Tampilkan postingan dengan label my inner artist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my inner artist. Tampilkan semua postingan

24/10/15

Bersama Setiap Kesulitan ada Kemudahan

Berada di tepian jurang di atas samudera, aku berpegangan erat pada akar belukar yang berjuntai di tebing sebelahku. Akar-akar itu tipis. Namun ternyata cukup kuat. Demi mencegah diri agar tidak jatuh dalam gulungan ombak, kucengkeram mereka kuat-kuat, sambil terus melangkah perlahan. One step at a time, one step at a time..aku terus melangkah.

Aku yakin, ada yang menungguku. Aku yakin, beberapa jiwa tergantung pada tekadku untuk terus melaju. Aku tidak akan jatuh. Aku tidak boleh jatuh. Entah sudah berapa banyak peluh, darah dan air mata tercurah, sudah tak kupedulikan lagi. Aku terus melangkah mempercayakan langkah pada belukar-belukar tipis. Sesekali peganganku terlepas, sesekali belukar-belukar itu putus akibat terlalu kencang kujadikan pegangan. Sebelum terhempas, buru-buru kuraih belukar lain.

Jika mau menengadah, sebenarnya dapat kulihat tali-tali lain yang lebih kuat daripada sekedar belukar. Namun ketika aku mencoba meraih sebuah tali kekar itu, tali itu justru naik ke atas, membuatku susah meraihnya. Kupertaruhkan keberuntunganku, aku melompat untuk meraihnya, namun apa daya tali itu justru merosot, hampir memukulku menuju ganasnya ombak di bawahku. Ternyata tidak berguna memohon bantuan pada tali itu, tidak jika aku hampir mengorbankan nyawaku.

Tali lain yang dulu tampak selalu ada, selalu bersama kakiku melangkah, kini makin sering menghilang. Kadang naik tak terjangkau, kadang menghilang tak terlihat. Kurasa sudah cukup rintihan untuk memanggil, sebaiknya terus saja melangkah tanpa merintih.

Karena merintih itu menguras energi.

Mungkin karena terlarut dalam pikiranku sendiri, tak kulihat jalanan yang mulai licin. Tanganku masih meraba-raba belukar dan kakiku masih melangkah perlahan, namun pikiranku kini telah berada pada mode auto pilot. Bagian pikiran yang digunakan untuk menjaga fokus sedang asyik berkeliaran merenung tentang berbagai skenario seandainya dan bagaimana jika.

Fungsi auto pilotku tidak dilatih untuk sangat berhati-hati. Dalam sepersekian detik, kakiku meluncur. Refleksku segera menyadari aku akan terjatuh dan ia segera melontarkan kedua kakiku, memutar badanku sekian rupa sehingga untuk sesatuan waktu yang singkat, aku melayang di udara. Aku dapat memilih untuk jatuh.

Namun tentu bukan pilihan mudah itu yang kuambil. Sudah kubilang, ada yang menungguku. Entah apa, namun kuyakin ada hal besar yang menungguku di balik tebing curam nan mematikan ini. Sudah kubilang pula, ada yang bergantung padaku. Dalam bisikan "aku tidak akan menyerah" itu, kulihat sebuah tempat aman. Tak seberapa luas, namun aman untuk menjatuhkan diri alih-alih menyerah pada ganasnya ombak. Tak buang waktu, kulontarkan tubuhku ke tempat itu. Ajaib, ketemuan akar sangat besar yang bisa menjadi pegangan, ya Allah, betapa cintanya Dirimu padaku.

Berucap syukur, kugenggam erat akar besar yang kuat itu. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Kubuka perbekalan dan kuambil sekedar untuk menghilangkan dahaga, lapar dan lelahku. Aku bahkan tidak tahu apakah bekalku akan cukup sampai aku menemukan apa yang menjadi tujuanku. Bagaimana aku bisa tahu? Jika aku tidak tahu seberapa jauh aku berada dari tujuan itu. Namun aku yakin, Allah Mencintaiku.

Selepas beristirahat, kupeluk tubuhku sendiri. Benar makin kupahami bahwa terkadang, pada tiap ujian dan musibah, yang manusia punya hanya dua hal. Tuhan dan dirinya sendiri. Tidak ada harta, tak ada ilmu, tak ada sahabat bahkan kekasih, tak ada siapapun. Ia hanya berdua. Bersama Tuhannya yang syukurlah, sebenarnya Mencintainya.

Kukeluarkan salah satu surat cintaMu. Untuk kesekian kalinya coba kuresapi surat itu. Surat di mana Kau Menuliskan untukku, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Kau Menulisnya dua kali. Berulang. Seolah aku tak akan langsung teryakinkan dengan hanya satu janji. Berapa Dirimu sangat Mengenalku yang keras kepala, yang tak mudah percaya. Yang sering lalai dan lupa. Lupa akan janjiMu ini.

Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan.

Kurapalkan janjiMu itu berkali-kali. Kucoba untuk Mempercayainya kali ini. Perlahan mulai kuyakin, pasti Kau tidak akan Mengecewakanku. Tidak akan pernah. Aku percaya padaMu, bahwa kau Mencintaiku. Dan aku percaya bahwa Kau Sesuai dengan persangkaanku.

16/09/15

HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi (Personal Review)

(1)
Ketika ku mendengar bahwa, kau sudah tak lagi dengannya
Dalam benakku timbul tanya
Masih adakah dia, di hatimu bertahta?
Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu?
Namun, siapkah kau tuh jatuh cinta lagi? :)

Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(2)
Kini ku tak lagi dengannya, sudah tak ada lagi rasa ;)
Antara aku dengan dia
Siapkah kau bertahta di hatiku, adinda?
Karena ini saat yang tepat untuk singgah di hatiku
Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku :)

(1)
Pikirlah saja dulu, hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku, melangkah menuju ke hatimu

(1) (2)
Pikirlah saja dulu, hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku, melangkah menuju ke hatimu
Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia :)

(1) (2)
Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?
:D


*****
Kali pertama mendengar lagu ini, aku sudah menduga kalau lagu ini pasti lagunya HiVi. I think they nailed it again, menurutku lagu ini keren banget. Liriknya, musiknya, dan tentu saja vokalnya. Rasanya aku bisa melihat dan merasakan si penyanyinya tersenyum kala selesai menyanyikan satu larik lagu. Persis seperti yang kurasakan saat mendengarkan lagu mereka yang berjudul "Mata ke Hati". Bener deh, suara mereka tuh, terkesan riang banget gitu. Seperti sedang menyanyi sambil tersenyum. Menimbulkan rasa ceria di hati dan bikin pingin senyum, hehe. Menurutku, karakter vokal dari kedua vokalis utama HiVi sangat cocok dengan mood lagu mereka yang sebagian besar bersifat riang gembira ala orang ketemu jodoh gitu, hahaha. Oh iya, video klipnya juga bagus lho. They play with silhouettes. 



Enggak bosan-bosannya aku mendengar dan menyanyikan lagu ini. Sehabis mandi, sebelum berangkat ke kantor, saat bersiap-siap hendak pergi, saat memasak, saat mencuci, aku selalu memutar dan menyanyikan lagu ini, Dua kali karaokean, dengan orang-orang berbeda, inilah lagu pertama yang terlintas di otakku saat menyusun playlist. Saat berjalan kaki ke kantor, saat mandi, i sing this song without thinking. Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi (dengan lagu HiVi)? Jawabannya, mengutip dari video klipnya, adalah #SIAP, hihi.

09/04/13

I Took The Good Times, I'll Take The Bad Times...

Awalnya aku tidak begitu suka dengan lagu “Just The Way You Are”-nya Billy Joel. Aku pernah  mendengarnya sekilas dan enggak terlalu suka dengan lirik lagunya. Kok ada kata-kata, ‘don’t go changing some new fashion, don’t change the colour of your hair”? Menurutku perubahan itu bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Kalau kita terus stagnan, terus apa artinya hidup? Bukankah kita harus selalu melakukan langkah-langkah continous improvement? Dan orang tercinta sudah seharusnya mendukung langkah-langkah kita itu, bukan malah membuat kita stagnan, apapun alasannya.


Namun pendapatku tentang lagu itu agak berubah saat beberapa bulan lalu aku les conversation bahasa Inggris. That evening, my teacher made the class listen to a song and he asked us to write down the verbs from the lyric. Ternyata lagu “Just The Way You Are” itulah yang diputarnya. Lagunya diputar dua kali. Saat diputar untuk yang pertama kalinya, aku enggak terlalu memperhatikan musik dan liriknya, aku cuma fokus mendengarkan verb-nya saja. Saat diputar untuk kedua kalinya, aku mulai memperhatikan liriknya dengan sungguh-sungguh, juga memperhatikan musiknya. Oh iya, liriknya bisa dilihat di sini.

Setelah didengarkan dengan saksama, ternyata musiknya asyik juga. Menenangkan banget. Enak juga duduk di pojok kelas sambil menikmati musik. Rasanya di situ cuma ada aku, yang lain cuma ngontrak, haha...bercanda ding. Musiknya bikin rileks, dan aku benar-benar suka sama bunyi-bunyian dari brass section di bagian menjelang akhir lagu.

Selain itu aku menemukan sebuah kalimat yang bagus banget di situ.
"I took the good times, I'll take the bad times"

How sweet :)
Seolah-olah makna dari kalimat sederhana nan powerful itu begini: 
"I really enjoy your companion and I think you are very awesome. Borrowing a sentence from a novel i have ever read: Every language in this world would fail in saying how much and with what disinterested passion I am ever yours. But I know that you are a human. Therefore, like me, you are not perfect. And if you ever lose your cheerfulness and your coolness -things that made me fall for you for the first time- remember that i will be here to cheer you up. To let you know that you are still the very same person i fall in love with, person that I will always like and appreciate. You are still the same person behind all of your problems and I believe that you can face it".

Hehehe memang sotoy banget ya aku ini. Yah, itu tadi interpretasiku sendiri tentang potongan lirik lagu Just The Way You Are-nya Billie Joel sih. Suka-suka aku dong ;p namun aku tidak setuju 100% dengan lirik lagu itu, hanya saja aku benar-benar suka dan setuju dengan kalimat "I took the good times, I'll take the bad times" itu :) Lagu lain yang memiliki lirik yang hampir semakna dengan "I took the good times, I'll take the bad times"-nya Just The Way You Are adalah lirik dari lagu I'll Stand by You dari grup The Pretenders (lirik bisa dilihat di sini).

"I'll Stand by You. Take me into your darkest hour, and I'll never desert you"

Seperti pula lagu Just The Way You Are, aku pun tidak bisa setuju 100% dengan keseluruhan lirik lagu I'll Stand by You. Namun aku setuju dengan kalimat itu :)
What do you think, readers?

21/01/13

Puisi tentang Ibu dan Ayah

Seperti hujan, tak pernah berhenti meski kadang dimaki
Seperti matahari, tak lelah menyinari meski sering dihindari
Seperti utara, tak jemu mengarahkan meski mungkin diabaikan
Seperti udara, seperti cahaya, seperti keabadian
:)))


20/09/12

Sekarang, Mawar dan Matahari


Kadang mawar bosan. Tapi ia tidak akan berlari meninggalkan akarnya, apalagi mencerabutnya sendiri seperti makhluk putus asa. Tidak! Akarnya, semuanya yang menjadikan ia seperti ini sekarang. Buat apa memanipulasi apapun yang membuatnya seperti sekarang ini. Jadi, ia tahu pasti ia tidak akan meninggalkan akarnya.

Tidak pula untuk matahari.

Tidak pula ia akan mencabut akarnya demi mengejar matahari yang sore ini, seperti sore lainnya setiap hari dalam setahun, berjalan ke barat tanpa menghiraukannya.

Ia tahu, besok pagi matahari akan datang menyapanya lagi dari arah timur. Meskipun kadang matahari malu dan bertudung awan abu, yang membuat mawar khawatir. Jangan-jangan matahari sudah lupa akan dirinya. Jangan-jangan matahari telah segan untuk menyapanya. Tapi ketika siang menjelang, segelap apapun hari itu, sederas apapun hujan hari itu, bahkan setebal apapun debu, ia sadar.

Matahari tidak pernah meninggalkannya. 
Tidak sekali pun.

05/05/12

Mengenalmu, Memelukmu

Entah kenapa, melihat draft skripsiku yang cuma dijepit oleh sebuah penjepit hitam besar, ideku jadi meluap-luap.


Mengenalmu

Mengenalmu, kubagai bayi langkahkan kaki tuk menjejak bumi
Mengenalmu, kubagai menaiki bianglala mendaki puncak tertinggi
Mengenalmu, kubagai seorang awak kelasi
Mernerka bintang-bintang dalam rasi
Mengenalmu, kubaca konstelasi sempurna karya Ilahi
Mengenalmu, takkan pernah kuselesaikan sepanjang hidupku
Karena setiap kali menatapmu, seperti kujumpai sesuatu yang baru <3




Terus, mungkin ia akan membalas puisiku, dengan puisi juga seperti ini:


Memelukmu

Aku tak tahu kapan
Kapan akan ada hal lain yang akan mengalihkan energi dan waktumu untukku
Aku juga tak tahu kapan
Kapan kau akan merasa bosan dan meninggalkanku
Yang aku tahu, aku ingin memelukmu, lama
Selama mungkin
Dengan jiwaku
Selama kau mau, selama kau mau
Selama kau masih mau aku <3



Hehehe....bohong juga sih kalau inspirasi untuk menulis kedua puisi itu HANYA dari skripsi aja. Tapi pas, kan dengan situasi dan kondisi di semester delapan yang aneh ini? :)

29/02/12

Ada Apa dengan Cinta? (Sebuah Film)

Pertama kali nonton film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) itu, kayaknya waktu aku kelas 1 SMP. Terus kenapa malam ini bisa nonton film tersebut? ceritanya agak panjang. Gara-garanya ada adik kelasku cerita kalau Nicholas Saputra itu berakting di sebuah film lain (lupa namanya) memerankan seorang waria. Aku langsung kaget, kan di AADC si Nicholas itu...ehm, cool banget. Di kehidupan nyata juga kayaknya juga cool orangnya (sok kenal banget ya). Mana kuliah di teknik arsitektur lagi (?). 

Nah, terus malah ngobrolin filmnya Nicholas Saputra yang paling terkenal deh, apalagi kalau bukan AADC. Kata-kata "Jadi salah gue? salah temen gue?" yang sampai sekarangmasih sering dipakai  buat bercandaan, sumbernya dari AADC juga kan. Film yang menandai kebangkitan film bermutu Indonesia, kata para pengamat film itu AADC. Menurutku dulu udah ada sih film bagus, itu lho, Petualangan Sherina, haha.

Yang jelas, dulu waktu AADC lagi booming, kupikir cowok Indonesia yang ganteng itu seperti Nicholas Saputra dan cewek Indonesia yang cantik itu seperti Dian Sastro. Padahal Nicholas Saputra itu keturunan Jerman, jadi enggak 100% Indonesia. Jadi anggepanku itu salah. Oh iya, film ini dibuat sekitar 10 tahun lalu. Yang aku heran kenapa 2 pemeran utamanya tetap mempesona seperti dulu 10 tahun lalu ya, hehe. Sepuluh tahun tidak berarti apa-apa. Malam ini serasa menjadi abg labil kembali (padahal emang kadang masih labil, hehe).

Anyway...balik ke filmnya ya. Ini salah satu film yang jalan ceritanya masih bisa kuingat dengan sangat baik meski sudah bertahun-tahun. Namun, ekspresi para pemainnya udah banyak yang lupa sih. Adegan paling berkesan buatku adalah ketika si Cinta mengembalikan bukunya si Rangga, terus Rangga membuat gestur terima kasih like a Sir di Inggris sana. Haha, kayak tau aja, sok tahu banget aku ini. Emang kan diceritain kalau si Rangga itu misterius dan berbeda. Tapi setelah dipikir logis, emang ada ya yang beneran kayak gitu di sekolahan. Ada juga adegan si Rangga melemparkan bolpoin ke orang yang ngobrol di perpustakaan. Kalau ada yang beneran kayak Rangga gitu...kasihan banget yang sekolah di situ. Enggak bisa bercanda di perpustakaan deh, hehe.

Kesan pertama ketika nonton di menit-menit awal, geli aja sih. Ternyata ekpresi para pemainnya tuh ada yang lebai gitu menurutku. Jadi inget pas nonton bareng temen-temen KKN di pondokan, kami ketawa ngakak melihat akting para pemainnya. Padahal itu bukan film komedi lho, haha. Untungnya AADC enggak selebai film yang kami tertawakan dulu. Oh iya, baru sadar sekarang...kalau di AADC itu, diceritakan bahwa saat geng cewek berkumpul, mereka selalu bercerita tentang masalah masing-masing, lalu menari bersama, pokoknya hal-hal yang so sweet lah. Ehm, kayaknya kalau aku berkumpul dengan sahabat-sahabat cewek, kok justru sering terjadi keanehan dan cerita-cerita gokil ya? Haha.

Setelah ditonton lagi dengan saksama, lucu banget ternyata kisahnya si Rangga dan Cinta ini. Jadi mereka gengsi-gengsian padahal sebenarnya saling suka. Ada salah satu adegan, ketika si Rangga akan berterima kasih ke Cinta karena Cinta sudah mengembalikan buku miliknya. Disitu terlihat banget ekspresinya Cinta yang smug banget dan ngerasa menang karena...karena apa ya? Karena dia yakin banget si Rangga akan berterima kasih padanya? Ya gitu lah pokoknya. Melihat ekspresi Cinta, si Rangga langsung bilang "kenapa kamu tertawa?". Kayaknya si Rangga juga ngerasa kalau si Cinta itu kegeeran gitu. Enggak tahu kenapa, aku geli sama adegan ini. Mana si Cinta yang notabene g4h0eL abis dan selalu ber-elo gue mendadak keceplosan menyapa Rangga dengan sebutan "kamu" dan tentu saja si Rangga menyadari hal yang tidak biasa itu. Entah kenapa di mataku adegan itu kuartikan sebagai si Rangga yang kegeeran, hoho. Ada adegan ketika si Rangga bilang "saya mau kesana nanti sore, mau ikut?". Kemudian dia buru-buru meralat "eh, jangan salah paham". Khawatir banget ya kalau dianggap kegeeran, padahal memang iya :P

Kadang juga mereka berdua dikisahkan lupa kalau 'harus' gengsi-gengsian, contohnya si Rangga yang bilang ke Cinta "hei, pertanyaan saya belum dijawab. Kok kamu bisa sampai kesini? Kangen sama saya? Atau kangen bertengkar dengan saya?". Cinta marah dan merajuk hendak pulang. Tapi si Rangga bilang "Eh, jangan pergi. Saya cuma bercanda" sambil menarik tangan Cinta. Eaaa, menurutku romantis banget :p
Haaa, pokoknya film ini enggak berkurang keindahannya, bahkan menurutku terlihat lebih bagus daripada saat pertama kali kutonton dulu. Karena ternyata banyak hal yang enggak teramati olehku 10 tahun yang lalu!

Oh iya, si Rangga itu, jujur banget kalau ngomong. Masak di film itu, dia bilang sama Cinta, intinya begini "Saya yakin diantara kita ada yang lebih punya hati, atau punya otak. Tapi maaf Cinta, sepertinya kamu tidak punya keduanya". 
Wuhhh, bayangkan! Terus juga pernah bilang gini: 
"Sebenarnya kamu nonton konser itu karena memang suka atau karena enggak enak sama teman-teman kamu?"
"Enggak punya pendirian!"
"Sepertinya enggak ada yang keberatan (saya dekat dengan Cinta) kecuali kamu dan boybandmu itu!" (Diucapkan saat Rangga bertengkar dengan cowok lain yang cemburu akan kedekatannya dengan Cinta*)

Dan....hal yang paling bagus dari film ini menurutku adalah...puisi-puisinya!!! Sisi gombal nan sok puitis dalam diriku just can't resist those poems, hehe. Puisi yang paling aku sukai adalah puisi terakhir dalam film ini. Puisinya berjudul "Perempuan", dikarang oleh Rangga...eh salah, lupakan dulu Nicholas Saputra, pengarang puisi ini adalah Rako Prijanto (seorang sutradara). Bagus lho...ah, dulu kok aku belum ngerti ya, sayang sekali, haha. Ini dia puisinya:

Perempuan
(Rako Prijanto, 2002)

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi, juga karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru kali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali d
alam satu purnama, untuk mempertanyakan cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku, karena aku ingin kamu
Itu saja

Suka banget sama tiga baris terakhir, terutama baris pertama sebelum terakhir. Tiga baris itu bisa kuparafrasekan, jadi panjang sekali.
Aku akan kembali. Semustahil apapun kemungkinannya, aku pasti akan kembali. Entah kapanpun itu, tapi aku mampu menjanjikan kepastian. Aku akan kembali. Untuk menatap kembali binar penuh cinta yang terpancar dari matamu. Untuk mengetahui sendiri seberapa kuat cinta kita sebenarnya. Semua karena kamu, dan memang hanya kamu alasanku.


Hmm, postingan ini mulai enggak jelas menurutku. But thanks for reading :))

03/02/12

Great Poems are Great

Pernah enggak sih, membaca sebuah puisi, lirik lagu, penggalan tulisan, atau apalah, yang benar-benar menyentuh hati? Istilahnya: bikin jleb after jleb after jleb in your heart? Hehe, lebai banget ya aku ini.

Mataku sudah setengah terpejam ketika aku mengingat puisi-puisi ini. Bahasa Indonesia bisa menjadi sangat romantis di tangan sastrawan pribumi ini...

AKU INGIN
(Sapardi Djoko Damono)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, 
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



SAJAK KECIL TENTANG CINTA
(Sapardi Djoko Damono)

Mencintai angin
Harus menjadi siut
Mencintai air
Harus menjadi ricik
Mencintai gunung
Harus menjadi terjal
Mencintai api
Harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala
Harus menebas jarak
Mencintaimu, harus menjadi aku

Dan ternyata...ada puisi bapak Sapardi Djoko Damono yang berjudul Angin 1 dan Angin 2...eits tunggu dulu, aku juga punya puisi berjudul persis sama tapi sumpah pak, itu bukan hasil ngopy atau meniru puisi karya bapak, kebetulan aja judulnya mirip -__________-

Oh iya, selain kedua puisi diatas, ada satu karya dari sastrawan pribumi lain, Pramoedya Ananta Toer. Ini bukan puisi, tapi kalimat dalam salah satu novelnya yang berjudul Bumi Manusia (belum pernah baca sih, hoho). Sepertinya kalimat ini sudah sangat populer, aku aja yang baru tahu kalau kalimat ini bersumber dari buku karangan beliau.
"Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai" (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia).
Bagus!
Sekarang saatnya tidur @.@