Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

30/11/14

My Life is a Movie

My life is a movie. I am the main actress but i haven't read all of the scripts. Everytime i get up in the morning, I look forward to see how the story continues. It has a lot of unexpected twist. I want to know all of my story, I desperately want to know. But God makes me wait. Just when I start to forget my curiosity, He gives me a hint. Then another twist.

And I still wait how my story goes.

22/10/14

Kangen Kampus

Beberapa saat yang lalu aku membaca sebuah artikel di internet tentang sisi-sisi kehidupan anak UGM. Bagi yang berminat bisa membacanya  di sini. Setelah membaca artikel itu, mataku berkaca-kaca karena rindu. Huaaa, aku kangen sekali dengan masa-masa kuliah di UGM dulu. Bukan berarti aku tidak bersyukur atas keadaanku yang sekarang, tapi sampai saat ini aku masih merasa bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa yang menyenangkan. Ibarat bayi yang harus lahir dari rahim ibu, saat meninggalkan masa kuliah dan memasuki dunia kerja aku pun menangis. Sebabnya, aku seperti dipaksa untuk keluar dari rahim ibu, dari kenyamanan. Siapa lagi yang memaksa kalau bukan diriku sendiri, hehe. But actually, I like to force myself like that :p

Kembali ke topik utama. Aku merasa beruntung dan senang sekali karena bisa belajar di UGM selama 5 tahun. Kuliah di UGM merupakan cita-citaku sejak SD. Saat ibuku kuliah S2, aku sering diajak pergi ke Jogja, sekalian untuk berlibur. Ibuku selalu mengajakku ikut ke kampusnya, kampus Fakultas Pertanian UGM. Saat memasuki kampus UGM yang luas, aku yang masih berusia 10 tahun langsung terkagum, Kampusnya sangat luas, bus kota masuk dengan bebas. Sejauh mata memandang, tampak para mahasiswa. Mereka tampak begitu dewasa dan pintar-pintar semua. Sepanjang jalan berdiri bangunan-bangunan sederhana yang papan namanya memuat nama-nama luar biasa, misalnya "Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam". Sungguh mengesankan. Dulu, perpustakaannya masih berupa bangunan lama, tapi tentu saja besar dan mengesankan. Sayang dulu, ketika aku masih kelas 5 SD, tak banyak buku-buku di sana yang bisa kubaca. 

Fakultas Pertanian kala itu pun tak kalah mengesankan. Di berbagai penjuru tampak kelompok-kelompok mahasiswa berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak mengerti karena mereka menggunakan banyak istilah teknis bidang keilmuan mereka. Teman-teman ibuku di pasca sarjana pertanian, seperti umumnya para mahasiswa di Jogja, juga ramah-ramah dan baik. Sembari menunggu ibuku mengurus entah apalah di suatu ruangan, aku memandangi rumput di bawah kakiku sembari bertekad. Besok kalau sudah besar, aku mau kuliah di UGM! Keinginan itu menancap benar di pikiranku. I must and I will. Meskipun saat itu aku belum tahu kalau aku akan ingin menjadi seorang Apoteker,

Ketika tiba saatnya bagiku untuk memilih universitas tempatku melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, dengan percaya diri aku memilih UGM, kampus impianku sejak kecil. Bukan, aku bukan murid terpintar di kelas, apalagi di sekolah, Tapi aku, yang selalu berusaha mengandalkan logika ini, ada kalanya bertindak berdasarkan intuisi. Intuisi "I must and I know I will" itu tadi. Seperti lagu Savage Garden yang judulnya I Knew I Loved You before I Met You, hehe. Menurutku, pada pandangan-pandangan pertama, kita telah memutuskan apakah sesuatu atau seseorang itu akan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan kita. Berdasarkan pengamatan kita di awal-awal, kita sudah tahu, kelak kita akan menganggapnya sebagai apa. When I saw UGM for the first times, I know that I must and I will, be there. Intuisi. Walaupun soal UM (Ujian Masuk)-nya susah sekali, tapi entah kenapa aku tenang-tenang saja. Mungkin karena saat itu umurku baru 17 tahun? Bisa jadi.

Aku merasa bahagia sekali ketika ibuku membangunkanku malam itu, dan memberi tahuku bahwa aku diterima di Fakultas Farmasi UGM. Saking bahagianya, aku tak bisa tidur lagi sampai pagi.

Dan tanpa terasa, sudah lebih dari setahun lalu aku lulus dari UGM. Waktu berjalan sangat cepat. It feels just like yesterday when I first spending the night alone in Jogja. I was alone, but I didn't feel alone at all. Semuanya mengalir saja. Senang, sedih, bahagia, galau, warna-warni lah. Semuanya mengalir saja. Beraneka mata kuliah datang dan pergi. Semuanya penting dan jujur, sebagian besar menarik buatku. Sekarang kusadari betapa nikmatnya berangkat pagi untuk kuliah dan praktikum seharian. Belajar dalam keadaan yang tenang dan nyaman. Di dunia kerja, belajar dilakukan sambil melakukan hal lain. Bahkan terkadang, untuk belajar tentang sesuatu yang sebenarnya berkaitan dengan pekerjaan kita, kita harus mencuri-curi waktu. I can't imagine a better place to pursue my bachelor and Apotechary degree, really. Just like I can't imagine to take another major besides pharmacy. Maybe it's my intuition speaking again, tapi beneran deh UGM itu keren banget. Googling sendiri sajalah, kenapa UGM itu keren, hehe.

Oh iya, aku sadar bahwa UGM, meskipun menurutku kerennya selangit, tetap saja mempunyai kekurangan, Kekurangan yang menurutku paling mengganggu dan mendesak untuk segera diperbaiki adalah kurangnya pengenalan terhadap dunia nyata. Dari percakapanku dengan beberapa teman sejawat Apoteker dari universitas lain, UGM (khususnya Fakultas Farmasi) memang lebih unggul di ranah teoritis. Mendalam sekali kami mempelajari orbital yang terlibat dalam reaksi kimia, proses pembelahan sel, proses terpicunya sistem imunitas spesifik, eksitasi elektron yang mendasari suatu analisa kimia, kinetika kimia dalam stabilita suatu zat aktif farmasi, apa yang terjadi antar molekul air dan minyak pada proses terbentuknya korpus emulsi. Mendalam sekali kami mempelajari teori balance score card, hierarki kebutuhan manusia, teori ciri-ciri profesi, teori komunikasi. Well, semua itu penting, namun waktu kami habis untuk mempelajari teori. Kurangnya persentuhanan kami dengan dunia nyata menjadikan kami sedikit kikuk dan terkaget ketika memasuki suatu industri, rumah sakit atau apotek. Maka sekarang aku setuju jika masa PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di industri atau rumah sakit akan ditambah durasinya menjadi 6 bulan dari semula hanya 2 bulan. Aku pun setuju jika sebaiknya kuliah tamu dari berbagai golongan praktisi ditambah frekuensinya. Sedangkan bagi mereka yang memang tertarik untuk mendalami teori, dapat melanjutkan studinya ke jenjang master alih-alih mengambil program profesi Apoteker. 

Praktikum-praktikum yang ada pun menurutku terlalu sederhana dan perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini di dunia nyata. Memang mahasiswa yang cerdas akan mampu menyari prinsip dari praktikum-praktikum yang ada untuk kemudian diterapkan dalam pengujian-pengujian lain yang lebih canggih di kemudian hari. Namun ada baiknya Farmasi UGM juga memperbaiki diri dengan memperbarui topik-topik praktikum yang telah ada. Akan lebih baik jika praktikum yang ada dirancang untuk lebih menggali kemampuan mahasiswa dalam berpikir mandiri, namun dengan tetap memelihara budaya teamwork. Mata praktikum yang telah menerapkan hal ini antara lain adalah praktikum Analisis Farmasi dan Analisis Obat, Kosmetika dan Makanan. Yang mana pada dua praktikum ini (which I proudly had ever been working at, as a technical assistant, hehe), praktikan harus mencari metode analisa untuk menganalisa suatu sediaan farmasi. Setelah itu, mereka harus mengkonsultasikannya pada dosen pembimbing sebelum menerapkan metode itu saat praktikum. It was fun, really. Meskipun ada juga yang masih mengandalkan laporan kakak kelas sebagai sumber metode analisa, tapi lumayan lah, enggak terlalu copy-paste banget. Karena kita harus mempertahankan metode itu di depan dosen pembimbing praktikum, jadi setidaknya kita harus paham tentang metode yang kita usulkan dan akan kita terapkan. Kira-kira seperti itu juga tahap pengembangan metode analisa di the real laboratory.

Ah, lagi-lagi tulisanku melebar kemana-mana.
Intinya, aku akan membeli kalender UGM 2015 di Kopma, untuk kemudian dipajang di meja kantor sebagai penawar rindu (atau malah akan semakin menambah rindu?).

Well,Have a nice day, readers :)

29/10/13

Jogja Memang Istimewa

Lima tahun lamanya aku menetap di Jogja untuk kuliah. Pulang ke Kudus sekali-sekali. Waktu hendak pertama kali pergi ke Jogja untuk menetap, sama sekali tidak ada rasa takut. Entah kenapa. Mungkin karena aku sangat excited untuk kuliah di fakultas impianku, di kampus impianku. Aku tidak terlalu memikirkan, bagaimana kalau aku homesick, bagaimana kalau aku tidak bisa menyesuaikan diri, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Aku mantap-mantap saja berangkat. Mungkin karena di sana aku mendapat teman-teman yang bener-bener tulus dan baik, karena ibu kosku care, atau karena Jogja memang kota yang menyenangkan, aku langsung merasa kerasan. Ternyata jadi mahasiswa yang ngekos itu enggak susah kok. 

Lima tahun di Jogja, banyak sekali kenangan yang kubuat bersama orang-orang di sana. Tidak semuanya indah sih, sekali lagi tidak semuanya indah, tapi pasti secara keseluruhan, kenangan-kenangan itu manis buatku dan aku enggak yakin apakah aku bisa melupakan semuanya. Di kampus, di kos-kosan dan di berbagai sudut di seluruh penjuru Jogja, aku membuat kenanganku sendiri bersama orang-orang yang kukenal di sana. Kadang pula aku pergi sendirian, tak jadi masalah. Aku kangen pada beberapa jalan di Jogja, kangen sekali. Thanks to ingatanku yang kadang enggak penting, setiap kali melewati jalan tertentu, kadang ingatanku tentang kejadian-kejadian yang terjadi di jalan itu muncul sedetail-detailnya di otakku. Lengkap dengan ingatan exact tentang hal yang kupikirkan dan kurasakan saat itu. Ah! 

Jogja benar-benar istimewa buatku.

Mungkin orang yang belum pernah tinggal beberapa lama di Jogja dan tidak menjalin hubungan dengan orang-orang di Jogja, tak akan bisa mengerti keistimewaannya.

Jujur saja, menjelang kepergianku dari kota ini, berhari-hari lamanya aku cuma tidur kurang dari 5 jam sehari (rekor banget buat aku). Aku susah tidur dan ketika terjaga, mataku langsung melek semelek-meleknya menyadari bahwa aku akan segera pergi dari Jogja. I was crying on the train that taking me away from Jogja. Perjalanan yang berat buatku. Bukan karena aku malas atau takut memulai pekerjaanku, tapi...meninggalkan sesuatu yang telah lama kita pegang itu berat sekali, kan? Makin menjauhi Jogja, kurasakan makin kuat cengkeraman daerah itu padaku. Aku ingin turun di stasiun terdekat dan asal naik saja kereta apapun yang menuju ke timur, aku mau tinggal di Jogja saja. Tapi aku enggak punya pilihan itu, kan.

Sekarang sudah sebulan lebih dua puluh hari aku tidak menginjak tanah Jogja. Rekor terlamaku, bahkan dulu ketika aku mendapatkan libur akhir semester selama dua bulan, aku masih mencari alasan untuk pergi ke Jogja. Sekedar untuk mengisi KRS dan tentu saja menemui teman-teman. Sekedar tidur semalam di kosku yang nyaman. 

Tak bisa kupungkiri bahwa hal yang membuatku sangat mencintai Jogja adalah orang-orang yang kutemui di sana. Aku bersyukur banget karena aku mendapatkan beberapa (lumayan banyak) sahabat dan teman baik selama kuliah di Jogja. Persahabatan yang dalam dan tulus itu benar-benar ada, persahabatan-persahabatan itu bersemi dan tumbuh di Jogja. Entah kenapa, persahabatan yang kubentuk dari bangku kuliah itu terasa lebih dalam dan mengasyikkan. Mungkin karena aku makin bertambah usia, sehingga aku makin memerlukan orang untuk berbagi. Untuk bercerita dan menceritakan sesuatu padaku. Mengenal orang sedalam-dalamnya sehingga akhirnya kita bisa mengenalnya lebih dari sekedar "yang terlihat dari luar" itu ternyata menyenangkan dan fulfilling. Serasa hidup lebih berarti deh, hehe. Ah, beruntungnya aku sudah mengenal mereka. Namun kenapa ya, ketika satu persatu dari mereka mulai meninggalkan Jogja sepertiku, aku masih cinta dan kangen sekali sama Jogja? Mungkin Jogja itu memang merupakan setting yang pas untuk kenangan-kenangan indah. 

Menurutku, kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul (3 kota dan kabupaten yang paling sering kukunjungi di provinsi DIY), semua relatif bersih dan teratur. Seperti Kudus juga, enggak jorok lah kotanya. Tidak semua kota dianugerahi ke-tidak-jorok-an seperti itu lho. Di Jogja, kita bebas berjalan kaki kemanapun tanpa takut akan menginjak sampah atau terkena lumpur hitam yang baunya enggak enak. Walaupun sekarang mulai sering macet, tapi jalanan di Jogja masih relatif teratur. Makanan di Jogja juga enak-enak dan masih relatif murah. Aku enggak suka gudeg, tapi itu bukan halangan, masih banyak pilihan lain. Terus orang Jogja itu mayoritas ramah-ramah banget. Ya ada juga sih yang judes, tapi mereka yang judes itu adalah para outlier yang jumlahnya enggak banyak, haha. Di Jogja, mau cari apa-apa juga gampang. Dari barang paling sederhana sampai paling canggih, bisa didapat. Maklumlah, Jogja kan kota pelajar sekaligus kota pariwisata. Jadi para pengusaha kreatif di Jogja pun berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhan para pendatang maupun para turis yang maunya kadang aneh-aneh, hehe. 

Parahnya, sepertinya aku lebih hafal tempat-tempat di Jogja daripada di Kudus :o Ya, buatku Kudus itu akar, asal. Sejauh apapun aku melangkah hari ini dan nanti, aku akan selalu ingat akarku. Dasarku. Kudus juga rumah buatku, kan ayah dan ibuku ada di sana (meskipun sekarang ibu dan adikku pun sedang menuntut ilmu di Jogja, ahhh beruntungnya mereka). Kudus adalah tempat aku akan selalu kembali. Kudus yang tenang dan simpel, Kudus yang kecil dan nyaman untuk ditinggali. Kudus itu ibarat orang tua. Namun Jogja ibarat teman. Teman yang selalu menyambut kita kapanpun kita meninggalkan rumah. Teman yang selalu siap sedia menemani kita bersenang-senang, juga menampung kesedihan kita. If Kudus is calm and reserved, then Jogja is fun and friendly.

Aku enggak tahu siapa yang menciptakan slogan "Yogyakarta Berhati Nyaman", mungkin ia seseorang yang lama tinggal di Jogja kemudian pernah pergi meninggalkan Jogja; kemudian tiap kali kembali ke Jogja, hatinya terasa nyaman kembali. Mungkin. Bukan cuma aku lho yang kangen sekali sama Jogja, banyak teman-teman kuliahku yang sekarang sudah meninggalkan Jogja sepertiku juga merasakan hal yang sama. Jogja memang istimewa. Jogja selalu menarikku untuk kembali. Tak lama lagi, insyaallah. Walau sekedar tuk memuaskan mata, hati dan telingaku akan suasana Jogja. Dan tentu saja untuk menemui sahabat-sahabat :)

Akhir kata, aku ingin menutup postingan lebai penuh kerinduan ini dengan sebuah lagu dari band Everyday, judulnya "Kapan ke Jogja Lagi". Ah, lagu ini aku banget.


Kapan ke Jogja Lagi
(Everyday)

Berbagi manisnya secangkir teh hangat
Menikmati canda dan tawa di sudut jalan
Duduk dan santai, sekedar cerita bersama sahabat
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Oh, kali ini aku jatuh cinta
Bukan pada orang, tapi pada suasana dan kota
Kenangan indah dan manis hias tawaku penuh riang
Hatiku nyaman, hatiku senang, dududududu

Seribu kenangan dan kisah buatku ingin kembali
Nikmati lagi, jatuh cinta lagi
Hati indah dan ceria kan selalu aku rindukan
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Dan hatiku bertanya, kapan ke Jogja lagi? 
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan?

Jogja menyimpan banyak cerita
Kisahku, kisahmu dan mereka....

:))))

15/09/13

Rantau 1 Muara by Ahmad Fuadi (A Far From Professional Review by Me)

I am so into Indonesian auto-biography novels. I had ever written how much i like Laskar Pelangi and Negeri Lima Menara series. I love to read or listen other people's success stories: how they struggled and succeed, their ups and downs. I like real stories better than fiction. 

So, right after my big exam some months ago i bought a really, really good novel. It is the last novel of Negeri Lima Menara Trilogy. I think this book is the best between the three books of the trilogy. And i am so thankful that i read that book at the right time, right at the time i needed it the most. This book is so inspiring for me. Ahmad Fuadi, the writer, wrote his hope on writing his last novel:

"Bagi anda yang sedang heboh mencari kerja, yang sedang harap-harap cemas menanti jodoh dan yang sedang berjuang mencari makna hidup. Mungkin novel ini bisa jadi penggelora pencarian-pencarian besar itu" (Fuadi, 2013).

Well, I can say that his hope is coming true, at least for one of his readers. Me :)
I want to emphasize again that i think i read (verb-2) this novel at the right time. That times, I was about to graduate from university and i was questioning many things. Some big, fundamental things regarding my future and I was confused. This novel was kind of..inspiring and saving me, haha. 

This novel, just like the two previous novel, tells us about Alif's life, adapted from Ahmad Fuadi's real life stories. This novel tells his life after he finished his glorious university years (due to his hard work and determination he had been joining student exchange program and earned some great experiences and achievements). Yep, he had to go back to Indonesia to get a job because he should support his mother and his sister financially. Unfortunately for him, he graduated in the wrong time. The time that Indonesia had a monetary crisis and political instability, so it was so hard to find a job. He caught in debt. Once a multinational company would hire him, but before he even started working, he was fired due to economic and political instability. I could imagine how he felt at that time. I think I know exactly how he felt, haha. He was the best student in his class, yet he got rejected everywhere. He had to face rejection, desperation and debt collector...reading his story, I couldn't help but think that I am luckier, at least my financial condition is better than his. My parents are perfectly capable of supporting me. But to get a job is not just about the money and financial independence, right?

Well, everything happens for a reason. For Alif, the reason why he didn't make it to that multinational company was because Allah had made a beautiful scenario for his life. He ended up got a job as a journalist in a well-known idealist media. A job that brought him to the love of his life. Yup, he met Dinara, a woman journalist and fell in love with her. The first time he looked into her eyes, he couldn't get his mind off her. They came from different background. Alif was a new journalist whose salary had to be shared with his mother and sisters; yet Dinara was a rich people's daughter. But they had tons of meaningful yet fun conversations and got to know each other better. Alif then found out that Dinara was not another trendy girl. She was different. Tons of conversations later brought them closer than ever and eventually everyone in their office knew that there was something special between them. 

Just when everything about them seemed right, Alif had to go to United States to pursue his dream to study there. Knowing he was about to go to US, Dinara pulled back from him. She didn't even talked to him and acted so aloof until his last day in Indonesia. Honestly, I cried on the last paragraph of page 193, haha. Does everyone in their 20-s have to experience that feeling? Galau, ragu, takut, bingung, ingin menyerah? Maybe.

Thank God, just before he left for his flight, DInara told him, "call me!". He thought about her and her last message on his flight and called her right after he landed in US. Long story short, Alif said that he felt so close to her regardless the fact that they were on two different sides of the world. They communicated via e-mail, chat and phone call. But deep down, Alif felt unsure about their relationship. He called their relationship by "Undefined Long Distance Relationship", a phrase he coined by himself. That was until he attended a pengajian in Indonesian Embassy titled "Lima Langkah Mencari Jodoh dan Memulai Rumah Tangga". Allah has always make a way to make something happens. Allah will grant our wishes, at his own time, by his own style. Kun Fayakun, Alif proposed to DInara via webchat and after negotiating with Dinara's parents, they got married in Indonesia. 

After marriage, Alif and Dinara went to US. Ahmad Fuadi conveyed that marriage is not easy. Life doesn't magically turn beautiful, fairy tale-like stories after marriage. After their first fight, Alif found out that marriage really is about sharing and understanding, not about asking and hoping. Together, they faced everything in their life. Just like Billy Joel's song, they took the good times and bad times. Together, they live their live for one purpose, God. The Entirely Merciful, The Sovereign. Muara segala muara.

"Hidupku kini ibarat mengayuh biduk membelah samudra hidup. Selamanya akan naik-turun dilamun gelombang dam ditampar badai. Tapi aku tidak akan merengek pada air, pada angin, dan pada tanah. Yang membuat aku kukuh adalah aku tahu ke mana tujuan akhirku di ujung cakrawala. Dan aku tahu aku tidak sendiri. Di atas sana, ada Tuhan yang menjadi tempat jiwa ragaku sepenuhnya bertumpu. Di sampingku ada Dinara. Temanku merengkuh dayung menuju muara. Muara di atas muara. Muara segala muara" (Fuadi, 2013).

I have read this novel several times, over and over again everytime I feel like I need. Sometimes, I compare my own stories with Alif's stories. I haven't reached my final conclusion about my life, and I probably won't reach it immediately. But I will keep walking for my life, or keep running for that matter, if it is what it takes. Because "man saara ala darbi washala", siapapun yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Whoever walks in his/her way will eventually reach his/her destination. 

Thank you Ahmad Fuadi, for sharing your life stories through this beautifully written novel. I might not have reached my destination(s) yet, but I am sure I will. Because I will keep walking and I have Allah With me :)



References:
Fuadi, A., 2013, Rantau 1 Muara, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

29/01/13

Catatan Sebelum PKPA

(PKPA: singkatan dari Praktek Kerja Profesi Apoteker; semacam magang buat mahasiswa program Profesi, salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Apoteker. Kalau di kampusku sih, kami diwajibkan untuk melakukan PKPA di industri farmasi/rumah sakit selama 2 bulan, di puskesmas selama 2 minggu dan di apotek selama 1 bulan., Red.).

Saat ini aku sedang mencari e-books tentang farmasi industri, sekedar untuk menyibukkan pikiran dan mencoba menutupi beragam rasa yang campur aduk di kepalaku. Besok aku akan berangkat ke Bogor (lokasi PKPA-ku) dan mulai besok Jumat PKPA-ku sudah dimulai. Kukira aku itu orang yang cuek dan akan enteng saja meninggalkan orang-orang di sekitarku kalau memang aku perlu. Namun memang manusia itu sering salah dalam memperkirakan dan melakukan sesuatu. Haha, iya sih, bahkan dalam proses-proses di industri, kesalahan manusia itu sangat dimaklumi, kan? Walaupun kesalahan itu memang harus diminimalkan dan dideteksi secepat mungkin.

Ngomong-ngomong tentang meninggalkan zona nyaman kita, aku pernah baca sebuah buku berjudul Negeri Lima Menara. Menurut buku itu, hendaknya kita jangan pernah merasa enggan atau takut untuk merantau. Di perantauan akan kita temukan teman-teman baru. Bukan teman baru saja sih, tapi pengalaman dan ilmu baru juga, yang akan membuat hidup semakin fulfilled.

Ya, teorinya sih seperti itu...tapi kenyatannya? 
Sampai kemarin sore, memang aku belum merasa khawatir sama sekali. Aku datang ke Bogor untuk belajar kok, aku akan berusaha sebaik mungkin. Kalaupun aku berbuat salah, ya udah enggak apa-apa, aku yakin  semuanya akan baik-baik saja. Manusia kan sudah dirancang untuk menghadapi masalah. Pokoknya aku mantap banget mau berangkat ke sana. Bahkan, aku sudah menentukan sound track yang sesuai untuk PKPA-ku besok, yaitu lagu "New York" yang diciptakan dan dibawakan oleh Alicia Keys (penting banget ya? hahaha). Namun kemarin sore, saat berkumpul bersama teman-teman dan seorang 'kakak wanitaku' di Jogja, aku jadi sadar bahwa menjalani PKPA industri di bulan Februari-Maret (seperti yang akan kujalani ini) artinya harus siap untuk tidak bertemu dengan teman-temanku itu selama 4 bulan, bahkan mungkin lebih. Kenapa? Karena semua, ya, SEMUA teman-teman akrabku itu (yang seangkatan dengan aku) akan menjalani PKPA di luar kota pada bulan April dan Mei. Artinya, saat PKPA industriku selesai dan aku kembali ke jogja, gantian mereka yang meninggalkan Jogja. PKPA baru selesai di akhir Mei. Bahkan ada teman akrabku yang PKPA sampai pertengahan Juni karena memang tempat PKPA-nya mempersyaratkan demikian :( 

Menyadari hal itu, saat itu aku enggak menangis, aku enggak bilang apa-apa. Aku cuma terdiam. Mikir. Oh my God....Januari belum berakhir dan paling cepat aku baru bisa ketemu mereka di awal Juni? Semakin lama memikirkan kenyataan itu, aku jadi sedih. Jangan-jangan, selama PKPA ini aku akan jadi sibuk sekali dan mereka juga akan jadi sibuk sekali dengan aktivitas masing-masing? Begitu sibuk sehingga kami enggak akan sempat untuk saling menanyakan kabar, bercanda, saling meledek atau sekedar ngobrol? Aku tahu sih, kalau PKPA di tempat lain itu artinya kami enggak akan bisa jalan-jalan atau kumpul bareng. Tapi kalau untuk sekedar ngobrol saja enggak sempet? I know, the last thing I wanna do is to disturb them. Aku enggak ingin mengganggu mereka, jangan-jangan mereka lagi sibuk. Sedih banget kan. 

Kubilang di awal, kukira aku itu orang yang cuek dan akan enteng saja meninggalkan orang-orang di sekitarku kalau memang aku perlu. Namun sekarang, aku tahu kalau ternyata aku itu enggak cuek-cuek banget. Buktinya aku takut. Aku takut, selama masa PKPA nanti, apakah kami masih bisa keep in touch? Aku takut, setelah PKPA industriku selesai dan aku kembali ke Jogja, nanti aku main sama siapa? Aku ngobrol sama siapa? Siapa yang kuajak bercanda? Siapa yang bisa kuajak jogging bersama di sabtu atau minggu pagi? Siapa yang ngajak aku jalan-jalan? Secuek-cueknya dan seintrovert apapun aku, aku juga masih punya kebutuhan sosial dong. Masih lumayan sih, begitu aku balik Jogja awal April besok masih ada temen-temen dari PIO yang tidak seangkatan denganku. Namun jangan-jangan mereka juga sibuk dengan skripsi masing-masing? Aaaahh, sungguh aku takut >,<

Hmm, begitulah catatanku sebelum PKPA. Memang agak bernuansa galau sih, harusnya kuberi peringatan di awal tulisan bahwa sebaiknya pembaca mengabaikan saja tulisan ini karena tulisan ini hanyalah ungkapan ketakutan dan kekhawatiran saja. Tulisan ini mungkin tidak memberi manfaat apapun untuk para pembaca, malah jangan-jangan tulisan ini menyeret pembaca ke perasaan negatif. Aku tahu, bagaimanapun PKPA ini harus dijalani dengan baik, enggak peduli apakah kita PKPA bareng temen-temen akrab atau tidak. Aku berdoa aja, semoga di sana aku bertemu dengan orang-orang baru yang juga tulus dan baik hari, namun bisa  tetap akrab dengan teman-temanku yang sekarang. Semoga semuanya lancar sesuai harapanku. Semoga ya Allah :')




03/09/12

Hmmm, tampaknya aku telah berlibur terlalu lama sehingga kaget ketika dihadapkan dengan tugas-tugas yang mendadak datang mengganggu keceriaan bulan syawal tahun ini.
Kesibukan ini, tuntutan ini, anggaplah sebagai pemanasan untuk kuliah profesi besok :)
Then again:
"Work and play are two words used to describe same thing under different conditions (Mark Twain)"

04/05/12

2 Kali untuk Selamanya (Ujian Skripsi Tertutup)

Zingggg!
Pikiran yang pertama kali terlintas begitu bangun tidur pada tanggal 2 Mei 2012! Apalagi kalau bukan tentang "itu"!, yah, benar, "itu"! Pikiran itu bukanlah "Waduh, Hardiknas, upacara jam 7 nih, hwaahhh" (emang aku anak sekolahan, sayangnya sudah bukan, hehe). Ya, hari itu bukan sekedar Hari Pendidikan Nasional buatku. Hari itu juga merupakan hari ulang tahun PIOGAMA, tapi bukan itu pikiran yang terlintas di pikiran ketika pertama kali bangun tidur. Hari itu merupakan hari ujian skripsiku. Hari itu penting buatku, soalnya tertanggal sejak 15 September 2011 aku sudah mulai melakukan sesuatu untuk menghasilkan skripsi ini. Sudah hampir 9 bulan, dan mungkin aku tidak punya cukup kekuatan untuk memikirkannya lebih lama.

Kuakui, kadang aku semangat banget dan menikmati proses pembuatan skripsi ini. Tapi sering juga aku mikir yang enggak-enggak, misalnya, "gimana ya kalau seandainya dulu aku ... dan bukannya ...", pokoknya berandai-andai lah. Padahal setelah dipikir lagi, nikmat Allah mana yang akan kudustakan, lha wong penelitian juga gratis, dosennya baik hati, hebat dan keren lagi. Dosenku praktis orangnya, enggak ribet, cocok banget buat aku. Temen nge-labku juga baik, sahabatku sendiri, manis dan yang paling penting, tulus orangnya. Paling enggak aku kerja bersama dua orang (teman ngelab dan dosenku) yang baik hatinya, kan? Namun kadang aku merasa enggak tahan lagi dan pingin teriak sekeras-kerasnya serta ingin mengubur semua hal yang berkaitan dengan skripsi itu dalam-dalam kemudian enggak akan aku ambil lagi seumur hidupku. Sayangnya (atau untungnya?) aku enggak punya pilihan itu kan? Hehe....konon katanya, satu-satunya pilihan untuk menghilangkan kegalauan skripsi adalah dengan mengakhirinya secara baik-baik. Jadi? Kumpulkan saja draftnya. Selesaikan apa yang sudah kita mulai.

Begitu aku memasukkan draft skripsiku ke akademik (artinya, aku menyerahkan diri dan skripsi untuk dieksekusi alias disidang), mendadak aku bermimpi buruk dan jerawatan gedeeee banget di pelipis kiri. Tiba-tiba segala jenis hiburan menjadi kurang menarik. Aku pernah baca, kehilangan minat pada hobi atau hal-hal yang disukai merupakan gejala-gejala orang depresi! Masyaallah, amit-amit jangan sampai. Tapi memang aku membatalkan rencana dolan bersama teman-teman ke Gua Pindul tanggal 28 April. Untung acaranya akhirnya beneran dibatalin. Jadi enggak nyesel deh, hehe. Sebut saja aku lebai, tapi memang begitu kenyatannya. Setelah lari-larian selama beberapa untuk janjian dengan ketiga dosen penguji (dua dosen penguji dan satu dosen pembimbing, sebenarnya) serta mengurus administrasi di fakultas, akhirnya dipastikan aku akan ujian tertutup pada tanggal 2 Mei 2012. Aku senang, karena hari itu bertepatan dengan Hardiknas. Lagipula pada hari itu, ketiga dosen pengujiku free alias enggak ada agenda lain sampai jam 3 sore. Later, aku tahu kalau dosen pembimbingku ada acara jam 10 pagi (bertepatan dengan waktu ujianku), tapi akhirnya beliau membatalkan acara lain itu. Kurang baik gimana coba?

Persiapanku untuk menghadapi ujian sih, mungkin standar. Enggak ada cerita begadang sampai pagi, seharian membaca buku, atau kisahku sedang melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim lainnya. Pola hidup tidak berubah, cuma jadi panik aja. Untuk meyakin-yakinkan diri, selain bertanya ke para kakak kelas yang sudah pernah menghadapi ujian tertutup, ya....aku baca-baca skripsi sendiri dan baca referensi. Enggak ngoyo juga sih, masih sempat buka FB dan 9gag kok. Kan buat selingan biar enggak stres, hehe...tidak lupa menyiapkan presentasi juga. Setelah sekitar seminggu berada pada fase panik dan merasa rendah diri (alias enggak siap), akhirnya aku pun move on ke fase pasrah. Dan setelah melewati fase pasrah, move on lah aku ke fase (agak) percaya diri. Sengaja aku tulis (agak) percaya diri, karena sebenarnya, seyakin-yakinnya aku terlihat bagi orang lain dan sekecil apapun ketidak yakinan itu, tapi ketakutan itu pasti ada. Wajar ah menurutku.

Aku bersyukur banget ada dukungan dari orang tua, temen-temen dan dosen pembimbing. Aku ingat, dosen pembimbingku bilang, "Wajar saja kalau mahasiswa masih salah-salah (ngomong), kan baru pertama kali itu ikut ujian skripsi. Kalau saya kan sudah tiga kali (maksudnya beliau sudah pernah ujian skripsi, tesis dan disertasi-Red)", dan "Mahasiswa enggak bisa menjawab pertanyaan saat ujian itu wajar terjadi, enggak usah khawatir". Kalau enggak ada mereka, mungkin selamanya aku akan berada pada fase panik (sehingga malah enggak bisa konsentrasi belajar), atau lebih buruk lagi, terpuruk di fase pasrah sehingga enggak berusaha sama sekali. Pokoknya, kumpulkan dukungan sebanyak-banyaknya, lah. Kalau ditanya kabarnya gimana, ceritakan aja kalau kita mau ujian skripsi terus minta didoain, hehe. 

Fase (agak) percaya diriku sebenarnya muncul agak terlambat, menurutku. Tapi fase itu menyenangkan karena rasanya apapun yang kupelajari nyangkut di otak karena aku rileks (sebenarnya emang aku cuma belajar hal-hal yang kiranya bakal aku mengerti sih, yang sulit-sulit aku tanyain ke dosen atau teman yang lebih mengerti aja, haha...daripada malah stres lagi kan?). Dan pada fase itu terasa ketenangan yang sangat menolongku untuk tidur nyenyak dan berpikir jernih menjelang ujian. Menjelang ujian, lagi-lagi aku merasa sangat bersyukur punya orang tua, saudara dan teman-teman yang baik hati banget, enggak ragu buat menawarkan bantuan apapun yang kiranya aku perlukan. Mulai dari doa, dana, kata-kata penyemangat, nasihat, ilmu, jasa (belikan snack, ngatur LCD, meminjamkan laptop sampai ngambilin draft skripsi yang disebabkan atas kecermatanku (baca dengan nada sarkastik) ternyata tertinggal di kost saat ujian, dan lain-lain), pokoknya top. 

Dan sekarang ujian tertutup sudah selesai. Rasanya Allah dan semesta-Nya mendukungku karena para dosen pengujiku sepertinya ceria banget pagi hari itu. Atau karena hari itu Hari Pendidikan? Wallahu'alam, tapi saat mulai mengucap salam untuk mereka, tenang rasanya. It just felt right, berdiri di situ, mulai presentasi dan ditanya-tanya. Walaupun sebenarnya ada juga pertanyaan yang enggak bisa kujawab dan ada juga yang kujawab dengan ragu-ragu. Haha, entah kenapa hal itu enggak mengurangi kelegaanku ketika akhirnya tidak ada lagi pertanyaan dan dosen pengujiku menutup sesi ujian tertutup itu. Beliau kemudian memintaku keluar ruangan sebentar karena mereka akan memutuskan hasil ujianku. Ketika aku keluar, teman-teman menunggu di depan ruangan, dan dari mereka aku tahu bahwa ternyata aku hanya menghabiskan waktu sekitar 70 menit saja di dalam ruangan itu. Entah sudah matang atau belum hasil dadaran ini, haha. Tapi malah bagus ding, cepat begitu. Aku malah suka. 

Alhamdulillah sudah selesai ujian tertutup, tinggal mempersiapkan ujian terbuka. Oh iya lupa, ada revisi juga, hehe. Ingat pesan bapak dosen pembimbing dan ibu dosen penguji saat hendak meninggalkan ruangan, "Cepat diselesaikan ya mbak".
Oke, challenge accepted! Good luck to myself :D 

27/03/12

Saya sedang Ingin Berpetualang

Aku pingin jalan-jalan ke tempat yang baru dan kalau bisa, tempat yang menantang. Ingin tahu sejauh mana aku berani. Pinginnya sih, jadi backpacker alias menempuh liburan gaya ransel! Tujuannya, salah kota di Jawa dulu sih. Kota-kota yang ada pantainya, dong! Pacitan, Pekalongan, Cilacap, Sukabumi, Kebumen (ke pantai Ayah alias pantai Logending, kalau liat foto2nya sih, wow, bagus banget!), Sukabumi, Cirebon, ke mana aja deh yang ada pantainya....asal jangan ke Rembang sama Jepara aja. Bukan apa-apa, aku sudah pernah, kalau tidak bisa dikatakan sudah sering, kesana. Mana unsur petualangannya? Jangan ke pantai-pantai di Bantul dan Gunungkidul juga. Kalau pantai di Gunung Kidul bagus-bagus sih, Bali lewat deh menurutku...tapi kan sudah pernah!

So my crazy idea goes like this: Selesaikan skripsi, sembari menunggu kuliah profesi dimulai, jadi back packer . Jalan-jalan ke beberapa tempat gitu. Di masing-masing tempat, enggak usah lama-lama. Cukup satu malam saja. Tiba saat sore, lihat sunset, tidur, bangun lihat sunrise, menikmati pantai sampai tengah hari (kena matahari bentar, main air, cari kerang, lempar kerang ke laut, foto-foto), terus pergi. Sudah, begitu aja. Ya, kalau kotanya bagus dan banyak daya tarik lain, bolehlah tinggal agak lama. Sebenarnya ini masih direncanakan sebagai tahap latihan sih, kan nanti saat sudah kaya aku pingin ke Nusa Tenggara, Belitung, Sulawesi, Ambon, Papua, Sumatera, ke mana saja impian dan uang hasil kerjaku sendiri membawaku, hahahahaha....yang jelas ingin kuhabiskan hidupku (wew, lebai banget) untuk mensyukuri kekayaan alam Indonesia yang Dianugerahi garis pantai dengan panjang enggak kira-kira ini. Pantai di Indonesia itu banyak dan diantara yang banyak itu, pasti lumayan banyak yang bagus-bagus. 

Kemarin aku nonton liputan tentang dua orang yang berlibur ke salah satu pulau di Sumatera Utara, waaaa...bagus banget!!! Pasir putih, airnya kelihatan biru sekali (karena jernih dan cuaca cerah). Dan yang paling spektakuler adalah, di pulau tersebut ada air terjun yang mengalirkan air tawar jernih ke laut!!! Enggak kira-kira nih bagusnya, exquisite! Kalau aku ada disana, mungkin aku bengong aja saking terpesonanya melihat pemandangan itu. Soalnya, lihat dari televisi aja sudah tergiur...aku yakin pemandangan di lapangan lebih indah dari itu. Hmmm, pokoknya entah berapa kali dalam hidup, aku harus pergi ke pantai yang indah sekali seperti itu (selain ke pantai Sundak pastinya, hihihi).

Oh iya, mungkin tidak hanya ke pantai saja, aku juga ingin ke obyek wisata lain yang menjadi simbol etalase keindahan alam Indonesia, seperti ke Danau Kelimutu, padang pasir Bromo, puncak Jaya Wijaya, Danau Toba, Pulau Komodo, dan lain-lain. Oh iya, main ke Kalimantan juga. Pingin lihat seperti apa sih hutan tropis yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia, syukur-syukur bisa lihat angggrek hitam (walaupun katanya sekarang hutannya banyak yang rusak, sedih banget T.T).

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu (Arai). Siapa tahu nasibku seperti Ikal dan Arai dalam novel Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata.

Pink Beach di Pulau Komodo, NTT
(bagaimana aku enggak kepingin?)
SUMBER GAMBAR : indotur.blogspot.com

19/12/11

Selesai

Yap, insyaallah selesai sudah salah satu tanggung jawabku di tahun 2011 ini. Ngelab skripsi? Oh sayangnya bukan, haha. Tanggung jawab yang sudah kupindah tangankan ke orang lain ini adalah menjadi Artowati alias bendahara PIOGAMA. Ya, buatku ini tanggung jawab yang besar. Rasanya seperti disuruh ikut kejuaraan equestrian di SEA Games, padahal satu-satunya jenis pengalamanku dengan kuda hanyalah naik kuda di tempat wisata sambil ditemani oleh sang pawang yang berjalan sambil memegang tali kekang kuda yang kutunggangi. Totally clueless. Seringkali jadi galau.

Somehow, semua itu sudah berlalu. Tidak akan kulupakan waktu-waktu dimana aku menagih uang buletin, menghitung uang jutaan rupiah di malam hari, menukarkan berkilo-kilo uang logam menjadi lembaran-lembaran uang kertas, membuat laporan keuangan, mengambil uang berjuta-juta rupiah dari ATM, berkutat dengan file laporan keuangan disela-sela berpacu dengan deadline laporan, rapat pengurus harian setelah ngelab skripsi (sesampainya di kos aku hanya mampu bengong, kehabisan energi mental, haha). Belum lagi panik luar biasa ketika kukira ada sebuah nota bernilai 1,25 juta rupiah yang hilang (ternyata ada di map -.- padahal sudah sempat panik level 9). 

12 bulan itu terasa singkat sekarang. Bukannya aku pingin jadi bendahara lagi, bagaimana nasibnya skripsiku nanti. Tapi memang waktu berlangsung terlalu cepat. Dan ternyata semasa kepengurusanku adalah masa dimana terjadi saldo kas terbesar sepanjang sejarah PIOGAMA. Salut juga sih dengan rekan-rekan disini, membawa kelompok studi ini jadi lebih wow daripada tahun-tahun sebelumnya. Bukan pamer lho, tapi emang beda banget organisasi ini saat pertama kali aku masuk dengan sekarang ini. Saldo di kas hanya salah satu indikator.

Rasanya seneng banget ketika laporan pertanggung jawabanku sudah disetujui, tidak ada yang perlu diubah lagi setelah dua kali revisi (iya revisi, anggap saja latihan bikin skripsi -,-). Menjelaskan hal-hal teknis ke bendahara yang baru. Datang dan duduk manis di rapat pertanggung jawaban. Selesai.

Kukira kegalauan itu akan hilang setelah tugasku selesai. Ternyata manusia selalu punya alasan untuk galau, haizzzzz! Mungkin kemarin aku mikirin uang melulu jadi hal-hal lain disingkirkan oleh otakku. Eaaa, dan sekarang hal-hal lain, termasuk hal-hal kecil yang random juga bersliweran ke otak. 

Mungkin kesibukan benar-benar bagus untukku. Kesibukan tanpa tanggung jawab dan komitmen ke orang lain. Pingin les bahasa Arab!
Ouch, totally random.

24/11/11

Halo Sahabat :')

Se-introvert apapun seseorang, dia harus punya seseorang untuk bercerita dan menceritakan sesuatu untuknya. 

Menurutku sih begitu. Hehe, postingan ini kupersembahkan untuk seorang temanku yang saat postingan ini kutulis terpisah sejauh lebih dari 150 kilometer dariku. Hai teman!! Postingan ini untukmu :D iya ini beneran, aku sedang memenuhi janjiku padamu. Oh iya, seperti sudah kuberi tahukan, sepertinya tidak mungkin aku bisa menyaingi hasil karyamu yang kau buat sekitar..empat tahun lalu. Jadi mungkin ada baiknya kau tidak usah berharap terlalu tinggi :P

Ehm, dimulai dengan kepentinganmu di hidupku ya...
Kamu mungkin sudah hafal, aku itu tertutup, tapi aku beruntung punya teman yang bisa kuajak bercerita kapan saja, tentang apa saja. Kamu dan dia. Dua orang (yang entah beruntung atau sial) sudah mengetahui hal-hal tentangku yang -sepertinya- tidak diketahui orang lain. Pokoknya keberadaan kamu itu sangat-sangat berarti. Beruntung banget aku bisa kenal dan akrab sama kamu. Kamu sudah jadi saksi pada banyak kelabilanku, kekonyolan dan kecerobohan yang sering kulakukan, hal-hal yang ternyata aku ketahui dan tidak aku ketahui, dan lain-lain. Dan kamu sanggup menghadapi semuanya. Waaaw, orang seperti kamu itu benar-benar susah dicari, lho...bayangkan saja, pembaca, ada berapa orang sih, yang mau mendengarkan cerita random-nggak penting-impulsifmu? Yang enggak kabur atau mengalihkan pembicaraan ketika kamu (secara tidak sadar) menunjukkan gestur atau tanda-tanda bahwa kamu ingin curhat tentang sesuatu? Yang berkata "cerita aja" ketika kamu ragu-ragu mau lanjut curhat atau tidak? Yang mau mengerti kamu? Yang selalu punya kata-kata dan solusi yang oke untuk kegalauanmu? Tidak banyak, kan?

See, kamu begitu berarti (enggak apa-apa deh kali ini kamu kegeeran, anggap aja ini bulan baik, November sekaligus Dzulhijjah, hahahaha). Ingat gak, ketika kita saling bercerita tentang hal "itu"? Dulu tiap ada kesempatan kita selalu ngomongin hal itu ya? Seperti enggak ada topik lain saja. Beranjak dewasa (atau tepatnya sedikit lebih tua), kita sadar, ada banyak hal di dunia ini yang enggak kalah menarik dibanding hal itu. Banyak sekali jenis impian yang bisa kita kejar. Akhirnya kita pun sering bertukar impian, saling mendoakan biar keinginan kita masing-masing terkabul. 

Eh, tapi bukan berarti aku menyesal lho pernah menceritakan semua tentang "itu" padamu. FYI, hanya ada dua orang yang tahu pasti tentang "itu", siapa lagi kalau bukan kamu dan dia. Tanpa ikut kuliah psikologi kalian sudah jadi psikologku, haha. Mencoba menyelami keinginan masing-masing, mencoba menormalkan fungsi masing-masing. Menyembuhkan luka satu sama lain. Menggalau bersama. Kadang kita geli mengingat masa-masa itu. Tahap menjadi alay dan ababil rasanya sudah kita lalui dan sekarang kita disini, haha. 

Mulai sejak merebaknya gaya SMS-an aL4y 5ePeRtHi iN1, sampai akhirnya aku khilaf dan memutuskan untuk menjunjung tinggi bahasa yang baik dan benar ketika SMS-an....aku bersyukur persahabatan kita masih ada untuk kita nikmati, rawat dan pertahankan sampai besok kita sama-sama menjadi keriput (woops, maksudku sama-sama tua, tua tidak berarti keriput, aku sependapat denganmu dalam hal ini).

Mulai sejak kita membicarakan hati-hati yang hancur, sampai kita membicarakan rencana masa depan, aku bersyukur bahwa ternyata belum banyak yang berubah pada persahabatan kita. Tidak bisa dipungkiri, sekarang aku dan kamu sudah bukan seperti dulu lagi, sudah punya lebih banyak kesibukan dan urusan. Tapi aku enggak akan bosan untuk SMS-an denganmu, telepon-teleponan, main ke rumahmu, jalan-jalan denganmu, ketawa bareng (semoga kita enggak perlu nangis bareng, tapi aku siap kalau suatu saat memang harus begitu). Semoga kamu juga enggak bosan dengan aku! 

When i was 12 I knew your name. Nothing special, we were just playing together like any tween do.
When i was 16 i told you my crush's name. You told me yours and we were giggling just like any teenage girls do.
When i was 17 i left my hometown for college. I told you i would be missing you and we were spending hours on telephone just like two best friend do.
When i was 20 i told you of how complicated life nowadays. You told me to be strong, you said i could do that, just like any supporter do. 
Other boys will come along, they always do. 
Other friends will come along, they surely do. 
Other responsibilities will come along, they will always do. 
But someday when we were about 65, i hope we would be sitting in my/your beautiful terrace, sipping a cup of tea, laugh about our old days. About our silliness, our gloominess, our old jokes, about everything.
Semoga Allah Mencintaimu karena kau mencintaiku, dan semoga Allah Mencintaiku karena aku mencintaimu!

18/09/11

A Book and A Perfect Weather

Hmm, aku baru sadar, betapa selama ini aku sibuk lari-larian enggak jelas, selesai ngurus ini dilanjut ngurus itu. Bubar ketemu sama orang ini, ngejar waktu (emang waktu bisa dikejar? hehe) biar enggak telat ketemu sama orang itu. Capekkkk....man jadda wajada sih, tapi bener deh, capekkkk. Pingin sekali-kali kembali ke masa-masa semester 1-2 dulu, semester 3 juga boleh deh, masa-masa santai dalam hidupku. Weekend itu ya bersantai, beberes kamar, luluran, nonton film, baca novel, keep contact sama temen lama. Bukan dateng ke kampus. Iri aja ngeliat para maba 2011, yang dengan santainya duduk-duduk sambil ngobrol di taman menunggu kelas selanjutnya sementara aku lari-larian. Haha, terdengar desperate banget ya aku. Yah mau bagaimana lagi, aku kan maba (mahasiswa basi, haha). But I was them. They will be like me someday...aku juga udah pernah kok jadi mereka. Dan suatu hari nanti maba-maba yang masih polos itu juga akan menjadi seperti aku yang sekarang lagi hobi lari-larian.

Aku tetep beberes kamar sih, tetep kontak dengan teman-teman lama sih, kadang masih luluran juga (klo enggak males dan capek) tapi entah kenapa semua itu sekarang, hanya terasa seperti selingan aja. Enggak terasa seperti sesuatu yang benar-benar ingin kulakukan. Bahkan mulai terasa seperti keharusan. Haha, dulu aku nganggep orang yang beranggapan bahwa 24 jam sehari itu enggak cukup itu sombong banget. Tapi ternyata aku harus menarik kata-kataku sendiri. Waktu itu mahal, ya. Udah mahal, belinya dimana coba?

Tapi hari ini, hari Minggu tanggal 18 September 2011 aku memutuskan buat bersantai-santai. Today will be my lazy day! Tapi anehnya kenapa aku masih merasa punya sesuatu yang harus dibereskan ya? Apa ya? Di handphone maupun buku catetan tidak ada pekerjaan yang harus kukerjakan. Jangan-jangan aku mulai terobsesi dan bingung membedakan jati diri yang sesungguhnya dengan jati diri semu yang terbentuk karena semua lari-larian itu. Hehe, ngomong apa sih aku ini. 

Lazy day hari ini tentu saja dimulai dengan bangun seenaknya. Hehe, tetep ya. Terus, baca novel! Selain novel Ranah 3 Warna, kemarin aku juga beli sebuah novel lagi sebenarnya, tapi belum sempat aku baca. Ternyata novelnya bagus banget. Memang beli novel yang udah dapet banyak review bagus di internet itu enggak pernah nyesel. Kalau belinya hanya berdasar lust yang terbentuk di toko buku karena melihat dan membaca sampulnya, sering nyesel. Emang bener pepatah "don't judge a book by its cover".

Novelnya itu....ringan sih. Temanya agak-agak dangkal sih. Tapi somehow penulisnya bisa dengan apik menuangkannya dalam beberapa ratus halaman. Jadi walaupun sebenarnya ceritanya sederhana dan ending-nya pun enggak dramatis (walaupun enggak membingungkan juga) aku bisa betah membacanya tanpa terpotong sampai selesai. Sampai-sampai aku kehabisan Kompas Minggu karena sampai jam 12 siang enggak keluar dari kos-kosan. Salah satu reviewer-nya bilang "realita itu ya kayak gini" dan aku setuju dengan tulisan reviewer itu. Novel ini menarik karena ceritanya enggak dibuat-buat supaya ending-nya happily ever after. Sip lah.

Aku jadi inget, dulu waktu kecil aku sukaaa banget baca. Waktu om-ku yang kerja di Kalimantan memberiku uang, aku memakai semua uang itu buat beli buku. Terus setiap ke rumah eyangku di Semarang, pasti aku merengek minta dianterin ke toko buku. Toko buku itu tempat yang menakjubkan saat aku kecil karena ada banyakkk banget buku dari berbagai jenis yang tertata dengan rapi. Aku merasa pemilik toko buku itu pasti orang yang kaya dan beruntung sekali bisa membeli semua buku-buku itu. Dan jangan tanya, setiap kali masuk toko buku pasti aku betah banget, sampai malas pulang. Gampang banget ya, jadi anak kecil, hehe.

Mmm, ketika beranjak gede sebenarnya kecintaanku baca masih ada sih. Tapi pelan-pelan toko buku bukan lagi menjadi tempat utama aku menghabiskan kelebihan uang saku. Sesekali aku meminjam buku dan komik Conan dari rentalan dekat sekolah. Jarang ke toko buku. Maklumlah mulai tertarik dengan pakaian-pakaian, sepatu dan tas-tas lucu, hehe. Baru pada waktu aku hampir masuk kuliah, ada novel yang bagus banget. Apalagi kalau bukan Laskar Pelangi. Jadilah aku hobi kelayapan di toko buku lagi saat kuliah. Aku beruntung soalnya di Jogja ada 2 nama toko buku diskon yang selain generously memberikan diskon juga dengan gratis memberikan jasa sampul untuk para pembeli, hehe. Mahasiswa banget ya, enggak apa-apa deh tokonya enggak ber-AC yang penting bisa dapat diskon dan disampulin.

Ada jenis buku yang membuatku tidak tahan untuk tidak membuka lembar selanjutnya. Aku selalu berharap untuk menemukan yang seperti itu. Kejadian kurang menyenangkan sebenarnya ketika membeli sebuah buku yang membuatku malas membaca lembar selanjutnya pada 5 lembar pertama. Tapi aku tidak menyesal membeli dua buku yang kubeli pekan ini. Mentang-mentang habis lebaran jadi belanja buku, hehe.

I really love today. A good book, perfect weather (timbreng kalau orang Kudus bilang, artinya mendung tapi tidak gerah dan tidak pula turun hujan). In my room, just me, my book and nothing to be worried about :D

28/04/11

Alhamdulillah

Walaupun aku pendiem, tapi masih ada orang-orang yang mau mengajakku ngobrol dan "try to open me up".
Walaupun kadang aku nyebelin, tapi masih ada orang-orang yang mau menolong aku, dan enggak membiarkan aku kesulitan sendirian.
Walaupun menurutku aku membosankan, tapi masih ada orang-orang yang mau jadi sahabatku, yang sms dan menemui aku hanya untuk bercerita. Yang menanyakan kalau aku enggak ada. Yang menghiburku dengan tingkah mereka yang aneh-aneh (LOL). Masih ada yang mau ngajak aku hang out dan dolan bareng.
Walaupun aku kadang sembrono, masih ada yang percaya sama aku (semoga aku bisa dipercaya dan diandalkan)
Walaupun aku sok tahu, masih ada yang mau mengingatkanku kalau aku bertindak sembarangan.
Walaupun aku biasa aja tapi masih ada yang mau membuatku bersyukur dan memperlakukanku dengan baik dan menghormatiku.

Mungkin aku tidak punya 4000 teman, tapi aku bersyukur karena aku mengenal beberapa orang yang benar-benar mengenalku, bisa aku andalkan, dan yang lebih penting, mau nerima aku apa adanya. Termasuk di dalamnya yaitu menerima sifat-sifatku dan membuatku jadi orang yang sedikit lebih cerewet ketika ngumpul dengan mereka :P

Jadi inilah hidupku :)
Kalaupun aku sedih, kalaupun aku galau (tren 2011) kalaupun aku bingung, aku bersyukur karena di setiap momen tidak menyenangkan dari hidup, aku tahu aku harus cerita ke siapa...jadi disyukuri saja.

29/12/10

Rujukan

Heii, entah kenapa makin lama kurasakan semakin susah saja menulis tulisan yang berbau "otak kiri". Pinginnya nulis puisi terus, hahaha....entah pengaruh dari apa, entah bisikan darimana. Aku pun sebenarnya pingin membagi sedikit (sedikiiittt) ilmu yang aku mengerti, entah itu ilmu farmasi, kesehatan, bahasa, atau apa saja. Tapi aku tidak punya ide untuk itu.

Rasanya otak kiriku perlu di-restart, lalu diaktifkan kembali. Haizzhh...aku merindukan gadis itu. Yang menghabiskan waktu luangnya (atau mencuri waktu belajar dan tidurnya) untuk menceritakan sesuatu yang sedikiiit ilmiah.

Yang bisa jadi sumber rujukan saat seseorang mencari sesuatu (ilmu). Hehe...kapan ya blog ini jadi rujukan pengetahuan? Bukan rujukan mencari puisi buat dibaj*k
@_@

04/11/10

Review Hari Ini (4 November)

Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya; orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya. (Kahlil Gibran)

Hari ini sudah kuputuskan aku akan menjadi seorang optimis saja. Ya, hari ini sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku merasa down. Salah satunya adalah UTS yang meragukan hasilnya. Itu cuma salah satu...ahh, memang nyata itu kejam. Tapi ia jujur. Dan NYATA.

Tapi Allah tidak pernah jahat padaku. Ada kejadian yang menyenangkan, satu yang benar-benar menyenangkan...hari ini aku latihan konseling pasien buat lomba minggu depan. Pada sesi latihan kemarin, dosenku (mentor) bilang kalau aku terlalu sering menggunakan kata yang tidak perlu, seperti "gitu", "anu", "ini", dan "itu". Dan hari ini alhamdulillah, menurutnya aku sudah tidak mengucapkan kata-kata yang tidak perlu itu. Padahal aku tidak melatih diriku secara khusus...aku cuma bilang pada diriku sendiri aku tidak akan mengucap kata-kata itu lagi (setidaknya menguranginya). Kekuatan pikiran memang hebat, kalau kita benar-benar insist untuk membuatnya bekerja.

Kalau tentang kejadian yang kurang menyenangkan...bagian 'berduri' dari perjalananku hari ini? Aku memutuskan untuk berpikir positif mengenainya. Kenapa Allah menciptakan duri untuk mawar yang indah? Untuk melindunginya dari tangan-tangan jahil. Mungkin hari ini Allah memberi duri pada kehidupanku, untuk melindunginya dari kerusakan yang lebih dalam. Mungkin begitu...kita tidak pernah tahu cara-Nya bekerja sampai Ia benar-benar bekerja kan.

Misalnya tentang UTS itu. Aku sedih karena merasa tidak maksimal dalam mengerjakannya. Tapi apakah sedihku bisa mengganti jawaban-jawabanku yang salah dan menaikkan nilaiku? Tidak bisa kan...jadi aku memutuskan untuk move on. Hmm, move-on...benar-benar mantra yang sangat membantuku untuk menegakkan kepala hari ini. Ya, kalau aku terdiam nanti malah benar-benar sedih. Jadi aku memutuskan untuk memelihara energi positifku dengan melakukan hal-hal yang kunikmati. Walaupun harus hujan-hujan juga, tapi aku seneng.

I won't let anything, or anyone ruining my life. I'm happy and nothing/nobody can change that.

Kalau dipikir-pikir bakal wagu lho kalau aku down. Kenapa? Kalau aku down, artinya aku lembek banget...coba deh bandingkan keadaanku sama pengungsi di lereng Merapi sana, aku jauh lebih beruntung sekali...Merapi yang saat ini sedang batuk-batuk dan suara batuknya dapat kudengar dari kosku yang jaraknya hampir 40 km dari puncaknya. Yang batuk-batuknya menggetarkan pintu kamarku. Nah kalau aku yang disini udah ketakutan gimana mereka yang disana?

Ya Allah, Engkau Tahu kemampuan tiap umatmu, dan aku yakin Kau tidak akan Memberi cobaan diluar batas kemampuan mereka.

Merapi, tenanglah.....

27/07/10

choices

But I’ve made my decision and no point in regretting that. I seldom regretting my decision; I don’t want this become an exception.

But this is an exception.

Two sides of my choices have their plus and minus. I think I didn’t spend enough time to analyze them carefully. I let my logical thought take over. Just analyzing the loss I would get if I prefer going there. I forget to consider how regretful I would, if I don’t!

And now, I kind of regret my decision. But, too little too late...If I could blame on something, then I would blame my late emotional reminder. Why didn’t it come earlier so my eagerness to go would stay longer? I must have been there if it did.

I must have been there, and in spite of all that insignificant loss, I would feel very, very warm there.
Now, here, here I am, cold, and begin to count all the loss I’ve earned. Time and chances. And all that warmness, burning heat that I would always be demanding of.

All of the loss I will never regain.

(Aku lagi…lebai banget deh! Nemu tulisan Inggris di my Document...ya udah aku post aja. udah lama nggak posting bahasa Inggris).

12/02/10

Kunjungan ke Dokter Saraf (bagian 2)

Mau tahu kenapa aku harus pergi ke dokter saraf? Padahal kalau dilihat sepintas aku tampak sangat sehat walafiat.

Ya, aku memang sehat walafiat. Saat ini. Biasanya, di daftar tunggu pasien dokter saraf, akulah pasien yang paling muda, paling bugar, paling stabil, paling lincah…bahkan kalau mau aku bisa mengendarai motor (atau mobil? hahaha) sendiri ke tempat praktek dokter itu. Aku bisa berjalan dengan mudah. Aku bahkan bisa berlari dan main kasti. Aku bisa kuliah. Aku bisa bicara tanpa tergagap. Aku memiliki kemampuan koordinasi dan keseimbangan yang normal. Sistem persarafan di tubuhku sangat mampu melakukan apa yang dilakukan oleh sistem persarafan orang normal lainnya.

Tapi aku diharuskan minum obat setiap hari untuk memastikannya.

Di meja kamarku aku meletakkan obat yang harus kuminum setiap kali sehabis makan. Bukan hal yang menyenangkan untuk menjadi seperti orang sakit karena harus minum obat 3 kali sehari. Terkadang cukup merepotkan. Apalagi kalau dari buku-buku farmasi yang kau pelajari kau tahu bahwa obat itu dapat menyebabkan kerusakan hati jika diminum dalam jangka panjang (seperti yang aku lakukan).

Dulu pertama kali diharuskan minum obat, aku benar-benar jengkel dengan efek sampingnya. Mukaku jadi jerawatan. Dan bukan sekedar 1-2 jerawat merah besar biasa yang kau dapat kalau PMS itu. Jerawat yang muncul benar-benar banyak…dan parah. Mungkin 5-10 kali lipat lebih parah dari jerawat PMS. Dan jerawat itu muncul setiap waktu, bukan hanya pas PMS doang. Meninggalkan bekas lagi. Muka jadi kasar. Jerawat terutama muncul di dahi dan dagu dan nggak mempan dikasih obat apapun. Aku sendiri sering nggak tega lihat fotoku waktu itu, saking parahnya jerawatnya. Huft, untung sekarang sudah berlalu.

Obat-obatan itu adalah obat-obatan anti epilepsi. Waktu aku kelas 3 SMA (17 tahun) tiba-tiba aku kejang tanpa sebab. Kepalaku sakit sesakit-sakitnya, dunia tampak berkedip-kedip, kemudian memutar, kemudian rasanya seperti penderita anemia yang meloncat mendadak dari posisi jongkok, tapi perasaan berkunang-kunang itu tidak kunjung hilang. Aku menunggu dengan tenang, meyakinkan diri kalau perasaan berkunang-kunang itu akan hilang dan dunia akan kembali normal, aku cuma perlu minum suplemen penambah darah. Lalu damai (nggak sadar, maksudnya!). Dan ketika bangun, orang-orang sudah mengelilingiku yang kebingungan. Sepanjang perjalanan (yang baru aku sadari ketika sudah benar-benar sadar bahwa itu adalah perjalanan ke rumah sakit), aku tertidur dan terbangun beberapa kali. Rasanya capek sekali. Tapi aku ingat beberapa jalan yang kulalui, dan orang-orang yang mengantarku. Aku mengingat suara ibuku yang bertanya, apa yang kurasakan (kujawab dengan rengekan childish-manja-nyebelin, habisnya ngantuk sih). Ayahku yang menyambutku di depan ruangan (yang ternyata ruangan UGD), beliau baru saja pulang kerja dan langsung menyusul kesana, aku inget aku membalas senyum khawatir ayahku. Rasanya tenang. Aku ingat. Aku ingat di ruang UGD itu ada anak kecil yang menangis dan merengek dengan keras sekali sehingga membuatku tambah pusing dan capek. Kata ayah saat itu, anak kecil itu mengalami kecelakaan dengan alat pancing -.- Ada perawat cowok yang menyuntikkan cairan uji alergi di lenganku (untuk mengetahui aku alergi dengan obat tertentu atau tidak). Kemudian memasang infus dan mengomentari keberanianku yang cuma diam saja ketika infus itu dipasang. Ia bertanya aku kelas berapa. Kujawab aku kelas 3 SMA. Ia menanyaiku ingin masuk jurusan apa. Farmasi, jawabku. Lalu ia berkata "pantes gak wedi diinfus". Kemudian ada perawat cewek yang baru datang dan bertanya padanya "Emang dia pingin masuk apa? Keperawatan?". Ia menjawab "Farmasi". Dan suster cewek tadi hanya ber-ooh lalu berlalu.

Ayah menemaniku. Rasanya tenang. Ibuku saat itu dimana ya? Jangan-jangan beliau sedang sedih...sorry mom :'( oh iya, ibuku yang mendapatiku sedang kejang di kamar adikku, ternyata memasukkan jarinya di antara gigi geraham atas dan bawahku (tujuannya adalah untuk mencegah agar aku tidak memotong lidahku sendiri dengan gigiku...harusnya pakai handuk atau kain yang empuk, tapi kan lagi panik). And you know what?? Tindakannya menyelamatkan lidahku itu membuat jarinya lebam dan bengkak selama berbulan-bulan :'( Memang benar, cinta orang tua itu sepanjang jalan :')

Terus dunia berputar dan berkedip-kedip lagi. Aku bilang ke bapak "Pak, pusing". Kemudian damai lagi (maksudnya nggak sadar lagi). Ternyata saat itu aku kejang lagi. Ketika sadar, aku sudah berada di ruangan yang penuh alat, entah kenapa aku langsung sadar kalau otakku sedang diperiksa. Saat itu seingetku ada bapakku dan dua orang pegawai laki-laki yang sepertinya bertugas mengoperasikan alat-alat itu. Setelah kepalaku dikeluarkan dari alat itu, aku merasa pusing banget dan dengan suksesnya aku pun muntah. Ewww...mana setelah itu aku ketiduran lagi, hehe enggak tanggung jawab banget ya. Jadi merasa bersalah dengan siapapun yang kurepotkan saat itu, kudoakan mereka semua naik gaji deh. Ketika aku sadar lagi, aku sudah berada di suatu ruangan, di depanku ada meja, di belakang meja itu ada seorang suster. Kemudian ada suster lain sedang menyanyikan sebuah lagu yang enggak aku ketahui, tapi aku masih ingat liriknya. Kayaknya ya, otakku saat itu seperti dipermainkan tombol on/off-nya. Ketika on, dia langsung berfungsi dengan terlalu tajam, sampe-sampe aku masih ingat detail kejadian-kejadian itu sampai sekarang. Dan ketika tombol off ditekan, aku langsung tidur. Aneh banget :o

Suster yang melihatku bangun segera memanggil keluargaku. Ayah dan ibuku sedang pergi, jadi bulik (adiknya bapak) yang datang. Ruangan itu benar-benar tertutup dari luar, tidak ada jendela, tidak ada jam dinding, jadi aku tidak tahu itu jam berapa dan tanggal berapa. Dan yang kutanyakan pada bulikku adalah, "Bulik, tanyakan ke ibu atau bapak dong, udah transfer ke panitia UM UN*** apa belum, paling lambat tanggal segini lho. Oh iya, transfernya lewat bank B**". Jelas aja bulikku bengong sambil ngeliatin aku. I might hit my head on that cupboard too hard, haha. Setelah itu aku tidur lagi. Bener-bener mirip bayi baru lahir.

2 kali kejang dalam selang waktu yang singkat dan tanpa dipicu oleh hal-hal yang biasanya memicu kejang, (seperti hipoglikemia parah, mabuk alkohol, atau stress berat) yang kualami saat itu sudah cukup buat menegakkan diagnosa kalau aku ini penderita epilepsi.

Jadi aku epilepsi. Oke. Entah kenapa waktu itu aku enggak stress mendengarnya. Biasa aja tuh. Mungkin karena diberi valium (sok tau). Valium? Ya, mungkin aja pas kejang kedua (di UGD) aku diberi valium (Hehehe sok tau lagi…nggak ding!). Tapi bener lho, obat darurat buat orang yang kejang itu valium alias diazepam. Tuh di kulkas rumah masih ada 2 dosis. Terus selama di ICU rasanya ngantuk terus. Kesadaran rasanya “hilang-timbul”. Entah dikasih apa. Barbiturat mungkin? Hmm, jadi inget para mencit di praktikum farmakologi. Jadi bisa dikatakan kalau sistemku udah berpengalaman dalam memetabolisme obat-obatan. Hiks, kasihan ya liverku, ginjalku…

Ya, epilepsi itu nggak menyakiti secara fisik. Gimana mau kerasa sakit, selama kejang kan nggak sadarkan diri. Tapi setelah sadar, bingung cuy! Disorientasi dan ngantuk berat. Sebelum kejang, ada sih tandanya (“aura”). Aku inget, aku pusing berat sebelum kejang. Yang bahaya dari epilepsi adalah kalau pas kumat si penderita kejedug alias kebentur (kayak aku, untung nggak parah), jatuh, atau tenggelam. Bahaya juga lho kalau epilepsinya kumat pas penderita nyebrang jalan, mengemudi, lagi nyetrika, dan sedang melakukan kegiatan lain yang menuntut kewaspadaan penuh gitu.

Karena itu, buat memastikan aku aman dan nggak kejang lagi, aku harus minum obat. Dan kontrol ke dokter saraf. Kalau sakit “biasa” kayak flu dan harus ke dokter, aku juga harus jelasin ke dokternya kalau aku ini minum obat blablabla secara rutin karena blablabla jadi mohon jangan dikasih obat yang inkompatibel sama obat blablabla yang harus kuminum itu. Kadang aku bosen kalo ditanya kenapa aku harus minum obat terus. Kenapa di kamarku ada banyak obat-obatan aneh.

Tapi kan emang aku harus menjelaskan buat apa aku minum obat itu. Karena aku nggak kelihatan seperti orang yang harus minum obat. Karena aku sehat walafiat!

Dan aku berdoa semoga tubuhku tetap sehat untuk dapat terus menerima obat-obatan itu.

So I take it, and be grateful. Truuuuly grateful.

Hmm, epilepsi memberi pandangan baru terhadap hidup. Epilepsi sudah mendewasakanku (cieee…). Kalau ditanya apa saja yang kusyukuri karena epilepsi, jawabannya banyak banget. Mungkin dulu, dua tahun lalu, epilepsi pernah menyakiti dan membuat orang-orang di sekitarku panik. Mungkin epilepsi sudah merepotkanku dan membuatku sedih. Dulu sempat aku sedikit "protes", kenapa aku? Kenapa harus aku yang kena? Aku, yang tidak pernah mengejek atau menjauhi penderita epilepsi lain?? Dulu pernah ada seseorang yang kena serangan epilepsi, teman-temanku ketakutan akan tertular karena menurut mereka epilepsi menular melalui air liur penderita (padahal itu tidak benar, epilepsi enggak menular kaleee). Tapi aku tidak, aku memperlakukan orang itu sewajarnya seperti dia orang normal, lalu kenapa aku? Hahaha, pemikiran ini timbul karena waktu itu aku stres memikirkan mukaku yang hancur karena fenitoin. Jadi desperate gitu.

Terus satu lagi kekhawatiranku: kalau aku jadi tambah (maaf) bego dan oon gimana? Soalnya dari info yang kudapat saat browsing internet (dari situs enggak jelas, hehe maklumlah dulu belum ngerti apa itu jurnal ilmiah, apalagi textbook), ditulis bahwa setiap kali kejang, ada 50 sel saraf di otak yang mati. Berarti dari dua kejadian kejang itu, aku sudah mematikan 100 sel sarafku dong?? Padahal dari pelajaran biologi pas kelas 2 SMA aku belajar kalau sel saraf itu enggak bisa membelah diri a.k.a tubuh tidak bisa membentuk sel saraf baru untuk menggantikan sel yang rusak atau mati. Nah kalau diantara 100 sel yang mati itu ada yang penting bagaimana? Syukurlah ingatanku baik-baik saja setelah itu. Waktu aku tanyakan hal itu ke dokter saraf, dengan yakin beliau menjawab "Enggak apa-apa kalau ada yang mati, memang benar enggak bisa diganti...tapi otak kita itu pinter, dia bisa membentuk hubungan baru antar sel-sel saraf yang sebelumnya belum dipakai untuk menggantikan fungsi sel-sel yang mati tersebut. Itulah yang diperlukan agar kita bisa berfungsi normal". Huft legaaa...tapi tetep aja harus aktif mencegah gimana caranya biar enggak kejang lagi, iya kan?

Tapi dibalik semua itu, epilepsi bikin aku jadi orang yang lebih bersyukur. Salah satu yang kusyukuri adalah karena obat-obatan itu berhasil mengendalikan epilepsiku, jadi aku nggak pernah kejang. I love valproic acid so much! Banyak lho pasien yang jadi overweight setelah minum obat ini, tapi aku enggak tuh, tetep segini aja, waktu itu naiknya enggak terlalu banyak, cuma 3 kilo (itupun menurutku dipengaruhi banyak faktor lain, seperti karena kelamaan liburan habis ujian nasional, gaya hidup baru menjadi anak kos yang ternyataaaa...makan nasinya lebih banyak daripada anak rumahan, dan karena aku mungkin lebih thankful, bahagia dan bersyukur). Dan setelah dosisnya dikurangi, bobotku balik lagi, hehe. Alhamdulillah kan? Hidupku normal tanpa kekhawatiran bakal kumat. Dan masih banyak lagi. Siapa sih farmasis pinter itu, yang nemuin asam valproat? Aku harus berterima kasih pada dia.

Alhamdulillah!!!
Alhamdulillah lagi : karena udah dua tahun terapi, sekarang dosisnya udah dikurangi. Cihuy! Sabar ya liver dan ginjalku sayang, kita pasti kuat =p

Kunjungan ke Dokter Saraf (bagian 1)

I’m the luckiest person in the world.
Yes I am. I know, in the deepest place of my heart.
Some people are truly a genius. Some people are extremely rich. Some people are so graceful and good looking that everyone mesmerized and envied them. Some people have somebody they love and love them back in every bite of time. Some people are very talented so the world can’t help but seeing them.
I even feel luckier than them.

Saat kunjungan ke dokter saraf selalu menjadi momen yang….apa ya, aku belum bisa menemukan kata-kata yang pas. Tiap kali aku kesana, banyak sekali orang-orang yang mengalami kelumpuhan karena stroke, atau karena sebab lain.
Saat itulah aku bisa melihat cinta yang terpancar dari setiap mata manusia.
Seorang kakek memapah istrinya, seorang nenek-nenek, yang tidak bisa berjalan sendiri.
Seorang anak memapah ayahnya yang lumpuh.
Dan malam ini, aku ketemu sama seorang anak kelas 1 SMP yang kesulitan berjalan. Dia keluar dari ruang praktek dokter sambil dipapah ayah dan kakak laki-lakinya. Aku bisa merasakan tatapan orang-orang di ruang tunggu itu. Sepertinya mereka begitu ingin tahu, bercampur dengan rasa kasihan dan simpati. Namun bukankah tidak sopan menatap dengan pandangan seperti itu?
Aku berusaha melawan keinginan untuk melihatnya dengan tatapan mengkasihani. Tapi aku juga bingung, ekspresi apa yang harus kutampilkan di mukaku. Maka aku memasang tampang biasa, sedatar mungkin, tanpa ekspresi apapun kecuali sedikit tarikan bibir biar nggak terkesan lagi cemberut. Ya Allah, Tuhanku…anak itu benar-benar tegar, senyum tak pernah lepas dari wajahnya, meskipun ia harus dipapah seperti itu. Meskipun semua orang disitu menatapnya dengan tatapan yang, kurasakan mengintimidasi.
Ia masih ceria. Senyumnya membuatku ingin menangis. Ia bahkan sempat bercanda dengan kakak perempuannya…ibunya. Bahkan dengan keadaannya yang seperti itu (ekstremitas/anggota gerak bawahnya tampaknya “lumpuh”), mereka terlihat seperti keluarga-keluarga di televisi yang sedang bercanda ria. Dari percakapan yang kudengar, tak tampak ada rasa minder atau sedih dari perkataannya.
Seperti merasakan rasa ingin tahu yang dirasakan orang-orang disitu, ayahnya menjelaskan bahwa anaknya tiba-tiba tidak bisa berdiri sekitar dua minggu lalu. Sehabis shalat subuh, tiba-tiba kedua kaki anaknya lemah. Padahal anaknya masih sehat-sehat saja, tidak demam, bahkan sehari sebelumnya masih main layangan dan makan dua porsi. Benar-benar sehat walafiat. Dari penjelasan ayahnya pun tidak terkesan adanya ekspresi “protes” pada Allah. Beliau tampak tawakal menerima keadaan anaknya.
Kuulangi sekali lagi, senyumnya benar-benar membuatku ingin menangis. Menangis terharu karena ketegarannya. Di umur semuda itu, dia telah kehilangan kebebasannya untuk bergerak. Tapi dia menerimanya…
Dan aku menangis karena keberuntunganku…hari itu telah kutemukan lagi satu keberuntunganku.
Alhamdulillah!!!
(bersambung)

31/10/09

Hal-Hal Sederhana yang Saat Ini Aku Rindukan

aduh, tiba-tiba pingin pulang kampung...
kangen sama jalan Jogja-Kudus,
kangen sama tulisan "SELAMAT DATANG DI KABUPATEN KUDUS" yang ada di Karanganyar itu...
kangen dijemput sama bapak terus diajak beli martabak :)
kangen sama rumah
sama ibu, bapak, adik,
kangen masakan ibu
kangen sama genjrengan gitar en betotan bass yang dimainkan adikku tiap malem
kangen liat tivi seharian sampe mata pegel
kangen sama kamar orange
kangen jalan sama ibu
kangen pingin ejek-ejekan ma adik
kangen sarapan lentog
kangen puter-puter kota naik motor
aku kangen semua tentang itu :0

11/09/09

Falling?

There are some people who always have a person to be loved. They just love to love other person. To love someone is a pleasure, to be loved is a gift. They need to feel their heartbeat everytime they see the person they love. They need to feel anxious and curious about the person they love. They JUST need it : somebody to be thought, to be understood. Love is always be a precious thing for them, but they won’t mind share it with anybody else. They spread it. Everytime. You can find them seeing and talking to someone then falling in love helplessly.
It just happened. “Suddenly” falling in love and hardly forget the person they in love with. Even after they realize, there’s no more sparks, no more chemistry, no more happiness...
Falling easily but can’t stop loving easily.

27/08/09

Ibu dan Bapakku

Ya Allah, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku...

Doa yang sama, doa yang itu-itu aja, yang selalu kuucap sehabis salat dan kadang-kadang saat sujud.

Doa buat kedua orang yang paling aku cintai saat ini.

Kedua orang yang, biologically, masing-masing menyumbangkan setengah genomnya sehingga saat kedua “paronan” (setengah, red) genom itu bersatu, atas izin Allah terbentuklah makhluk bergenom 22XX bernama ****** ************ alias Liong (maklum, tadi pagi habis kuliah biologi molekuler).

Kedua orang yang, psychologically, punya andil besar dalam membentuk kepribadian, prinsip, dan kecerdasanku jadi seperti ini. Dari melihat cara mereka bersikap, aku belajar berperilaku.

Kedua orang yang, economically, masih menanggung seluruh biaya hidupku.

Kedua orang yang dipercaya Allah untuk membesarkanku.

Kedua orang yang terketik sebagai “pasangan suami istri sah” di akta kelahiranku.

Kedua orang yang paling mencintaiku dengan cinta tertulus yang bisa diberikan seorang manusia, bahkan sebelum aku ada di dunia ini.

Kedua orang yang lebih menderita dari aku saat aku sakit.

Kedua orang yang menjadi guru pertamaku. Yang mengenalkanku pada dunia ini dan mengajariku bagaimana menghadapi itu semua.

Yang selalu kuajak bermain saat aku kecil, diantara kesibukan mereka. Yang membujukku agar berhenti menangis. Yang selalu memastikan aku berbahagia dan aman sekaligus, setiap saat.

Kedua orang yang telah dan terus berusaha mengerti setiap tingkah lakuku. Yang tidak protes saat aku batal pulang kampung sesuai waktu yang sudah kujanjikan sendiri. Yang selalu memaklumi dan memaafkanku. Yang berkata “tidak apa-apa” saat nilaiku turun drastis. Yang tidak marah saat ulanganku gagal. Yang tersenyum padaku bahkan saat aku tidak bisa tersenyum untuk diriku sendiri.

Ibuku, orang yang melahirkanku. Memberiku makan dan perlindungan bahkan sebelum aku lahir. Memasak dan mengurus rumah tiap hari (padahal bekerja di kantor juga). Yang membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan membimbingku belajar di rumah saat aku SD. Yang menjagaku ketika aku bermain, agar aku tidak terluka. Yang memastikan aku makan dan tidur dengan baik. Yang selalu menyuruhku agar jangan ngoyo dalam belajar. Yang meneruskan pendidikan masternya sambil bekerja dan mengurus rumah, kemudian...lulus tepat waktu dengan gelar cum laude. Lambat laun, seiring bertambahnya umurku, beliau menjadi temanku. Yang bisa kuajak berjalan-jalan, bercerita. Aku bukan orang yang mudah membuka diri – andai saja aku begitu, pastilah lebih banyak lagi yang bisa kuceritakan. Orang yang mengajariku memasak, berdandan, membersihkan rumah, dan hal-hal praktis lainnya. Orang yang selalu, selalu, berusaha menyenangkanku. Yang menyisihkan makanannya untukku. Yang membelikanku aneka jajanan yang kusuka saat kami berbelanja. Yang menungguku dengan sabar sementara aku memilih-milih pakaian atau sepatu di mall. Yang mau menemaniku berjalan-jalan setelah seharian bekerja. Yang tetap tersenyum saat melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya jadi tugasku. Entah apa yang membuat wanita ini sedemikian sabar padaku. Ibu, aku begitu mencintaimu...

Bapakku, orang yang pertama kali mengumandangkan adzan dan iqomah di kehidupanku. Imam di keluargaku. Laki-laki paling penyayang yang pernah kutemui. Dalam diamnya, aku tahu ia menyayangiku. Yang mengantarkanku dengan motor kenangan kami, di hari pertama aku masuk TK. Yang mengajariku naik sepeda roda dua. Yang selalu menungguku selama paling tidak tiga puluh menit di pom bensin saat aku pulang dari Yogya naik bis, sebelumnya ia sudah membelikanku aneka roti yang kusenangi. Setelah aku naik di boncengannya, ia akan bertanya apa yang aku inginkan untuk makan malam. Yang mau mengantarkanku kemana saja, lalu pulangnya berkata “mbak Lia pingin dibelikan apa?”. Yang ikhlas bekerja keras seharian demi keluarga. Yang hobi mentraktir di tempat makan favoritku saat aku pulang kampung. Yang mengajariku membaca dan rajin membawaku ke toko buku saat aku kecil. Yang membuatku jadi seorang kutu buku dan alhamdulillah, jadi mampu membaca cepat. Yang mengajariku berbahasa Inggris dan memakai internet. Yang membelikanku beberapa ekor ayam saat aku kelas 5 SD, agar aku dan adikku berpengalaman memelihara hewan. Yang pernah mengajakku dan adikku main layang-layang sehabis pulang kerja. Yang mengantarku ke mantri saat jempolku terluka. Yang tidak keberatan menyapu, mengepel, menyetrika pakaian...yang selalu memastikan aku baik-baik saja. Yang memberiku beberapa prinsip yang masuk akal. Yang dahulu berusaha sekuat tenaga untuk kuliah, dan sekarang berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkanku...terima kasih bapak, aku begitu mencintaimu...

Aku sudah lupa kapan terakhir kali mereka marah padaku. Atau mungkin mereka memang tidak pernah marah padaku. Aku juga tidak ingat kapan mereka memaksaku, melarangku, tidak mempercayaiku, menuntutku, menghakimiku....

Yang aku ingat, setiap hari mereka menunjukkan kasih sayang mereka padaku.

*****

Allah menebarkan kasih sayangnya di muka bumi.

Dan, sebagai salah satu “jalur” kasih sayangnya untukku, Allah memilih ibu dan bapakku. Allah tidak pernah salah. Betapa beruntungnya aku bisa memiliki mereka sebagai orang tuaku. Betapa beruntungnya ibu memiliki bapak, dan sebaliknya, begitu beruntungnya bapak memiliki ibu.

Sekali lagi, betapa beruntungnya aku, dan adikku, memiliki mereka berdua.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, terima kasih ya Allah, segala puji bagiMu...

******

Tadi waktu menunggu salat Isya’ berjamaah dimulai, tiba-tiba selintas pikiran muncul di otakku. Muncul begitu saja, seperti lampu pijar yang tiba-tiba menyala dan tidak bisa dimatikan.

Pikiran itu adalah “betapa beruntungnya aku memiliki ibu dan bapakku. Juga adikku”.

Entah pikiran itu muncul dari hati yang bersih, atau justru dari setan yang ingin mengganggu kekhusyukan salatku, aku nggak tau. Tanpa terasa, pipiku basah. Bukan, aku bukan kangen berat sama mereka. Kalau kangen sih selalu, karena itu sebisa mungkin aku akan selalu pulang untuk mereka, dan untuk diriku sendiri. Tapi aku nangis bukan gara-gara itu. Tapi karena mengingat apa saja yang sudah mereka lakukan untukku. Semua yang kutuliskan diatas, belum apa-apa. Karena masih banyak lagi bukti cinta mereka padaku.

Lalu muncul satu pertanyaan “Terus apa yang sudah aku lakukan untuk mereka? Buang-buang duit? Habis-habisin beras? Atau apa?”.

Kenangan satu tahun lalu berputar. Saat aku diterima sebagai mahasiswa. Maaf, aku tekankan cerita ini bukan dimaksudkan untuk menyombong. Saat itu, tengah malam, jam 00.00 lebih sedikit, ibuku mengirim SMS ke content provider hasil UM UGM. Lalu datang SMS balasan yang menyatakan aku diterima. Aku terbangun mendengar kegembiraan mereka berdua. Bertiga kami mengucap syukur pada Allah. Mereka berterima kasih padaku, “makasih ya mbak, atas usaha mbak..”. Cara mereka menyayangiku sungguh unik. Seharusnya aku yang berterima kasih, atas dukungan doa, moril, dan materil dari mereka. Tapi, mereka malah berterima kasih padaku. Dan saat itu juga kegembiraanku, rasa lega yang ada padaku karena sudah diterima kuliah, mendadak kalah oleh kepuasan yang muncul karena melihat wajah mereka yang tampak sangat bahagia.

Lalu saat akhir semester 1 kemarin, saat alhamdulillah aku mendapat IP yang bagus. Tidak dapat diungkapkan betapa puas dan bersyukurnya aku melihat wajah mereka yang gembira. Mereka mengucapkan selamat dan terima kasih. Betapa seringnya mereka mengucapkan terima kasih padaku. Seolah hanya AKU lah yang menentukan segala kesuksesan yang terjadi. Mereka segera melupakan jasa mereka padaku. Itulah contoh cara hidup yang tidak pernah mereka ucapkan secara gamblang - namun dari cara mereka memperlakukanku, aku belajar agar sebaiknya kita tidak membesar-besarkan apa yang sudah kita berikan pada orang lain. Kemudian ketika akhir semester 2, IPku turun cukup drastis, namun ketika aku mengucapkan maaf, mereka malah berkata tidak apa-apa. Kemudian kami melanjutkan segala sesuatu seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Berapapun IPku, mereka tetap gembira menyambut kedatanganku, menanyakan kesehatanku...sungguh semua sikap itu berbicara lebih banyak dan lebih tegas daripada sekedar berjam-jam berkata-kata bahwa mereka cinta padaku. Dan cara mendidik seperti itu malah memacuku lebih keras untuk berusaha dengan maksimal di semester 3 ini. Aku pasti bisa mengembalikan prestasiku seperti semester 1 lalu. Amin...

Oh iya, satu lagi. Aku ingin lulus dengan gelar cum laude. Untuk pamer? Bukan. Buat apa? Aku ingin ibu dan bapakku, berpakaian resmi, mengapitku yang mengenakan toga dan selempang bertuliskan cum laude. Lalu seorang fotografer handal memotret kami. Lalu mereka mendengar namaku dipanggil. Mereka lebih dari pantas mendapat kebanggaan seperti itu. Aku ingin menjadi farmasis yang sukses. Aku harus berhasil dalam kehidupan ini. Aku ingin orang-orang tahu, mereka berhasil membesarkanku. Kalian pernah lihat sebuah iklan yang mengisahkan seorang arsitek yang diwawancarai banyak wartawan? Ia berkata “Kalau ingin tahu cara membesarkan arsitek, tanya bapak saya”. Ya, aku ingin juga berkata seperti itu. Siapa yang mau bertanya “Bagaimana cara membesarkan seorang farmasis?” ? dan aku akan berkata dengan mantap “Silakan tanya kepada ibu dan bapak saya”.

Ya Allah, berikanlah aku waktu dan kemampuan untuk membahagiakan orang tuaku, seperti mereka telah membahagiakanku. Amin ya rabbal ‘alamin.

Kamar kos,

Selasa 25 Agustus 2009

22.30 WIB

p.s. : Korban nulis postingan ini meliputi 1 buah kaos dan 4 lembar tisu buat menghapus air mataaa....hua....dasar berlebihan.