Tampilkan postingan dengan label sok tau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sok tau. Tampilkan semua postingan

02/03/15

Cooking is Fun! and Sweet :)

Sejak bekerja di sini, sejak tinggal di bangunan mess ini, aku jadi gemar berjalan-jalan dan memasak. Kegemaranku berjalan-jalan ke tempat baru dan menghafalkan peta sebenarnya sudah ada sejak dahulu, Bedanya kini aku sudah punya uang sendiri untuk membeli tiket perjalanan. Rasanya berjalan-jalan adalah cara ternikmat untuk menghabiskan sisa uangku yang mungkin tak seberapa, setelah dipotong tabungan rutin, ongkos makan dan ongkos-ongkos yang lain.

Jika sedang tidak berjalan-jalan di akhir pekan, aku gemar bereksperimen membuat masakan-masakan baru. Begitu juga ketika aku masuk kerja shift 2 (masuk jam 3 sore), sebisa mungkin aku berusaha untuk membawa bekal makanan sendiri. Rupanya di zaman "kekinian" seperti sekarang, kemampuan dan kegemaran memasak dianggap cukup langka untuk dimiliki oleh seorang wanita berumur 24 tahun. Cukup banyak orang yang terkejut saat mengetahui bahwa aku sering memasak makananku sendiri. Cukup banyak orang yang terheran kala mendapatiku membawa suatu bekal makanan yang mungkin tampak tidak biasa. Dan tentu saja orang-orang heran kala mengetahui bahwa ternyata aku hafal harga terkini komoditas-komoditas pangan seperti beras, kacang hijau, udang, daging ayam, daging sapi dan lain sebagainya :p 

Dahulu saat aku kuliah di Yogyakarta, aku sama sekali tidak pernah memasak di kost. Sebabnya, tidak ada kompor dan peralatan-peralatan memasak di sana. Lagipula, jauh lebih mudah untuk membeli makanan di warung-warung sekitar kost. Paling-paling aku hanya memasak ketika sedang pulang kampung, itupun hanya makanan sederhana seperti sayur bayam, spaggeti saus Bolognese, nasi goreng, ayam goreng, sup dan sayur asam. Namun di sekitar tempat tinggalku di sini, hanya ada sedikit pilihanku untuk "makan di luar", Warung-warungnya begitu-begitu saja, tidak ada warung makan yang benar-benar sesuai seleraku. Maka aku pun bertekad untuk memasak. Dengan kemampuan bahasa Sunda yang minimal saat itu (sekarang juga masih belum jago sih), aku mencoba berbelanja ke warung dan pasar tradisional. 

Sebagai pemasak pemula saat itu, masakanku pun itu-itu saja. Tumis sayuran pertamaku rasanya tidak enak. Ya iyalah, mana ada orang lain yang memasak tumis sayuran berbumbu bawang putih, kecap dan jahe? Seharusnya aku memakai lengkuas. Mendoan pertamaku juga terasa aneh di lidah. Menu andalanku cuma 2: ayam dan udang saus asam manis. Itulah masakanku yang paling pantas dibanggakan. Selain itu aku hanya bisa memasak sayur bayam, sayur asam, sayur sop dan aneka lauk yang digoreng. Sampai akhirnya aku menemukan metode ampuh untuk menyelamatkan rasa masakanku: bertanya pada ibuku! Alhasil, setiap hari aku bertanya pada Ibuku, bumbu apa saja yang diperlukan untuk menghasilkan suatu masakan dengan rasa yang wajar. Perlahan-lahan, aku akhirnya bisa membuat tumis kangkung, tumis kacang panjang dan aneka masakan yang umum disajikan di meja makan keluarga Indonesia (keluarga Jawa pada khususnya). Rasa mendoanku pun mulai membaik, bahkan kini tempe mendoan buatanku sudah mendapat reputasi di kalangan penghuni mess, haha. Khasanah pengetahuanku juga bertambah kala Ibu petugas kebersihan di mess mengajariku untuk membuat tahu bacem, sayur bobor, bakwan dan lotek. Hmmm...

Setelah beberapa saat aku memasak menu-menu "wajar" seperti itu, lama-lama aku merasa bosan juga. Maka aku pun mulai mencari-cari variasi menu untuk dimakan sehari-hari. Tempat pertamaku bertanya tentang resep-resep masakan aneh, tentu saja Chef Google. Cukup masukkan kata kunci seperti "resep spaghetti carbonara", "resep nasi goreng rempah", "resep ikan bakar teflon", dan lain sebagainya, dalam hitungan detik akan muncul resep yang kita inginkan. Berdasarkan pengalaman, resep online yang memiliki jaminan sukses tertinggi justru berasal dari blog-blog pribadi. Dengan masing-masing cerita personal tersendiri di tiap resep yang di-publish. Resep-resep itu pasti sudah berhasil di-trial dengan sukses oleh para penulisnya. Disertai dengan foto-foto (yang umumnya) sederhana, justru resep itu terkesan jujur dan meyakinkan di mataku. Semoga suatu saat aku bisa mengembalikan semua knowledge yang kudapat dari internet itu dalam bentuk posting resep.

Ya, memasak itu menyenangkan. Demikian juga menyusun menu untuk seminggu, berandai-andai mau makan apa seminggu ke depan. Berbelanja di pasar tradisional, meski kadang pasarnya becek dan bau. Makanan yang dulu kukira hanya bisa dimakan di "luar" seperti selat Solo, nasi goreng rempah, aneka macam pasta, penyetan, chicken cordon blue, steam boat, pizza, tahu aci, cireng, pancake, ikan bakar, martabak mini, nasi kuning, jamur crispy dan lain-lain, ternyata dapat dibuat sendiri di rumah. Memasak itu bagaikan me time buatku, saat memasak yang ada di pikiranku hanyalah berusaha untuk mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan tentu saja menebak-nebak, seperti apa rasanya nanti. Kalau hasilnya enak dan bagus, pasti senang sekali. Jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, tentu saja agak kecewa. Namun tetap saja waktu-waktu memasak itu menenangkan dan mengasyikkan. Just me and myself, with the stove and kitchen utensils, listening to the music in my headset and the fizzle of water forced out of the raw groceries. Suara pisau memotong daun sawi, suara ulekan beradu dengan alasnya, suara bahan yang mendidih, suara sutil menggaruk penggorengan. Aroma bawang yang ditumis, aroma nasi yang baru matang, aroma ikan yang digoreng. Aroma tomat segar, aroma vanili yang terkena panas, aroma daun salam yang direbus. Begitu tenang dan perlahan, memungkinkan kita untuk menikmati setiap proses. It is like i am in my own, quieter word. And I like it.

Kegemaranku memasak ternyata bersambut kala ada teman messku yang mengajakku membeli oven dan mixer. Semenjak itu, kami rajin membuat kue, dengan harapan tinggi bahwa suatu saat nanti kami akan menjadi juragan bakery. Terakhir pulang kampung, aku membawa kue sukade buatanku sendiri. Terakhir kali temanku berulang tahun, aku membuatkannya cake ulang tahun buatanku sendiri. Mungkin teman-temanku dulu juga tidak akan menyangka, ternyata aku yang dulu jarang sekali memasak sekarang begitu antusias turun ke dapur. Aku yang dulu baru hafal aroma kencur setelah melakukan praktikum di laboratorium Analisa Kandungan Tanaman Obat itu, kini mempunyai koleksi bumbu-bumbu yang cukup lengkap, mulai dari jahe, kunyit, lengkuas, temu kunci, bawang merah, bawang bombay, jeruk nipis, daun jeruk, daun salam sampai kembang lawang (star anise), kayu manis, kapulaga, jintan, ketumbar dan tentu saja merica berbentuk butiran-butiran utuh. Belum lagi bahan-bahan membuat kue yang cukup lengkap.

Sekali lagi, masakanku tidak selalu sukses. Namun rasa excited sekaligus ketenangan yang kurasakan saat memasak begitu adiktif, sehingga aku tidak pernah kapok. Saking niatnya, aku membeli juga pancake dan muffin dari kafe dan bakery yang sudah cukup terkenal agar aku tahu, bagaimana sih rasa dan tekstur pancake dan muffin yang "benar" itu? Ternyata pancake harus cokelat merata bagian dasarnya, agar ketika dibalik tampak cokelat mulus nan cantik juga licin berkilap, bukan kuning berbintik-bintik hitam. Pancake juga harus mengembang, bukan bantat. Muffin harus cukup ringan dan berpori teksturnya, bukan padat seperti pound cake. Di dapur, aku dapat bertindak seperti formulator industri-industri farmasi me-too di Indonesia yang berusaha meniru persis produk inovator, haha. Membuat masakan me-too alias KW juga berguna untuk mengobati rasa kangen akan makanan-makanan kesukaanku yang susah kutemukan sekarang, misalnya capjay ndeso pakai kekian palsu (bukan cap cay Cina) ala warteg dekat kost-ku dulu; atau rujak kangkung yang di Jogja disebut sebagai "plecing kangkung", padahal ternyata keduanya merupakan dua jenis makanan yang berbeda. 

Satu lagi hal yang kusadari setelah aku belajar memasak adalah, ternyata benar bahwa setiap orang yang mau belajar memasak, pasti akhirnya akan bisa memasak. Practice makes perfect, walaupun aku belum perfect banget juga haha. 

Oh iya, kenapa umumnya orang menganggap bahwa orang-orang yang hobi belajar masak itu merupakan orang-orang yang sedang bersiap-siap berumah tangga ya? Bukan berarti mereka 100% salah sih, namun sepertinya dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan memasak untuk mengarungi kehidupan berumah tangga, bukan? Meskipun memang aku yang suka makan ini yakin bahwa ketersediaan dan kualitas makanan yang kita masukkan ke tubuh itu merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan ini :p A great food awakes your sense of taste and your soul as well. Makan enak aja sudah bisa bikin kita lebih happy, kan? Terus kan kasihan kalau anak-anak tidak mendapat asupan makanan yang halal, bergizi, bersih dan enak ("enak"-nya memang sengaja digaris bawah). Sedangkan menurutku memasak untuk suami adalah salah satu cara konkrit untuk menyatakan cinta. Thing I'll do after marriage. Soalnya, I want him to be the first man I am cooking for (selain adikku, ayahku dan mungkin beberapa orang lain yang beruntung kecipratan mencicipi masakanku walaupun tak pernah kubuatkan masakan secara khusus). Ternyata sebegitu pentingnya arti makanan buatku ya? Hehe...dasar aku suka makan.

Memasak untuk seseorang itu benar-benar merupakan tanda cinta
Bukankah menyenangkan, pulang saat petang dan ditawari makanan hangat yang baru saja dimasak?
Bukankah rasanya dicintai, ketika dibuatkan camilan kesukaan di sore hari?
Bukankah menentramkan, kala mengetahui makanan kita malam ini disiapkan secara teliti dan hati-hati oleh seseorang yang kita cintai?

Dan...sampai di akhir tulisan ini, tiba-tiba aku merasa lapar lagi.

22/10/14

Past and Present

Masa lalu takkan begitu menggiurkan, jika sekarang kita berbahagia.

06/08/13

Tipe Kepribadian menurut Helen Fischer

Aha, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang sesuatu yang bertemakan pop-science. Lebih tepatnya, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang apa-apa di blog ini, huhu. Oke, kali ini aku ingin menulis tentang tipe-tipe kepribadian lagi. Sebelumya aku sudah pernah menulis tentang tipe kepribadian juga, yaitu tentang Tipe Kepeminpinan (model DISC). Nah, kalau penggolongan kepribadian menurut model DISC dibuat untuk memudahkan kita melihat tipe kepemimpinan seseorang, kali ini aku ingin menulis tentang penggolongan tipe kepribadian Love Type menurut Helen Fischer. 

Helen Fischer berteori bahwa tipe kepribadian seseorang sangat menentukan dengan siapa ia akan jatuh cinta. Beliau juga berteori bahwa ada empat kelompok persarafan (neural system) utama yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Aktivitas saraf yang paling dominan pada seseorang akan menentukan kepribadian orang tersebut. Empat kelompok neural system itu adalah sistem dopamin, serotonin, testosteron dan estrogen/oksitoksin.

Tipe pertama, orang dengan sistem dopamin yang dominan. Orang-orang tersebut memiliki kecenderungan untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Mereka suka berpetualang, spontan, pemberani (suka mengambil resiko), berenergi tinggi tapi cepat bosan. Mereka kadang mengalami kesulitan untuk 'berpikir panjang' alias sangat impulsif sehingga sering terkesan sembrono dan boros. Oh iya, mereka juga Dianugerahi daya konsentrasi yang unik, yang mana mereka bisa begitu cepat mempelajari sesuatu dalam sekejap. Kemampuan yang juga dimotori oleh dopamin ini memang mendukung hobi mereka untuk mencoba sesuatu yang baru dan keberanian mereka untuk mengambil resiko. Kita bisa menemukan mereka di puncak gunung tertinggi, menyelam di laut lepas, main paralayang, atau sedang blusukan di daerah asing. Helen Fischer menyebut mereka sebagai "the Adventurer".

Berteman dengan mereka bisa menyenangkan, aku punya dua teman akrab yang menunjukkan ciri-ciri the Adventurer ini. Mereka selalu bersemangat dan jarang banget terlihat loyo kecuali kalau lagi sakit. Pokoknya kalau dekat-dekat dengan mereka tuh jadi ikut semangat juga, walaupun mereka tidak bisa mentoleransi kebosanan dan kadang-kadang memaksakan kehendak, wkwkwk. Sifat mereka yang random dan unpredictable juga kadang menjadi hiburan tersendiri bagiku (loh?? haha). Ya, alam berpikir mereka sangat berbeda dengan alam pikirku. Mereka hobi memutuskan sesuatu dengan sangat cepat (bahkan terkesan tanpa pertimbangan logis yang cukup di mataku), tapi kuakui, dalam keadaan-keadaan tertentu kita membutuhkan orang seperti mereka dalam kelompok :) Misalnya kita lagi travelling bareng, menurutku akan sangat menyenangkan kalau ada satu atau dua orang the Adventurer dalam kelompok kita.

Menurut Helen Fischer, the adventurer cenderung jatuh cinta dengan sesama adventurer juga. Kalau poin ini sih aku setuju banget, secara logika dan secara aktual memang poin ini benar. Temanku yang tergolong the adventurer bilang kalau dia ingin seseorang yang bisa diajak berpetualang bersama. Memang menurut Helen Fischer, the adventurer ini mencari "playing mate" alias teman bermain. Berdua bersama, mereka sama-sama menjelajahi dunia.

Berlawanan dengan the adventurer, tipe kedua yaitu orang dengan sistem serotonin yang dominan, lebih suka memastikan keamanan dan berusaha meminimalkan resiko. Helen Fischer menyebut mereka sebagai si pembangun, the builder. The builder ini sangat patuh dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. The builder selalu terlihat tenang, stabil, kalem dan terkendali. Mereka juga selalu mengkalkulasi setiap resiko dari apapun yang mereka kerjakan dan menerapkan manajemen resiko untuk meminimalkan resiko itu. Sayangnya sifat itu menjadikan mereka terkesan lambat berpikir. Mereka ingin terlihat wajar di mata orang lain, selalu menuruti peraturan dan rencana yang sudah dibuat. Pokoknya mereka itu enggak neko-neko meski kadang jadi terkesan kolot dan kaku. Tampilan mereka sehari-hari klasik dan konvensional. Oh iya, mereka juga suka membangun dan memelihara hubungan dengan orang lain. Menurutku the builder itu tipe-tipe orang yang mengangguk sopan dan minta izin ke aku sebelum mereka duduk di sebelahku ketika aku naik bus umum. Atau orang-orang yang mau repot-repot menghubungi teman-temannya untuk reuni. Mereka memang tidak keberatan untuk go out of their way untuk memelihara jaringan sosial mereka dan mereka selalu tampak sopan.

Hmm, aku kenal juga sih dengan orang-orang tipe the builder ini. Ya, mereka memang tidak keberatan untuk repot, untuk ribet, untuk rempong, asal hubungan sosial mereka terpelihara dengan baik. Pilar masyarakat, begitu Helen Fischer mendeskripsikan the builder. Menurutnya pula, the builder cenderung untuk jatuh cinta dengan sesama the builder juga. Soalnya, the builder itu mencari teman bermasyarakat, social mate. Berdua bersama, mereka bisa membangun social network yang lebih luas dan lebih stabil lagi.

Kesimpulan sementara? The adventurer dan the builder cenderung jatuh cinta pada orang-orang yang sejenis dengan mereka. Like dissolves like.

Tipe ketiga, orang yang banyak dipengaruhi oleh testosteron. Testosteron memang dikenal sebagai hormon laki-laki, tapi hormon ini ada juga pada wanita. Helen Fischer menyebut mereka sebagai the director (diterjemahkan sebagai "pengarah"). Menurutnya, otak para director banyak terpapar testosteron sehingga umumnya para director itu memiliki kemampuan spasial dan matematika yang oke. Namun mereka memiliki kemampan sosial dan berbahasa yang kurang baik. Mereka pandai memahami sistem-sistem yang didasari aturan teratur (rule-based systems), misalnya tata surya, sistem pencernaan manusia, musik, mesin, komputer, bursa efek dan lain sebagainya. Daya konsentrasi mereka sangat dalam, sekali terfokus pada suatu hal mereka akan sulit untuk mengalihkan konsentrasinya pada hal lain. Ditenggarai mereka memiliki hasrat seksual dan agresivitas yang lebih tinggi pula, mengingat seperti itulah efek testosteron pada tubuh manusia. Sebagian besar director memang laki-laki, tapi ada juga wanita yang peka terhadap pengaruh testosteron tersebut dan berkembang menjadi seorang director. Kata Helen Fischer, seorang director bisa saja berwujud sebagai seorang wanita yang terkesan lembut dan feminin di luar, namun sebenarnya ia adalah seseorang yang menuntut kesempurnaan dan sangat logis di dalam, karena otaknya sudah terlanjur terpapar testosteron. Ngomong-ngomong, jejak paparan testosteron dalam tubuh seseorang bisa dilihat dari jari jemari di tangan kanannya. Orang yang terpapar testosteron selama masih dalam kandungan, akan memiliki tangan kanan dengan jari manis yang lebih panjang daripada jari telunjuknya. Tapi tidak semua director memiliki ciri fisik itu, bisa saja otak mereka baru terpapar testosteron ketika mereka menginjak masa remaja.

The director merupakan orang yang apa adanya, tak suka berbasa-basi, praktis dan pragmatis. Mereka membanggakan diri sebagai orang yang logis. Mereka memiliki standar yang tinggi dan rela melakukan apapun untuk memperjuangkan standar itu, walaupun harus bersaing. The director memang tidak takut dengan persaingan, perdebatan atau perselisihan, karena mereka memang sangat percaya diri dengan kemampuannya.  Justru mereka menyukai perdebatan yang logis untuk mencapai suatu kesimpulan. Kata Helen Fischer, merekalah sang penggapai bintang, penggerak kemajuan berpikir dalam suatu peradaban manusia. Ciri lain dari seorang director adalah "an almost perfect separation of emotion and logical thought", mereka bisa mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh emosi alias bisa sangat objektif. Masih menurut Helen Fischer, mereka adalah individu-individu yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam menahan dan mengesampingkan rasa sakit, baik sakit fisik maupun sakit hati. Pengaruh testosteron juga menjadikan mereka seorang altruis yang suka menolong dan melindungi orang lain secara spontan. Walaupun begitu, mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang lebih rendah dibandingkan tipe kepribadian lain. Mereka bisa tampak tega menjurus kejam, asyik dengan pikirannya sendiri, enggan berbasa-basi dan tidak terlalu peduli pada orang lain. Mereka kadang tampak mengintimidasi dan tidak ramah. Mereka juga tidak peka terhadap sinyal-sinyal emosi dari orang lain. Emosi membuat mereka kebingungan dan akhirnya, ketika emosi mereka benar-benar memuncak, mereka bisa saja kehilangan kontrol dan meledak dalam kemarahan. 

Menurut Helen Fischer, the director berpendapat bahwa berkencan adalah suatu tugas (bukan suatu kesenangan), dan setelah 'tugas' itu selesai mereka ingin segera beralih menyelesaikan urusan lain. Maklumlah, mereka tidak terlalu lihai melakukan multi-tasking. Karena mereka tidak terlalu memperhatikan emosi, mereka juga enteng saja meninggalkan hubungan yang tidak sesuai standar mereka. Walaupun begitu, sekali menemukan orang yang cocok, mereka akan mengarahkan fokusnya yang dalam dan luar biasa pada orang itu. The director mendambakan pasangan yang cerdas sebagai pendamping berpikir (thinking mate).

Tipe keempat adalah the negotiator. Mereka adalah orang yang banyak dipengaruhi oleh estrogen dan oksitoksin. Memang estrogen dikenal sebagai hormon wanita, namun pria juga memiliki hormon estrogen. Beberapa pria sejati menunjukkan cir-ciri dominan the negotiator ini karena mereka terkena paparan estrogen semasa dalam kandungan. Dalam sebagian besar hal, the negotiator sangat berlawanan dengan the director. Pengaruh estrogen menjadikan mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang baik. Mereka lihai berkata-kata, ekspresif dan pandai membaca emosi orang lain. Mereka berusaha mencari arti dari setiap gestur, nada bicara dan ekspresi lawan bicara. Mereka pandai berbasa-basi dan suka menyenangkan orang lain, meskipun itu artinya mereka harus mengorbankan pendapat dan kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak keberatan untuk berubah dan menyesuaikan diri demi orang lain. Hal tersebut berlawanan dengan sifat the director.

Gaya berpikir mereka konsentris dan menjaring, bukan linear seperti the director. Artinya, mereka bisa melihat berbagai kemungkinan, dari berbagai sudut pandang, untuk memecahkan suatu masalah. Mereka juga lihai melakukan multi tasking. Namun mereka agak lemah dalam hal-hal teknis seperti membaca peta atau memahami cara kerja mesin-mesin. Mereka juga sering terlihat ragu-ragu dan tak tegas, serta terlalu sensitif akan perasaannya sendiri maupun perasaan orang lain.

The negotiator berpendapat bahwa jatuh cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya pada orang yang dijatuh cintai. Mereka imajinatif dan romantis meskipun kadang tak logis. Menurut Helen Fischer, the negotiator mencari teman jiwa alias soulmate.

You know what, menurut Helen Fischer, director cenderung jatuh cinta pada negotiator, begitu juga sebaliknya. Mungkin terdengar aneh ya? Sifat mereka sangat berlawanan...tapi kenyataannya mereka memang saling menarik dan tertarik kepada satu sama lain. Mungkin ini yang namanya opposite attracts, yin-yang, perbedaan yang melengkapi, atau apalah itu istilahnya. Rupanya, baik director maupun negotiator sama-sama mencari percakapan yang berbobot dan teoritis. Mereka tidak menyukai percakapan yang dangkal tanpa substansi. Bedanya, director meninjau suatu hal dari satu perspektif dan negotiator meninjau suatu hal dari berbagai perspektif. Menurut Helen Fischer juga, dengan perbedaan gaya berpikir ini, mereka justru bisa bersinergi untuk memecahkan masalah apapun, they make a great team gitu deh. Melalui percakapan, mereka saling menarik satu sama lain. Kalau menurut Helen Fischer, fenomena ketertarikan antara dua pribadi berlawanan ini disebabkan oleh insting biologis manusia untuk mencari pasangan yang dapat melengkapi gen-gennya. Sehingga ketika nanti mereka mempunyai anak, anak mereka nantinya bisa menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik dibanding mereka. Saling melengkapi begitu, kali ya?

Penasaran dengan tipe kepribadian ini? Coba ikut tesnya di sini. Aku sudah dua kali mencoba tes itu, kali pertama memakai bukunya Helen Fischer (judulnya Why Him, Why Her?) dan yang kedua memakai kuis online di link yang aku tampilkan di kalimat sebelum kalimat ini. Hasilnya sama kok, so aku menyimpulkan bahwa tes ini cukup robust dan precise ^.^ aku sama sekali tidak kaget ketika mengetahui hasil tesku. Bener banget sih menurutku, haha. Perlu diketahui, selain tipe kepribadian utama, menurut Helen Fischer tipe kepribadian kedua juga cukup mempengaruhi kepribadian seseorang. Jadi nanti hasil tes kita akan disajikan dalam format tipekepribadian1/tipekepribadian2, misalnya negosiator/petualang, atau pengarah/pembangun. Iya sih, menurutku tidak ada seorang pun yang murni seorang adveturer, builder, director atau negotiator. Kita adalah kombinasi yang khas dari keempat traits itu.

Akhirnya..aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan "percaya enggak percaya, terserah anda", hoho. Iya sih Helen Fischer mengemukakan teori-teori yang kukemukakan di atas berdasarkan penelitiannya yang dilakukan bertahun-tahun dan melibatkan ribuan responden. Menurutku hasil penelitiannya masuk akal kok. Tapi sekali lagi, mau percaya atau tidak, semuanya terserah anda.

Semoga tulisanku ini bermanfaat. Have a good life, reader!

09/04/13

I Took The Good Times, I'll Take The Bad Times...

Awalnya aku tidak begitu suka dengan lagu “Just The Way You Are”-nya Billy Joel. Aku pernah  mendengarnya sekilas dan enggak terlalu suka dengan lirik lagunya. Kok ada kata-kata, ‘don’t go changing some new fashion, don’t change the colour of your hair”? Menurutku perubahan itu bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Kalau kita terus stagnan, terus apa artinya hidup? Bukankah kita harus selalu melakukan langkah-langkah continous improvement? Dan orang tercinta sudah seharusnya mendukung langkah-langkah kita itu, bukan malah membuat kita stagnan, apapun alasannya.


Namun pendapatku tentang lagu itu agak berubah saat beberapa bulan lalu aku les conversation bahasa Inggris. That evening, my teacher made the class listen to a song and he asked us to write down the verbs from the lyric. Ternyata lagu “Just The Way You Are” itulah yang diputarnya. Lagunya diputar dua kali. Saat diputar untuk yang pertama kalinya, aku enggak terlalu memperhatikan musik dan liriknya, aku cuma fokus mendengarkan verb-nya saja. Saat diputar untuk kedua kalinya, aku mulai memperhatikan liriknya dengan sungguh-sungguh, juga memperhatikan musiknya. Oh iya, liriknya bisa dilihat di sini.

Setelah didengarkan dengan saksama, ternyata musiknya asyik juga. Menenangkan banget. Enak juga duduk di pojok kelas sambil menikmati musik. Rasanya di situ cuma ada aku, yang lain cuma ngontrak, haha...bercanda ding. Musiknya bikin rileks, dan aku benar-benar suka sama bunyi-bunyian dari brass section di bagian menjelang akhir lagu.

Selain itu aku menemukan sebuah kalimat yang bagus banget di situ.
"I took the good times, I'll take the bad times"

How sweet :)
Seolah-olah makna dari kalimat sederhana nan powerful itu begini: 
"I really enjoy your companion and I think you are very awesome. Borrowing a sentence from a novel i have ever read: Every language in this world would fail in saying how much and with what disinterested passion I am ever yours. But I know that you are a human. Therefore, like me, you are not perfect. And if you ever lose your cheerfulness and your coolness -things that made me fall for you for the first time- remember that i will be here to cheer you up. To let you know that you are still the very same person i fall in love with, person that I will always like and appreciate. You are still the same person behind all of your problems and I believe that you can face it".

Hehehe memang sotoy banget ya aku ini. Yah, itu tadi interpretasiku sendiri tentang potongan lirik lagu Just The Way You Are-nya Billie Joel sih. Suka-suka aku dong ;p namun aku tidak setuju 100% dengan lirik lagu itu, hanya saja aku benar-benar suka dan setuju dengan kalimat "I took the good times, I'll take the bad times" itu :) Lagu lain yang memiliki lirik yang hampir semakna dengan "I took the good times, I'll take the bad times"-nya Just The Way You Are adalah lirik dari lagu I'll Stand by You dari grup The Pretenders (lirik bisa dilihat di sini).

"I'll Stand by You. Take me into your darkest hour, and I'll never desert you"

Seperti pula lagu Just The Way You Are, aku pun tidak bisa setuju 100% dengan keseluruhan lirik lagu I'll Stand by You. Namun aku setuju dengan kalimat itu :)
What do you think, readers?

25/10/12

Pixy Ultimate Cake Make-Up

DISCLAIMER: Posting ini sepenuhnya merupakan pendapat pribadi penulis. Hasil dapat berbeda untuk setiap orang. Penulis tidak mendapatkan bayaran maupun kompensasi apapun karena membuat posting ini kecuali kepuasan pribadi semata.

Sekitar dua bulan lalu, aku googling untuk mencari referensi merek bedak padat yang bagus. Yup, di masa kejayaan dinasti Google seperti saat ini, menurutku agak rugi kalau kita membeli suatu kosmetik (terutama yang harganya di atas dua puluh ribu rupiah) tanpa googling dulu. Ah alesanku aja sih ini sebenernya, alasan sesungguhnya adalah karena sifat sok perhitungan khas mahasiswa yang kumiliki..maklum, anak kos.

Oh iya, sebenarnya, buatku bedak padat adalah a big no-no untuk dipakai setiap hari, soalnya kulitku rentan berjerawat. Kulit rentan jerawat disarankan untuk memakai bedak tabur, kalau bisa yang tanpa pewarna tambahan (warnanya putih saja). Tapi kalau dipakai sekali-kali saat acara spesial, bedak padat tidak jadi masalah. Yang penting segera remove produk kalau ada tanda-tanda iritasi dan setelah bersihkan dengan saksama kalau sudah tidak perlu dandan lagi. Nah, alasanku membeli bedak padat adalah untuk digunakan saat acara pernikahannya bulikku. Biar tampilan lebih terlihat 'dandan' alias put some effort lah.

Setelah beberapa saat membaca sebuah thread di web fashionese daily, aku menarik kesimpulan bahwa bedak padat yang memiliki value tertinggi (kalau nilai value= price/quality) adalah Pixy Ultimate Make Up Cake. Oh iya, perias yang aku panggil buat rias wisudaku juga bilang kalau bedak padat yang paling oke itu Pixy. Sayang ibu periasnya enggak bilang yang tipe apa dan aku juga enggak berminat untuk tanya karena saat itu merasa enggak bakal beli bedak padat. Padahal sudah lumrah kalau satu merk kosmetik itu punya berbagai macam produk untuk satu fungsi yang sama, hanya peruntukannya saja yang beda-beda.
Langsung saja kita review bedak padat ini :-)


Keamanannya?
Sebenarnya, baru setelah aku browsing aku tahu kalau Pixy itu sebenarnya cukup terpercaya juga. Selama ini aku cuek saja sih, belum pernah beli merk ini. Dari review di internet, sepertinya merk ini tergolong merk yang bebas komplain dan banyak mendapat review positif. Tapi sekali lagi karena yang kubeli ini bedak padat, berarti harus digunakan dengan sangat hati-hati untuk kulit yang mudah berjerawat.



Harganya?
Aku beli kemasan refillnya sih, harganya 22 ribu. Awalnya aku enggak tahu kalau ada kemasan refill, tapi melihat harganya yang aku yakin pasti beda signifikan dengan yang kemasan komplit yang ada cerminnya..pasti sudah maklum kan yang mana yang kupilih? Lumayannn, ngirit hampir 20 ribu, bisa buat nambah-nambah beli maskara, hihihi. Lagian kemasan refill sudah ada sponsnya kok, cuma enggak ada cerminnya aja. Bedak ini bakalan jarang kupakai juga, jadi aku beli yang kemasan refill aja. Meskipun enggak pernah beli bedak padat, menurutku harga segitu tergolong murah untuk sebuah bedak padat ukuran standar.



Warnanya?
Ada beberapa shade, aku lupa..5 macam apa ya? Aku tanya ke spg-nya, warna apa yang kiranya cocok buat kulit wajahku. Terus mbaknya menyarankan shade natural, katanya cocok untuk hampir semua warna kulit. Aku coba usapkan ke telapak tangan saat itu..ya, lumayan cocoklah. Dan aku puas dengan jatuhnya shade ini di wajahku :-D



Kemudahan penggunaan?
Bedak padat ini bisa digunakan dengan dua cara, metode basah dan kering..haha, kayak apaan aja ya. Kalau yang tertulis di petunjuknya sih ada tulisan kira-kira seperti ini: gunakan spons kering untuk tampilan alami dan gunakan spons basah untuk tampilan lebih menutup. Karena pingin coverage yang maksimal, aku pakai spons basah. Bukan basah sampai airnya menetes sih, cuma sampai tepat basah aja, terus diusapkan ke bedak padatnya kemudian dipakaikan di kulit. Cara pakainya ditepuk-tepukkan, beda dengan cara pakai bedak tabur yang cukup diusap dengan puff. Katanya sih begituuu :-) dan menurutku, dengan cara ini, bedak sudah bisa menempel dengan baik, tanpa memerlukan usaha yang berlebihan.



Hasil akhirnya?
Waww, memang beda banget ya kalau pakai bedak tabur dengan bedak padat! Dengan bedak padat, muka terlihat lebih halus dan flawless..ya enggak 100% flawless juga sih, tapi keliatan beda banget lah. Benar-benar terlihat dandan. Dan aku suka karena tampilannya rapi, sudah kelihatan kalau dandan tapi enggak berlebihan. Ternyata saudara-saudara, rahasia dandan itu bukan pada make-up mata tapi pada make-up dasarnya, alias pada dandanan mukanya. Harus terlihat mulus dulu! Tapi aku yakin, kalau setiap hari aku keluar rumah pakai bedak padat dan eyeliner seperti di foto ini, nanti sekalinya aku enggak pakai pasti kelihatan kusam. Jadiii, memang benar kalau make-up itu sebaiknya hanya dipakai pada kesempatan yang benar-benar istimewa saja. Atau buat keperluan latihan dan hobi saja.


REALITY CHECK: gambar diambil dengan kamera VGA, tanpa editing
Make-up yang dipakai: Bedak padat, bedak tabur, eyeliner, maskara, pensil alis, eye shadow (kuning-jingga), dan lipbalm

REALITY CHECK: gambar diambil dengan kamera 5 megapiksel, tanpa editing
Make-up yang dipakai: Bedak padat, bedak tabur, eyeliner, maskara, pensil alis, eye shadow (kuning-jingga), dan lipbalm


Overall, aku puas dengan produk ini...nilainya 9.0 dari skala 1-10! Walaupun aku enggak boleh pakai bedak ini setiap hari tapi tetap saja aku merasa puas. Alhamdulillah, i found the right compact powder on my first try! Terima kasih tante google, hehe...jadi terpikir buat dandan sendiri aja buat sumpahan besok, biar terlihat lebih alami :D


p.s: Aku sudah coba eyeliner cair Pixy, dan puas banget juga dengan hasilnya!!!! Sangat awet dan mudah digunakan. Kalau ada kesempatan, semoga aku sempat menuliskan pendapatku tentang eyeliner ini.

05/10/12

Efek Kuliah Manajemen Pemasaran (tentang Hierarki Kebutuhan Manusia)

DREAMS

Aku ingin menjadi wanita kaya yang memandang dunia dari lantai tiga puluh tiga 
Aku ingin menjadi wanita bahagia yang memenuhi kebutuhannya dengan menatap mata orang-orang tercintanya 
Dan di atas semuanya, aku ingin masuk surga, bersama orang-orang yang kusayangi tentunya ^^

25/07/12

Mengingat

Menghafal itu membosankan!
Mengingat, nah itu pilihan yang jauh, jauh lebih baik :)
Karena mengingat itu mengendalikan apa yang akan kita pikirkan.

15/07/12

Authentic Fashion Style from Indonesia (Batik and Kebaya)

Fashion of Indonesia? I used to think that it's batik, batik and batik. Honestly i am quite fond of batik. When I enter a batik store, i can say that every batik has its beauty, all of them are exquisite and I can't decide which one is the worst. Of course, it would took me at least 20 minutes to choose one batik to buy, but really! It's not because all of them are boring. All of them are beautiful and it will cause me a confusion in deciding which batik to choose. The style of batik motif differs significantly in every area, that's why we know Cirebon's batik, Yogyakarta/Solo's batik, Kalimantan's batik, etc. My lecturer had ever worn an unique batik shirt once, he said that it is Irian's batik. It has a cenderawasih (Irian's specific bird species) motif on it, so unique :)

Once i went to Lasem (a kecamatan in Rembang, a city in the eastern part of central java), and I instantly fell in love with Lasem's batik. heir motif are so beautiful and their colors...yeah, their colors are amazing. Not like Yogyakarta's or Solo's batik which are mostly dominated by earth-colored color tone, Lasem's batik always has this colorful, fresh and bold color combination in every one of them. The only thing that makes my love to Lasem's batik broke into pieces was only its price. My favorite fabric costed Rp 300.000,- (about 30 US$). Were you kidding me? So far, I don't have, and have never bought any top costed more than Rp 130.000,- (about 13 US$). Actually the price of Lasem's batik was reasonable in my opinion, because it's a batik tulis (i mean the motif was drawn manually by hand, so do the whole making processes, they were done manually too). The Lasem's batik artist  are using natural colorant too, so the price is higher than other batik from other areas of Indonesia. But Rp.300.000,- for a piece of clothing was still too expensive for me. It's better used as home decoration, not as clothing material because it's so beautiful and expensive. So Lasem's batik...if you'll excuse me, I am going to study and work hard so I can be rich and bring you into my closet. 

A few days ago, I went to a boutique with my friends. Mmm, wait, can I call it a boutique? Actually it's just a little shop who sells and rentals kebaya and suit, the room is not arranged artistically, so let me just call it a shop, okay? We were planning to hire a make-up artist to do some make-up on us for our graduation, which is supposed to be held on August 28th (amin). One of my friend rented a kebaya too. I didn't rent a kebaya because i am planning to wear my mother's kebaya (which is now MY kebaya because she gave it to me) in my graduation. My mother brought the kebaya from Kudus on last thursday. With minimal equipment (a belt) I tried to wear the jarik (long fabric, usually batik or tenun used as long skirt), then I wore the kebaya. I got a little bit too excited and asked my mother to take a picture of me wearing kebaya. As if it wasn't enough, I took a mirror picture of myself like an alay girl I was. 

"Alay Picture" (according to my brother, but let's not focusing on him, haha)

Actually the kebaya I wore in the picture above is older than me. My mother wore it at her wedding, at the ceremony called midodareni (my parent's wedding was based on Javanese tradition). Personally, i really love this kebaya. I think it is kind of romantic to wear my mother's wedding dress (wedding kebaya in this context, LOL).  I have ever worn this kebaya before in my junior and senior year of high school, in Kartini's day celebration. Actually it needs a little adjustment in order to fit petite-me perfectly, but I really like to wear it and I feel comfortable and confident on it. I love its color as well, combination of black and fuschia. I had ever had a wallet with the same color combination too. I think black represents toughness and mystery, but fuschia adds a feminine touch in a right dose, gives it a nice balance. In bahasa Indonesia, I called it berkarakter. Hahaha, what an amateur opinion from a girl who thinks she know many things (sok tahu). 

And since last thursday, i decided that I love kebaya too...it is designed for woman (you don't say Lia?? of course it is -____- ). Haha, i meant that kebaya is gorgeous and elegant..and it suits a woman well. When a woman wearing a set of kebaya, she will walk more gorgeously, watching her every step. Not that I am an activist of female right suppression, but wearing kebaya makes a woman look and act more feminine, and I like it. Not to mention that when a woman wearing kebaya, she will look perfectly-dressed.

"Dress shabbily and they remember the dress; dress impeccably and they remember the woman" - Coco Channel

I ended up renting a more glamorous kebaya for my graduation, as my mother's advice, but I think I will wear my own kebaya for special occasions. So, anyone throw a wedding party? Invite me, if i think my kebaya suits your party, I'll wear it happily, haha :)




21/05/12

Like a Sir

Mungkin sudah berbulan-bulan lalu, aku lihat sebuah post di 9gag tentang sebuah film yang akan dirilis (biasaaa, spoiler). Di film tersebut Johnny Depp jadi aktornya, dan salah satu dialognya berbunyi seperti ini, "you may strategically place your wonderful lips upon my posterior and kiss it repeatedly". Ternyata, arti kalimat itu tidak bagus untuk diperdengarkan kepada adik-adik kita yang masih di bawah umur, alias merupakan sebuah umpatan. Dan di bagian bawah post itu, ada tulisan "Johnny Depp, cursing like a sir". Wah, kalau orangnya enggak ngerti seperti aku, bisa-bisa dikira kalimat itu disalah artikan sebagai pujian, ya...padahal itu kalimat buat misuh. Berdasarkan yang pernah aku baca sih, sarkasme merupakan suatu seni yang membuat orang menyangka bahwa mereka disanjung, padahal sebenarnya mereka sedang dicaci. Namun dikatakan bahwa belajar memahami sarkasme dapat membuat seseorang lebih cerdas, aku setuju itu. Kan belajar sesuatu yang enggak gampang itu bikin pinter.

Nah, beruntunglah teman-teman sekelas (terutama teman segolongan praktikum dulu, salah satunya Niha), akhir-akhir ini sedang rajin nonton film di bioskop. Waktu pertama kali diajak nonton Dark Shadows, aku ragu-ragu. Soalnya pernah denger sekilas darimana gitu, itu film tentang vampir. Eh ternyata yang jadi vampirnya Johnny Depp. Berarti film itu merupakan film yang salah satu dialognya sudah aku tulis di paragraf pertama postingan ini, hihihi. Mengingat kutipan sarkasme yang terkesan elegan (tapi sebenarnya kasar itu), aku pun tertarik untuk ikut.

Aku enggak akan menuliskan cerita filmnya sih. Filmnya bagus kok, lucu di awal-awal. Menjelang akhir film, ceritanya serius, tapi secara keseluruhan menghibur sih menurutku. Terus sejak awal, di film ini digaungkan terus pemahaman tentang "blood is thicker than water". Pokoknya harta yang paling berharga adalah keluarga (mirip-mirip serial Keluarga Cemara, ya, hehe). Namun, menurutku yang paling menarik dari film itu adalah gaya ngomongnya Johnny Depp yang memakai gaya bahasa tahun 1700-an. Pinter ya, yang bikin dialognya, maybe he/she has a degree in English literature or something. Dia memanggil setiap wanita (yang biasanya dipanggil Mrs.) dengan sebutan madam dan memanggil wanita yang lebih muda dengan sebutan dear. Terus ada adegan dimana dia ngomong "Fight I shall" dan "methinks". Hahaha, jadul banget bahasanya. Dan masih banyak lagi dialog yang lucu buatku, bukan karena bahasanya saja tapi juga karena kejadulannya itu, misalnya:

"A woman doctor, what an age this is?"
"What sorcery is this?" (Dia heran melihat siaran televisi).
(melihat penyanyi rock sedang tampil) "the ugliest woman i have ever seen"

Dan scene yang menurutku paling lucu adalah saat dia meminta saran di bidang percintaan kepada seorang remaja wanita. Ketika mengetahui bahwa remaja itu berusia 15 tahun, dia mengeluarkan komentar yang lucu banget, haha. Sekali lagi, lucu karena bahasa dan kejadulannya, tapi terdengar elegan. Menurutku, ini meme yang paling sesuai untuk film itu:

sumber gambar: knowyourmeme.com

Hihi, suka deh yang enggak biasa seperti di film ini.. Atau denger bahasa Inggris yang ada aksennya. Kalau bahasa Inggrisnya orang Amerika itu terdengar lurus-lurus saja, mungkin karena sebagian besar lagu dan film luar negeri sekarang berasal dari Amerika. Kalau orang Inggris yang ngomong, beda. Bahasa Inggrisnya terkesan tebal di telinga (mungkin terdengar medok di telinga orang Amerika?) walaupun lebih susah dimengerti. Baru-baru ini terpesona sama Tom Hiddleston (sampai bela-belain ngerental filmnya yang belum aku tonton). Ternyata dia berasal dari London. Waaaw, melihat dan mendengar video wawancaranya, jadi makin suka...he speaks English like a sir :D

11/05/12

Music for Ear and Eye

Ternyata tidak harus menunggu sampai tanggal 26 Juli untuk menunggu video klip lagu Payphone dirilis. Iya sih, memang album terbaru Maroon 5 baru akan dirilis pada tanggal tersebut, tapi video klip hits pertamanya sekarang sudah bisa dilihat di Youtube. Senangnya :-D





Ini liriknya (tapi tanpa bagian rap-nya ya, maaf, hoho). Seperti biasa, khas Maroon 5, kalaupun harus galau, maka galaunya pun bukan galau menyerah pasrah. Namun, menurutku galaunya berkata, "come back to me, you know i'll always treat you like a queen", seperti juga lagunya yang lain, Misery, She Will be Loved, Won't Go Home Without You...haha, sok tahu banget ya aku.





Payphone

(Maroon 5 feat. Wiz Khalifa)


I'm at a payphone trying to go home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we've made for two?



Yeah, I, I know it's hard to remember

The people we used to be
It's even harder to picture
That you're not here next to me
You say it's too late to make it
But is it too late to try?

And in our time that you wasted
All of our bridges burned down
I've wasted my nights, you turned out the lights, now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to go home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of s**t
One more fu**ing love song I'll be sick

You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow
But just gave it away
You can't expect me to be fine
I don't expect you to care
I know I've said it before

But all of our bridges burned down
I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to go home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we've made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
And all those fairytales are full of sh*t
One more fu**ing love song I'll be sick
Now I'm at a payphone...

Nice lyrics...meskipun menurutku videonya enggak nyambung sama liriknya, tapi aku tetep heboh dalam hati waktu lihat adegan si Adam berusaha keluar dari scene perampokan itu. Aaaaaaaaaaaa banget deh :D
Di youtube sendiri banyak pendapat orang-orang yang berusaha memahami arti video itu. Mungkin ada sebuah metafor di dalam video itu. Tapi gimana aku bisa berpikir keras untuk memikirkan metafora di balik video klip itu kalau Adam levine yang jadi aktornya, hahaha. I ended up commenting like this in youtube:


How about this: Adam is the bad guy, he is the robber also. Other robbers were shooting at him, but not even one bullet hit him (just so people won't think that Adam is on their team). Adam could care less about other people, but he saved the office girl. At 0.51, watch his expression as he saw her. Maybe they were a lover..but something happened and their relationship ended. He still love her though. When he survived from the cops, he called her, spend all of his changes to make sure she's fine
widyaninggar148 1 second ago

This song just makes me like Maroon 5 more :) 

07/05/12

Cerita si Glisin


Aku merupakan suatu senyawa organik. Menurutku tidak ada yang spesial pada diriku, hanya aku memiliki dua bagian tubuh yang berlawanan satu sama lain. Salah satu dari mereka dapat melepaskan hidrogennya. Sebaliknya, ada bagian tubuhku yang dapat menangkap hidrogen. Namun kedua bagian tubuh itu kumanfaatkan untuk bergandengan dengan tetangga sejenisku, prolin dan hidroksiprolin. Seperti senyawa organik pada umumnya, aku disusun dari atom karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Ada juga sih anggota keluargaku (keluargaku artinya senyawa-senyawa lain yang katanya strukturnya mirip struktur molekulku), yang punya atom sulfur. Ah, tentang ini sih, bukan urusanku. Tuhan menyuruhku begini, aku ikut saja. Meskipun tidak punya atom sulfur, aku tetap bersyukur sudah ditakdirkan menjadi diriku seperti ini. Dalam kehidupan kali ini, Tuhan Menyuruhku untuk ikut andil dalam menyusun kulit seekor sapi. Sapi itu disembelih setelah seumur hidup diambil susu dan disuruh kawin untuk kemudian diambil anaknya (setelah mati pun ia masih akan dimakan dagingnya, kasihan betul). Kulitnya pun tidak ketinggalan pula diambil seorang lelaki paruh baya dan diangkut ke sebuah bangunan yang besar sekali. Di sanalah kulit si sapi, berarti ada aku di dalamnya, diolah menjadi gelatin.

Ah, jangan tanyakan tentang proses pengolahannya. Rasanya panas dan sakit. Untung aku masih bisa bertahan. Aku pun terpisah dari tetangga-tetanggaku, yang tidak lain merupakan keluargaku juga. Sebagian besar dari kami masih hidup, namun ada juga yang mati alias terdegradasi. Kampung kami yang awalnya solid, berupa struktur triple helix yang megah, tercerai berai menjadi rantai yang tidak beraturan. Ada yang menjadi rantai tunggal (para ilmuwan menyebutnya rantai alfa), ada yang berupa rantai tunggal (disebut rantai beta), ada juga yang masih berupa triple helix namun tidak lagi beraturan seperti dulu (rantai gama), namun jumlah rantai gama sangat sedikit. Aku sendiri pasrah saja ketika nasib menghantarkanku berada pada salah satu rantai alfa. Masih bersyukur aku tetap berpegangan tangan dengan prolin dan hidroksiprolin. Sebelum diolah menjadi gelatin, selain bergandengan denganku, si prolin dan hidroksiprolin sebenarnya berpacaran dengan molekul tetangga di rantai lain atas jasa baik sebuah mak comblang, yaitu molekul air. Namun nasib molekul siapa yang tahu, proses pengolahan yang tidak berkeperimolekulan itu memisahkan cinta mereka. Sekarang siapa yang tahu keberadaan kekasih mereka. Jangan-jangan mereka sudah mati. Ah, sudahlah. Yang penting jangan pernah sebut-sebut kejadian itu lagi, kasihan mereka. Namun kami para molekul memang tegar dan menurut saja apapun yang Diperintahkan Allah. Apapun yang terjadi, yang penting tetap lakukan apa yang kami bisa. Itu saja.

Setelah menjadi gelatin, pekerjaanku hanyalah duduk manis dalam sebuah stoples plastik. Suatu pagi kucuri dengar pembicaraan manusia dalam bahasa Inggris, mereka berkata bahwa aku akan dikirim ke Indonesia. Maka dimulailah hari-hariku melintasi benua. Sayang stoplesku kedap cahaya, begitu pula kardus dan kontainer peti kemas yang digunakan untuk mengangkutku. Aku jadi tidak bisa melihat-lihat jalan. Setelah berhari-hari terus diguncang-guncang, akhirnya aku berakhir di sebuah lemari tua, di sebuah ruangan tua yang menyeramkan. Setelah beberapa hari merenung dan bertanya-tanya akan jadi apa aku nantinya, kurasakan bumi tempatku berdiri berguncang. Rupanya ada seorang manusia yang memindahkan stoples tempatku berada. Masih kuingat saat ia membuka stoplesku, kemudian membawaku keluar. Ia memindahkanku di atas kertas. Oh, rupanya ia sedang menimbangku. DI sebelahnya ada seorang manusia juga, mungkin temannya. Melihat kulit para manusia, aku jadi sedih. Aku ingat masa laluku sebagai penyusun kulit sebuah makhluk juga, meskipun beda spesies. Ah sudahlah. Mungkin ia akan memerlukanku untuk penelitiannya, siapa tahu aku masih bisa berguna.

Setelah itu ia memasukkanku dalam sebuah wadah kaca. Bukan, bukan stoples, karena wadah ini sempit sekali, alasnya pun tidak rata melainkan berupa setengah lingkaran. Kemudian ia mengangkat wadah ini dan menuangkan sesuatu. Sekonyong-konyong kulihat sebuah hidrogen nemplok dengan seenaknya ke ujung amina milik alanin, yang kali ini mengalami nasib sial. Kenapa pula aku yang berada di pinggir? Mungkin begitu keluhnya. Manusia itu menggojog wadah kaca dan kini hampir semua gugus amina, hidroksil dan segelintir sulfohidril menggandeng sebuah hidrogen. Hidrogen tampak puas, sebaliknya molekul yang ditempelinya pasrah saja. Seperti sudah kukatakan tadi, kami para molekul menurut saja dengan ketentuan dan nasib yang sudah digariskan Allah.

Kemudian ia memasukkanku ke sebuah kotak yang bau dan becek dimana-mana. Klek! Ia mengunci pintu kotak dan kemudian sekelilingku menjadi gelap. Dimulailah petaka itu. Secara cepat dan pasti aku merasakan peningkatan panas yang luar biasa. Tekanan juga naik. Prolin dan hidroksiprolin kurasakan makin renggang dariku. Panas sekali…aku tidak tahan. Akhirnya kami bertiga terpisah. Kulihat glutamin disana, lebih mengkhawatirkan nasibnya dariku. Segera setelah ia lepas dari tetangganya, tubuhnya menekuk seperti sangat kesakitan.  Ia tersiklisasi, artinya ia akan menjadi cacat dan tidak akan diakui lagi oleh keluarga kami. Beberapa molekul lain pun mulai gelisah, beberapa diantaranya kacau, menyerobot bagian tubuh molekul yang lain, semisal metionin, ia menyerang sesamanya, membentuk raksasa metionin sulfonat yang tampak besar dan mengerikan. Sesama pemilik atom sulfur, sistein, tak mau kalah. Ia membentuk tandingan, raksasa sistin. Suasana kacau balau. Ada juga yang tubuhnya rusak permanen, dan seperti nasib glutamin, ia tidak akan diakui lagi sebagai keluarga kami, keluarga asam amino. Ahhh, aku mulai melantur begini, rasanya aku hampir tak kuat. Aku terus berusaha bertahan. Namun kalaupun aku harus mati, aku ikhlas.

(12 jam kemudian)

Tiba-tiba suasana menjadi lebih tenang. Sepertinya tekanan mulai menurun, demikian pula suhu disini. Suasana di dalam wadah sempit ini lebih mirip suasana selepas peperangan. Molekul teroksidasi bergelimpangan di dasar wadah, membentuk kerak hitam, bagai tumpukan mayat. Merinding aku melihatnya. Ada juga yang rusak, sehingga tidak dapat kukenali siapa dia dahulu.

Aku sendiri, sendirian. Benar-benar sendirian. Sejak pertama kali aku lahir (maksudku ditranslasi), aku segera digandengkan dengan prolin dan hidroksiprolin. Entah dimana mereka sekarang. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Ada atom hidrogen melekat di gugus aminaku, ia turut kemana saja aku melayang-layang di dalam wadah ini. Aku tidak peduli. Di sekitarku juga ada banyak asam amino yang masih selamat sepertiku, bahkan ada pula yang masih bergandengan satu sama lain. Melihat mereka masih saja bergandengan mesra, aku jadi teringat, dimana prolin dan hidroksiprolin? Ah, belum pernah aku sesendiri ini.
Manusia yang kemarin memasukkanku dalam kotak penyiksaan yang bau dan becek itu mengambil wadah kecil tempatku berada. Aku tidak peduli. Ia kemudian menuangku ke dalam wadah yang lebih besar dan meneteskan sesuatu. Tiba-tiba kulihat ion-ion hidroksil, berenang-renang menggoda ion hidrogen yang menempel di gugus aminaku. Kurasa hidroksil jauh lebih menarik daripada diriku karena si hidrogen tadi segera meninggalkanku untuk bergabung bersamanya. Ah, memang sudah nasibku sendiri begini.

Belum selesai lamunanku, ia meneteskan lagi sejumlah cairan melalui pipa aneh yang meruncing ujungnya. Kulihat ion-ion timbal dengan ganas segera berikatan dengan rangkaian asam amino yang masih saja bergandengan satu sama lain walaupun sudah dipanaskan. Segera terbentuk endapan putih, menyeramkan sekali. Sepertinya ia marah karena rangkaian asam amino itu tidak mau menurut saja dan melepaskan gandengan satu sama lain saat dipanaskan tadi. Dengan ganas ia masih mencari-cari rangkaian asam amino yang membandel, namun mendadak ia tenang setelah manusia tadi memasukkan asam oksalat melalui pipa aneh lain yang lebih kecil dari pipa aneh tadi.

Kemudian manusia itu memasukkanku ke dalam sebuah alat dan dari ujungnya yang seperti gasing, aku keluar setelah melewati saringan berukuran pori kecil. Kecil sekali porinya, endapan putih dan kerak (mayat-mayat keluargaku T,T) tidak dapat melewatinya. Namun aku dapat lolos dengan mudah dari saringan itu. Sekarang aku berada dalam tabung plastik kecil yang lucu. Di sinilah aku dapat melihat dengan jelas, keluargaku. Setelah kuamati satu persatu, mereka semua ada, kecuali glutamin. Membayangkan nasib glutamin tadi, aku bergidik.

Manusia itu kemudian memindahkanku ke sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat. Kemudian, ia memasukkan sesuatu. Kulihat sebuah molekul yang begitu cantik, belum pernah kulihat ia sebelumnya selama hidupku. Ia memperkenalkan diri orthoftalaldehid. Melihat atom karbon karboksilnya feminin, atom nitrogenku tak dapat menahan diri untuk menggodanya. Sebenarnya ia masih memiliki satu atom karbon karboksil lagi, yang tak kalah feminin dan menarik untuk kuincar, namun apa daya nitrogenku hanya satu. Pun aku tak punya gugus lain yang cukup jantan untuk menyerangnya. Tiba-tiba sebuah molekul lain muncul, tanpa basa-basi ia memperkenalkan diri sebagai 2-merkaptoetanol dan menawarkan atom sulfurnya untuk berikatan dengan OPA. Tanpa malu-malu, si OPA, demikian panggilan sayangku padanya, menerimanya dengan suka cita. Aku tidak tinggal diam, aku pun bereaksi dan tahu-tahu kami bertiga telah bergandengan. Namun agak berbeda dengan gandengan tanganku bersama prolin dan hidroksiprolin dahulu, sekarang kami melebur menjadi satu molekul yang kaku. Aku tak dapat bergerak bebas. Yah, nasib molekul siapa yang tahu. Gara-gara kepincut dengan kecantikan si OPA aku jadi begini. Ya sudahlah.

Kemudian melalui sebuah benda yang aneh, aku disedot dan disuntikkan ke sebuah benda besar berbentuk elips. Rupanya benda itu terdiri atas bola-bola yang berukuran seragam dan diiisikan ke sebuah pipa. Permukaan bola itu berupa silika yang dilapisi rantai karbon, masing-masing berjumlah 18 buah, sehingga tampak berekor. Ada juga silika yang hanya ditutupi gugus hidroksil. Melihat rantai karbon yang lucu itu, aku jadi tertarik untuk bergandengan dengannya, karena ada bagian molekulku yang juga bersifat sama dengannya, sama-sama takut air. Molekul sejenisku pun ikut berikatan. Walaupun mereka sudah bergabung dengan OPA dan 2-merkaptoetanol, aku masih dapat mengenali mereka: asam aspartat, asam glutamat, asparagin, serin, sistein, treonin, histidin, metionin, alanin, arginin, triptofan, valin, leusin, isoleusin, dan lisin. Turunan asam aspartat, asam glutamat, dan asparagin tampak kurang antusias bergandengan dengan rantai karbon itu, namun sebaliknya kulihat turunan valin, leusin dan isoleusin terlihat sangat gembira menggandeng rantai karbon itu dengan mesra. 

Belum sempat aku mengamati lebih lanjut, tiba-tiba kami diguyur suatu cairan. Tak ambil waktu, asam aspartat kepincut dengan cairan itu dan segera melepaskan rantai karbon yang tadi dipegangnya sambil malas-malasan. Asam glutamat segera mengikuti, diikuti asparagin, serin, sistein dan histidin. Setelah histidin pergi, cairan itu menarikku. Metanol dalam cairan itu menyuruhku untuk melepaskan peganganku dengan rantai karbon yang kupegangi. Ternyata di dalam cairan itu ada pula ion asetat. Wah, aku jadi ragu. Sebenarnya aku nyaman-nyaman saja berikatan dengan rantai karbon ini, tapi metanol terus memaksaku. Ternyata ada molekul lain yang berpikiran sama denganku. Dari strukturnya, aku tahu kalau ia turunan treonin. Makin lama, makin banyak metanol yang memaksaku. Aku pun menyerah. Dengan berat hati kuucapkan perpisahan pada rantai karbon tadi. Ia tampak sedih tapi seperti atom dan molekul lain di muka bumi ini, ia pasrah saja. Turunan treonin pun menyusulku, ia juga tidak tahan terus dirongrong oleh metanol. Kami mengalir bersama-sama.

Sekarang ada sebuah lampu yang menyorotkan cahaya padaku. Aku pun tereksitasi dan energiku naik. Beberapa saat kemudian, tak dapat kutahan, aku ingin kembali seperti semula. Keadaan ini tidak nyaman. Ah! Akhirnya berhasil, aku berhasil turun satu tingkat. Namun ini belum cukup. Aku harus benar-benar kembali seperti semula. Dan aku terkejut menyadari bahwa ketika aku berusaha menurunkan tingkat energiku lagi, aku memancarkan sinar juga. Sinar ini berbeda dengan sinar tadi, lebih kecil energinya, namun aku bersinar! Kulihat sebuah alat menangkap sinar itu, maka dengan semangat aku semakin bersinar. Kulihat turunan treonin yang bersamaku sejak keluar dari kolom berisi bola-bola kecil itu juga melakukan hal yang sama. Tidak hanya itu persamaan diantara kami, rupanya kekuatan pancaran sinar kami juga sama.
Dan tanpa kutahu, manusia tadi memandangi layar komputer dengan gembira.

“Eureka! Glisin! Bersama dengan treonin!”

17/03/12

Endorphin Surge (Exercising Makes You Feel Great)

Hmmm, i think i had an endorphin surge today today :D
(surge here means sudden increase, not fluctuation)  

What is endorphin, you may ask? 
Endorphin is one of many substances found in our body that acts as neurotransmitter. Means, endorphin's function is to deliver nerve signal in our body. If endorphin binds with its specific receptor, it creates effect resembling opiates' effect. Yeah, i talked about opiates that includes morphine and heroine. Similar to those two opiates, endorphin creates an analgesic effect and a "feel-good" feeling in our body. The name endorphin itself comes from two words: ENDOgenous and MORPHINe, means endorphin is a morphine-like substances produced by our own body. Thanks to Allah the Merciful, it doesn't create an addiction like any exogenous opiate does.

Endorphin's production in human's body are influenced by few things, some of them are exercise, pain, loving someone, sex, and eating spicy food. Pain? Yes. According to Wikipedia, immediately after injury happened, endorphin is released to the blood stream to stop nerve cells from releasing more pain signal. This allows the organism to be in control with him/herself and continues with his/her activity for a period of time. Hmmm, let me think...I remembered a few days ago when some skin in my hand was burnt by my motorcycle's tailpipe and immediately after the burnt i didn't feel anything. I just reflectively pulled my hand from the tailpipe and the first thing i could think is to cool my hand, so i put my hand below a running water. After a ten minutes or so, i began to feel the stinging pain T,T 
So, i think i believe that for a minutes after the burnt happen, the endorphin takes control, therefore i didn't feel any pain for the first few minutes.

The easiest and simplest way to achieve increasing endorphin production for me, though, is by exercising. With a serious exercising, i can feel great with no obvious reason but endorphin surge. The last endorphin surge i can recall before today is the afternoon when i did yoga for the first time. Mmm, i know most yoga's poses for beginners look easy to do because they are so light and seem relaxing instead. The instructor tell us not to force our body, just do the pose as our body can afford it. If our body can't, just do as what we can. With regular exercise, our body's ability will be increased. But, after about one and a half hour of doing yoga, i was drenched in sweat. And in the last minutes of yoga, the relaxation part, suddenly i felt great. I don't know why, my body felt just great. Like i got an awesome present or achieve something great, but i didn't. One word to describe that: Endorphin surge.

The "feel-great" feeling after doing that yoga session lasted quite long, even after i slept on it overnight. The morning after that, i still felt kind of great, although not as intense as the day before. The endorphin must had been metabolized by my system and the "feel-great" feeling slowly diminished. Too bad, my second and next yoga sessions didn't generate the same effect. Maybe because i didnt' enjoy the poses practiced, or because i didn't go with my friend, i don't know.

Today, though, i feel the endorphin surge again. So, after come to an event in my campus, i went to mechanic to get my motorcycle checked and the oil lubricant changed. Turned out i had to wait for a quite long time because the mechanic had many works to be done. I decided to have a walk to a supermarket to buy some fruit. In a lazy days, i would use public transportation and sit in the seat nearest to the bus door, then let my mind wandering while i watch the road. But today i wanted to take a walk. It took about 25 minutes to walk from the mechanic to the supermarket. I walked slowly and observed things. Too bad my camera was out of order so i couldn't take pictures of that cute cat i met and a demonstration held by some college student near traffic light. I met two seniors on the way and had a conversation. Nothing to hurry, right? The mechanic said that it might take a long time before i could get my motorcycle done. 

After bought some fruits, i walked back to the mechanics. Took another 25 minutes but i chose a different route. And in the way back to the mechanic, i felt it! Endorphin surge! Slowly my body felt great. I hummed happily, but slowly that i am sure nobody would hear except myself. Everything looked great. I found a kind of flower that grown in my former house when i was a little girl, about 4 or 5 years old. I touched the flower when i was little, it felt so hairy but interesting to touch, in a non hurtful way. I remembered there were white and pink flowers in front of my former house, but this afternoon i just found the pink one. I stopped for a moment to touch the flower, wow, it felt the same like when i was little (zzz, you don't say Lia??? Haha, of course it does!).

Yeah, i still feel awesome. Hmm, i am going to sleep now, ready to metabolize this precious endorphin. Maybe this is how being on drug feel like? Why being addicted of illegal things if you can achieve the same effect just by exercising? Let's get a weekly dose of our endorphin by exercising!
*a motivation for myself*

08/02/12

Mimpi

Aku pernah baca kalo manusia itu sebenarnya sering sekali bermimpi ketika tidur. Namun begitu kita bangun, mimpi itu segera dilupakan sehingga kita tidak ingat tahu dan tidak ingat kalau sebenarnya kita bermimpi (pertanyaan nomor 1: kok tahu? gimana cara menelitinya sehingga bisa dapat data itu? apakah alat untuk "mengintip" mimpi orang lain sudah ditemukan? hehe).

Tapi bersyukur juga ding karena kita bisa melupakan mimpi-mimpi yang kita alami ketika tidur. Soalnya, kalau buat aku sih, mengingat mimpi itu bisa bikin kepikiran.

Yup yup, mengingat mimpi itu bikin kepikiran. Aku sih agak percaya dengan teori yang bilang kalau mimpi itu salah satu cara otak kita untuk memberi tahu kita apa yang sebenarnya kita inginkan. Untuk dapat menjadi aktor, aktris atau obyek utama dalam mimpi yang akan kita ingat, suatu obyek harus benar-benar penting...maybe? Aku masih ingat salah satu mimpi saat aku masih TK. Salah satu mimpi saat SMP. Hmmm, kalau materi kuliah yang diajarkan dua bulan lalu saja aku lupa, lalu kenapa aku ingat mimpi-mimpi lama itu? Pasti para pemeran utama dalam mimpi itu penting banget.

Nah, akhir-akhir ini aku mengalami mimpi yang jelas banget. Malah di mimpi terakhir, aku sadar kalau aku ngimpi terus terbangun. Eh pas ketiduran lagi, mimpinya berlanjut. Bener-bener kayak film deh. Settingnya juga bagus lho, artistik gitu. Tapi pas bener-bener bangun dan 100% sadar (enggak lanjut tidur lagi) aku jadi mikir: Wah, ternyata sekeras apapun kita meyakinkan diri sendiri, dan mungkin orang lain, tapi sebenarnya kita tidak bisa membohongi diri sendiri. 

Actually we know exactly what we want. But sometimes we just repress it so it would be more acceptable and 'logic' for others, for our pride, or maybe for our 'idealism'. We can't run from our mind anyway, one that keeps remembering what we exactly want (me, 2012). 

Fakta-fakta tentang mimpi yang aku ingat (lagi males tanya om Google, so cek sendiri kebenarannya ya, siapa tahu aku salah ingat):
  1. Segala sesuatu tentang mimpi kita tidak muncul begitu saja. Sebenarnya kita sudah pernah melihatnya di dunia nyata. Jadi settingan mimpiku yang artistik kemarin itu bukan karena aku orang yang berjiwa seni tinggi, tapi sebenarnya aku sudah pernah melihatnya sebelumnya...setelah aku ingat-ingat ada salah satu tempat di mimpiku yang mirip dengan kolam dan taman di dekat PT.San*e Farma Steril di Padalarang, Bandung (salah satu destinasi KKL-ku kemarin, walaupun mimpiku ini enggak ada hubungannya sama sekali dengan KKL). Aku pernah baca kata-kata seorang ahli mimpi, intinya "the face you see in your dream, maybe he's the person you met in the street when you were little". Otak kita tidak membuat file baru di mimpi, cuma membuka folder aja, hehe.
  2. Orang buta juga bermimpi. Mimpi mereka muncul sebagai sensasi bau, rasa, sentuhan, dan suara.
  3. Otak mengatur tubuh kita agar kita tidak bergerak dengan lebai ketika bermimpi, so sebenarnya saat tidur kita mengalami paralisis alias kelumpuhan.
  4. Kita melupakan sebagian besar mimpi kita. Kalaupun saat bangun tidur kita bisa ingat mimpi kita, besar kemungkinan setelah beberapa jam kita akan lupa mimpi itu.
  5. Mimpi manusia-manusia di bumi ini ternyata mirip: mimpi jatuh/terpeleset, memimpikan orang dekat meninggal, mimpi terlambat, dan mimpi yang terkait seksualitas.
  6. Lingkungan luar mempengaruhi mimpi. Suara, sentuhan, dan bau dari luar bisa masuk ke mimpi kita. Otak bisa mengarang skenario dadakan untuk meyakinkan kita bahwa goyangan-goyangan dari tangan orang lain saat membangunkan kita adalah sentakan dari ular yang berusaha mematuk hidung kita (ini pengalaman pribadiku sendiri, mimpi dipatuk-patuk ular saat sedang dibangunkan). Pernah juga aku mimpi lagi mendengar suatu lagu, eh ternyata emang adikku lagi menyetel lagu itu keras-keras.
  7. Keadaan internal tubuh kita juga mempengaruhi mimpi kita. Misal kita haus, kita bisa mimpi sedang minum air. Saat bangun, waaa hausnya luar biasa alias ternyata kita haus beneran (pengalaman pribadi juga ini). Pernah juga mimpi pingin pipis tapi begitu nemu toilet enggak bisa pipis, ternyata saat bangun aku butuh ke toilet beneran alias kebelet banget, hehe.
Weird but interesting, right?

23/01/12

Dyatlov Pass Incident

Aku akan jadi orang pertama yang mengakui kalau aku itu takut nonton film horor. Alasannya sederhana, aku enggak pingin jadi orang penakut yang takut pergi ke kamar mandi sendirian kalau malam, atau pergi kemana-mana sendirian. Pokoknya aku pingin menghilangkan ketakutan pada hal-hal tidak rasional seperti takut tidur di tempat gelap (sekarang sudah enggak lagi, ternyata tidur dalam kegelapan itu baik untuk kesehatan lho), takut cacing (eww, kalau ketakutan tidak rasional yang ini sih belum sembuh benar), dan takut-takut enggak penting yang lain. Menurutku nonton film horor itu bikin paranoid enggak jelas.

Tapi, aku suka Detective Conan. Walaupun menurutku gambarnya itu creepy alias nyeremin abis, sadis dan bisa menimbulkan ketakutan tidak rasional seperti yang sudah aku ceritakan diatas. Tapi ceritanya bikin penasaran! Aoyama Gosho is a genius. Berarti kecerdasan setara Conan (Shinichi) itu benar-benar ada di dunia ini, lha wong ada orang yang bisa bikin ceritanya kok, lengkap dengan skenario cara membunuh korban segala, hiii serem! 

Kesimpulannya, secara teori, semua pembunuhan dan kematian di dunia ini bisa dijelaskan penyebabnya. Tapi ternyata ada banyak unsolved deaths di dunia nyata yang menyeramkan ini. Hmm, dunia ini butuh lebih banyak orang yang bisa berpikir seperti Shinichi Kudo.

Saat ini, baru saja aku membaca salah satu kisah unsolved death tentang kasus kematian 9 orang pendaki pada bulan Februari 1959, di Dyatlov Pass, Pegunungan Ural, Rusia. Siapa yang bisa memecahkan kasus ini? berikut data dari kejadian tersebut:
  1. Ketika tenda para korban ditemukan, tampak bahwa tenda itu dirusak dari dalam, seolah mereka sangat terburu-buru untuk keluar dari tenda tersebut.
  2. Mereka ditemukan dalam keadaan (maaf) tidak berpakaian lengkap, bahkan ada yang ketika ditemukan hanya memakai pakaian dalam. Padahal suhu saat itu sekitar -15 derajat celcius alias dingin sekali. 
  3. 2 Korban yang ditemukan pertama kali dinyatakan meninggal karena hipotermia. Ada sedikit retak di tulang tengkorak, namun itu bukan luka fatal. Namun, tanpa ada bekas-bekas penganiayaan dan pembelaan diri, korban ketiga sampai keenam ditemukan dalam keadaan patah tulang dan mengalami internal injuries yang sangat parah. Anehnya, tidak ada kerusakan pada jaringan lunak. Menurut tim forensik, kerusakan seperti itu disebabkan oleh terkena benda kecil yang bergerak sangat cepat. Perkiraan lain menyatakan bahwa diperlukan kekuatan setara sebuah mobil yang bergerak cepat untuk menimbulkan kerusakan seperti itu. Yang paling menyeramkan, salah seorang diantara mereka ditemukan dalam keadaan tidak berlidah lagi (hiii!). 
  4. Tidak ada jejak kaki yang ditemukan di TKP, kecuali jejak kaki kesembilan korban. Dan jejak kakinya itu seperti jejak kaki orang berjalan, bukan jejak kaki orang yang sedang berlari. Ingat, mereka berada pada suhu -15 derajat celcius tanpa pakaian lengkap. Kalau dilogika kan seharusnya mereka berlari-lari cari tempat yang lebih hangat. Yang lebih aneh lagi, jejak kaki itu mengarah ke arah tenda mereka, seolah mereka ingin kembali ke tenda.
  5. Ditemukan radioaktifitas dalam intensitas tinggi pada pakaian mereka, namun tidak ada jejak radioaktif ditemukan di TKP.
  6. Kulit mereka terlihat sun-kissed, alias tanned, alias warnanya berubah kecoklatan seperti orang yang baru saja berjemur di bawah sinar matahari. Padahal, sekali lagi, saat itu musim dingin bersuhu -15 derajat celcius!
  7. Kelompok pendaki lain yang berada sekitar 50 kilometer dari tenda kelompok ini melihat ada lingkaran  berwarna jingga di langit, dari arah TKP (ada yang bilang ini cuma gosip, bikinan orang-orang yang pingin membuat cerita ini jadi lebih menakutkan dari yang sebenarnya).
Cukup membingungkan, pembaca? Untuk poin nomor 2, ada sebuah fenomena perilaku yang sepertinya bisa menjelaskannya. Namanya paradoxical undressing (link dari wikipedia: klik ini). 20-50% orang yang meninggal akibat hipotermia ditemukan melakukan hal ini. Jadi alih-alih mencari pakaian lain untuk dipakai agar mereka tidak semakin kedinginan, mereka justru berusaha melepaskan semua pakaian yang melekat di badan. Akibatnya, mereka semakin kehilangan panas tubuh, dan akhirnya meninggal dunia. Penyebab fenomena ini belum diketahui pasti, namun diduga orang yang hipotermia parah itu hipotalamusnya (bagian otak yang mengatur suhu) mengalami malfungsi sehingga mereka melakukan hal tersebut. Teori lain menjelaskan bahwa ketika kedinginan, otot akan menyempitkan pembuluh darah agar tubuh tidak semakin kehilangan panas tubuh. Pada keadaan hipotermia, otot-otot itu kelelahan, sehingga akhirnya otot-otot tersebut akan berelaksasi secara spontan dan menjadikan pembuluh darah yang semula menyempit jadi melebar kembali. Selanjutnya terjadi aliran darah dan panas yang sangat mendadak, dan hal ini dipersepsikan sebagai sensasi kepanasan. Akibatnya orang yang hipotermia tadi ingin melepaskan baju hangatnya. Ya, sesuai namanya, paradoxical undressing, benar-benar sebuah paradoks.

Opini lain menyatakan, bisa saja mereka menjadi korban dalam percobaan senjata baru Uni Soviet, you know, the radioactivity...tapi menurutku itu belum menjelaskan semuanya. Kalau aku kok malah kepikiran UFO ya, hehehe...jangan-jangan itu kerjaan alien yang lagi penelitian. Dunia ini kan luas, egois banget kalo kita mikir bahwa cuma kita saja yang punya kehidupan. Siapa tahu di galaksi lain ada bentuk kehidupan lain yang benar-benar berbeda dari kita? Mungkin mereka enggak butuh air dan oksigen, who knows? Tapi masak mereka menghancurkan para pendaki itu tanpa sebab, apakah ada salah paham? Membingungkan juga.

Atau mungkin ini perbuatan manusia, tapi dia kejam dan psikopat sehingga pekerjaannya begitu rapi. Atau ada informasi yang ditutupi dari investigasi kasus ini? aku bingung dan penasaran! 

Yang ingin tahu lebih banyak, bisa klik disini:
atau tanya om Google dengan kata kunci "Dyatlov Pass Incident"