Tampilkan postingan dengan label lebai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebai. Tampilkan semua postingan

09/04/13

I Took The Good Times, I'll Take The Bad Times...

Awalnya aku tidak begitu suka dengan lagu “Just The Way You Are”-nya Billy Joel. Aku pernah  mendengarnya sekilas dan enggak terlalu suka dengan lirik lagunya. Kok ada kata-kata, ‘don’t go changing some new fashion, don’t change the colour of your hair”? Menurutku perubahan itu bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Kalau kita terus stagnan, terus apa artinya hidup? Bukankah kita harus selalu melakukan langkah-langkah continous improvement? Dan orang tercinta sudah seharusnya mendukung langkah-langkah kita itu, bukan malah membuat kita stagnan, apapun alasannya.


Namun pendapatku tentang lagu itu agak berubah saat beberapa bulan lalu aku les conversation bahasa Inggris. That evening, my teacher made the class listen to a song and he asked us to write down the verbs from the lyric. Ternyata lagu “Just The Way You Are” itulah yang diputarnya. Lagunya diputar dua kali. Saat diputar untuk yang pertama kalinya, aku enggak terlalu memperhatikan musik dan liriknya, aku cuma fokus mendengarkan verb-nya saja. Saat diputar untuk kedua kalinya, aku mulai memperhatikan liriknya dengan sungguh-sungguh, juga memperhatikan musiknya. Oh iya, liriknya bisa dilihat di sini.

Setelah didengarkan dengan saksama, ternyata musiknya asyik juga. Menenangkan banget. Enak juga duduk di pojok kelas sambil menikmati musik. Rasanya di situ cuma ada aku, yang lain cuma ngontrak, haha...bercanda ding. Musiknya bikin rileks, dan aku benar-benar suka sama bunyi-bunyian dari brass section di bagian menjelang akhir lagu.

Selain itu aku menemukan sebuah kalimat yang bagus banget di situ.
"I took the good times, I'll take the bad times"

How sweet :)
Seolah-olah makna dari kalimat sederhana nan powerful itu begini: 
"I really enjoy your companion and I think you are very awesome. Borrowing a sentence from a novel i have ever read: Every language in this world would fail in saying how much and with what disinterested passion I am ever yours. But I know that you are a human. Therefore, like me, you are not perfect. And if you ever lose your cheerfulness and your coolness -things that made me fall for you for the first time- remember that i will be here to cheer you up. To let you know that you are still the very same person i fall in love with, person that I will always like and appreciate. You are still the same person behind all of your problems and I believe that you can face it".

Hehehe memang sotoy banget ya aku ini. Yah, itu tadi interpretasiku sendiri tentang potongan lirik lagu Just The Way You Are-nya Billie Joel sih. Suka-suka aku dong ;p namun aku tidak setuju 100% dengan lirik lagu itu, hanya saja aku benar-benar suka dan setuju dengan kalimat "I took the good times, I'll take the bad times" itu :) Lagu lain yang memiliki lirik yang hampir semakna dengan "I took the good times, I'll take the bad times"-nya Just The Way You Are adalah lirik dari lagu I'll Stand by You dari grup The Pretenders (lirik bisa dilihat di sini).

"I'll Stand by You. Take me into your darkest hour, and I'll never desert you"

Seperti pula lagu Just The Way You Are, aku pun tidak bisa setuju 100% dengan keseluruhan lirik lagu I'll Stand by You. Namun aku setuju dengan kalimat itu :)
What do you think, readers?

03/09/12

Kalau Kau Harus Tahu (Destiny)

Kalau kau harus tahu, destiny, aku masih bebas. Sungguh. Free as a bird, begitu orang Inggris menyebutnya.
Kalau kau harus tahu, aku akan bilang maaf. Maaf untuk menceburkan diriku sendiri ke kolam lumpur.
Kalau kau harus tahu, aku sebenarnya tidak ingin seperti ini.
Kalau kau harus tahu, destiny, aku pun ingin berjumpa. Tapi Tuhan tidak pernah Tanyakan inginku. Tuhan hanya Berikan yang aku butuhkan. Sepertinya bukan kamu yang kubutuhkan sekarang.

Kalau kau harus tahu, pernah aku membayangkan seperti apa wujudmu.
Kalau kau harus tahu, tak lama kemudian kusadari bahwa aku tidak peduli tentang itu.
Kalau kau harus tahu, maka akan kubisikkan padamu: terserah. Terserah sekarang kau mau seperti apa karena aku pun tidak bisa menjanjikan itu untukmu.
Kalau kau harus tahu, pikiran itu menyakitkan hatiku.

Kalau kau harus tahu, destiny...kalau kau harus tahu.
Kalau kau harus tahu, meskipun kupikir kau tidak perlu tahu.
Sampai jumpa, destiny
Mimpi indah, destiny :)

29/02/12

Ada Apa dengan Cinta? (Sebuah Film)

Pertama kali nonton film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) itu, kayaknya waktu aku kelas 1 SMP. Terus kenapa malam ini bisa nonton film tersebut? ceritanya agak panjang. Gara-garanya ada adik kelasku cerita kalau Nicholas Saputra itu berakting di sebuah film lain (lupa namanya) memerankan seorang waria. Aku langsung kaget, kan di AADC si Nicholas itu...ehm, cool banget. Di kehidupan nyata juga kayaknya juga cool orangnya (sok kenal banget ya). Mana kuliah di teknik arsitektur lagi (?). 

Nah, terus malah ngobrolin filmnya Nicholas Saputra yang paling terkenal deh, apalagi kalau bukan AADC. Kata-kata "Jadi salah gue? salah temen gue?" yang sampai sekarangmasih sering dipakai  buat bercandaan, sumbernya dari AADC juga kan. Film yang menandai kebangkitan film bermutu Indonesia, kata para pengamat film itu AADC. Menurutku dulu udah ada sih film bagus, itu lho, Petualangan Sherina, haha.

Yang jelas, dulu waktu AADC lagi booming, kupikir cowok Indonesia yang ganteng itu seperti Nicholas Saputra dan cewek Indonesia yang cantik itu seperti Dian Sastro. Padahal Nicholas Saputra itu keturunan Jerman, jadi enggak 100% Indonesia. Jadi anggepanku itu salah. Oh iya, film ini dibuat sekitar 10 tahun lalu. Yang aku heran kenapa 2 pemeran utamanya tetap mempesona seperti dulu 10 tahun lalu ya, hehe. Sepuluh tahun tidak berarti apa-apa. Malam ini serasa menjadi abg labil kembali (padahal emang kadang masih labil, hehe).

Anyway...balik ke filmnya ya. Ini salah satu film yang jalan ceritanya masih bisa kuingat dengan sangat baik meski sudah bertahun-tahun. Namun, ekspresi para pemainnya udah banyak yang lupa sih. Adegan paling berkesan buatku adalah ketika si Cinta mengembalikan bukunya si Rangga, terus Rangga membuat gestur terima kasih like a Sir di Inggris sana. Haha, kayak tau aja, sok tahu banget aku ini. Emang kan diceritain kalau si Rangga itu misterius dan berbeda. Tapi setelah dipikir logis, emang ada ya yang beneran kayak gitu di sekolahan. Ada juga adegan si Rangga melemparkan bolpoin ke orang yang ngobrol di perpustakaan. Kalau ada yang beneran kayak Rangga gitu...kasihan banget yang sekolah di situ. Enggak bisa bercanda di perpustakaan deh, hehe.

Kesan pertama ketika nonton di menit-menit awal, geli aja sih. Ternyata ekpresi para pemainnya tuh ada yang lebai gitu menurutku. Jadi inget pas nonton bareng temen-temen KKN di pondokan, kami ketawa ngakak melihat akting para pemainnya. Padahal itu bukan film komedi lho, haha. Untungnya AADC enggak selebai film yang kami tertawakan dulu. Oh iya, baru sadar sekarang...kalau di AADC itu, diceritakan bahwa saat geng cewek berkumpul, mereka selalu bercerita tentang masalah masing-masing, lalu menari bersama, pokoknya hal-hal yang so sweet lah. Ehm, kayaknya kalau aku berkumpul dengan sahabat-sahabat cewek, kok justru sering terjadi keanehan dan cerita-cerita gokil ya? Haha.

Setelah ditonton lagi dengan saksama, lucu banget ternyata kisahnya si Rangga dan Cinta ini. Jadi mereka gengsi-gengsian padahal sebenarnya saling suka. Ada salah satu adegan, ketika si Rangga akan berterima kasih ke Cinta karena Cinta sudah mengembalikan buku miliknya. Disitu terlihat banget ekspresinya Cinta yang smug banget dan ngerasa menang karena...karena apa ya? Karena dia yakin banget si Rangga akan berterima kasih padanya? Ya gitu lah pokoknya. Melihat ekspresi Cinta, si Rangga langsung bilang "kenapa kamu tertawa?". Kayaknya si Rangga juga ngerasa kalau si Cinta itu kegeeran gitu. Enggak tahu kenapa, aku geli sama adegan ini. Mana si Cinta yang notabene g4h0eL abis dan selalu ber-elo gue mendadak keceplosan menyapa Rangga dengan sebutan "kamu" dan tentu saja si Rangga menyadari hal yang tidak biasa itu. Entah kenapa di mataku adegan itu kuartikan sebagai si Rangga yang kegeeran, hoho. Ada adegan ketika si Rangga bilang "saya mau kesana nanti sore, mau ikut?". Kemudian dia buru-buru meralat "eh, jangan salah paham". Khawatir banget ya kalau dianggap kegeeran, padahal memang iya :P

Kadang juga mereka berdua dikisahkan lupa kalau 'harus' gengsi-gengsian, contohnya si Rangga yang bilang ke Cinta "hei, pertanyaan saya belum dijawab. Kok kamu bisa sampai kesini? Kangen sama saya? Atau kangen bertengkar dengan saya?". Cinta marah dan merajuk hendak pulang. Tapi si Rangga bilang "Eh, jangan pergi. Saya cuma bercanda" sambil menarik tangan Cinta. Eaaa, menurutku romantis banget :p
Haaa, pokoknya film ini enggak berkurang keindahannya, bahkan menurutku terlihat lebih bagus daripada saat pertama kali kutonton dulu. Karena ternyata banyak hal yang enggak teramati olehku 10 tahun yang lalu!

Oh iya, si Rangga itu, jujur banget kalau ngomong. Masak di film itu, dia bilang sama Cinta, intinya begini "Saya yakin diantara kita ada yang lebih punya hati, atau punya otak. Tapi maaf Cinta, sepertinya kamu tidak punya keduanya". 
Wuhhh, bayangkan! Terus juga pernah bilang gini: 
"Sebenarnya kamu nonton konser itu karena memang suka atau karena enggak enak sama teman-teman kamu?"
"Enggak punya pendirian!"
"Sepertinya enggak ada yang keberatan (saya dekat dengan Cinta) kecuali kamu dan boybandmu itu!" (Diucapkan saat Rangga bertengkar dengan cowok lain yang cemburu akan kedekatannya dengan Cinta*)

Dan....hal yang paling bagus dari film ini menurutku adalah...puisi-puisinya!!! Sisi gombal nan sok puitis dalam diriku just can't resist those poems, hehe. Puisi yang paling aku sukai adalah puisi terakhir dalam film ini. Puisinya berjudul "Perempuan", dikarang oleh Rangga...eh salah, lupakan dulu Nicholas Saputra, pengarang puisi ini adalah Rako Prijanto (seorang sutradara). Bagus lho...ah, dulu kok aku belum ngerti ya, sayang sekali, haha. Ini dia puisinya:

Perempuan
(Rako Prijanto, 2002)

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi, juga karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru kali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali d
alam satu purnama, untuk mempertanyakan cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku, karena aku ingin kamu
Itu saja

Suka banget sama tiga baris terakhir, terutama baris pertama sebelum terakhir. Tiga baris itu bisa kuparafrasekan, jadi panjang sekali.
Aku akan kembali. Semustahil apapun kemungkinannya, aku pasti akan kembali. Entah kapanpun itu, tapi aku mampu menjanjikan kepastian. Aku akan kembali. Untuk menatap kembali binar penuh cinta yang terpancar dari matamu. Untuk mengetahui sendiri seberapa kuat cinta kita sebenarnya. Semua karena kamu, dan memang hanya kamu alasanku.


Hmm, postingan ini mulai enggak jelas menurutku. But thanks for reading :))

13/10/11

Puisi dengan Rima yang Maksa :-p

Hehe, kayaknya lucu ya puisi bahasa Inggris tapi berima. Kayak di lagu-lagu itu lho! Awalnya pingin nulis tentang hujan (karena udah lama banget enggak merasakan hujan). Tapi kok susah ya...walhasil malah menghasilkan puisi yang ehm, kok temanya malah agak melenceng jauh dari yang direncanakan? Dan rimanya maksa banget, sumpah berantakan dan sepertinya enggak terlalu terdengar berima jadinya...malah geli sendiri bacanya. Yaa namanya juga latihan kan *ngeles* BTW, If i were able to guitar better, maybe i would make a song with this-so-called-poem. Then sell it to one of those singer-wannabes (ckckck ngimpi ketinggian).


This is About You

This is about that rain, when everything began
This is about how I felt, when I said I would be alright

This is about little things that became special
Pardon me for my denial

This is about me trying to convince myself so bad
That it has nothing to do with our heart

This is about you


.

16/12/10

Begitulah Seharusnya

Suatu saat kita akan bertemu
Kemudian kita menyadari bahwa yang kita inginkan lebih dari sekedar pertemuan
Maka kau akan berkata padaku, kita harus bersama dengan izin-Nya

Kau akan membuatku mengerti, bagaimana rasanya "cinta yang sederhana"
Yang selama ini hanya kubaca dari puisi
Dan aku akan mengerti, kesederhanaan cinta itu indah--karena kujalaninya bersamamu

Kau menjadikanku diriku sendiri; diriku yang terbaik
Kau memiliki cintaku, tapi kau pelihara logikaku
Kau membuatku yakin, menghadapi kenyataan denganmu akan lebih indah dari bermimpi sendirian

Kau genggam tanganku, aku pun terpesona, tapi tidak lama-lama
Karena masih luas bagian dari dunia yang belum kita jelajahi
Dan kita pun bersama, menjelajahinya, menggapainya :)


"menjadikanku diriku sendiri-diriku yang terbaik"
:D

27/11/10

MERASA Cantik

Menurutku setiap wanita harus merasa cantik. Tidak penting menjadi benar-benar cantik kalau kita tidak bisa merasa cantik. Wanita yang tidak bisa melihat kecantikan dirinya tidak akan pernah bahagia, terlepas dari banyaknya pujian yang ia dapatkan; banyaknya laki-laki yang tergila-gila padanya; dan banyaknya bukti-bukti lainnya.

Aku beruntung punya ibu yang tidak pernah mengataiku “kamu jelek” atau "kamu gemuk". Aku beruntung punya ayah yang tahu bagaimana memuji caraku memilih pakaian. Tumbuh dewasa mendengar semua itu, aku jadi tidak terlalu peduli tentang apa yang orang-orang katakan tentang keadaan fisikku.

"Jerawat di mukamu itu akan hilang kalau kau teratur mencuci muka"...tentu saja mudah berkata seperti itu kalau mereka memang tidak berjerawat. Dari ilmu-ilmu yang kupelajari aku tahu tidak sesederhana itu menghilangkan jerawat. Justru pencucian wajah yang berlebihan bisa menimbulkan akibat yang lebih buruk daripada sekedar jerawat. Dan sekarang aku memutuskan untuk tidak terlalu berlebihan memikirkan jerawat di wajahku. Kuserahkan penanganannya pada mereka yang lebih tahu, dan aku sudah memutuskan untuk mulai memikirkan hal-hal lain yang lebih penting daripada sekedar menatap cermin lama-lama.

"Bibirmu memang indah dan proporsional, tapi gigimu terlalu besar, sayang sekali". Ya, gigiku memang seperti ini...yang penting gigi ini selalu sehat sehingga aku bisa makan beraneka jenis makanan. Dan aku tidak mau lagi menutupinya karena malu. Maka sekarang aku hampir selalu tersenyum tiap kali difoto. Setidaknya kata mereka bibirku bagus.

"Menurutku kamu berbeda, tidak seperti mereka...mungkin kalau aku belum pernah melihatmu kamu akan sama mempesonanya". Oke, aku benci dibanding-bandingkan dengan orang lain dalam hal apapun, apalagi dalam hal penampilan. Urus saja penampilanmu sendiri, toh aku yakin aku punya sesuatu yang lebih dibanding sekedar kemampuan memadu-padankan busana dan mengoleskan lipgloss.

"Jari-jari tanganmu pendek, sepertinya akan sulit bagimu untuk berlatih memainkan gitar". Well, aku mengkasihaninya yang belum tahu bahwa perkakas-perkakas yang dibuat untuk manusia normal sudah dirancang (dengan ilmu ergonomi) sedemikian rupa untuk dipakai semua orang dengan anatomi normal (aku memiliki anatomi normal alhamdulillah).

Ya, aku menyukai wanita yang kulihat ketika aku bercermin. Aku tahu tidak semua orang melihat ia seperti aku. Tapi ia adalah aku dan aku merasa senang berada di dalam tubuhnya. Ia adalah yang akan kuajak menua dan mati. Ia akan bersamaku lebih lama dari siapapun orang lain yang ada dalam hidupku. Lalu mengapa aku harus tidak menyukainya? Aku akan menjaganya agar ia dapat berfungsi optimum seperti ini lebih lama.

Aku sering merasa kasihan ketika bertemu seorang wanita yang merasa tidak cantik. Atau mereka yang senantiasa membandingkan dirinya dengan wanita-wanita lain yang mereka temui. Aku bisa mengerti saat membaca artikel yang menulis bahwa laki-laki takut jika ditanya "apakah aku cantik? apakah aku gemuk? apakah pakaian ini cocok untukku?". Jangankan laki-laki, aku yang wanita saja merasa bingung jika ditanya seperti itu.

Aku sedang berusaha melihat keindahan di setiap kejadian, di setiap benda, dan di setiap wajah. Tidak selalu mudah. Tapi menurutku akan ada orang yang melihat keindahan sesungguhnya dari dirimu; wajah dan pikiranmu. Lagipula, I think beautiful is not a mere a state of physical appearance but also a total body and mental health. Jadi berhenti merasa jelek, lakukan apa saja yang bisa membuatmu merasa cantik. Sekali lagi merasa cantik lho, bukan menjadi cantik tapi ribet dan "kosong".

Tapi manusia itu makhluk yang perlu sering diingatkan.

"One of the best things for a woman to hear is that she is beautiful" (Scarlett Johansson)

"All little girls should be told they are pretty, even if they aren't" (Marilyn Monroe)

Bahkan para wanita sosialita (yang kata banyak orang cantik luar biasa) itu tahu betapa pentingnya pujian berbunyi "kamu cantik" bagi seorang wanita. Bahwa ia tidak perlu berkaca dan membetulkan dandanannya setiap lima menit untuk memastikannya. Dan wanita tidak akan pernah percaya bahwa ia cantik, sampai seseorang berkata seperti itu. Lha wong ketika dipuji cantik aja mereka malah tidak percaya dan marah-marah kok :(
Girls...when i say you're a beauty, i mean it! You don't want to be called beautiful by your face nor your body...but your soul and you brain too, right?

Ya, hari ini aku berutang budi pada seseorang yang menganggap aku cantik :)

Wawww....mungkin dia tidak pernah tahu betapa menyenangkannya, betapa menginspirasinya itu. Eits...bukannya aku jadi kegeeran sama dia lho! Aku hanya merasa senang dan berterima kasih :)

Terima kasih untuk mengingatkanku bahwa aku harus selalu menyukai wanita yang kulihat di cermin setiap kali aku berkaca :)

Ingatlah teman-teman...
Kecantikan ada di setiap sinar mata
Ada di setiap warna dan rupa kulit,
Di setiap kombinasi komponen wajah
Tapi ia hanya akan tinggal di mata yang dapat melihatnya
-Beauty is in the eye of the beholder, so why don't you behold your own beauty?

27/07/10

choices

But I’ve made my decision and no point in regretting that. I seldom regretting my decision; I don’t want this become an exception.

But this is an exception.

Two sides of my choices have their plus and minus. I think I didn’t spend enough time to analyze them carefully. I let my logical thought take over. Just analyzing the loss I would get if I prefer going there. I forget to consider how regretful I would, if I don’t!

And now, I kind of regret my decision. But, too little too late...If I could blame on something, then I would blame my late emotional reminder. Why didn’t it come earlier so my eagerness to go would stay longer? I must have been there if it did.

I must have been there, and in spite of all that insignificant loss, I would feel very, very warm there.
Now, here, here I am, cold, and begin to count all the loss I’ve earned. Time and chances. And all that warmness, burning heat that I would always be demanding of.

All of the loss I will never regain.

(Aku lagi…lebai banget deh! Nemu tulisan Inggris di my Document...ya udah aku post aja. udah lama nggak posting bahasa Inggris).