soda ketika digunakan dalam pembuatan kue, (written by a PhD who i suppose, is great in kitchen too)dari chemistry.about.com

Seperti biasa terkadang posting-ku melebar kemana-mana, hehe. Sekian dulu ya, selamat mencoba dan semoga berkenan :)

27/03/15

Pixy Perfect Eyeliner

Sudah cukup lama aku tidak menulis review kosmetik. Apakah itu artinya aku semakin jarang menggunakan kosmetik? Hahaha...jujur, yang ada sih kebalikannya. Akhirnya, setelah 23 tahun hidup di dunia ini aku baru menyadari bahwa lipstik itu benda yang cukup ajaib. Sebelumnya aku hanya menggunakan lip balm saja. Pertama kali beli lipstik sendiri, aku agak terheran melihat hasilnya. Ya, sama seperti dulu ketika aku pertama kali menyadari keajaiban bedak two-way cake seperti yang pernah kutulis pada posting terdahulu

Make up tools really are an amazing tools. Tools to be used wisely. Aku tetap pada pendirianku bahwa make-up itu sebaiknya jangan dipakai setiap hari. Menurutku make up itu cukup dipakai saat hang out dan pada saat menghadiri acara-acara tertentu saja. Kalau dipakai setiap hari, nanti jadinya enggak spesial. Kalau ke kantor atau cuma pergi sebentar saja, aku cuma memakai bedak tabur warna putih (bedak bayi juga bisa) dan lip balm. Tapi kalau akan pergi hang out, aku sekarang sering berdandan terlebih dulu, Menurutku, seorang wanita yang sehari-hari enggak pernah dandan cukup membutuhkan empat tools saja untuk terlihat "sudah dandan". Keempat tools itu adalah bedak, pensil alis/eye shadow warna hitam pekat (untuk membentuk alis, menurutku warna hitam lebih cocok untuk orang Indonesia, jika dibandingkan dengan warna cokelat), eye liner dan lipstik. Pada kesempatan kali ini aku akan menuliskan tentang eye liner favoritku yaitu Perfect Eyeliner dari Pixy.

Pixy Perfect Eyeliner (diambil dari website resmi Pixy Indonesia, http://pixy.co.id/)

Aku sudah menggunakan eye liner ini sejak tahun 2012, walaupun dulu aku cuma pakai eye liner pas datang kondangan dan pemotretan buku tahunan. Dulu kemasannya masih berwarna pink muda polos, kalau tidak salah pada pertengahan tahun 2014 Pixy meluncurkan desain kemasan baru. Bagus sih, kebetulan cocok dengan seleraku yang senang dengan perpaduan warna hitam dan pink. Terkesan feminin dan agak centil, tapi kokoh karena ada unsur hitamnya. Kenapa dulu aku membeli produk ini? Tidak salah lagi, aku bertanya dulu pada tante Google tentang eye liner yang bagus. Setelah membaca banyak review positif tentang produk ini, baru aku membelinya. Dan aku puas dengan hasilnya :D

Hal pertama yang aku suka saat pertama kali menggunakan produk ini adalah bentuk aplikatornya. Aplikatornya berbentuk mirip tongkat, terlihat keras dan kaku dengan ujung yang meruncing. Walaupun demikian, ternyata ujungnya masih cukup luwes, bisa sedikit meliuk saat digunakan. Karena bentuk aplikator yang sedemikian rupa, menurutku Perfect Eyeliner ini relatif lebih mudah digunakan daripada eye liner lain yang aplikatornya serupa kuas. Menurutku aplikator kuas terlalu lentur sehingga lebih sulit digunakan, terutama saat kita perlu membuat garis yang tipis. Oh iya, aplikator Perfect Eyeliner ini cukup runcing kok, sehingga kita bisa menarik garis tipis dengan tingkat presisi yang bagus. Berbagai gaya memakai eye liner pun bisa kita dapatkan dengan eye liner ini.

Winged style..so wearable for daily look

Double trouble bold style (dipadu dengan eye shadow hitam)...sepertinya hanya cocok digunakan pada pesta indoor di gedung pada malam hari :p

Garis tipis yang presisi (eye liner hanya sebagai komplemen untuk lebih menegaskan bentuk mata, karena pada foto ini sudah dipakai eye shadow dengan warna-warni yang cukup mencolok)

Hal kedua, dan sebenarnya merupakan hal utama yang membuatku begitu setia me-repurchase produk ini adalah stabilitasnya. Eye liner ini sangat awet ketika kupakai, mampu bertahan dari pagi sampai malam, padahal kulit wajahku berminyak. Pernah aku mencoba eye liner merek lain (merk internasional) yang harganya jauh lebih mahal, namun eye liner mahal tersebut sudah luntur ketika kupakai dari sore sampai malam. Tentu saja hal tersebut sangat mengganggu penampilan, mending enggak usah pakai eye liner sekalian. Kalau diamati, eye liner ini membentuk lapisan tipis (film) yang melekat di kulit kelopak mata. Ketika dihapus menggunakan make up remover (aku memakai Maybelline Make Up Remover Eye & Lip), lapisan tipis Pixy Perfect Eyeliner ini terkelupas menjadi lempengan-lempengan hitam. Hal ini berbeda dengan eye liner lain yang jenisnya menyatu dengan kulit dan larut menjadi kehitaman jika dihapus dengan make up remover. Aku menghindari jenis eye liner semacam itu karena eye liner semacam itu pasti akan larut oleh minyak yang dihasilkan oleh kulit (smudge). Oh iya, Pixy Perfect Eyeliner  ini bersifat water proof juga ya :)

Satu hal kecil yang agak kurang kusuka dari produk ini adalah warna hitamnya yang sangat intens dan mengkilap (glossy). Haha, ini merupakan pendapat yang sangat subyektif berdasarkan seleraku karena produk ini sengaja diformulasikan agar menghasilkan "warna hitam glossy yang pekat" (dikutip dari website resmi Pixy Indonesia). Hal ini semata penilaian subyektifku karena aku suka dengan tampilan alami, istilahnya tampilan "my face but better" gitu...jadi kalau pembaca juga sealiran denganku, sebaiknya aplikasikan produk ini tipis saja untuk penggunaan sehari-hari agar penampilan kita tidak terkesan lebai alias berlebihan sehingga ujung-ujungnya wajah kita jadi terlihat menyeramkan. 

Terkait dengan hal tersebut di atas, seperti sudah membaca pikiranku, Pixy pun meluncurkan produk baru pada tahun 2014 lalu (ih aku kegeeran banget ya, hoho). Namanya Bold to Last Gel Eyeliner. Pertama kali aku tahu produk ini ketika berbelanja di counter Pixy. Petugas SPG menawarkan produk eye liner baru yang katanya, menghasilkan tampilan yang matte, tidak glossy seperti Perfect Eyeliner yang sudah biasa kupakai. Bentuknya gel dan aplikatornya berupa kuas, tapi kaku. Karena tertarik dengan iming-iming bahwa produk tersebut menghasilkan "hasil matte yang natural", aku pun membeli produk itu. Namun jujur, aku tidak terlalu suka dengan produk Bold to Last Gel Eyeliner. Mengapa? Produk tersebut lebih susah untuk dioleskan (aplikatornya tidak senyaman aplikator Perfect Eyeliner), lebih ribet (aplikatornya harus dibersihkan sehabis digunakan), dan warna hitamnya sama pekatnya dengan Perfect Eyeliner. Jadi, tujuan awalku membeli produk ini yaitu ingin mendapatkan hasil akhir yang tampak lebih natural, tidak tercapai. Justru aku agak kesulitan membentuk garis tipis menggunakan Bold to Last Gel Eyeliner. Memang tampilan paling natural didapat jika kita memakai eye liner pensil, namun eye liner pensil tidak seawet Pixy Perfect Eyeliner. Hiks-hiks, inilah akibatnya jika membeli peralatan make-up tanpa berkonsultasi pada tante Google terlebih dahulu. 

Karena eksperimen yang tidak sukses tersebut, jadilah aku tetap setia menggunakan Pixy Perfect Eyeliner dan tidak jadi beralih ke produk lainnya. I think I will forever use this eye liner :) Oh iya, harga produk ini cukup terjangkau lho. Seingatku harganya sekitar tiga puluh lima ribu rupiah saja :D tidak mahal kan? Menurutku harga yang mahal bukan jaminan kualitas suatu peralatan make up. Kalau membeli produk perawatan mahal masih oke lah, karena kebutuhan kulit dan tubuh kita berbeda-beda dan perawatan memang jalan agar tubuh kita tetap terjaga. Namun untuk membeli produk make up, aku lebih memilih untuk percaya pada rekomendasi tante Google daripada percaya pada harga yang selangit.

Dari skala 1 sampai 10, aku memberikan nilai 9 untuk produk ini :) This product is totally recommended.
 

02/03/15

Cooking is Fun! and Sweet :)

Sejak bekerja di sini, sejak tinggal di bangunan mess ini, aku jadi gemar berjalan-jalan dan memasak. Kegemaranku berjalan-jalan ke tempat baru dan menghafalkan peta sebenarnya sudah ada sejak dahulu, Bedanya kini aku sudah punya uang sendiri untuk membeli tiket perjalanan. Rasanya berjalan-jalan adalah cara ternikmat untuk menghabiskan sisa uangku yang mungkin tak seberapa, setelah dipotong tabungan rutin, ongkos makan dan ongkos-ongkos yang lain.

Jika sedang tidak berjalan-jalan di akhir pekan, aku gemar bereksperimen membuat masakan-masakan baru. Begitu juga ketika aku masuk kerja shift 2 (masuk jam 3 sore), sebisa mungkin aku berusaha untuk membawa bekal makanan sendiri. Rupanya di zaman "kekinian" seperti sekarang, kemampuan dan kegemaran memasak dianggap cukup langka untuk dimiliki oleh seorang wanita berumur 24 tahun. Cukup banyak orang yang terkejut saat mengetahui bahwa aku sering memasak makananku sendiri. Cukup banyak orang yang terheran kala mendapatiku membawa suatu bekal makanan yang mungkin tampak tidak biasa. Dan tentu saja orang-orang heran kala mengetahui bahwa ternyata aku hafal harga terkini komoditas-komoditas pangan seperti beras, kacang hijau, udang, daging ayam, daging sapi dan lain sebagainya :p 

Dahulu saat aku kuliah di Yogyakarta, aku sama sekali tidak pernah memasak di kost. Sebabnya, tidak ada kompor dan peralatan-peralatan memasak di sana. Lagipula, jauh lebih mudah untuk membeli makanan di warung-warung sekitar kost. Paling-paling aku hanya memasak ketika sedang pulang kampung, itupun hanya makanan sederhana seperti sayur bayam, spaggeti saus Bolognese, nasi goreng, ayam goreng, sup dan sayur asam. Namun di sekitar tempat tinggalku di sini, hanya ada sedikit pilihanku untuk "makan di luar", Warung-warungnya begitu-begitu saja, tidak ada warung makan yang benar-benar sesuai seleraku. Maka aku pun bertekad untuk memasak. Dengan kemampuan bahasa Sunda yang minimal saat itu (sekarang juga masih belum jago sih), aku mencoba berbelanja ke warung dan pasar tradisional. 

Sebagai pemasak pemula saat itu, masakanku pun itu-itu saja. Tumis sayuran pertamaku rasanya tidak enak. Ya iyalah, mana ada orang lain yang memasak tumis sayuran berbumbu bawang putih, kecap dan jahe? Seharusnya aku memakai lengkuas. Mendoan pertamaku juga terasa aneh di lidah. Menu andalanku cuma 2: ayam dan udang saus asam manis. Itulah masakanku yang paling pantas dibanggakan. Selain itu aku hanya bisa memasak sayur bayam, sayur asam, sayur sop dan aneka lauk yang digoreng. Sampai akhirnya aku menemukan metode ampuh untuk menyelamatkan rasa masakanku: bertanya pada ibuku! Alhasil, setiap hari aku bertanya pada Ibuku, bumbu apa saja yang diperlukan untuk menghasilkan suatu masakan dengan rasa yang wajar. Perlahan-lahan, aku akhirnya bisa membuat tumis kangkung, tumis kacang panjang dan aneka masakan yang umum disajikan di meja makan keluarga Indonesia (keluarga Jawa pada khususnya). Rasa mendoanku pun mulai membaik, bahkan kini tempe mendoan buatanku sudah mendapat reputasi di kalangan penghuni mess, haha. Khasanah pengetahuanku juga bertambah kala Ibu petugas kebersihan di mess mengajariku untuk membuat tahu bacem, sayur bobor, bakwan dan lotek. Hmmm...

Setelah beberapa saat aku memasak menu-menu "wajar" seperti itu, lama-lama aku merasa bosan juga. Maka aku pun mulai mencari-cari variasi menu untuk dimakan sehari-hari. Tempat pertamaku bertanya tentang resep-resep masakan aneh, tentu saja Chef Google. Cukup masukkan kata kunci seperti "resep spaghetti carbonara", "resep nasi goreng rempah", "resep ikan bakar teflon", dan lain sebagainya, dalam hitungan detik akan muncul resep yang kita inginkan. Berdasarkan pengalaman, resep online yang memiliki jaminan sukses tertinggi justru berasal dari blog-blog pribadi. Dengan masing-masing cerita personal tersendiri di tiap resep yang di-publish. Resep-resep itu pasti sudah berhasil di-trial dengan sukses oleh para penulisnya. Disertai dengan foto-foto (yang umumnya) sederhana, justru resep itu terkesan jujur dan meyakinkan di mataku. Semoga suatu saat aku bisa mengembalikan semua knowledge yang kudapat dari internet itu dalam bentuk posting resep.

Ya, memasak itu menyenangkan. Demikian juga menyusun menu untuk seminggu, berandai-andai mau makan apa seminggu ke depan. Berbelanja di pasar tradisional, meski kadang pasarnya becek dan bau. Makanan yang dulu kukira hanya bisa dimakan di "luar" seperti selat Solo, nasi goreng rempah, aneka macam pasta, penyetan, chicken cordon blue, steam boat, pizza, tahu aci, cireng, pancake, ikan bakar, martabak mini, nasi kuning, jamur crispy dan lain-lain, ternyata dapat dibuat sendiri di rumah. Memasak itu bagaikan me time buatku, saat memasak yang ada di pikiranku hanyalah berusaha untuk mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan tentu saja menebak-nebak, seperti apa rasanya nanti. Kalau hasilnya enak dan bagus, pasti senang sekali. Jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, tentu saja agak kecewa. Namun tetap saja waktu-waktu memasak itu menenangkan dan mengasyikkan. Just me and myself, with the stove and kitchen utensils, listening to the music in my headset and the fizzle of water forced out of the raw groceries. Suara pisau memotong daun sawi, suara ulekan beradu dengan alasnya, suara bahan yang mendidih, suara sutil menggaruk penggorengan. Aroma bawang yang ditumis, aroma nasi yang baru matang, aroma ikan yang digoreng. Aroma tomat segar, aroma vanili yang terkena panas, aroma daun salam yang direbus. Begitu tenang dan perlahan, memungkinkan kita untuk menikmati setiap proses. It is like i am in my own, quieter word. And I like it.

Kegemaranku memasak ternyata bersambut kala ada teman messku yang mengajakku membeli oven dan mixer. Semenjak itu, kami rajin membuat kue, dengan harapan tinggi bahwa suatu saat nanti kami akan menjadi juragan bakery. Terakhir pulang kampung, aku membawa kue sukade buatanku sendiri. Terakhir kali temanku berulang tahun, aku membuatkannya cake ulang tahun buatanku sendiri. Mungkin teman-temanku dulu juga tidak akan menyangka, ternyata aku yang dulu jarang sekali memasak sekarang begitu antusias turun ke dapur. Aku yang dulu baru hafal aroma kencur setelah melakukan praktikum di laboratorium Analisa Kandungan Tanaman Obat itu, kini mempunyai koleksi bumbu-bumbu yang cukup lengkap, mulai dari jahe, kunyit, lengkuas, temu kunci, bawang merah, bawang bombay, jeruk nipis, daun jeruk, daun salam sampai kembang lawang (star anise), kayu manis, kapulaga, jintan, ketumbar dan tentu saja merica berbentuk butiran-butiran utuh. Belum lagi bahan-bahan membuat kue yang cukup lengkap.

Sekali lagi, masakanku tidak selalu sukses. Namun rasa excited sekaligus ketenangan yang kurasakan saat memasak begitu adiktif, sehingga aku tidak pernah kapok. Saking niatnya, aku membeli juga pancake dan muffin dari kafe dan bakery yang sudah cukup terkenal agar aku tahu, bagaimana sih rasa dan tekstur pancake dan muffin yang "benar" itu? Ternyata pancake harus cokelat merata bagian dasarnya, agar ketika dibalik tampak cokelat mulus nan cantik juga licin berkilap, bukan kuning berbintik-bintik hitam. Pancake juga harus mengembang, bukan bantat. Muffin harus cukup ringan dan berpori teksturnya, bukan padat seperti pound cake. Di dapur, aku dapat bertindak seperti formulator industri-industri farmasi me-too di Indonesia yang berusaha meniru persis produk inovator, haha. Membuat masakan me-too alias KW juga berguna untuk mengobati rasa kangen akan makanan-makanan kesukaanku yang susah kutemukan sekarang, misalnya capjay ndeso pakai kekian palsu (bukan cap cay Cina) ala warteg dekat kost-ku dulu; atau rujak kangkung yang di Jogja disebut sebagai "plecing kangkung", padahal ternyata keduanya merupakan dua jenis makanan yang berbeda. 

Satu lagi hal yang kusadari setelah aku belajar memasak adalah, ternyata benar bahwa setiap orang yang mau belajar memasak, pasti akhirnya akan bisa memasak. Practice makes perfect, walaupun aku belum perfect banget juga haha. 

Oh iya, kenapa umumnya orang menganggap bahwa orang-orang yang hobi belajar masak itu merupakan orang-orang yang sedang bersiap-siap berumah tangga ya? Bukan berarti mereka 100% salah sih, namun sepertinya dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan memasak untuk mengarungi kehidupan berumah tangga, bukan? Meskipun memang aku yang suka makan ini yakin bahwa ketersediaan dan kualitas makanan yang kita masukkan ke tubuh itu merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan ini :p A great food awakes your sense of taste and your soul as well. Makan enak aja sudah bisa bikin kita lebih happy, kan? Terus kan kasihan kalau anak-anak tidak mendapat asupan makanan yang halal, bergizi, bersih dan enak ("enak"-nya memang sengaja digaris bawah). Sedangkan menurutku memasak untuk suami adalah salah satu cara konkrit untuk menyatakan cinta. Thing I'll do after marriage. Soalnya, I want him to be the first man I am cooking for (selain adikku, ayahku dan mungkin beberapa orang lain yang beruntung kecipratan mencicipi masakanku walaupun tak pernah kubuatkan masakan secara khusus). Ternyata sebegitu pentingnya arti makanan buatku ya? Hehe...dasar aku suka makan.

Memasak untuk seseorang itu benar-benar merupakan tanda cinta
Bukankah menyenangkan, pulang saat petang dan ditawari makanan hangat yang baru saja dimasak?
Bukankah rasanya dicintai, ketika dibuatkan camilan kesukaan di sore hari?
Bukankah menentramkan, kala mengetahui makanan kita malam ini disiapkan secara teliti dan hati-hati oleh seseorang yang kita cintai?

Dan...sampai di akhir tulisan ini, tiba-tiba aku merasa lapar lagi.

15/09/13

Rantau 1 Muara by Ahmad Fuadi (A Far From Professional Review by Me)

I am so into Indonesian auto-biography novels. I had ever written how much i like Laskar Pelangi and Negeri Lima Menara series. I love to read or listen other people's success stories: how they struggled and succeed, their ups and downs. I like real stories better than fiction. 

So, right after my big exam some months ago i bought a really, really good novel. It is the last novel of Negeri Lima Menara Trilogy. I think this book is the best between the three books of the trilogy. And i am so thankful that i read that book at the right time, right at the time i needed it the most. This book is so inspiring for me. Ahmad Fuadi, the writer, wrote his hope on writing his last novel:

"Bagi anda yang sedang heboh mencari kerja, yang sedang harap-harap cemas menanti jodoh dan yang sedang berjuang mencari makna hidup. Mungkin novel ini bisa jadi penggelora pencarian-pencarian besar itu" (Fuadi, 2013).

Well, I can say that his hope is coming true, at least for one of his readers. Me :)
I want to emphasize again that i think i read (verb-2) this novel at the right time. That times, I was about to graduate from university and i was questioning many things. Some big, fundamental things regarding my future and I was confused. This novel was kind of..inspiring and saving me, haha. 

This novel, just like the two previous novel, tells us about Alif's life, adapted from Ahmad Fuadi's real life stories. This novel tells his life after he finished his glorious university years (due to his hard work and determination he had been joining student exchange program and earned some great experiences and achievements). Yep, he had to go back to Indonesia to get a job because he should support his mother and his sister financially. Unfortunately for him, he graduated in the wrong time. The time that Indonesia had a monetary crisis and political instability, so it was so hard to find a job. He caught in debt. Once a multinational company would hire him, but before he even started working, he was fired due to economic and political instability. I could imagine how he felt at that time. I think I know exactly how he felt, haha. He was the best student in his class, yet he got rejected everywhere. He had to face rejection, desperation and debt collector...reading his story, I couldn't help but think that I am luckier, at least my financial condition is better than his. My parents are perfectly capable of supporting me. But to get a job is not just about the money and financial independence, right?

Well, everything happens for a reason. For Alif, the reason why he didn't make it to that multinational company was because Allah had made a beautiful scenario for his life. He ended up got a job as a journalist in a well-known idealist media. A job that brought him to the love of his life. Yup, he met Dinara, a woman journalist and fell in love with her. The first time he looked into her eyes, he couldn't get his mind off her. They came from different background. Alif was a new journalist whose salary had to be shared with his mother and sisters; yet Dinara was a rich people's daughter. But they had tons of meaningful yet fun conversations and got to know each other better. Alif then found out that Dinara was not another trendy girl. She was different. Tons of conversations later brought them closer than ever and eventually everyone in their office knew that there was something special between them. 

Just when everything about them seemed right, Alif had to go to United States to pursue his dream to study there. Knowing he was about to go to US, Dinara pulled back from him. She didn't even talked to him and acted so aloof until his last day in Indonesia. Honestly, I cried on the last paragraph of page 193, haha. Does everyone in their 20-s have to experience that feeling? Galau, ragu, takut, bingung, ingin menyerah? Maybe.

Thank God, just before he left for his flight, DInara told him, "call me!". He thought about her and her last message on his flight and called her right after he landed in US. Long story short, Alif said that he felt so close to her regardless the fact that they were on two different sides of the world. They communicated via e-mail, chat and phone call. But deep down, Alif felt unsure about their relationship. He called their relationship by "Undefined Long Distance Relationship", a phrase he coined by himself. That was until he attended a pengajian in Indonesian Embassy titled "Lima Langkah Mencari Jodoh dan Memulai Rumah Tangga". Allah has always make a way to make something happens. Allah will grant our wishes, at his own time, by his own style. Kun Fayakun, Alif proposed to DInara via webchat and after negotiating with Dinara's parents, they got married in Indonesia. 

After marriage, Alif and Dinara went to US. Ahmad Fuadi conveyed that marriage is not easy. Life doesn't magically turn beautiful, fairy tale-like stories after marriage. After their first fight, Alif found out that marriage really is about sharing and understanding, not about asking and hoping. Together, they faced everything in their life. Just like Billy Joel's song, they took the good times and bad times. Together, they live their live for one purpose, God. The Entirely Merciful, The Sovereign. Muara segala muara.

"Hidupku kini ibarat mengayuh biduk membelah samudra hidup. Selamanya akan naik-turun dilamun gelombang dam ditampar badai. Tapi aku tidak akan merengek pada air, pada angin, dan pada tanah. Yang membuat aku kukuh adalah aku tahu ke mana tujuan akhirku di ujung cakrawala. Dan aku tahu aku tidak sendiri. Di atas sana, ada Tuhan yang menjadi tempat jiwa ragaku sepenuhnya bertumpu. Di sampingku ada Dinara. Temanku merengkuh dayung menuju muara. Muara di atas muara. Muara segala muara" (Fuadi, 2013).

I have read this novel several times, over and over again everytime I feel like I need. Sometimes, I compare my own stories with Alif's stories. I haven't reached my final conclusion about my life, and I probably won't reach it immediately. But I will keep walking for my life, or keep running for that matter, if it is what it takes. Because "man saara ala darbi washala", siapapun yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Whoever walks in his/her way will eventually reach his/her destination. 

Thank you Ahmad Fuadi, for sharing your life stories through this beautifully written novel. I might not have reached my destination(s) yet, but I am sure I will. Because I will keep walking and I have Allah With me :)



References:
Fuadi, A., 2013, Rantau 1 Muara, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

10/04/13

Vaseline Complete Care - Body Lotion That Works

Disclaimer: Posting ini dibuat untuk kepentingan review saja, tidak dimaksudkan untuk kepentingan promosi. Produk yang diulas dalam postingan ini dibeli dengan uang pribadi saya. Untuk masalah kulit yang lebih serius, berkonsultasilah secara langsung dengan dokter spesialis kulit dan apoteker anda :)

Tanpa terasa, sudah cukup lama juga aku tidak menulis review kosmetik. Kenapa ya? Aku sendiri juga heran. Padahal mengamati kosmetika yang beredar di pasaran itu sebenarnya minatku. Melihat-lihat komposisi kosmetik yang dipajang di rak supermarket itu menyenangkan, apalagi kalau supermarketnya lagi sepi sehingga aku tidak perlu menolak tawaran para sales girl kosmetik yang mempromosikan produknya, hehe.

Kali ini aku akan menulis tentang body lotion Vaseline Complete Care.



Body lotion ini diproduksi oleh PT. Unilever Indonesia, Cikarang, Bekasi. Namun Vaseline sendiri merupakan merk internasional yang telah ada sejak tahun 1870 dan sekarang berada di bawah bendera Unilever Global. Vaseline Complete Care merupakan salah satu varian body lotion Vaseline di Indonesia selain Vaseline Healthy White Healthy White, Vaseline Total Moisture Aloe Fresh, Vaseline Cocoa Glow, Vaseline Firming dan lain-lain.

Aku mulai memakai lotion ini kira-kira setelah ujian skripsi terbuka (inget banget ya, haha). Kenapa aku tertarik untuk membeli Vaseline Complete Care ini? Dulu aku merasa kulit tangan dan kakiku lumayan kering. Ya enggak sampai bersisik atau mengelupas sih, tapi kalau dipegang dan dielus kok kurang licin menurutku. Kalau dibandingkan dengan kulit tubuh yang lembab, halus dan licin, wah jauh banget. Padahal sudah teratur pakai body lotion lho. Maka aku pun berpikir untuk mencoba body lotion baru yang lebih ampuh untuk melembabkan dan menghaluskan kulit.

Tak lama setelah itu aku melihat body lotion yang dipakai ibuku di rumah. Saat itu beliau memakai Vaseline Complete Care ini. Dari tulisan di kemasannya, aku jadi tahu bahwa body lotion ini mengandung AHA dengan kadar 8,6%. Cring! Aku jadi ingat kuliah kosmetologi. AHA (Alpha Hydroxy Acid) atau asam alfa-hidroksi sebenarnya adalah nama golongan senyawa kimia. Menurut ilmu kimia organik yang kuketahui, AHA merupakan asam karboksilat yang memiliki tambahan gugus hidroksil di atom karbon pertama setelah atom karbon hidroksilnya, zzzzz ya pokoknya gitu deh (skip aja penjelasan ini, haha). Salah satu anggota golongan senyawa AHA yang digunakan dalam perawatan kulit adalah asam laktat, dan asam laktatlah yang terkandung dalam Vaseline Complete Care.

Lantas kenapa asam laktat dalam Vaseline Complete Care ini membuatku mau membeli dan memakai body lotion ini? Adakah hubungan antara struktur kimia asam laktat dengan aksinya dalam menghaluskan kulit? Haha, tentu saja ada, tapi aku enggak mencari tahu sampai segitunya kok. Yang jelas, sudah banyak penelitian in vivo yang membuktikan efektifitas asam laktat dalam menghaluskan dan meningkatkan kelembaban kulit. Hal ini antara lain dikarenakan oleh sifat asam laktat yang suka air (dapat menarik molekul air). Jadi, kelembaban di kulit kita tidak akan mudah hilang jika kita memakai lotion yang mengandung asam laktat. 

Asam laktat juga berfungsi sebagai chemical exfoliant alias zat yang dapat mempercepat pergantian sel kulit mati dengan sel kulit baru. Efek exfoliant dari asam laktat ini dapat menjadikan kulit lebih halus, lebih lembut, lebih ‘licin’ (istilahku sendiri, haha), membantu mencerahkan kulit dan menghilangkan noda-noda hitam di kulit. Sebenarnya secara tradisional kita juga bisa pakai lulur sebagai physical exfoliant, tapi selain memakan waktu, kadang butiran lulur juga terlalu kasar sehingga dikhawatirkan terjadi iritasi. Selain itu menurutku efek melembabkan dan menghaluskan dari lulur hanya bertahan singkat, tidak sebanding dengan waktu yang dikeluarkan untuk luluran, hehe. Hmm, kalau aku pingin efek halus dan licinnya aja sih, aku sudah suka dengan warna kulit tubuhku ini kok. Meskipun enggak putih tapi kan warnanya sudah merata, hoho.

Oh iya, hampir lupa, selain berperan dalam melembabkan kulit dan mempercepat pergantian sel kulit (exfoliant), asam laktat juga dapat mempercepat pembentukan kolagen. Oleh karena itu asam laktat kadang dipakai dalam formula kosmetika anti-aging alias kosmetik yang ditujukan untuk memperlambat proses penuaan. Kalau pembentukan kolagen dipercepat, kulit akan menjadi lebih kencang dan akan lebih lambat menua, soalnya penuaan kulit itu antara lain disebabkan oleh menurunnya produksi kolagen.

Walaupun begitu, semua zat tetap merupakan racun jika tidak digunakan dengan tepat. Asam laktat juga begitu. Walaupun menurut para ahli perawatan kulit asam laktat digolongkan sebagai AHA yang lumayan smooth alias enggak galak alias lembut untuk kulit, namun tetap saja ada efek tidak dikehendaki yang timbul pada orang-orang yang memang sensitif. Efek tidak dikehendaki itu antara lain timbulnya rasa panas, merah atau gatal pada kulit. Memang sedikit rasa panas atau gatal itu wajar saat awal-awal pemakaian, karena asam laktat itu kan exfoliant. Kadang kalau habis luluran juga kan terasa agak perih kan? Ibaratnya, kulit kita sedang digosok untuk melepaskan sel kulit matinya, kan wajar kalau timbul sedikit rasa panas atau pedih. Namun kalau gejala kemerahan, panas, perih dan gatal pada kulit dirasakan mengganggu dan terjadi terus-menerus setelah pemakaian, berarti orang tersebut memang tidak cocok dengan asam laktat dan tidak boleh memakai lotion ini.

Selain itu, asam laktat juga dapat menyebabkan hipersensitivitas terhadap sinar matahari. Maksudku, asam laktat dapat menyebabkan kulit jadi lebih peka terhadap sinar matahari, misalnya jadi kulitnya akan lebih cepat memerah dan terbakar setelah terkena sinar matahari dibandingkan dengan kulit yang tidak memakai asam laktat. Oleh karena itu, menurutku sebaiknya kita pakai lotion ini di sore hari saja. Sebaiknya jangan memakai lotion ini sebelum kita beraktivitas di bawah sinar matahari. Kalau kita sudah teratur memakai lotion ini pun, sebaiknya hindari paparan sinar matahari dengan cara memakai baju tertutup, payung, slayer dan sarung tangan.

Wah panjang juga ya penjelasanku tentang asam laktat, alasan utamaku memakai lotion ini. Aku memakai lotion ini sehari sekali, yaitu sehabis mandi sore. Saat kulit masih lembab, oleskan body lotion ini agar kelembaban sehabis mandi itu dikunci oleh asam laktat yang terkandung dalam lotion. Aku tidak memakainya di pagi hari sebelum beraktivitas untuk meminimalkan efek sensitif terhadap sinar matahari (padahal kulit tubuhku itu ala badak banget alias gak sensitif, haha..tapi jaga-jaga sajalah). Pada pagi hari aku pakai lotion atau body butter lain sesuai kebutuhan, merk-nya ganti-ganti tidak jadi masalah. Kalau sedang banyak beraktivitas di ruang ber-AC ya pakai body butter. Kalau sedang sering naik motor atau beraktivitas di luar ruangan ya pakai lotion yang mengandung tabir surya (misalnya yang mengandung etil parametoksi sinamat). Kalau lagi kumat pelitnya ya pakai lotion yang murah aja -_- haha.

Bagaimana hasilnya?
Menurutku hasilnya bagus sih. Kulitku jadi lebih halus dan tidak kering lagi. Berarti benar kalau asam laktat memang bagus untuk memperbaiki kelembaban dan kehalusan kulit. Tapi aku baru ingat kalau kulit tangan dan kakiku itu berbulu halus namun lebat dan panjang...hahaha, jadi walaupun pakai body lotion sehebat apapun ya tetap gak bisa licin banget kecuali kalau di-shave, haha. Tapi setidaknya kulit jadi lembab, halus dan tidak kering. Suka deh :D efek melembabkannya awet, bukan sekedar lembab di awal tapi beberapa jam kemudian kering lagi.

Oia, terakhir aku membeli body lotion ini seharga Rp. 21.300,- untuk kemasan 200 ml (aku beli di supermarket dekat kawasan UGM). Harganya memang sedikit lebih mahal daripada kompetitiornya, namun mengingat manfaatnya aku merasa harga segitu wajar deh buat body lotion ini. Menurutku, daripada beli body lotion merk terkenal yang mahal namun belum teruji manfaatnya, mending beli ini lah. Kandungannya jelas, asam laktat, sudah terbukti efektifitasnya. Haha, jangan-jangan manfaat yang kudapatkan setelah empat tahun lebih belajar ilmu farmasi adalah bisa memilih body lotion that works alias body lotion yang efektif ya? ;p

Dari skala 1-10 aku memberikan nilai 8,8 untuk body lotion ini. Dan aku akan selalu membeli lagi body lotion ini alias repurchase over and over again mengingat dia punya manfaat anti aging juga. Begitulah review-ku tentang body lotion Vaseline Complete Care. Semoga bermanfaat :)

25/12/12

Kucingku =^.^=

Kadang, kita harus memilah-milah perlakuan yang sesuai untuk setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan kita. Bayangkan saja kita punya seorang bibi atau paman yang kebetulan menjadi guru sekolah kita. Ketika di sekolah, maka kita perlu memperlakukannya sebagaimana seorang murid memperlakukan gurunya: mengucapkan salam dan selamat pagi saat berjumpa di pintu gerbang, memperhatikan apa yang disampaikannya di kelas, mengerjakan tugas-tugasnya...dan seterusnya. Namun ketika kita berjumpa sebagai sebuah keluarga, pasti ada perbedaan. Misalnya, kita menjadi lebih akrab. Menurutku masih ada banyak contoh lain di kehidupan ini, keadaan di mana kita harus memisahkan seseorang sebagai dua atau lebih peran yang berbeda.

This morning, though, I didn't have to. Pagi menjelang siang ini, kuhabiskan beberapa puluh menit dengan seekor kucing di rumahku. Sebenarnya sudah lebih dari 24 jam aku berada di rumah, tapi baru pagi tadi dia berkunjung ke rumahku. Mungkin dia sudah besar jadi sudah bisa menjelajah kemana-mana. Haha, tapi tadi rupanya kami sama-sama merindukan satu sama lain. Dia langsung mengincar kedua kakiku, menabraknya lalu menggosokkan kepalanya yang kecil. Hiiiii...geli banget, tapi lama-lama terbiasa juga. Kucing selalu terasa hangat, lembut dan mmmm...irresistible. Belum puas hanya menggosokkan kepala, dia lalu berguling-guling di hadapanku. Lalu mengikutiku ketika aku berjalan ke samping rumah. Lucuuuuu banget :D


Ini fotonya saat masih kecil, masih kurus dan bulunya belum sebagus sekarang...tapi apapun kata orang aku tetap sayang sama kucing kecil ini. Oh iya, namanya si Gusta ^^

02/12/12

Simple Things in Life (Flower Power)

Hari ini, aku merasa beruntung sekali karena aku masih muda. Kenapa? Karena masih muda artinya stamina masih di puncak, walaupun kuliah dan ikut membantu suatu acara lain seharian selama dua hari berturut-turut, saat ini aku masih bisa menghadapi laptop untuk memilih foto yang unik untuk kujadikan foto profil dan cover timeline facebook. Sebenarnya aku ingin juga menulis tentang kuliah menarik yang kudapat dua hari ini, tapi malam ini aku ingin menulis sesuatu yang ringan dan sederhana saja.

Sebagai cover timeline, awalnya aku memilih foto bunga-bunga krisan yang notabene merupakan barang dagangan seorang mbak-mbak di daerah Kotabaru, Yogyakarta (gambar kuambil ketika aku sedang bisnis  berjualan bunga dengan teman-teman dalam rangka mencari uang tambahan untuk keperluan sumpahan besok). Tapi sayang ketika dipajang jadi cover timeline, gambarnya jadi nge-blur. Akhirnya aku mencari foto-foto bunga-bunga di albumku sendiri. Waaaa, begitu melihat album itu, rasanya mataku jadi lebih segar :D

Di balik keceriaan warna, kelembutan kelopak dan wanginya yang malu-malu, menurutku bunga itu sangat powerful alias bertenaga. Buktinya, dengan melihat fotonya saja aku merasa jadi lebih segar, semangat sekaligus tenang. Rumah impianku, punya semak mawar putih di halaman depan, pucuk-pucuk dan kuntum bunganya setinggi pinggangku. Kalau aku sudah kaya nanti, mungkin setiap saat ada bunga segar di meja kerjaku. Bunga apapun itu, menurutku semuanya unik dan punya pesona tersendiri. Sampai saat ini aku selalu berjumpa bunga yang cantik, belum pernah sih ketemu bunga yang aneh banget dan jelek, mungkin karena aku belum pernah mencium aroma bunga bangkai ya? Haha...saking senangnya dengan bunga, kemarin aku asyik-asyik saja waktu ditugasi jualan bunga pas wisudaan. Dan aku serta salah seorang temenku berkesimpulan kalau buka toko bunga kayaknya lebih asyik daripada buka apotek (lho? haha). Iya, serasa hiburan deh pergi ke toko bunga itu, bikin semangat! Apalagi ngobrol-ngobrol dengan para penjual bunga, tanya-tanya nama bunga, jenis-jenis bunga dan lain-lain. 

Terima kasih Allah, sudah menciptakan benda secantik ini :)))

Foto jadulku: Rangkaian krisan dan bunga-bunga kecil (aku lupa namanya...). Kurangkai sendiri di gelas...suka aja dengan rangkaian yang tidak terlalu ramai seperti ini, cukup 1 warna saja, yaitu putih. Well sebenarnya putiknya berwarna kehijauan, tapi masih senada kan?. Sangat menyegarkan suasana kamar :)



25/10/12

An Amazing October

In the end of September 2012, i wrote on my personal journal: Allah, please make this October run smoothly. Please make it easier for me :)

Like these last 3 years, October and November has always been the two busiest months of the year. I don't know why; but I always feel that in those two months, my life is demanding my full attention. Actually I feel like I lost a lot of my free time and my me-time on October and November, hehe. This October, though, I had a bigger responsibility; a responsibility that made my heart beat faster every time I thought about it. Well, this responsibility (let's call it a task), actually  was not an "aku banget" task. This was not a kind of task that makes me think "Okay, I can do this". Honestly I don't like this kind of task, because for me passion is the first thing you need if you want to do something with the best result. 

I ended up agreed to do those task, all because of my deep respect to the task giver ^^ And somehow (ah 'somehow'!, my favorite English word besides 'passion'), I did the task. I finished it. Some said that I did it pretty well. I think it needed some improvement here and there. Everyone said thanks to me, but honestly, I think that I can do way better if there were more passion involved. Anyway...I say a big praise to Allah to make my wishes on the end of September came true.

And some days after the task was finished, I realized something. Okay, I might not be fond of this task. But hey, this task actually taught me something. It is like that: If you were trying hard enough and is willing to get out of your comfort zone, then you will be able to do something that you don't even like. And at least, I made  some friends because of this task. I met some amazing people...that made me realized that there are a LOT of great people in this world. 

Yeah, great people are everywhere. Alhamdulillah i met them this month (and on these last few months actually, I met and knew some new people that are awesome too). They are stand out because of their special character; if it's their superhuman willingness to help; their ability to convince people; their clevernessl their ability to make even the most introvert person open up and talk for hours;their ability to communicate despite of language and cultural differences, their ability to do many things at the same time; their spirit to study, their unshakable faith in God, their big heart, their loving soul and so on. Of course they, just like all people do, have their own flaws too. But with their positive character, their flaws are just...what do you call it? "Terabaikan"?. Looking at them, I wonder how would it be to be like them. No insecurities here, though. 

Finally in the end of the month, right before Eid (Idul Adha), once again I want to say thanks to Allah, for making these all possible for me. Alhamdulillah. I'll prepare myself to be ready for the next month; which I hope will be as great as this month.

Have a great life, readers!
With love and respect, 
Amalia

Pixy Ultimate Cake Make-Up

DISCLAIMER: Posting ini sepenuhnya merupakan pendapat pribadi penulis. Hasil dapat berbeda untuk setiap orang. Penulis tidak mendapatkan bayaran maupun kompensasi apapun karena membuat posting ini kecuali kepuasan pribadi semata.

Sekitar dua bulan lalu, aku googling untuk mencari referensi merek bedak padat yang bagus. Yup, di masa kejayaan dinasti Google seperti saat ini, menurutku agak rugi kalau kita membeli suatu kosmetik (terutama yang harganya di atas dua puluh ribu rupiah) tanpa googling dulu. Ah alesanku aja sih ini sebenernya, alasan sesungguhnya adalah karena sifat sok perhitungan khas mahasiswa yang kumiliki..maklum, anak kos.

Oh iya, sebenarnya, buatku bedak padat adalah a big no-no untuk dipakai setiap hari, soalnya kulitku rentan berjerawat. Kulit rentan jerawat disarankan untuk memakai bedak tabur, kalau bisa yang tanpa pewarna tambahan (warnanya putih saja). Tapi kalau dipakai sekali-kali saat acara spesial, bedak padat tidak jadi masalah. Yang penting segera remove produk kalau ada tanda-tanda iritasi dan setelah bersihkan dengan saksama kalau sudah tidak perlu dandan lagi. Nah, alasanku membeli bedak padat adalah untuk digunakan saat acara pernikahannya bulikku. Biar tampilan lebih terlihat 'dandan' alias put some effort lah.

Setelah beberapa saat membaca sebuah thread di web fashionese daily, aku menarik kesimpulan bahwa bedak padat yang memiliki value tertinggi (kalau nilai value= price/quality) adalah Pixy Ultimate Make Up Cake. Oh iya, perias yang aku panggil buat rias wisudaku juga bilang kalau bedak padat yang paling oke itu Pixy. Sayang ibu periasnya enggak bilang yang tipe apa dan aku juga enggak berminat untuk tanya karena saat itu merasa enggak bakal beli bedak padat. Padahal sudah lumrah kalau satu merk kosmetik itu punya berbagai macam produk untuk satu fungsi yang sama, hanya peruntukannya saja yang beda-beda.
Langsung saja kita review bedak padat ini :-)


Keamanannya?
Sebenarnya, baru setelah aku browsing aku tahu kalau Pixy itu sebenarnya cukup terpercaya juga. Selama ini aku cuek saja sih, belum pernah beli merk ini. Dari review di internet, sepertinya merk ini tergolong merk yang bebas komplain dan banyak mendapat review positif. Tapi sekali lagi karena yang kubeli ini bedak padat, berarti harus digunakan dengan sangat hati-hati untuk kulit yang mudah berjerawat.



Harganya?
Aku beli kemasan refillnya sih, harganya 22 ribu. Awalnya aku enggak tahu kalau ada kemasan refill, tapi melihat harganya yang aku yakin pasti beda signifikan dengan yang kemasan komplit yang ada cerminnya..pasti sudah maklum kan yang mana yang kupilih? Lumayannn, ngirit hampir 20 ribu, bisa buat nambah-nambah beli maskara, hihihi. Lagian kemasan refill sudah ada sponsnya kok, cuma enggak ada cerminnya aja. Bedak ini bakalan jarang kupakai juga, jadi aku beli yang kemasan refill aja. Meskipun enggak pernah beli bedak padat, menurutku harga segitu tergolong murah untuk sebuah bedak padat ukuran standar.



Warnanya?
Ada beberapa shade, aku lupa..5 macam apa ya? Aku tanya ke spg-nya, warna apa yang kiranya cocok buat kulit wajahku. Terus mbaknya menyarankan shade natural, katanya cocok untuk hampir semua warna kulit. Aku coba usapkan ke telapak tangan saat itu..ya, lumayan cocoklah. Dan aku puas dengan jatuhnya shade ini di wajahku :-D



Kemudahan penggunaan?
Bedak padat ini bisa digunakan dengan dua cara, metode basah dan kering..haha, kayak apaan aja ya. Kalau yang tertulis di petunjuknya sih ada tulisan kira-kira seperti ini: gunakan spons kering untuk tampilan alami dan gunakan spons basah untuk tampilan lebih menutup. Karena pingin coverage yang maksimal, aku pakai spons basah. Bukan basah sampai airnya menetes sih, cuma sampai tepat basah aja, terus diusapkan ke bedak padatnya kemudian dipakaikan di kulit. Cara pakainya ditepuk-tepukkan, beda dengan cara pakai bedak tabur yang cukup diusap dengan puff. Katanya sih begituuu :-) dan menurutku, dengan cara ini, bedak sudah bisa menempel dengan baik, tanpa memerlukan usaha yang berlebihan.



Hasil akhirnya?
Waww, memang beda banget ya kalau pakai bedak tabur dengan bedak padat! Dengan bedak padat, muka terlihat lebih halus dan flawless..ya enggak 100% flawless juga sih, tapi keliatan beda banget lah. Benar-benar terlihat dandan. Dan aku suka karena tampilannya rapi, sudah kelihatan kalau dandan tapi enggak berlebihan. Ternyata saudara-saudara, rahasia dandan itu bukan pada make-up mata tapi pada make-up dasarnya, alias pada dandanan mukanya. Harus terlihat mulus dulu! Tapi aku yakin, kalau setiap hari aku keluar rumah pakai bedak padat dan eyeliner seperti di foto ini, nanti sekalinya aku enggak pakai pasti kelihatan kusam. Jadiii, memang benar kalau make-up itu sebaiknya hanya dipakai pada kesempatan yang benar-benar istimewa saja. Atau buat keperluan latihan dan hobi saja.


REALITY CHECK: gambar diambil dengan kamera VGA, tanpa editing
Make-up yang dipakai: Bedak padat, bedak tabur, eyeliner, maskara, pensil alis, eye shadow (kuning-jingga), dan lipbalm

REALITY CHECK: gambar diambil dengan kamera 5 megapiksel, tanpa editing
Make-up yang dipakai: Bedak padat, bedak tabur, eyeliner, maskara, pensil alis, eye shadow (kuning-jingga), dan lipbalm


Overall, aku puas dengan produk ini...nilainya 9.0 dari skala 1-10! Walaupun aku enggak boleh pakai bedak ini setiap hari tapi tetap saja aku merasa puas. Alhamdulillah, i found the right compact powder on my first try! Terima kasih tante google, hehe...jadi terpikir buat dandan sendiri aja buat sumpahan besok, biar terlihat lebih alami :D


p.s: Aku sudah coba eyeliner cair Pixy, dan puas banget juga dengan hasilnya!!!! Sangat awet dan mudah digunakan. Kalau ada kesempatan, semoga aku sempat menuliskan pendapatku tentang eyeliner ini.

15/07/12

Authentic Fashion Style from Indonesia (Batik and Kebaya)

Fashion of Indonesia? I used to think that it's batik, batik and batik. Honestly i am quite fond of batik. When I enter a batik store, i can say that every batik has its beauty, all of them are exquisite and I can't decide which one is the worst. Of course, it would took me at least 20 minutes to choose one batik to buy, but really! It's not because all of them are boring. All of them are beautiful and it will cause me a confusion in deciding which batik to choose. The style of batik motif differs significantly in every area, that's why we know Cirebon's batik, Yogyakarta/Solo's batik, Kalimantan's batik, etc. My lecturer had ever worn an unique batik shirt once, he said that it is Irian's batik. It has a cenderawasih (Irian's specific bird species) motif on it, so unique :)

Once i went to Lasem (a kecamatan in Rembang, a city in the eastern part of central java), and I instantly fell in love with Lasem's batik. heir motif are so beautiful and their colors...yeah, their colors are amazing. Not like Yogyakarta's or Solo's batik which are mostly dominated by earth-colored color tone, Lasem's batik always has this colorful, fresh and bold color combination in every one of them. The only thing that makes my love to Lasem's batik broke into pieces was only its price. My favorite fabric costed Rp 300.000,- (about 30 US$). Were you kidding me? So far, I don't have, and have never bought any top costed more than Rp 130.000,- (about 13 US$). Actually the price of Lasem's batik was reasonable in my opinion, because it's a batik tulis (i mean the motif was drawn manually by hand, so do the whole making processes, they were done manually too). The Lasem's batik artist  are using natural colorant too, so the price is higher than other batik from other areas of Indonesia. But Rp.300.000,- for a piece of clothing was still too expensive for me. It's better used as home decoration, not as clothing material because it's so beautiful and expensive. So Lasem's batik...if you'll excuse me, I am going to study and work hard so I can be rich and bring you into my closet. 

A few days ago, I went to a boutique with my friends. Mmm, wait, can I call it a boutique? Actually it's just a little shop who sells and rentals kebaya and suit, the room is not arranged artistically, so let me just call it a shop, okay? We were planning to hire a make-up artist to do some make-up on us for our graduation, which is supposed to be held on August 28th (amin). One of my friend rented a kebaya too. I didn't rent a kebaya because i am planning to wear my mother's kebaya (which is now MY kebaya because she gave it to me) in my graduation. My mother brought the kebaya from Kudus on last thursday. With minimal equipment (a belt) I tried to wear the jarik (long fabric, usually batik or tenun used as long skirt), then I wore the kebaya. I got a little bit too excited and asked my mother to take a picture of me wearing kebaya. As if it wasn't enough, I took a mirror picture of myself like an alay girl I was. 

"Alay Picture" (according to my brother, but let's not focusing on him, haha)

Actually the kebaya I wore in the picture above is older than me. My mother wore it at her wedding, at the ceremony called midodareni (my parent's wedding was based on Javanese tradition). Personally, i really love this kebaya. I think it is kind of romantic to wear my mother's wedding dress (wedding kebaya in this context, LOL).  I have ever worn this kebaya before in my junior and senior year of high school, in Kartini's day celebration. Actually it needs a little adjustment in order to fit petite-me perfectly, but I really like to wear it and I feel comfortable and confident on it. I love its color as well, combination of black and fuschia. I had ever had a wallet with the same color combination too. I think black represents toughness and mystery, but fuschia adds a feminine touch in a right dose, gives it a nice balance. In bahasa Indonesia, I called it berkarakter. Hahaha, what an amateur opinion from a girl who thinks she know many things (sok tahu). 

And since last thursday, i decided that I love kebaya too...it is designed for woman (you don't say Lia?? of course it is -____- ). Haha, i meant that kebaya is gorgeous and elegant..and it suits a woman well. When a woman wearing a set of kebaya, she will walk more gorgeously, watching her every step. Not that I am an activist of female right suppression, but wearing kebaya makes a woman look and act more feminine, and I like it. Not to mention that when a woman wearing kebaya, she will look perfectly-dressed.

"Dress shabbily and they remember the dress; dress impeccably and they remember the woman" - Coco Channel

I ended up renting a more glamorous kebaya for my graduation, as my mother's advice, but I think I will wear my own kebaya for special occasions. So, anyone throw a wedding party? Invite me, if i think my kebaya suits your party, I'll wear it happily, haha :)




10/03/12

Maybelline Unstoppable Auto Liner

Ehm, pada kesempatan kali ini aku ingin me-review sebuah kosmetik! Kosmetik pilihanku kali ini adalah Maybelline Unstoppable Auto Liner.


Disclaimer: Produk ini kubeli dengan uang sendiri, tidak ada kepentingan apapun kecuali hanya untuk kesenangan pribadi semata. 

Unstoppable Auto Liner merupakan suatu eye liner. Itu lho, kosmetik mata yang kalau dipakai, mata si pemakai jadi terlihat ‘terbingkai’ dengan garis hitam (atau cokelat tua, atau biru bahkan ungu). Fungsinya untuk membingkai mata sehingga mata terlihat lebih defined dan tegas. Ada bermacam-macam bentuk eye liner, ada yang cair (aku pernah menulis review-nya disini), pensil, gel, sampai bubuk. Nah Unstoppable Auto Liner itu mirip seperti eye liner pensil. Perbedaannya dengan eye liner pensil biasa adalah si auto liner ini enggak perlu diserut. Jadi tinggal pakai saja. Namanya juga AUTO Liner kan? Jadi otomatis gitu deh.

Yang aku punya adalah yang berwarna hitam. Enggak tahu juga kalau ada warna lain. Aku belinya sekitar bulan November lalu. Harganya aku agak lupa, seingatku sekitar lima puluh ribu. Menurutku eye liner pensil, atau yang modelnya seperti pensil (seperti Unstoppable Auto Liner) itu irit, karena…ya, bentuknya aja pensil, kalau pakai tinggal digoreskan saja dan bayangkan berapa panjang garis yang bisa kita buat dengan ‘isi’ pensil yang panjangnya sekitar 5 cm itu. Jadi, kalau kita bisa menjaga agar eye liner ini tidak patah, maka bisa dipastikan eye liner ini akan awetttt banget. Apalagi auto liner ini kan enggak perlu diserut, jadi enggak ada lagi kerugian material berupa pensil yang memendek dengan cepat karena patah saat diraut. Ini cocok banget buatku. Soalnya, aku kurang ahli dalam meraut aneka pensil-pensil kosmetika tersebut. Kalau meraut pensil alis, pensil alis kusamakan dengan pensil 2B, padahal jelas beda kan. Ternyata, pensil alis lebih empuk dan lebih rapuh daripada pensil kayu untuk menulis sehingga kalau diraut dengan tenaga yang berlebihan saat diraut jadi putus terus dan enggak bisa runcing. Akibatnya, boros! Padahal pensil alisku jarang banget kupakai. Sejauh ini aku selalu minta bantuan pada ibuku untuk meraut pensil alis.

Kenapa aku beli eye liner ini? Yang pertama karena eye liner cairku sepertinya sudah tidak layak dipakai Sudah kubeli sejak zaman semester 4 akhir, tega banget kalau masih mau pakai, itu kan kosmetik buat daerah sekitar mata yang sensitif. Kedua, setelah mencari-cari informasi dari internet tentang produk mana yang layak dibeli sebagai my next eyeliner, produk ini mendapatkan banyak review yang lumayan bagus. Aku memang berpindah hati dari eye liner cair, soalnya pakainya lama. Bagian yang paling susah itu membuat garis yang simetris untuk kedua mata. So, aku memilih eye liner pensil aja. Dan aku enggak beli eye liner pensil merk lain, soalnya merk yang ini enggak perlu diraut, haha. Oh iya, produk ini ophthalmologic tested lho…artinya, sudah teruji keamanannya untuk dipakai di daerah sekitar mata. Sehingga teorinya produk ini aman. Aku sih enggak mengalami kejadian-kejadian menyeramkan setelah memakainya (semisal mata menjadi bengkak, merah atau sejenisnya). Kosmetik yang aman selalu lebih baik.

Hasilnya? Lumayan bagus sih menurutku…maaf ya no picture, lagi males melakukan langkah pake eye liner-foto-hapus eye liner-upload foto di blog, hehe. Eye liner ini sangat mudah sekali dipakai, bahkan untuk orang yang jarang ber-make up sepertiku. Trikku, kalau untuk mata kanan, mulai dari sudut dalam kelopak mata. Untuk mata kiri, mulai dari sudut luar. Bener deh, eye liner ini benar-benar mudah dipakai. Irit waktu! Garisnya juga cukup tegas, walaupun hasilnya memang enggak sedramatis kalau kita pakai eye liner cair. Yang ini, hasilnya lebih alami dan sebenarnya aku lebih suka yang begitu. Oh iya, aku cuma pakai eye liner diatas mata saja, enggak pake eye liner di bawah mata. Kalau kata pakar make-up, pake eye liner di bawah mata bisa membuat kita terlihat lebih tua. Kalau kata ibuku, jika kita sudah terbiasa pakai eye liner di bawah mata, sekalinya kita enggak pakai mata akan terlihat sayu.

Nah, sekarang bagaimana dengan stabilitasnya di muka? Apakah eye liner ini tetap bertahan dengan rapi di tempatnya semula tanpa mengalami perubahan yang bisa dilihat dan dirasakan? Ternyata setelah sekitar 6 jam dipakai (dari pagi hingga siang) eye liner ini smudge alias agak luntur di mataku. Padahal ada tulisan di kemasannya: “Smudge Proof Eyeliner”, huhu. Mungkin ini disebabkan karena jenis kulitku yang berminyak dan hawa yang lumayan panas saat itu. Smudge-nya enggak terlalu parah sampai seluruh kelopak mata jadi menghitam sih, cuma berupa garis item tipis diatas lipatan kelopak mata. Kayakna eye linernya lambat laun larut dalam minyak wajah dan membentuk cap setiap kali aku berkedip deh, hehe. 

Pada kesempatan berikutnya aku mencoba mengaplikasikan bedak tabur dulu di kelopak mata sebelum pakai eye liner (bedak kan bisa menyerap minyak, walaupun kurang tahan lama juga buatku…tapi siapa tahu bisa membantu). Dan ternyata, this trick worked well...lumayan, kelopak mataku jadi tidak menghitam lagi. Overall, produk ini lumayan lah. Kalau disuruh menilai skala 1-10 dengan 10 sebagai nilai maksimal, aku akan memberi nilai 8,1.

Nilai Plus:
  • -          Ophthalmologic tested!
  • -          Mudah dipakai
  • -          Tidak perlu diraut (irit)
  • -          Terkesan natural
  • -          Lebih ekonomis dibanding eyeliner cair
  • -          Mudah didapat (sekarang di Miro*a Kampus aja ada counter Maybelline, di Alfa*art deket rumah di Kudus juga sudah ada produk-produk Maybelline. Jaringan distribusinya sudah oke)

Nilai Minus:
  • -          Smudge setelah dipakai setelah kira-kira 6 jam, dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore

Oh iya, hampir lupa, kata mbak-mbak SPG-nya, kalau mau pakai, eye liner ini diulir sedikit saja biar enggak patah. Terus, jangan lupa segera bersihkan make up kalau sudah tidak ‘diperlukan’ lagi. Hmm, emang ya make up itu seru banget, menantang! Jangan pikir pake make-up itu gampang…perlu latihan dan semangat belajar yang tinggi lho, hehe…tapi untuk sehari-hari tampilan natural lebih baik menurutku. Doaku adalah semoga pekerjaan yang aku dapat besok enggak mengharuskanku buat pakai make-up lengkap setiap hari. Kalau cuma bedak tabur sama lipstik aja sih bolehlah. Boleh juga kalau harus pakai make up sekali-kali, tapi kalau tiap hari??? Ya Allah lindungilah hamba dari pekerjaan yang seperti itu. Amin ya rabbal alamin…jadi seperti apa nanti wajah ini. Aku takut wajahku yang acne-prone ini jadi nggak karuan kalau setiap hari harus pakai make up macam foundation, concealer, bedak padat, blush on, eye shadow, eye liner, eye brow pencil, maskara, dan apalah itu namanya. Lha wong aku dinasehatin "SELAMANYA kamu harus hati-hati sama yang namanya pelembab wajah, karena pelembab umumnya mengandung banyak komponen yang bisa menyumbat pori-pori kulitmu". Nah lho, bayangkan, pelembab aja enggak boleh lho kecuali yang bentuk gel dan yang sudah benar-benar teruji T.T 

BTW, it's gonna be interesting to hear what others say about me when i put eye liner on...
Saat itu aku pakai eye liner (dan selapis maskara) waktu mau datang ke wisudaan mbak kosku. Eh temenku ada yang komen "mau ke wisudaan kok enggak dandan, Li?"
-____- jadi aku pake eyeliner sambil melotot-melotot tadi pagi enggak ada bedanya ya sebenarnya? Eh tapi setelah kupikir, ada bagusnya juga sih enggak kelihatan. Kan definisiku tentang dandanan yang bagus itu ada 2. Nomer 1, sebenarnya kita dandan tapi enggak kelihatan kalau dandan. Nomer 2, kita dandan dan terlihat kalau kita put an effort to put make up, tapi wajah kita masih bisa dikenali.

Pada kesempatan selanjutnya, aku pakai eyeliner lagi waktu mau foto bareng teman-teman sedivisiku di PIOGAMA. Kali ini aku pakenya agak tebal, haha. Dan kubikin sedikit winged alias naik di ujung mata, gaya cat eye gitu deh. Yak, kali ini ketahuan kalo pake eye liner, hoho. Waktu masuk ke sekretariat, temen akrabku dari semester 1 langsung nyeletuk "eh, kamu pakai eye liner ya???". Hoaa, untung sekrenya pas sepi. Haha, tapi langsung pada mafhum juga, kan aku mau foto-foto, apa salahnya berpenampilan agak beda :p

24/11/11

Halo Sahabat :')

Se-introvert apapun seseorang, dia harus punya seseorang untuk bercerita dan menceritakan sesuatu untuknya. 

Menurutku sih begitu. Hehe, postingan ini kupersembahkan untuk seorang temanku yang saat postingan ini kutulis terpisah sejauh lebih dari 150 kilometer dariku. Hai teman!! Postingan ini untukmu :D iya ini beneran, aku sedang memenuhi janjiku padamu. Oh iya, seperti sudah kuberi tahukan, sepertinya tidak mungkin aku bisa menyaingi hasil karyamu yang kau buat sekitar..empat tahun lalu. Jadi mungkin ada baiknya kau tidak usah berharap terlalu tinggi :P

Ehm, dimulai dengan kepentinganmu di hidupku ya...
Kamu mungkin sudah hafal, aku itu tertutup, tapi aku beruntung punya teman yang bisa kuajak bercerita kapan saja, tentang apa saja. Kamu dan dia. Dua orang (yang entah beruntung atau sial) sudah mengetahui hal-hal tentangku yang -sepertinya- tidak diketahui orang lain. Pokoknya keberadaan kamu itu sangat-sangat berarti. Beruntung banget aku bisa kenal dan akrab sama kamu. Kamu sudah jadi saksi pada banyak kelabilanku, kekonyolan dan kecerobohan yang sering kulakukan, hal-hal yang ternyata aku ketahui dan tidak aku ketahui, dan lain-lain. Dan kamu sanggup menghadapi semuanya. Waaaw, orang seperti kamu itu benar-benar susah dicari, lho...bayangkan saja, pembaca, ada berapa orang sih, yang mau mendengarkan cerita random-nggak penting-impulsifmu? Yang enggak kabur atau mengalihkan pembicaraan ketika kamu (secara tidak sadar) menunjukkan gestur atau tanda-tanda bahwa kamu ingin curhat tentang sesuatu? Yang berkata "cerita aja" ketika kamu ragu-ragu mau lanjut curhat atau tidak? Yang mau mengerti kamu? Yang selalu punya kata-kata dan solusi yang oke untuk kegalauanmu? Tidak banyak, kan?

See, kamu begitu berarti (enggak apa-apa deh kali ini kamu kegeeran, anggap aja ini bulan baik, November sekaligus Dzulhijjah, hahahaha). Ingat gak, ketika kita saling bercerita tentang hal "itu"? Dulu tiap ada kesempatan kita selalu ngomongin hal itu ya? Seperti enggak ada topik lain saja. Beranjak dewasa (atau tepatnya sedikit lebih tua), kita sadar, ada banyak hal di dunia ini yang enggak kalah menarik dibanding hal itu. Banyak sekali jenis impian yang bisa kita kejar. Akhirnya kita pun sering bertukar impian, saling mendoakan biar keinginan kita masing-masing terkabul. 

Eh, tapi bukan berarti aku menyesal lho pernah menceritakan semua tentang "itu" padamu. FYI, hanya ada dua orang yang tahu pasti tentang "itu", siapa lagi kalau bukan kamu dan dia. Tanpa ikut kuliah psikologi kalian sudah jadi psikologku, haha. Mencoba menyelami keinginan masing-masing, mencoba menormalkan fungsi masing-masing. Menyembuhkan luka satu sama lain. Menggalau bersama. Kadang kita geli mengingat masa-masa itu. Tahap menjadi alay dan ababil rasanya sudah kita lalui dan sekarang kita disini, haha. 

Mulai sejak merebaknya gaya SMS-an aL4y 5ePeRtHi iN1, sampai akhirnya aku khilaf dan memutuskan untuk menjunjung tinggi bahasa yang baik dan benar ketika SMS-an....aku bersyukur persahabatan kita masih ada untuk kita nikmati, rawat dan pertahankan sampai besok kita sama-sama menjadi keriput (woops, maksudku sama-sama tua, tua tidak berarti keriput, aku sependapat denganmu dalam hal ini).

Mulai sejak kita membicarakan hati-hati yang hancur, sampai kita membicarakan rencana masa depan, aku bersyukur bahwa ternyata belum banyak yang berubah pada persahabatan kita. Tidak bisa dipungkiri, sekarang aku dan kamu sudah bukan seperti dulu lagi, sudah punya lebih banyak kesibukan dan urusan. Tapi aku enggak akan bosan untuk SMS-an denganmu, telepon-teleponan, main ke rumahmu, jalan-jalan denganmu, ketawa bareng (semoga kita enggak perlu nangis bareng, tapi aku siap kalau suatu saat memang harus begitu). Semoga kamu juga enggak bosan dengan aku! 

When i was 12 I knew your name. Nothing special, we were just playing together like any tween do.
When i was 16 i told you my crush's name. You told me yours and we were giggling just like any teenage girls do.
When i was 17 i left my hometown for college. I told you i would be missing you and we were spending hours on telephone just like two best friend do.
When i was 20 i told you of how complicated life nowadays. You told me to be strong, you said i could do that, just like any supporter do. 
Other boys will come along, they always do. 
Other friends will come along, they surely do. 
Other responsibilities will come along, they will always do. 
But someday when we were about 65, i hope we would be sitting in my/your beautiful terrace, sipping a cup of tea, laugh about our old days. About our silliness, our gloominess, our old jokes, about everything.
Semoga Allah Mencintaimu karena kau mencintaiku, dan semoga Allah Mencintaiku karena aku mencintaimu!