Seperti hujan, tak pernah berhenti meski kadang dimaki
Seperti matahari, tak lelah menyinari meski sering dihindari
Seperti utara, tak jemu mengarahkan meski mungkin diabaikan
Seperti udara, seperti cahaya, seperti keabadian
:)))
Tampilkan postingan dengan label maksa hahaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maksa hahaha. Tampilkan semua postingan
21/01/13
26/10/12
Dear God
Sering aku bertanya, kenapa semua tidak Kau Buat mudah saja
Jadi aku langsung tahu saat itu juga
Entah berita buruk atau bahagia
Aku tak suka menunggu sia-sia
Sering aku memberontak dan berteriak
Karena hatiku seperti terinjak
Dan aku merasa akan meledak
Aku tak suka menebak-nebak
Sering aku bertanya, kenapa makhluk-makhlukMu begitu cerewet
Untuk apa mereka menyampaikan arahan berderet-deret?
Tak akan kuperhatikan
Hanya menjadi tambahan beban pikiran
Kemudian kuingat Janji-janjimu
Betapa Kau tak pernah Mengecewakanku
Dan sebelum sempat kumeragu, Kau Datang Menghiburku
Melalui pasukan-pasukan berwujud manusia ciptaan-Mu
Kuingat sebuah puisi,
Bahwa jika kudatangimu dengan berjalan, Kau akan Mendatangiku dengan berlari-lari
Jadi aku langsung tahu saat itu juga
Entah berita buruk atau bahagia
Aku tak suka menunggu sia-sia
Sering aku memberontak dan berteriak
Karena hatiku seperti terinjak
Dan aku merasa akan meledak
Aku tak suka menebak-nebak
Sering aku bertanya, kenapa makhluk-makhlukMu begitu cerewet
Untuk apa mereka menyampaikan arahan berderet-deret?
Tak akan kuperhatikan
Hanya menjadi tambahan beban pikiran
Kemudian kuingat Janji-janjimu
Betapa Kau tak pernah Mengecewakanku
Dan sebelum sempat kumeragu, Kau Datang Menghiburku
Melalui pasukan-pasukan berwujud manusia ciptaan-Mu
Kuingat sebuah puisi,
Bahwa jika kudatangimu dengan berjalan, Kau akan Mendatangiku dengan berlari-lari
Label:
maksa hahaha,
posting berbahasa Indonesia,
puisi
20/09/12
Sekarang, Mawar dan Matahari
Kadang mawar bosan. Tapi ia tidak akan berlari meninggalkan akarnya, apalagi mencerabutnya sendiri seperti makhluk putus asa. Tidak! Akarnya, semuanya yang menjadikan ia seperti ini sekarang. Buat apa memanipulasi apapun yang membuatnya seperti sekarang ini. Jadi, ia tahu pasti ia tidak akan meninggalkan akarnya.
Tidak pula untuk matahari.
Tidak pula ia akan mencabut akarnya demi mengejar matahari yang sore ini, seperti sore lainnya setiap hari dalam setahun, berjalan ke barat tanpa menghiraukannya.
Ia tahu, besok pagi matahari akan datang menyapanya lagi dari arah timur. Meskipun kadang matahari malu dan bertudung awan abu, yang membuat mawar khawatir. Jangan-jangan matahari sudah lupa akan dirinya. Jangan-jangan matahari telah segan untuk menyapanya. Tapi ketika siang menjelang, segelap apapun hari itu, sederas apapun hujan hari itu, bahkan setebal apapun debu, ia sadar.
Matahari tidak pernah meninggalkannya.
Tidak sekali pun.
07/05/12
Cerita si Glisin
Aku merupakan suatu senyawa
organik. Menurutku tidak ada yang spesial pada diriku, hanya aku memiliki dua
bagian tubuh yang berlawanan satu sama lain. Salah satu dari mereka dapat
melepaskan hidrogennya. Sebaliknya, ada bagian tubuhku yang dapat menangkap
hidrogen. Namun kedua bagian tubuh itu kumanfaatkan untuk bergandengan dengan
tetangga sejenisku, prolin dan hidroksiprolin. Seperti senyawa organik pada
umumnya, aku disusun dari atom karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Ada juga
sih anggota keluargaku (keluargaku artinya senyawa-senyawa lain yang katanya
strukturnya mirip struktur molekulku), yang punya atom sulfur. Ah, tentang ini
sih, bukan urusanku. Tuhan menyuruhku begini, aku ikut saja. Meskipun tidak
punya atom sulfur, aku tetap bersyukur sudah ditakdirkan menjadi diriku seperti
ini. Dalam kehidupan kali ini, Tuhan Menyuruhku untuk ikut andil dalam menyusun
kulit seekor sapi. Sapi itu disembelih setelah seumur hidup diambil susu dan disuruh
kawin untuk kemudian diambil anaknya (setelah mati pun ia masih akan dimakan
dagingnya, kasihan betul). Kulitnya pun tidak ketinggalan pula diambil seorang
lelaki paruh baya dan diangkut ke sebuah bangunan yang besar sekali. Di sanalah
kulit si sapi, berarti ada aku di dalamnya, diolah menjadi gelatin.
Ah, jangan tanyakan tentang
proses pengolahannya. Rasanya panas dan sakit. Untung aku masih bisa bertahan. Aku
pun terpisah dari tetangga-tetanggaku, yang tidak lain merupakan keluargaku
juga. Sebagian besar dari kami masih hidup, namun ada juga yang mati alias
terdegradasi. Kampung kami yang awalnya solid, berupa struktur triple helix
yang megah, tercerai berai menjadi rantai yang tidak beraturan. Ada yang
menjadi rantai tunggal (para ilmuwan menyebutnya rantai alfa), ada yang berupa
rantai tunggal (disebut rantai beta), ada juga yang masih berupa triple helix
namun tidak lagi beraturan seperti dulu (rantai gama), namun jumlah rantai gama
sangat sedikit. Aku sendiri pasrah saja ketika nasib menghantarkanku berada pada
salah satu rantai alfa. Masih bersyukur aku tetap berpegangan tangan dengan
prolin dan hidroksiprolin. Sebelum diolah menjadi gelatin, selain bergandengan
denganku, si prolin dan hidroksiprolin sebenarnya berpacaran dengan molekul tetangga
di rantai lain atas jasa baik sebuah mak comblang, yaitu molekul air. Namun
nasib molekul siapa yang tahu, proses pengolahan yang tidak berkeperimolekulan
itu memisahkan cinta mereka. Sekarang siapa yang tahu keberadaan kekasih
mereka. Jangan-jangan mereka sudah mati. Ah, sudahlah. Yang penting jangan pernah
sebut-sebut kejadian itu lagi, kasihan mereka. Namun kami para molekul memang
tegar dan menurut saja apapun yang Diperintahkan Allah. Apapun yang terjadi,
yang penting tetap lakukan apa yang kami bisa. Itu saja.
Setelah menjadi gelatin,
pekerjaanku hanyalah duduk manis dalam sebuah stoples plastik. Suatu pagi
kucuri dengar pembicaraan manusia dalam bahasa Inggris, mereka berkata bahwa
aku akan dikirim ke Indonesia. Maka dimulailah hari-hariku melintasi benua.
Sayang stoplesku kedap cahaya, begitu pula kardus dan kontainer peti kemas yang
digunakan untuk mengangkutku. Aku jadi tidak bisa melihat-lihat jalan. Setelah
berhari-hari terus diguncang-guncang, akhirnya aku berakhir di sebuah lemari
tua, di sebuah ruangan tua yang menyeramkan. Setelah beberapa hari merenung dan
bertanya-tanya akan jadi apa aku nantinya, kurasakan bumi tempatku berdiri
berguncang. Rupanya ada seorang manusia yang memindahkan stoples tempatku
berada. Masih kuingat saat ia membuka stoplesku, kemudian membawaku keluar. Ia
memindahkanku di atas kertas. Oh, rupanya ia sedang menimbangku. DI sebelahnya
ada seorang manusia juga, mungkin temannya. Melihat kulit para manusia, aku
jadi sedih. Aku ingat masa laluku sebagai penyusun kulit sebuah makhluk juga,
meskipun beda spesies. Ah sudahlah. Mungkin ia akan memerlukanku untuk
penelitiannya, siapa tahu aku masih bisa berguna.
Setelah itu ia memasukkanku dalam
sebuah wadah kaca. Bukan, bukan stoples, karena wadah ini sempit sekali, alasnya
pun tidak rata melainkan berupa setengah lingkaran. Kemudian ia mengangkat
wadah ini dan menuangkan sesuatu. Sekonyong-konyong kulihat sebuah hidrogen
nemplok dengan seenaknya ke ujung amina milik alanin, yang kali ini mengalami
nasib sial. Kenapa pula aku yang berada di pinggir? Mungkin begitu keluhnya.
Manusia itu menggojog wadah kaca dan kini hampir semua gugus amina, hidroksil
dan segelintir sulfohidril menggandeng sebuah hidrogen. Hidrogen tampak puas,
sebaliknya molekul yang ditempelinya pasrah saja. Seperti sudah kukatakan tadi,
kami para molekul menurut saja dengan ketentuan dan nasib yang sudah digariskan
Allah.
Kemudian ia memasukkanku ke
sebuah kotak yang bau dan becek dimana-mana. Klek! Ia mengunci pintu kotak dan kemudian
sekelilingku menjadi gelap. Dimulailah petaka itu. Secara cepat dan pasti aku
merasakan peningkatan panas yang luar biasa. Tekanan juga naik. Prolin dan
hidroksiprolin kurasakan makin renggang dariku. Panas sekali…aku tidak tahan.
Akhirnya kami bertiga terpisah. Kulihat glutamin disana, lebih mengkhawatirkan
nasibnya dariku. Segera setelah ia lepas dari tetangganya, tubuhnya menekuk
seperti sangat kesakitan. Ia
tersiklisasi, artinya ia akan menjadi cacat dan tidak akan diakui lagi oleh
keluarga kami. Beberapa molekul lain pun mulai gelisah, beberapa diantaranya kacau,
menyerobot bagian tubuh molekul yang lain, semisal metionin, ia menyerang
sesamanya, membentuk raksasa metionin sulfonat yang tampak besar dan mengerikan.
Sesama pemilik atom sulfur, sistein, tak mau kalah. Ia membentuk tandingan,
raksasa sistin. Suasana kacau balau. Ada juga yang tubuhnya rusak permanen, dan
seperti nasib glutamin, ia tidak akan diakui lagi sebagai keluarga kami,
keluarga asam amino. Ahhh, aku mulai melantur begini, rasanya aku hampir tak
kuat. Aku terus berusaha bertahan. Namun kalaupun aku harus mati, aku ikhlas.
(12 jam kemudian)
Tiba-tiba suasana menjadi lebih tenang.
Sepertinya tekanan mulai menurun, demikian pula suhu disini. Suasana di dalam
wadah sempit ini lebih mirip suasana selepas peperangan. Molekul teroksidasi
bergelimpangan di dasar wadah, membentuk kerak hitam, bagai tumpukan mayat.
Merinding aku melihatnya. Ada juga yang rusak, sehingga tidak dapat kukenali
siapa dia dahulu.
Aku sendiri, sendirian. Benar-benar
sendirian. Sejak pertama kali aku lahir (maksudku ditranslasi), aku segera
digandengkan dengan prolin dan hidroksiprolin. Entah dimana mereka sekarang.
Aku melayang-layang tanpa tujuan. Ada atom hidrogen melekat di gugus aminaku,
ia turut kemana saja aku melayang-layang di dalam wadah ini. Aku tidak peduli. Di
sekitarku juga ada banyak asam amino yang masih selamat sepertiku, bahkan ada
pula yang masih bergandengan satu sama lain. Melihat mereka masih saja
bergandengan mesra, aku jadi teringat, dimana prolin dan hidroksiprolin? Ah,
belum pernah aku sesendiri ini.
Manusia yang kemarin memasukkanku
dalam kotak penyiksaan yang bau dan becek itu mengambil wadah kecil tempatku
berada. Aku tidak peduli. Ia kemudian menuangku ke dalam wadah yang lebih besar
dan meneteskan sesuatu. Tiba-tiba kulihat ion-ion hidroksil, berenang-renang
menggoda ion hidrogen yang menempel di gugus aminaku. Kurasa hidroksil jauh
lebih menarik daripada diriku karena si hidrogen tadi segera meninggalkanku
untuk bergabung bersamanya. Ah, memang sudah nasibku sendiri begini.
Belum selesai lamunanku, ia
meneteskan lagi sejumlah cairan melalui pipa aneh yang meruncing ujungnya.
Kulihat ion-ion timbal dengan ganas segera berikatan dengan rangkaian asam amino
yang masih saja bergandengan satu sama lain walaupun sudah dipanaskan. Segera
terbentuk endapan putih, menyeramkan sekali. Sepertinya ia marah karena
rangkaian asam amino itu tidak mau menurut saja dan melepaskan gandengan satu
sama lain saat dipanaskan tadi. Dengan ganas ia masih mencari-cari rangkaian
asam amino yang membandel, namun mendadak ia tenang setelah manusia tadi
memasukkan asam oksalat melalui pipa aneh lain yang lebih kecil dari pipa aneh
tadi.
Kemudian manusia itu memasukkanku
ke dalam sebuah alat dan dari ujungnya yang seperti gasing, aku keluar setelah
melewati saringan berukuran pori kecil. Kecil sekali porinya, endapan putih dan
kerak (mayat-mayat keluargaku T,T) tidak dapat melewatinya. Namun aku dapat
lolos dengan mudah dari saringan itu. Sekarang aku berada dalam tabung plastik
kecil yang lucu. Di sinilah aku dapat melihat dengan jelas, keluargaku. Setelah
kuamati satu persatu, mereka semua ada, kecuali glutamin. Membayangkan nasib
glutamin tadi, aku bergidik.
Manusia itu kemudian
memindahkanku ke sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat. Kemudian, ia
memasukkan sesuatu. Kulihat sebuah molekul yang begitu cantik, belum pernah
kulihat ia sebelumnya selama hidupku. Ia memperkenalkan diri orthoftalaldehid.
Melihat atom karbon karboksilnya feminin, atom nitrogenku tak dapat menahan
diri untuk menggodanya. Sebenarnya ia masih memiliki satu atom karbon karboksil
lagi, yang tak kalah feminin dan menarik untuk kuincar, namun apa daya
nitrogenku hanya satu. Pun aku tak punya gugus lain yang cukup jantan untuk
menyerangnya. Tiba-tiba sebuah molekul lain muncul, tanpa basa-basi ia
memperkenalkan diri sebagai 2-merkaptoetanol dan menawarkan atom sulfurnya
untuk berikatan dengan OPA. Tanpa malu-malu, si OPA, demikian panggilan
sayangku padanya, menerimanya dengan suka cita. Aku tidak tinggal diam, aku pun
bereaksi dan tahu-tahu kami bertiga telah bergandengan. Namun agak berbeda
dengan gandengan tanganku bersama prolin dan hidroksiprolin dahulu, sekarang
kami melebur menjadi satu molekul yang kaku. Aku tak dapat bergerak bebas. Yah,
nasib molekul siapa yang tahu. Gara-gara kepincut dengan kecantikan si OPA aku
jadi begini. Ya sudahlah.
Kemudian melalui sebuah benda
yang aneh, aku disedot dan disuntikkan ke sebuah benda besar berbentuk elips.
Rupanya benda itu terdiri atas bola-bola yang berukuran seragam dan diiisikan
ke sebuah pipa. Permukaan bola itu berupa silika yang dilapisi rantai karbon,
masing-masing berjumlah 18 buah, sehingga tampak berekor. Ada juga silika yang
hanya ditutupi gugus hidroksil. Melihat rantai karbon yang lucu itu, aku jadi
tertarik untuk bergandengan dengannya, karena ada bagian molekulku yang juga
bersifat sama dengannya, sama-sama takut air. Molekul sejenisku pun ikut
berikatan. Walaupun mereka sudah bergabung dengan OPA dan 2-merkaptoetanol, aku
masih dapat mengenali mereka: asam aspartat, asam glutamat, asparagin, serin,
sistein, treonin, histidin, metionin, alanin, arginin, triptofan, valin,
leusin, isoleusin, dan lisin. Turunan asam aspartat, asam glutamat, dan
asparagin tampak kurang antusias bergandengan dengan rantai karbon itu, namun
sebaliknya kulihat turunan valin, leusin dan isoleusin terlihat sangat gembira
menggandeng rantai karbon itu dengan mesra.
Belum sempat aku mengamati lebih lanjut, tiba-tiba
kami diguyur suatu cairan. Tak ambil waktu, asam aspartat kepincut dengan
cairan itu dan segera melepaskan rantai karbon yang tadi dipegangnya sambil
malas-malasan. Asam glutamat segera mengikuti, diikuti asparagin, serin,
sistein dan histidin. Setelah histidin pergi, cairan itu menarikku. Metanol
dalam cairan itu menyuruhku untuk melepaskan peganganku dengan rantai karbon
yang kupegangi. Ternyata di dalam cairan itu ada pula ion asetat. Wah, aku jadi
ragu. Sebenarnya aku nyaman-nyaman saja berikatan dengan rantai karbon ini,
tapi metanol terus memaksaku. Ternyata ada molekul lain yang berpikiran sama
denganku. Dari strukturnya, aku tahu kalau ia turunan treonin. Makin lama,
makin banyak metanol yang memaksaku. Aku pun menyerah. Dengan berat hati
kuucapkan perpisahan pada rantai karbon tadi. Ia tampak sedih tapi seperti atom
dan molekul lain di muka bumi ini, ia pasrah saja. Turunan treonin pun
menyusulku, ia juga tidak tahan terus dirongrong oleh metanol. Kami mengalir
bersama-sama.
Sekarang ada sebuah lampu yang
menyorotkan cahaya padaku. Aku pun tereksitasi dan energiku naik. Beberapa saat
kemudian, tak dapat kutahan, aku ingin kembali seperti semula. Keadaan ini
tidak nyaman. Ah! Akhirnya berhasil, aku berhasil turun satu tingkat. Namun ini
belum cukup. Aku harus benar-benar kembali seperti semula. Dan aku terkejut
menyadari bahwa ketika aku berusaha menurunkan tingkat energiku lagi, aku
memancarkan sinar juga. Sinar ini berbeda dengan sinar tadi, lebih kecil
energinya, namun aku bersinar! Kulihat sebuah alat menangkap sinar itu, maka
dengan semangat aku semakin bersinar. Kulihat turunan treonin yang bersamaku
sejak keluar dari kolom berisi bola-bola kecil itu juga melakukan hal yang
sama. Tidak hanya itu persamaan diantara kami, rupanya kekuatan pancaran sinar
kami juga sama.
Dan tanpa kutahu, manusia tadi
memandangi layar komputer dengan gembira.
“Eureka! Glisin! Bersama dengan
treonin!”
05/05/12
Mengenalmu, Memelukmu
Entah kenapa, melihat draft skripsiku yang cuma dijepit oleh sebuah penjepit hitam besar, ideku jadi meluap-luap.
Mengenalmu
Mengenalmu, kubagai bayi langkahkan kaki tuk menjejak bumi
Mengenalmu, kubagai menaiki bianglala mendaki puncak tertinggi
Mengenalmu, kubagai seorang awak kelasi
Mernerka bintang-bintang dalam rasi
Mengenalmu, kubaca konstelasi sempurna karya Ilahi
Mengenalmu, takkan pernah kuselesaikan sepanjang hidupku
Karena setiap kali menatapmu, seperti kujumpai sesuatu yang baru <3
Terus, mungkin ia akan membalas puisiku, dengan puisi juga seperti ini:
Memelukmu
Aku tak tahu kapan
Kapan akan ada hal lain yang akan mengalihkan energi dan waktumu untukku
Aku juga tak tahu kapan
Kapan kau akan merasa bosan dan meninggalkanku
Yang aku tahu, aku ingin memelukmu, lama
Selama mungkin
Dengan jiwaku
Selama kau mau, selama kau mau
Selama kau masih mau aku <3
Hehehe....bohong juga sih kalau inspirasi untuk menulis kedua puisi itu HANYA dari skripsi aja. Tapi pas, kan dengan situasi dan kondisi di semester delapan yang aneh ini? :)
29/02/12
Ada Apa dengan Cinta? (Sebuah Film)
Pertama kali nonton film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) itu, kayaknya waktu aku kelas 1 SMP. Terus kenapa malam ini bisa nonton film tersebut? ceritanya agak panjang. Gara-garanya ada adik kelasku cerita kalau Nicholas Saputra itu berakting di sebuah film lain (lupa namanya) memerankan seorang waria. Aku langsung kaget, kan di AADC si Nicholas itu...ehm, cool banget. Di kehidupan nyata juga kayaknya juga cool orangnya (sok kenal banget ya). Mana kuliah di teknik arsitektur lagi (?).
Nah, terus malah ngobrolin filmnya Nicholas Saputra yang paling terkenal deh, apalagi kalau bukan AADC. Kata-kata "Jadi salah gue? salah temen gue?" yang sampai sekarangmasih sering dipakai buat bercandaan, sumbernya dari AADC juga kan. Film yang menandai kebangkitan film bermutu Indonesia, kata para pengamat film itu AADC. Menurutku dulu udah ada sih film bagus, itu lho, Petualangan Sherina, haha.
Yang jelas, dulu waktu AADC lagi booming, kupikir cowok Indonesia yang ganteng itu seperti Nicholas Saputra dan cewek Indonesia yang cantik itu seperti Dian Sastro. Padahal Nicholas Saputra itu keturunan Jerman, jadi enggak 100% Indonesia. Jadi anggepanku itu salah. Oh iya, film ini dibuat sekitar 10 tahun lalu. Yang aku heran kenapa 2 pemeran utamanya tetap mempesona seperti dulu 10 tahun lalu ya, hehe. Sepuluh tahun tidak berarti apa-apa. Malam ini serasa menjadi abg labil kembali (padahal emang kadang masih labil, hehe).
Yang jelas, dulu waktu AADC lagi booming, kupikir cowok Indonesia yang ganteng itu seperti Nicholas Saputra dan cewek Indonesia yang cantik itu seperti Dian Sastro. Padahal Nicholas Saputra itu keturunan Jerman, jadi enggak 100% Indonesia. Jadi anggepanku itu salah. Oh iya, film ini dibuat sekitar 10 tahun lalu. Yang aku heran kenapa 2 pemeran utamanya tetap mempesona seperti dulu 10 tahun lalu ya, hehe. Sepuluh tahun tidak berarti apa-apa. Malam ini serasa menjadi abg labil kembali (padahal emang kadang masih labil, hehe).
Anyway...balik ke filmnya ya. Ini salah satu film yang jalan ceritanya masih bisa kuingat dengan sangat baik meski sudah bertahun-tahun. Namun, ekspresi para pemainnya udah banyak yang lupa sih. Adegan paling berkesan buatku adalah ketika si Cinta mengembalikan bukunya si Rangga, terus Rangga membuat gestur terima kasih like a Sir di Inggris sana. Haha, kayak tau aja, sok tahu banget aku ini. Emang kan diceritain kalau si Rangga itu misterius dan berbeda. Tapi setelah dipikir logis, emang ada ya yang beneran kayak gitu di sekolahan. Ada juga adegan si Rangga melemparkan bolpoin ke orang yang ngobrol di perpustakaan. Kalau ada yang beneran kayak Rangga gitu...kasihan banget yang sekolah di situ. Enggak bisa bercanda di perpustakaan deh, hehe.
Kesan pertama ketika nonton di menit-menit awal, geli aja sih. Ternyata ekpresi para pemainnya tuh ada yang lebai gitu menurutku. Jadi inget pas nonton bareng temen-temen KKN di pondokan, kami ketawa ngakak melihat akting para pemainnya. Padahal itu bukan film komedi lho, haha. Untungnya AADC enggak selebai film yang kami tertawakan dulu. Oh iya, baru sadar sekarang...kalau di AADC itu, diceritakan bahwa saat geng cewek berkumpul, mereka selalu bercerita tentang masalah masing-masing, lalu menari bersama, pokoknya hal-hal yang so sweet lah. Ehm, kayaknya kalau aku berkumpul dengan sahabat-sahabat cewek, kok justru sering terjadi keanehan dan cerita-cerita gokil ya? Haha.
Setelah ditonton lagi dengan saksama, lucu banget ternyata kisahnya si Rangga dan Cinta ini. Jadi mereka gengsi-gengsian padahal sebenarnya saling suka. Ada salah satu adegan, ketika si Rangga akan berterima kasih ke Cinta karena Cinta sudah mengembalikan buku miliknya. Disitu terlihat banget ekspresinya Cinta yang smug banget dan ngerasa menang karena...karena apa ya? Karena dia yakin banget si Rangga akan berterima kasih padanya? Ya gitu lah pokoknya. Melihat ekspresi Cinta, si Rangga langsung bilang "kenapa kamu tertawa?". Kayaknya si Rangga juga ngerasa kalau si Cinta itu kegeeran gitu. Enggak tahu kenapa, aku geli sama adegan ini. Mana si Cinta yang notabene g4h0eL abis dan selalu ber-elo gue mendadak keceplosan menyapa Rangga dengan sebutan "kamu" dan tentu saja si Rangga menyadari hal yang tidak biasa itu. Entah kenapa di mataku adegan itu kuartikan sebagai si Rangga yang kegeeran, hoho. Ada adegan ketika si Rangga bilang "saya mau kesana nanti sore, mau ikut?". Kemudian dia buru-buru meralat "eh, jangan salah paham". Khawatir banget ya kalau dianggap kegeeran, padahal memang iya :P
Kadang juga mereka berdua dikisahkan lupa kalau 'harus' gengsi-gengsian, contohnya si Rangga yang bilang ke Cinta "hei, pertanyaan saya belum dijawab. Kok kamu bisa sampai kesini? Kangen sama saya? Atau kangen bertengkar dengan saya?". Cinta marah dan merajuk hendak pulang. Tapi si Rangga bilang "Eh, jangan pergi. Saya cuma bercanda" sambil menarik tangan Cinta. Eaaa, menurutku romantis banget :p
Haaa, pokoknya film ini enggak berkurang keindahannya, bahkan menurutku terlihat lebih bagus daripada saat pertama kali kutonton dulu. Karena ternyata banyak hal yang enggak teramati olehku 10 tahun yang lalu!
Haaa, pokoknya film ini enggak berkurang keindahannya, bahkan menurutku terlihat lebih bagus daripada saat pertama kali kutonton dulu. Karena ternyata banyak hal yang enggak teramati olehku 10 tahun yang lalu!
Oh iya, si Rangga itu, jujur banget kalau ngomong. Masak di film itu, dia bilang sama Cinta, intinya begini "Saya yakin diantara kita ada yang lebih punya hati, atau punya otak. Tapi maaf Cinta, sepertinya kamu tidak punya keduanya".
Wuhhh, bayangkan! Terus juga pernah bilang gini:
"Sebenarnya kamu nonton konser itu karena memang suka atau karena enggak enak sama teman-teman kamu?"
"Enggak punya pendirian!"
"Sepertinya enggak ada yang keberatan (saya dekat dengan Cinta) kecuali kamu dan boybandmu itu!" (Diucapkan saat Rangga bertengkar dengan cowok lain yang cemburu akan kedekatannya dengan Cinta*)
Dan....hal yang paling bagus dari film ini menurutku adalah...puisi-puisinya!!! Sisi gombal nan sok puitis dalam diriku just can't resist those poems, hehe. Puisi yang paling aku sukai adalah puisi terakhir dalam film ini. Puisinya berjudul "Perempuan", dikarang oleh Rangga...eh salah, lupakan dulu Nicholas Saputra, pengarang puisi ini adalah Rako Prijanto (seorang sutradara). Bagus lho...ah, dulu kok aku belum ngerti ya, sayang sekali, haha. Ini dia puisinya:
Perempuan
(Rako Prijanto, 2002)
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi, juga karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru kali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama, untuk mempertanyakan cintanya
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama, untuk mempertanyakan cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku, karena aku ingin kamu
Itu saja
Suka banget sama tiga baris terakhir, terutama baris pertama sebelum terakhir. Tiga baris itu bisa kuparafrasekan, jadi panjang sekali.
Aku akan kembali. Semustahil apapun kemungkinannya, aku pasti akan kembali. Entah kapanpun itu, tapi aku mampu menjanjikan kepastian. Aku akan kembali. Untuk menatap kembali binar penuh cinta yang terpancar dari matamu. Untuk mengetahui sendiri seberapa kuat cinta kita sebenarnya. Semua karena kamu, dan memang hanya kamu alasanku.
Hmm, postingan ini mulai enggak jelas menurutku. But thanks for reading :))
20/10/11
Craving for a Song: Puzzle of My Heart (Westlife)
Pernah nggak merasakan sebuah craving alias kepinginnn banget akan sesuatu? Misalnya gara-gara denger orang ngomongin es krim, jadi pingin banget makan es krim. Sampai bisa membayangkan sensasi padatan es krim pelan-pelan mencair di lidah, lalu kita akan mendecapnya sebentar dengan nikmat, manis dan gurih creamy, kemudian es krim yang sudah meleleh itu meluncur mulus ke kerongkongan, slurrp! Meninggalkan rasa sedikit lengket di belakang mulut, yang bisa dihilangkan dengan mudah kalau kita minum air putih.
Jujur aku cukup sering merasakan hal seperti itu, kepingin banget sampai bisa membayangkan tiap detailnya. Kalau makanan tidak terlalu sering sih, yang sering itu biasanya justru keinginan untuk melakukan sesuatu, misal pergi ke suatu tempat, nulis tentang sesuatu, beli sesuatu, atau mendengarkan lagu tertentu. Yeah, a random side of me...pada malam hari kadang aku merenung "ngimpi apa kemarin, kok sekarang sudah melakukan ini". Misal, memutuskan untuk periksa ke dokter mata (i'll be writing about that later), memutuskan untuk meninggalkan 10 menit terakhir kuliah kemudian nekat ikut seleksi lomba konseling tahun lalu, memutuskan untuk mencuci motor di antara jeda kuliah, memutuskan untuk mulai menyampul semua buku dan novelku, hahaha, mengingat itu semua, aku jadi bertanya-tanya "labil-kah aku??". Untung aja gak pernah melakukan sesuatu yang life-changing dan irreversible dengan random, hehe.
Sering, aku tiba-tiba kepingin banget dengerin satu lagu tertentu. Seharian, rasanya lagu itu diputer di otak dan kepingin nyanyiin lagu itu terus. Tiba-tiba keinget liriknya dan tersadar "liriknya bagus juga ya, baru kerasa".
- Dulu pernah seharian di kampus pingin banget denger lagunya Only Girl (Rihanna) tapi yang di-cover sama Mike Tompkins, sampai kebayang-bayang suara synthesizer yang ditiruin sama si Mike.
- Pernah tiba-tiba pingin banget denger "Just Stand Up", lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh beberapa vokalis wanita terkenal, didedikasikan buat para pasien kanker payudara.
- Pernah tiba-tiba teringat lagu yang liriknya "nothing gonna change my love for you...". Itu lagunya siapa juga awalnya gak tahu, tiba-tiba melintas aja tanpa permisi, haha. Begitu ada kesempatan langsung browsing liriknya.
- Lagunya Monita "Kisah yang Indah", suara lembutnya, terdengar berharap-harap namun juga yakin, menyanyikan "jangan berhenti, kau yakinkan pasti...cinta ini".
- Tiba-tiba terbayang Sherina, terkesan tegas tanpa ragu menyanyikan "bila suatu saat nanti kau harus pergi, jangan paksa aku 'tuk cari yang lebih baik" dengan suaranya yang indah dan terlatih dengan baik.
- Pernah juga di jalan Yogya-Kudus tiba-tiba kepingin banget denger lagunya Maroon 5 yang She Will be Loved. Keinget suara basnya yang berdentum-dentum di awal lagu. Keinget suaranya Mr. Levine dengan suara (yang buatku terdengar seperti) membujuk menyanyikan "tap on my window, knock on my door...." dan "i know where you hide, alone in your car, know all of the things that made you who you are...". Untung bawa mp3 player. Sayangnya sekarang mp3 player itu hilang karena terjatuh (tercecer?) dari motor T.T
Dan tahukah, kalau craving seperti itu sudah muncul, maka yang akan kulakukan adalah mendengar lagu itu terus berulang-ulang sampai berjam-jam bahkan berhari-hari tanpa lagu lainnya. Untung headset sudah ditemukan ya, kasihan temen-temen kosku kalau harus mendengar satu lagu diputer berulang-ulang dari kamarku, haha.
And now, the song which i am obsessed to is...Puzzle of My Heart. Ini lagu lama di-remake, aku enggak tahu seniman aslinya, aku tahunya lagu ini di-cover oleh Westlife. Pertama kali denger lagu ini kelas 5 atau kelas 6 SD, saat Westlife masih jaya-jayanya. Oh, and i feel the need to mention that i was a big fan. I am still a fan, walaupun tidak update dengan lagu-lagu baru mereka. Lirik lagu ini bagus...bercerita tentang cinta sih, tapi entah kenapa terdengar tulus dan enggak terlalu gombal. Atau mungkin lagu ini sebenarnya gombal dan idenya pun sederhana saja, tapi dikemas dengan bagus. Mana vokalnya bagus menurutku, enggak ngerti sih tekniknya, yang penting terdengar bagus :) Dan aku tergoda untuk mengira-ngira sendiri artinya, hehe (mumpung di blog pribadi, kebiasaan sok tahu dipuas-puasin). Ini lagu yang lumayan eksplisit sih menurutku, perumpamaannya enggak separah lagu-lagu cinta lain yang biasanya, ckckck, lebai! Hehe. Pokoknya lagu ini bagus menurutku :D
Ini dia liriknya (diambil dari AZ Lyrics):
"Puzzle Of My Heart"
(kalo kata ilmuwan, salah satu tanda cocok secara genetik itu emang tertarik secara fisik sih, sama the one you always feel attracted to, one who is able to wake up all of your senses...tapi lagu ini bukan ngomongin nafsu yang sekedar memuja fisik aja)
It's the perfume that she wears
I feel I'm losing my defenses
To the colour of her hair
(suka deh sama lirik lagu yang memiliki rhyme seperti ini, senses is rhymed with defenses...hehe selera Melayu mungkin, suka yang seperti pantun? Dan artinya bagus juga, ketika ia bertemu dengan seseorang yang dicintainya, semua tembok pertahanannya runtuh...ya gitu deh. Aku ngerasa "colour of her hair" dan "perfume that she wears" itu cuma sesuatu untuk diinget aja, bukan berarti si subyek ini mencintai seseorang karena fisiknya aja)
Just thinking about her
Takes me through the night
(woow, gombal kelas kakap nih yang lirik "thinking about her takes me through the night", artinya si subyek mampu memikirkan si obyek cintanya semalaman...dasar gombal. Tapi bagus sih)
[Chorus]Every time we meet
The picture is complete
(Berima lagi "meet" rhymed with "complete" yeah, this is how people always talk about, kedatangan cinta itu melengkapi hidup)
Every time we touchThe feeling is too much
(Berima lagi)
She's all I ever needTo fall in love again
(kadang kegagalan cinta itu traumatis, tapi akan ada seseorang yang menjadi alasan bagi seseorang untuk jatuh cinta lagi)
I knew it from the very start, she's the puzzle of my heart
It's the way she's always smiling
(well, "she" melengkapi hidupnya si subyek, seperti potongan puzzle yang udah lama dicari)
That makes me think she never cries
(mungkin keceriaan dari "she" itu yang membuat si subyek jatuh cinta...tapi siapa yang tidak ceria kalau bersama dan saling mencintai? cailah)
I feel I'm losing my defencesTo the colour of her eyes
(Again, menurutku "colour of her eyes" bukan berarti si subyek jatuh cinta gara-gara demen sama fisiknya aja. Colour of her eyes itu cuma pengingat, dan melihat warna mata dan rambutnya, si subyek merasa ia tidak perlu berpura-pura, tidak perlu 'build a wall'...because he's losing his defenses)
And every little piece of her is right(Well, namanya juga lagu gombal ya, harap maklum...tapi pernah gak denger kata-kata "seolah ia Dicipta sesuai keinginanku"? Si subyek ngerasa cocok banget sama cintanya itu)
[Chorus]
Like a miracle she's meant to be
She became the light inside of me
(Dicintai itu membuat si subyek merasa kuat, merasa bersinar, pokoknya merasa hidupnya lebih indah, karena si "she" itu)
And I can feel her like a memoryFrom long... ago
(Aww, paling suka sama baris ini! Saking cocoknya, walaupun baru kenal tapi si subyek ngerasa udah kenal luar dalam sejak dulu sama obyek cintanya itu. Seperti memori dari masa lalu, memori yang indah pastinya. Dan bait ini dinyanyikan dengan pas banget oleh Mark, dengan suaranya yang tinggi-tinggi gimana...gitu)
Hehe, sok tahu banget ya aku...ada yang punya interpretasi lain?
13/10/11
Puisi dengan Rima yang Maksa :-p
Hehe, kayaknya lucu ya puisi bahasa Inggris tapi berima. Kayak di lagu-lagu itu lho! Awalnya pingin nulis tentang hujan (karena udah lama banget enggak merasakan hujan). Tapi kok susah ya...walhasil malah menghasilkan puisi yang ehm, kok temanya malah agak melenceng jauh dari yang direncanakan? Dan rimanya maksa banget, sumpah berantakan dan sepertinya enggak terlalu terdengar berima jadinya...malah geli sendiri bacanya. Yaa namanya juga latihan kan *ngeles* BTW, If i were able to guitar better, maybe i would make a song with this-so-called-poem. Then sell it to one of those singer-wannabes (ckckck ngimpi ketinggian).
This is About You
This is about that rain, when everything began
This is about how I felt, when I said I would be alright
This is about little things that became special
Pardon me for my denial
This is about me trying to convince myself so bad
That it has nothing to do with our heart
This is about you
.
.
Label:
lebai,
maksa hahaha,
puisi,
romance writer mode on
Langganan:
Postingan (Atom)