Tampilkan postingan dengan label farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farmasi. Tampilkan semua postingan

22/10/14

Kangen Kampus

Beberapa saat yang lalu aku membaca sebuah artikel di internet tentang sisi-sisi kehidupan anak UGM. Bagi yang berminat bisa membacanya  di sini. Setelah membaca artikel itu, mataku berkaca-kaca karena rindu. Huaaa, aku kangen sekali dengan masa-masa kuliah di UGM dulu. Bukan berarti aku tidak bersyukur atas keadaanku yang sekarang, tapi sampai saat ini aku masih merasa bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa yang menyenangkan. Ibarat bayi yang harus lahir dari rahim ibu, saat meninggalkan masa kuliah dan memasuki dunia kerja aku pun menangis. Sebabnya, aku seperti dipaksa untuk keluar dari rahim ibu, dari kenyamanan. Siapa lagi yang memaksa kalau bukan diriku sendiri, hehe. But actually, I like to force myself like that :p

Kembali ke topik utama. Aku merasa beruntung dan senang sekali karena bisa belajar di UGM selama 5 tahun. Kuliah di UGM merupakan cita-citaku sejak SD. Saat ibuku kuliah S2, aku sering diajak pergi ke Jogja, sekalian untuk berlibur. Ibuku selalu mengajakku ikut ke kampusnya, kampus Fakultas Pertanian UGM. Saat memasuki kampus UGM yang luas, aku yang masih berusia 10 tahun langsung terkagum, Kampusnya sangat luas, bus kota masuk dengan bebas. Sejauh mata memandang, tampak para mahasiswa. Mereka tampak begitu dewasa dan pintar-pintar semua. Sepanjang jalan berdiri bangunan-bangunan sederhana yang papan namanya memuat nama-nama luar biasa, misalnya "Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam". Sungguh mengesankan. Dulu, perpustakaannya masih berupa bangunan lama, tapi tentu saja besar dan mengesankan. Sayang dulu, ketika aku masih kelas 5 SD, tak banyak buku-buku di sana yang bisa kubaca. 

Fakultas Pertanian kala itu pun tak kalah mengesankan. Di berbagai penjuru tampak kelompok-kelompok mahasiswa berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak mengerti karena mereka menggunakan banyak istilah teknis bidang keilmuan mereka. Teman-teman ibuku di pasca sarjana pertanian, seperti umumnya para mahasiswa di Jogja, juga ramah-ramah dan baik. Sembari menunggu ibuku mengurus entah apalah di suatu ruangan, aku memandangi rumput di bawah kakiku sembari bertekad. Besok kalau sudah besar, aku mau kuliah di UGM! Keinginan itu menancap benar di pikiranku. I must and I will. Meskipun saat itu aku belum tahu kalau aku akan ingin menjadi seorang Apoteker,

Ketika tiba saatnya bagiku untuk memilih universitas tempatku melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, dengan percaya diri aku memilih UGM, kampus impianku sejak kecil. Bukan, aku bukan murid terpintar di kelas, apalagi di sekolah, Tapi aku, yang selalu berusaha mengandalkan logika ini, ada kalanya bertindak berdasarkan intuisi. Intuisi "I must and I know I will" itu tadi. Seperti lagu Savage Garden yang judulnya I Knew I Loved You before I Met You, hehe. Menurutku, pada pandangan-pandangan pertama, kita telah memutuskan apakah sesuatu atau seseorang itu akan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan kita. Berdasarkan pengamatan kita di awal-awal, kita sudah tahu, kelak kita akan menganggapnya sebagai apa. When I saw UGM for the first times, I know that I must and I will, be there. Intuisi. Walaupun soal UM (Ujian Masuk)-nya susah sekali, tapi entah kenapa aku tenang-tenang saja. Mungkin karena saat itu umurku baru 17 tahun? Bisa jadi.

Aku merasa bahagia sekali ketika ibuku membangunkanku malam itu, dan memberi tahuku bahwa aku diterima di Fakultas Farmasi UGM. Saking bahagianya, aku tak bisa tidur lagi sampai pagi.

Dan tanpa terasa, sudah lebih dari setahun lalu aku lulus dari UGM. Waktu berjalan sangat cepat. It feels just like yesterday when I first spending the night alone in Jogja. I was alone, but I didn't feel alone at all. Semuanya mengalir saja. Senang, sedih, bahagia, galau, warna-warni lah. Semuanya mengalir saja. Beraneka mata kuliah datang dan pergi. Semuanya penting dan jujur, sebagian besar menarik buatku. Sekarang kusadari betapa nikmatnya berangkat pagi untuk kuliah dan praktikum seharian. Belajar dalam keadaan yang tenang dan nyaman. Di dunia kerja, belajar dilakukan sambil melakukan hal lain. Bahkan terkadang, untuk belajar tentang sesuatu yang sebenarnya berkaitan dengan pekerjaan kita, kita harus mencuri-curi waktu. I can't imagine a better place to pursue my bachelor and Apotechary degree, really. Just like I can't imagine to take another major besides pharmacy. Maybe it's my intuition speaking again, tapi beneran deh UGM itu keren banget. Googling sendiri sajalah, kenapa UGM itu keren, hehe.

Oh iya, aku sadar bahwa UGM, meskipun menurutku kerennya selangit, tetap saja mempunyai kekurangan, Kekurangan yang menurutku paling mengganggu dan mendesak untuk segera diperbaiki adalah kurangnya pengenalan terhadap dunia nyata. Dari percakapanku dengan beberapa teman sejawat Apoteker dari universitas lain, UGM (khususnya Fakultas Farmasi) memang lebih unggul di ranah teoritis. Mendalam sekali kami mempelajari orbital yang terlibat dalam reaksi kimia, proses pembelahan sel, proses terpicunya sistem imunitas spesifik, eksitasi elektron yang mendasari suatu analisa kimia, kinetika kimia dalam stabilita suatu zat aktif farmasi, apa yang terjadi antar molekul air dan minyak pada proses terbentuknya korpus emulsi. Mendalam sekali kami mempelajari teori balance score card, hierarki kebutuhan manusia, teori ciri-ciri profesi, teori komunikasi. Well, semua itu penting, namun waktu kami habis untuk mempelajari teori. Kurangnya persentuhanan kami dengan dunia nyata menjadikan kami sedikit kikuk dan terkaget ketika memasuki suatu industri, rumah sakit atau apotek. Maka sekarang aku setuju jika masa PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di industri atau rumah sakit akan ditambah durasinya menjadi 6 bulan dari semula hanya 2 bulan. Aku pun setuju jika sebaiknya kuliah tamu dari berbagai golongan praktisi ditambah frekuensinya. Sedangkan bagi mereka yang memang tertarik untuk mendalami teori, dapat melanjutkan studinya ke jenjang master alih-alih mengambil program profesi Apoteker. 

Praktikum-praktikum yang ada pun menurutku terlalu sederhana dan perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini di dunia nyata. Memang mahasiswa yang cerdas akan mampu menyari prinsip dari praktikum-praktikum yang ada untuk kemudian diterapkan dalam pengujian-pengujian lain yang lebih canggih di kemudian hari. Namun ada baiknya Farmasi UGM juga memperbaiki diri dengan memperbarui topik-topik praktikum yang telah ada. Akan lebih baik jika praktikum yang ada dirancang untuk lebih menggali kemampuan mahasiswa dalam berpikir mandiri, namun dengan tetap memelihara budaya teamwork. Mata praktikum yang telah menerapkan hal ini antara lain adalah praktikum Analisis Farmasi dan Analisis Obat, Kosmetika dan Makanan. Yang mana pada dua praktikum ini (which I proudly had ever been working at, as a technical assistant, hehe), praktikan harus mencari metode analisa untuk menganalisa suatu sediaan farmasi. Setelah itu, mereka harus mengkonsultasikannya pada dosen pembimbing sebelum menerapkan metode itu saat praktikum. It was fun, really. Meskipun ada juga yang masih mengandalkan laporan kakak kelas sebagai sumber metode analisa, tapi lumayan lah, enggak terlalu copy-paste banget. Karena kita harus mempertahankan metode itu di depan dosen pembimbing praktikum, jadi setidaknya kita harus paham tentang metode yang kita usulkan dan akan kita terapkan. Kira-kira seperti itu juga tahap pengembangan metode analisa di the real laboratory.

Ah, lagi-lagi tulisanku melebar kemana-mana.
Intinya, aku akan membeli kalender UGM 2015 di Kopma, untuk kemudian dipajang di meja kantor sebagai penawar rindu (atau malah akan semakin menambah rindu?).

Well,Have a nice day, readers :)

10/04/13

Vaseline Complete Care - Body Lotion That Works

Disclaimer: Posting ini dibuat untuk kepentingan review saja, tidak dimaksudkan untuk kepentingan promosi. Produk yang diulas dalam postingan ini dibeli dengan uang pribadi saya. Untuk masalah kulit yang lebih serius, berkonsultasilah secara langsung dengan dokter spesialis kulit dan apoteker anda :)

Tanpa terasa, sudah cukup lama juga aku tidak menulis review kosmetik. Kenapa ya? Aku sendiri juga heran. Padahal mengamati kosmetika yang beredar di pasaran itu sebenarnya minatku. Melihat-lihat komposisi kosmetik yang dipajang di rak supermarket itu menyenangkan, apalagi kalau supermarketnya lagi sepi sehingga aku tidak perlu menolak tawaran para sales girl kosmetik yang mempromosikan produknya, hehe.

Kali ini aku akan menulis tentang body lotion Vaseline Complete Care.



Body lotion ini diproduksi oleh PT. Unilever Indonesia, Cikarang, Bekasi. Namun Vaseline sendiri merupakan merk internasional yang telah ada sejak tahun 1870 dan sekarang berada di bawah bendera Unilever Global. Vaseline Complete Care merupakan salah satu varian body lotion Vaseline di Indonesia selain Vaseline Healthy White Healthy White, Vaseline Total Moisture Aloe Fresh, Vaseline Cocoa Glow, Vaseline Firming dan lain-lain.

Aku mulai memakai lotion ini kira-kira setelah ujian skripsi terbuka (inget banget ya, haha). Kenapa aku tertarik untuk membeli Vaseline Complete Care ini? Dulu aku merasa kulit tangan dan kakiku lumayan kering. Ya enggak sampai bersisik atau mengelupas sih, tapi kalau dipegang dan dielus kok kurang licin menurutku. Kalau dibandingkan dengan kulit tubuh yang lembab, halus dan licin, wah jauh banget. Padahal sudah teratur pakai body lotion lho. Maka aku pun berpikir untuk mencoba body lotion baru yang lebih ampuh untuk melembabkan dan menghaluskan kulit.

Tak lama setelah itu aku melihat body lotion yang dipakai ibuku di rumah. Saat itu beliau memakai Vaseline Complete Care ini. Dari tulisan di kemasannya, aku jadi tahu bahwa body lotion ini mengandung AHA dengan kadar 8,6%. Cring! Aku jadi ingat kuliah kosmetologi. AHA (Alpha Hydroxy Acid) atau asam alfa-hidroksi sebenarnya adalah nama golongan senyawa kimia. Menurut ilmu kimia organik yang kuketahui, AHA merupakan asam karboksilat yang memiliki tambahan gugus hidroksil di atom karbon pertama setelah atom karbon hidroksilnya, zzzzz ya pokoknya gitu deh (skip aja penjelasan ini, haha). Salah satu anggota golongan senyawa AHA yang digunakan dalam perawatan kulit adalah asam laktat, dan asam laktatlah yang terkandung dalam Vaseline Complete Care.

Lantas kenapa asam laktat dalam Vaseline Complete Care ini membuatku mau membeli dan memakai body lotion ini? Adakah hubungan antara struktur kimia asam laktat dengan aksinya dalam menghaluskan kulit? Haha, tentu saja ada, tapi aku enggak mencari tahu sampai segitunya kok. Yang jelas, sudah banyak penelitian in vivo yang membuktikan efektifitas asam laktat dalam menghaluskan dan meningkatkan kelembaban kulit. Hal ini antara lain dikarenakan oleh sifat asam laktat yang suka air (dapat menarik molekul air). Jadi, kelembaban di kulit kita tidak akan mudah hilang jika kita memakai lotion yang mengandung asam laktat. 

Asam laktat juga berfungsi sebagai chemical exfoliant alias zat yang dapat mempercepat pergantian sel kulit mati dengan sel kulit baru. Efek exfoliant dari asam laktat ini dapat menjadikan kulit lebih halus, lebih lembut, lebih ‘licin’ (istilahku sendiri, haha), membantu mencerahkan kulit dan menghilangkan noda-noda hitam di kulit. Sebenarnya secara tradisional kita juga bisa pakai lulur sebagai physical exfoliant, tapi selain memakan waktu, kadang butiran lulur juga terlalu kasar sehingga dikhawatirkan terjadi iritasi. Selain itu menurutku efek melembabkan dan menghaluskan dari lulur hanya bertahan singkat, tidak sebanding dengan waktu yang dikeluarkan untuk luluran, hehe. Hmm, kalau aku pingin efek halus dan licinnya aja sih, aku sudah suka dengan warna kulit tubuhku ini kok. Meskipun enggak putih tapi kan warnanya sudah merata, hoho.

Oh iya, hampir lupa, selain berperan dalam melembabkan kulit dan mempercepat pergantian sel kulit (exfoliant), asam laktat juga dapat mempercepat pembentukan kolagen. Oleh karena itu asam laktat kadang dipakai dalam formula kosmetika anti-aging alias kosmetik yang ditujukan untuk memperlambat proses penuaan. Kalau pembentukan kolagen dipercepat, kulit akan menjadi lebih kencang dan akan lebih lambat menua, soalnya penuaan kulit itu antara lain disebabkan oleh menurunnya produksi kolagen.

Walaupun begitu, semua zat tetap merupakan racun jika tidak digunakan dengan tepat. Asam laktat juga begitu. Walaupun menurut para ahli perawatan kulit asam laktat digolongkan sebagai AHA yang lumayan smooth alias enggak galak alias lembut untuk kulit, namun tetap saja ada efek tidak dikehendaki yang timbul pada orang-orang yang memang sensitif. Efek tidak dikehendaki itu antara lain timbulnya rasa panas, merah atau gatal pada kulit. Memang sedikit rasa panas atau gatal itu wajar saat awal-awal pemakaian, karena asam laktat itu kan exfoliant. Kadang kalau habis luluran juga kan terasa agak perih kan? Ibaratnya, kulit kita sedang digosok untuk melepaskan sel kulit matinya, kan wajar kalau timbul sedikit rasa panas atau pedih. Namun kalau gejala kemerahan, panas, perih dan gatal pada kulit dirasakan mengganggu dan terjadi terus-menerus setelah pemakaian, berarti orang tersebut memang tidak cocok dengan asam laktat dan tidak boleh memakai lotion ini.

Selain itu, asam laktat juga dapat menyebabkan hipersensitivitas terhadap sinar matahari. Maksudku, asam laktat dapat menyebabkan kulit jadi lebih peka terhadap sinar matahari, misalnya jadi kulitnya akan lebih cepat memerah dan terbakar setelah terkena sinar matahari dibandingkan dengan kulit yang tidak memakai asam laktat. Oleh karena itu, menurutku sebaiknya kita pakai lotion ini di sore hari saja. Sebaiknya jangan memakai lotion ini sebelum kita beraktivitas di bawah sinar matahari. Kalau kita sudah teratur memakai lotion ini pun, sebaiknya hindari paparan sinar matahari dengan cara memakai baju tertutup, payung, slayer dan sarung tangan.

Wah panjang juga ya penjelasanku tentang asam laktat, alasan utamaku memakai lotion ini. Aku memakai lotion ini sehari sekali, yaitu sehabis mandi sore. Saat kulit masih lembab, oleskan body lotion ini agar kelembaban sehabis mandi itu dikunci oleh asam laktat yang terkandung dalam lotion. Aku tidak memakainya di pagi hari sebelum beraktivitas untuk meminimalkan efek sensitif terhadap sinar matahari (padahal kulit tubuhku itu ala badak banget alias gak sensitif, haha..tapi jaga-jaga sajalah). Pada pagi hari aku pakai lotion atau body butter lain sesuai kebutuhan, merk-nya ganti-ganti tidak jadi masalah. Kalau sedang banyak beraktivitas di ruang ber-AC ya pakai body butter. Kalau sedang sering naik motor atau beraktivitas di luar ruangan ya pakai lotion yang mengandung tabir surya (misalnya yang mengandung etil parametoksi sinamat). Kalau lagi kumat pelitnya ya pakai lotion yang murah aja -_- haha.

Bagaimana hasilnya?
Menurutku hasilnya bagus sih. Kulitku jadi lebih halus dan tidak kering lagi. Berarti benar kalau asam laktat memang bagus untuk memperbaiki kelembaban dan kehalusan kulit. Tapi aku baru ingat kalau kulit tangan dan kakiku itu berbulu halus namun lebat dan panjang...hahaha, jadi walaupun pakai body lotion sehebat apapun ya tetap gak bisa licin banget kecuali kalau di-shave, haha. Tapi setidaknya kulit jadi lembab, halus dan tidak kering. Suka deh :D efek melembabkannya awet, bukan sekedar lembab di awal tapi beberapa jam kemudian kering lagi.

Oia, terakhir aku membeli body lotion ini seharga Rp. 21.300,- untuk kemasan 200 ml (aku beli di supermarket dekat kawasan UGM). Harganya memang sedikit lebih mahal daripada kompetitiornya, namun mengingat manfaatnya aku merasa harga segitu wajar deh buat body lotion ini. Menurutku, daripada beli body lotion merk terkenal yang mahal namun belum teruji manfaatnya, mending beli ini lah. Kandungannya jelas, asam laktat, sudah terbukti efektifitasnya. Haha, jangan-jangan manfaat yang kudapatkan setelah empat tahun lebih belajar ilmu farmasi adalah bisa memilih body lotion that works alias body lotion yang efektif ya? ;p

Dari skala 1-10 aku memberikan nilai 8,8 untuk body lotion ini. Dan aku akan selalu membeli lagi body lotion ini alias repurchase over and over again mengingat dia punya manfaat anti aging juga. Begitulah review-ku tentang body lotion Vaseline Complete Care. Semoga bermanfaat :)

29/01/13

Catatan Sebelum PKPA

(PKPA: singkatan dari Praktek Kerja Profesi Apoteker; semacam magang buat mahasiswa program Profesi, salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Apoteker. Kalau di kampusku sih, kami diwajibkan untuk melakukan PKPA di industri farmasi/rumah sakit selama 2 bulan, di puskesmas selama 2 minggu dan di apotek selama 1 bulan., Red.).

Saat ini aku sedang mencari e-books tentang farmasi industri, sekedar untuk menyibukkan pikiran dan mencoba menutupi beragam rasa yang campur aduk di kepalaku. Besok aku akan berangkat ke Bogor (lokasi PKPA-ku) dan mulai besok Jumat PKPA-ku sudah dimulai. Kukira aku itu orang yang cuek dan akan enteng saja meninggalkan orang-orang di sekitarku kalau memang aku perlu. Namun memang manusia itu sering salah dalam memperkirakan dan melakukan sesuatu. Haha, iya sih, bahkan dalam proses-proses di industri, kesalahan manusia itu sangat dimaklumi, kan? Walaupun kesalahan itu memang harus diminimalkan dan dideteksi secepat mungkin.

Ngomong-ngomong tentang meninggalkan zona nyaman kita, aku pernah baca sebuah buku berjudul Negeri Lima Menara. Menurut buku itu, hendaknya kita jangan pernah merasa enggan atau takut untuk merantau. Di perantauan akan kita temukan teman-teman baru. Bukan teman baru saja sih, tapi pengalaman dan ilmu baru juga, yang akan membuat hidup semakin fulfilled.

Ya, teorinya sih seperti itu...tapi kenyatannya? 
Sampai kemarin sore, memang aku belum merasa khawatir sama sekali. Aku datang ke Bogor untuk belajar kok, aku akan berusaha sebaik mungkin. Kalaupun aku berbuat salah, ya udah enggak apa-apa, aku yakin  semuanya akan baik-baik saja. Manusia kan sudah dirancang untuk menghadapi masalah. Pokoknya aku mantap banget mau berangkat ke sana. Bahkan, aku sudah menentukan sound track yang sesuai untuk PKPA-ku besok, yaitu lagu "New York" yang diciptakan dan dibawakan oleh Alicia Keys (penting banget ya? hahaha). Namun kemarin sore, saat berkumpul bersama teman-teman dan seorang 'kakak wanitaku' di Jogja, aku jadi sadar bahwa menjalani PKPA industri di bulan Februari-Maret (seperti yang akan kujalani ini) artinya harus siap untuk tidak bertemu dengan teman-temanku itu selama 4 bulan, bahkan mungkin lebih. Kenapa? Karena semua, ya, SEMUA teman-teman akrabku itu (yang seangkatan dengan aku) akan menjalani PKPA di luar kota pada bulan April dan Mei. Artinya, saat PKPA industriku selesai dan aku kembali ke jogja, gantian mereka yang meninggalkan Jogja. PKPA baru selesai di akhir Mei. Bahkan ada teman akrabku yang PKPA sampai pertengahan Juni karena memang tempat PKPA-nya mempersyaratkan demikian :( 

Menyadari hal itu, saat itu aku enggak menangis, aku enggak bilang apa-apa. Aku cuma terdiam. Mikir. Oh my God....Januari belum berakhir dan paling cepat aku baru bisa ketemu mereka di awal Juni? Semakin lama memikirkan kenyataan itu, aku jadi sedih. Jangan-jangan, selama PKPA ini aku akan jadi sibuk sekali dan mereka juga akan jadi sibuk sekali dengan aktivitas masing-masing? Begitu sibuk sehingga kami enggak akan sempat untuk saling menanyakan kabar, bercanda, saling meledek atau sekedar ngobrol? Aku tahu sih, kalau PKPA di tempat lain itu artinya kami enggak akan bisa jalan-jalan atau kumpul bareng. Tapi kalau untuk sekedar ngobrol saja enggak sempet? I know, the last thing I wanna do is to disturb them. Aku enggak ingin mengganggu mereka, jangan-jangan mereka lagi sibuk. Sedih banget kan. 

Kubilang di awal, kukira aku itu orang yang cuek dan akan enteng saja meninggalkan orang-orang di sekitarku kalau memang aku perlu. Namun sekarang, aku tahu kalau ternyata aku itu enggak cuek-cuek banget. Buktinya aku takut. Aku takut, selama masa PKPA nanti, apakah kami masih bisa keep in touch? Aku takut, setelah PKPA industriku selesai dan aku kembali ke Jogja, nanti aku main sama siapa? Aku ngobrol sama siapa? Siapa yang kuajak bercanda? Siapa yang bisa kuajak jogging bersama di sabtu atau minggu pagi? Siapa yang ngajak aku jalan-jalan? Secuek-cueknya dan seintrovert apapun aku, aku juga masih punya kebutuhan sosial dong. Masih lumayan sih, begitu aku balik Jogja awal April besok masih ada temen-temen dari PIO yang tidak seangkatan denganku. Namun jangan-jangan mereka juga sibuk dengan skripsi masing-masing? Aaaahh, sungguh aku takut >,<

Hmm, begitulah catatanku sebelum PKPA. Memang agak bernuansa galau sih, harusnya kuberi peringatan di awal tulisan bahwa sebaiknya pembaca mengabaikan saja tulisan ini karena tulisan ini hanyalah ungkapan ketakutan dan kekhawatiran saja. Tulisan ini mungkin tidak memberi manfaat apapun untuk para pembaca, malah jangan-jangan tulisan ini menyeret pembaca ke perasaan negatif. Aku tahu, bagaimanapun PKPA ini harus dijalani dengan baik, enggak peduli apakah kita PKPA bareng temen-temen akrab atau tidak. Aku berdoa aja, semoga di sana aku bertemu dengan orang-orang baru yang juga tulus dan baik hari, namun bisa  tetap akrab dengan teman-temanku yang sekarang. Semoga semuanya lancar sesuai harapanku. Semoga ya Allah :')




10/11/12

November, Bulan Peduli Epilepsi

Seperti biasa, saat aku browsing untuk mengerjakan tugas kuliah, selalu saja aku nyasar kemana-mana. Untunglah malam itu sepertinya aku nyasar ke tempat yang benar (emang bisa ya nyasar ke tempat yang benar? Hehe). Saat sedang mencari jurnal bertopik epilepsi, ujung-ujungnya aku masuk ke fanpage Komunitas Epilepsi Indonesia di Facebook. Sudah apply jadi anggota sih, semoga cepat direspon. Dan aku baru tahu kalau ternyata bulan favoritku, November, merupakan bulan peduli epilepsi di Amerika sana. Ya, aku memang peduli dengan epilepsi. Sebenarnya sebagai calon apoteker harusnya aku peduli dengan semua penyakit sih..tapi boleh dikatakan bahwa kepedulianku terhadap epilepsi lebih tinggi dibanding kepedulianku terhadap penyakit lain, tanpa mengesampingkan signifikansi masing-masing penyakit pada penderitanya. 

Di blog ini juga aku sudah pernah menulis tentang epilepsi, mulai dari pengalaman, info-info singkat sampai tentang profil farmakologi singkat dari beberapa obat-obatan anti epilepsi. Meskipun menurut statistik jumlah pengunjung yang menengok postingan tentang epilepsi jauh lebih sedikit dibanding jumlah pengunjung yang menengok postinganku tentang review kosmetik, tapi aku tetap semangat kok :) 

Epilepsi sendiri merupakan penyakit yang cukup unik; pada keadaan tanpa serangan alias saat sedang tidak kumat, jika diperiksa penderita tidak menunjukkan gangguan apapun. They look perfectly healthy, begitu yang tertulis di slide kuliah. Bahkan gelombang otak mereka pun normal, hanya menjadi kacau saat terjadi serangan saja. Beberapa orang yang tercatat di sejarah ternyata juga punya riwayat epilepsi, antara lain Gregor Mandel, berarti sebenarnya orang epilepsi tidak selalu (maaf) retarded alias mengalami keterbelakangan mental kan? Kecuali kalau epilepsinya parah sekali, sering mengalami status epileptikus dan tidak pernah diobati. Namun penderita epilepsi sering merasa minder karena penyakit mereka, juga sering menjadi cemas dan panik. Padahal emosi negatif dapat memicu serangan.

Mengingat ini bulan peduli epilepsi, sebagai orang yang sehat, yuk kita coba berempati. Beruntunglah sekarang kita sehat, hari esok siapa yang tahu? Kalau ada orang dalam kehidupan kita yang punya epilepsi, menurutku ada 1 hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk mereka. Apa itu? Perlakukan mereka seperti orang biasa. Mereka sehat kok, namun kadang kena serangan, itu saja. Di luar itu, mereka seperti kita. Punya cita-cita, punya nama, punya teman, punya orang tua, punya kehidupan. Tidak usah menatap mereka dengan 'that look' kalau mereka berkata bahwa mereka punya epilepsi. Katakan saja "oh really? Are you willing to tell me something about that?". Kalau mereka dengan sukarela bercerita, that's another story. Kalau tidak, oke, lanjutkan saja kehidupan seperti sebelumnya. Orang dengan epilepsi TIDAK pernah meminta supaya mereka punya epilepsi lho. Tentu saja mereka semua ingin sehat dan sembuh. 

Kalaupun kita pernah harus melihat mereka sedang kena serangan, tolong jangan lari. Amankan mereka, jangan sampai jatuh dari ketinggian, apalagi masuk ke air, kena api, listrik dan bahaya lainnya. Miringkan ke samping agar jalan nafasnya tidak tersumbat. Lepaskan sepatu atau ikat pinggang yang terlalu kencang. Tunggu sampai serangannya mereda (umumnya kejang epilepsi tidak berlangsung lama, kecuali pada keadaan status epileptikus: kalau kejang sudah hampir 5 menit, segera bawa ke UGD). Setelah ia sadar, beri minum. Boleh ditanya, tapi jangan lanjut bertanya kalau ia terlihat bingung. Lebih lengkapnya baca artikelku di buletin Piogama aja deh, hehe.

Epilepsi, seperti penyakit lain, bukan sesuatu untuk ditertawakan. Masih banyak guyonan lain yang lebih lucu daripada guyonan tentang penyakit seseorang. Sekali lagi ingat, mereka tidak pernah memilih untuk kena epilepsi. Apalagi dijelaskan kalau banyak kasus epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui alias idiopatik alias tiba-tiba muncul begitu saja -__- yah, 'idiopatik' adalah jawaban yang tidak kusukai karena enggak jelas banget, tapi kenyataannya memang begitu. Menurutku idiopatik adalah jawaban paling konyol, terkesan pasrah dan enggak tahu, tapi ia juga merupakan puncak dari segala pengetahuan. Lha kalau memang sudah diperiksa benar-benar dan tidak ada penyebab lain, berarti kan memang 'idiopatik' adalah jawabannya. Menyebalkan ya? hehe.

Lantas bagaimana kalau kebetulan kita sendiri punya epilepsi? Menurutku sih, berdasarkan kuliah farmakoterapi tanggal 30 Oktober 2012 kemarin, tetap semangat! Tetap optimis...pasti punya epilepsi bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi percayalah pasti semua hal ada alasannya. Dan alasan itu adalah, kamu lebih kuat dari sebagian besar orang di muka bumi ini. Begitulah. Ingat tulisanku di atas, epilepsi bisa disembuhkan. Jangan putus asa menelateni obat yang sedang diminum. Jangan pernah melewatkan jadwal minum obat. Obat-obatan ini seperti magic, meskipun tetap kesembuhan ada di tangan Tuhan dan di tanganmu sendiri: makanya harus rajin minum obat kalau ingin sembuh. 

Kalaupun obat yang diminum tidak bisa mencegah serangan, jangan putus asa. Berkonsultasilah ke dokter dan apoteker. Mereka akan mengganti dengan obat lain. Operasi juga bisa jadi solusi, sudah banyak kisah kesembuhan penderita setelah mereka dioperasi. Oh iya, sebelum kumat biasanya penderita bisa merasakan 'aura' alias tanda kalau epilepsinya akan kumat, misalnya merasa pusing mendadak, bingung, dsb. Penderita harus bisa mengenalinya. Penderita juga harus bisa mengenali dan menghindari pemicu, jadi jangan sampai kecapekan, terlalu stres, terlalu lapar, terlalu sedih, pokoknya yang terlalu-terlalu itu jelek deh. Kalau penderita bisa me-manage itu semua (menghindari pemicu dan mengenali aura), aku yakin penderita itu sudah selangkah lebih dewasa. Dewasa itu kan bisa me-manage apa-apa yang kita punya dan hal-hal yang kita akan hadapi kan? :) Jangan membuat alasan untuk merasa sedih, was-was dan putus asa, namun juga jangan membuat alasan untuk tidak berusaha. Epilepsi tidak membuatmu lebih tidak berharga, kamu tetap bisa hebat, mengejar mimpimu dan memperjuangkan hidupmu. Aku baca cerita seorang mantan penderita epilepsi yang sembuh setelah dioperasi, bagus kata-katanya...izinkan aku mengutipnya disini:

“SAYA DULU PERNAH MENGHADAPI MENGHADAPI MASALAH YANG LEBIH BERAT SEPERTI TINDAKAN OPERASI ATAU SERANGAN EPILEPSI YANG JIKA MUNCUL DI SAAT DAN TEMPAT YANG SALAH, BISA BERAKIBAT FATAL. SAYA BISA MENGHADAPI MASALAH ITU. DAN TENTUNYA SEKARANG SAYA BISA MENYELESAIKAN MASALAH YANG DAMPAKNYA TIDAK SEBERAT EPILEPSI” (ASKA PRIMARDI, YAYASAN EPILEPSI INDONESIA, aska.primardi@ina-epsy.org)

Benar sekali kata pak Aska ini, dalam bahasaku aku berkata: "Allah sudah Mempercayaimu sedemikian besarnya sampai ia Percaya bahwa kau bisa hidup dengan epilepsi. Allah percaya kamu bisa, kamu kuat menghadapi semua dampak dari penyakit ini. Kamu akan bertahan dan menginspirasi. Allah juga pasti Mempercayaimu juga untuk hal-hal yang lebih kecil dari epilepsi ini. Semangatmu dan optimismemu akan membuatmu semakin luar biasa dan Dipercaya :) 


Saya pemilik blog ini, dan saya peduli epilepsi.




Catatan Kuliah Farmakoterapi Epilepsi

Beberapa minggu lalu aku sudah diberi kuliah tentang farmakoterapi epilepsi! Sepanjang kuliah itu aku tidak menguap sama sekali, rasanya begitu semangat menyimak dan mencatat apa yang disampaikan dosen kemudian mengkritisi dan menanyakannya. I really, really have a thing about this, and I care too. Coba saja semua kuliah terasa menarik seperti kuliah itu ya, hehe.

Dari kuliah itu, aku jadi tahu berbagai hal baru tentang epilepsi. Epilepsi merupakan gangguan sistem saraf pusat yang ditandai dengan suatu bangkitan, salah satunya berupa kejang (seizure)..ah kalau ini sih, udah banyak yang tahu ya. Tapi tahukah pembaca bahwa ada jenis epilepsi yang 'hanya' ditandai dengan sentakan otot tiba-tiba, terkulai tiba-tiba, bengong atau meringis tanpa sebab (bukan karena mengingat kekonyolan diri sendiri misalnya v^^), dan kejang hanya pada sebagian tubuh saja? Ya, ternyata manifestasi epilepsi berbeda-beda, dan pengobatan epilepsi yang tepat adalah pengobatan yang disesuaikan dengan jenis kejangnya, menggunakan satu jenis obat saja, dilakukan sesingkat mungkin dan diiringi dengan pengawasan yang ketat akan kadar obat dalam darah

Hmm, pengobatan epilepsi di Indonesia, seperti banyak hal lain juga, belum dilaksanakan dengan benar sesuai teori. Sayang sekali lho. Kenapa? Karena sebenarnya epilepsi merupakan penyakit yang angka kesembuhannya tinggi. 70-80% Orang yang pernah didiagnosis epilepsi dan diobati dengan benar bisa sembuh sama sekali alias tidak pernah kejang lagi sepanjang hidupnya dan bisa lepas obat. Kalau sudah minum obat anti epilepsi selama 2 tahun dan obatnya cocok (dalam arti penderita tidak pernah kejang selama 2 tahun minum obat dan tidak terlalu terganggu dengan efek samping obat tersebut), maka dosis obat anti epilepsinya bisa diturunkan dosisnya karena ia sudah dianggap sembuh.  Isn't that great? Allah kurang baik gimana coba? :D 

Oh iya, waktu kuliah aku tanya begini (sehubungan dengan info itu):
"Epilepsi kan disebabkan oleh ketidak seimbangan faktor eksitasi dan inhibisi di otak sehingga zzz zzzz zzzzzz (anggap saja tidak penting). Lalu apakah hanya dengan minum obat selama 2 tahun ketidak seimbangan itu bisa membaik selama seumur hidup?"

Lalu ibu dosen yang cantik pun menjawab:
"Kekambuhan epilepsi tergantung jenis kejangnya, ada jenis epilepsi yang tingkat kesembuhannya sangat tinggi*, ada juga yang agak rendah. Tapi prinsipnya, memang jika diobati dengan benar epilepsi bisa sembuh. Oh iya, selain dipengaruhi oleh jenis kejangnya, kesembuhan epilepsi juga dipengaruhi progresivitas penyakit dan apakah penderitanya pernah mengalami status epileptikus atau tidak (status epileptikus: serangan kejang pada seluruh tubuh disertai hilang kesadaran alias grand mal, berlangsung lebih dari 5 menit, bisa terjadi lebih dari 2 kali berturut-turut tanpa adanya pemulihan kesadaran di antara 2 kejang tersebut). Kalau sudah pernah status epileptikus, maka itu artinya sudah terjadi kerusakan saraf yang lebih parah"

Nah, begitu hebatnya para penemu obat-obatan anti epilepsi itu. Kalau boleh kubilang, obat anti epilepsi itu life-changing drugs. Bayangin dong, awalnya was-was bakalan kumat jadi bisa tenang dan percaya diri pergi kemana-mana, bukannya itu life-changing? Makanya aku mendoakan supaya orang yang menemukan obat-obatan epilepsi, terutama natrium valproat, di ujung hidupnya berada pada keadaan yang baik dan nantinya Dimasukkan ke surga, aamiin. Sudah pernah kutulis kalau aku kagum dengan valproat: tidak menimbulkan efek mengantuk (non sedatif), aman untuk anak, pokoknya secara keseluruhan valproat itu efek sampingnya minimal dibanding yang lain, meskipun masih punya efek toksik terhadap hati (liver), tapi itu masih lumayan kalau dibanding obat epilepsi yang lain. Tapi tiap penderita kan berbeda-beda ya...tidak semua cocok dengan valproat. Karena itu perlu dipertimbangkan rasio resiko dan manfaat masing-masing obat untuk masing-masing penderita. Perlu diingat juga kalau obat-obatan epilepsi itu hampir semuanya merupakan obat yang mempengaruhi obat lain di dalam tubuh (kami menyebutnya sebagai induktor enzim sitokrom P-450). Karena itu penderita epilepsi harus berkonsultasi dulu dengan apoteker sebelum minum obat lain. Dan seperti yang sudah pernah kutulis juga...oh i hate this, hampir semua obat epilepsi itu bersifat teratogenik alias berbahaya buat janin (bisa menimbulkan cacat bawaan pada bayi yang sedang dikandung, kalau penderita sedang hamil dan minum obat anti epilepsi).

Olala, lantas apakah penderita epilepsi tidak boleh hamil?
Kata dosenku, memang sebaiknya penderita menunda kehamilan dulu sampai ia benar-benar bebas kejang dan bisa berhenti minum obat. Namun jika ia memang sangat ingin hamil, itu pilihan pribadi dan tidak ada yang bisa melarangnya. Solusi dari apoteker adalah seperti ini: Sebelum hamil (saat mulai merencanakan kehamilan), penderita harus minum suplemen asam folat setiap hari karena asam folat dapat menurunkan resiko cacat pada bayi. Lalu pengobatan epilepsi dilakukan dengan satu jenis obat saja, dalam dosis serendah mungkin untuk mencegah efek yang tidak diinginkan pada bayi. Sekarang sudah ada beberapa obat epilepsi baru yang efek teratogeniknya lebih kecil, sayang belum semua beredar di Indonesia.

Ngomong-ngomong tentang epilepsi dan wanita usia subur, ada temuan menarik. Estrogen, hormon wanita, ternyata bersifat epiletogenik alias memicu timbulnya serangan epilepsi. Namun progesteron, hormon wanita yang lain, untunglah bersifat mencegah timbulnya serangan epilepsi. Nah, saat kadar estrogen jauh lebih tinggi  daripada progesteron, misalnya saat menstruasi, serangan epilepsi akan lebih sering terjadi pada penderita. Ini namanya catamenial epilepsy, serangan epilepsi saat masa menstruasi. Penderita wanita yang sering mengalami catamenial epilepsy harus hati-hati saat menopause kelak, karena saat menopause juga terjadi ketidak seimbangan hormon.

Sekian penggalan dari catatan kuliah farmakoterapi epilepsi tertanggal 30 September 2012. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di postingan selanjutnya yang masih bertemakan epilepsi. Sebenarnya tadi aku menulis untuk 1 posting saja, namun karena hasilnya terlalu panjang dan pembahasannya terlalu melebar aku membaginya jadi dua. Sekian, semoga bermanfaat :)



* Maafkan aku yang tidak sempat mencatat satu persatu jenis kejang mana yang paling mudah sembuh sampai yang paling susah sembuh; namun aku ingat kalau nilai kesembuhan untuk kejang grand mal itu ada di tengah-tengah dibanding nilai kesembuhan jenis kejang yang lain. Artinya, peluang masih baik.





16/06/12

Vaksin

Kemarin, hari Kamis 14 Juni 2012, PIOGAMA mengadakan diskusi kecil-kecilan, namanya PoPi (Pojok Piogama). Waaah, sebagai anggota yang baik (maksudku anggota yang galau enggak punya kerjaan), tentu aku datang dong, apalagi fasilitator diskusinya dosen favoritku. Menurutku, kuliah yang diberikan dosen itu keren, nyeleneh tapi membuka wawasan, I think moral of his lectures is: Sebelum mempercayai berita yang beredar di luar, kita harus berpikir kritis dan mencari dasar ilmiah dulu. Wah bakalan panjang sih kalau aku tulis semua yang membekas dari kuliah beliau...di kesempatan ini aku ingin menuliskan beberapa hal yang aku mengerti dari diskusi itu. Tapi enggak semua ya. Oh iya, diskusinya berjudul "Manfaat dan Resiko Vaksin, Mana yang Lebih Besar?".


****

Sejak pertama kali dikembangkan oleh Edward Jenner, manfaat vaksin dalam peradaban manusia yang paling remarkable sampai saat ini adalah kesuksesan vaksin dalam mengeradikasi (melenyapkan) penyakit cacar (cow pox) dari muka bumi. Pada tahun 1975, dunia dinyatakan bebas cacar (bukan cacar air lho, beda virusnya). Sekarang yang sedang diusahakan adalah mengeradikasi polio dari muka bumi ini. Kesuksesan vaksin polio dalam melindungi serangan virus tsb mencapai 100%. Vaksin sendiri merupakan salah satu preparat farmasi yang berisi agen patogen (misalnya virus dan bakteri) yang dimatikan, dilemahkan, atau berisi bagian dari agen patogen tersebut (misal dinding sel, protein dsb). Pemberian vaksin bertujuan untuk memicu tubuh menghasilkan antibodi terhadap agen patogen yang dimaksud tanpa menimbulkan penyakit seperti jika tubuh terkena penyakit dari patogen tersebut (=klo kita divaksin polio, maka tanpa terserang polio tubuh kita sudah punya antibodi terhadap virus polio, dan sewaktu-waktu jika ada virus polio yang masuk ke tubuh, antibodi itu akan menghancurkan virus tsb sehingga kita gak kena polio).

*****

Waktu paro antibodi yang dihasilkan oleh tubuh terhadap virus polio di dalam OPV (oral polio vaccine) mencapai 3000 tahun (trolololo). Sedangkan antibodi terhadap virus cacar dari vaksin cacar memiliki waktu paro 90 tahun. Artinya antibodi yang dihasilkan oleh kedua jenis vaksin tersebut sangat stabil sehingga vaksinasi hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup.

*****

Namun sayangnya tidak semua vaksin memiliki angka keberhasilan proteksi 100%. Vaksin BCG (pencegah TBC), misalnya, hanya memiliki nilai keberhasilan/kemanjuran 0-80%. Pada populasi di Georgia, Amerika Serikat, angka keberhasilan vaksin ini 0%. Namun pada populasi di Inggris, nilai kemanjurannya 80%. Di Indonesia? Seperti biasa belum ada data -__________-  Kenapa perbedaan respon orang terhadap vaksin ini bisa terjadi? Semuanya tergantung gen kita. Vaksin ini dibuat dari bakteri Mycobacterium bovis, bakteri yang menyebabkan  TB (tuberkolosis) pada sapi namun tidak menyebabkan TB pada manusia. Protein dinding sel bakteri tsb mirip dengan protein dinding sel Mycobacterium tubercolosis (yang menyebabkan TB pada manusia). Diharapkan sistem imun kita akan mengenali protein dinding sel tersebut, kemudian menghasilkan antibodi yang bisa mengenali Mycobacterium tubercolosis juga. Namun berhubung kita semua merupakan mutan (dalam artian profil genetika kita unik dan berbeda-beda satu sama lain), maka ada orang yang bisa menghasilkan antibodi jika diberi vaksin tsb, ada juga yang tidak.

*****

Bagaimana dengan kontroversi tentang mudharat vaksin? Ada beberapa kasus yang memicu hal tsb, antara lain vaksin rotavirus yang menyebabkan penyumbatan saluran cerna sehingga vaksin tsb ditarik dari peredaran. Kemudian pernah dilaporkan seorang anak meninggal setelah diberi virus DPT (vaksin kombinasi pencegah Difteri, Pertusis dan Tuberkolosis). Hal ini dapat disebabkan karema vaksin DPT dibuat dari bakteri pertusis, dimana bakteri tersebut memiliki lipid A pada dinding selnya. Lipid A merupakan suatu pirogen kuat, dapat menimbulkan demam sampai 40 derajat celcius dan mengakibatkan kematian. Sekarang telah dikembangkan vaksin DaPT ("a"-nya berarti "acellular"). Dalam vaksin DaPT, bakteri diganti dengan glikoprotein yang memiliki aktivitas imunogenik sama dengan bakteri utuh. Glikoprotein ini bukan pirogen sehingga tidak menyebabkan demam. Sayang harganya 10x lipat vaksin DPT biasa 

*****

Pernah juga dilaporkan kasus seorang anak terkena polio beneran setelah divaksin dgn OPV (oral polio vaccine, vaksin polio yang ditelan itu, kayak pas zaman kita TK). Well, OPV dibuat dari virus polio yang dimutasi. Virus polio wild type (yang asli, gak dimutasi) hidup di mukosa usus manusia dan dapat menembus sel usus, kemudian menimbulkan penyakit. Virus polio yang digunakan dalam pembuatan OPV dimutasi sehingga tidak bisa menembus mukosa usus. Lantas kalau dia tidak bisa menembus mukosa usus, bagaimana bisa memicu pembentukan antibodi? Ingat mucosal immunology (kuliahnya bu Retno, PhD, buat yang udah ambil Rek.Antibodi sih). Sel dendritik bisa mengambil virus diluar sel usus kemudian mempresentasikannya ke sel B dan sel T, kemudian sel T akan menghasilkan antibodi. Antibodi yang dihasilkan karena respon imun thd virus umumnya memiliki waktu paruh yang lama, umumnya bisa sampai seumur hidup. Karena itulah OPV dapat melindungi dari polio dengan tingkat keberhasilan 100%. Namun ingat, virus polio dalam OPV itu merupakan virus yang dimutasi, yang mana memiliki perbedaan 1 jenis asam amino dengan virus wild type. Kemungkinan terjadinya mutasi balik, yaitu virus yang sudah dimutasi itu kembali lagi sifat virulensinya alias menjadi virus wild type yang dapat menimbulkan polio, selalu ada. Oleh karena itu, sangat mungkin seorang anak yang menerima OPV justru terkena polio. karena itulah, di Amerika sekarang OPV gak dipakai lagi. Sebagai gantinya dipakai virus polio yang dimatikan dan diberikan melalui injeksi (injeksi intramuskular ya harusnya?).

*****



Vaksin dibuat dari patogen yang dimatikan, dilemahkan atau dari bagian tertentu patogen tersebut. Untuk yang dibuat dari patogen yang dimatikan, bahan tambahan yang digunakan untuk mematikan patogen antara lain adalah formaldehid. Menjelang tahap akhir pembuatan vaksin, formaldehid dipisahkan dari vaksin tersebut, namun jejak atau sisa-sisa (traces) dari  formaldehid dapat tersisa di vaksin tersebut. Nah, kata berita, formaldehid ataupun formalin (larutan formaldehid dalam air) berbahaya bagi kesehatan? Tahukah anda bahwa sebenarnya, secara normal darah kita mengandung formaldehid dalam kadar 6-10 ppm. Secara alami, makanan yang kita konsumsi sehari-hari mengandung formalin: kerang hijau, daging yang dibakar, bahkan sayuran. Demikian juga kain yang kita pakai untuk pakaian, diproses pula dengan formaldehid. Sebenarnya, formaldehid di dalam tubuh cepat dieksresi (dikeluarkan) dan penelitian pada ayam membuktikan bahwa formaldehid tidak diakumulasi di dalam otot, hepar, kulit dan telur. Formaldehid berbahaya jika masuk ke tubuh melalui pernafasan, bisa menyebabkan kanker nasofaring (walaupun hal ini juga membutuhkan waktu yang lama, bisa sampai 40 tahun). Formaldehid juga berbahaya jika uapnya terkena mata, karena bersifat iritan. Walaupun begitu, sekali lagi, formaldehid dalam vaksin tidak perlu dikhawatirkan karena kalaupun ada, kadarnya pastilah sangat kecil sekali. Jauh lebih sedikit daripada yang terdapat di dalam sate atau daging asap.

*****

Selain formaldehid, zat tambahan lain pada vaksin yang dikhawatirkan menyebabkan efek buruk adalah timerosal. Timerosal digunakan sebagai pengawet, merupakan suatu senyawa merkuri organik dan sulit dieksresi dari tubuh. Padahal, kalau seseorang divaksinasi lengkap dari sejak ia lahir sampai akil baligh, ia  akan menerima 70 vaksinasi sehingga jumlah timerosal yang masuk ke tubuhnya lumayan banyak. Diduga timerosal memicu timbulnya autis pada anak sehingga sekarang tidak digunakan lagi. Namun anehnya, walaupun sekarang timerosal sudah tidak digunakan lagi, prevalensi kasus autisme pada anak tidak berkurang. Logikanya, timerosal tidak memicu autis. Lantas kenapa kasus autisme masih ada? "Kurang perhatian dari orang tua mungkin?" (Kata dosenku).

*****


Tujuan vaksinasi sendiri adalah agar tubuh kita menghasilkan antibodi terhadap suatu penyakit tanpa harus terkena penyakit itu. Setelah antibodi terbentuk, tubuh mampu menghancurkan patogen penyebab penyakit. Pada sebagian besar kasus, manfaat vaksinasi masih lebih besar daripada mudharatnya, apalagi jika kita hendak memasuki daerah endemik penyakit tertentu. Untuk keselamatan diri sendiri kita harus divaksin terlebih dahulu. Begitu juga tenaga kesehatan yang hendak memasuki rumah sakit dan berinteraksi dengan pasien hendaknya divaksin hepatitis B (karena hepatitis B sangat mudah menular, antara lain melalui alat makan yang dipakai bersama). Namun seperti biasa kita harus kritis memilih vaksin yang hendak kita masukkan ke tubuh. Vaksin rotavirus misalnya. Vaksin yang ditujukan untuk mencegah diare karena virus ini menghasilkan antibodi yang hanya mampu bertahan selama 6-12 bulan. Kecuali kita hendak memasuki daerah endemik diare, vaksin ini tidak diperlukan. Toh melalui makanan kita sehari-hari, mungkin kita sudah terpapar virus itu dan sudah punya antibodi terhadap rotavirus. Vaksin HPV (Human Papiloma Virus) yang ditujukan untuk mencegah kanker leher rahim hanya efektif jika diberikan pada anak wanita berumur 9-16 tahun. Kenapa? Setelah menginjak usia 16 tahun, kemungkinan seseorang sudah pernah terpapar HPV sehingga sudah punya antibodi terhadap HPV. Namun sebagian besar orang yang terpapar HPV tidak menunjukkan gejala, terutama orang yang kekebalan tubuhnya bagus. Karena itu vaksinasi HPV pada gadis remaja berumur lebih dari 16 tahun perlu dikaji lagi manfaatnya mengingat biayanya yang tidak murah.

*****


07/05/12

Cerita si Glisin


Aku merupakan suatu senyawa organik. Menurutku tidak ada yang spesial pada diriku, hanya aku memiliki dua bagian tubuh yang berlawanan satu sama lain. Salah satu dari mereka dapat melepaskan hidrogennya. Sebaliknya, ada bagian tubuhku yang dapat menangkap hidrogen. Namun kedua bagian tubuh itu kumanfaatkan untuk bergandengan dengan tetangga sejenisku, prolin dan hidroksiprolin. Seperti senyawa organik pada umumnya, aku disusun dari atom karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Ada juga sih anggota keluargaku (keluargaku artinya senyawa-senyawa lain yang katanya strukturnya mirip struktur molekulku), yang punya atom sulfur. Ah, tentang ini sih, bukan urusanku. Tuhan menyuruhku begini, aku ikut saja. Meskipun tidak punya atom sulfur, aku tetap bersyukur sudah ditakdirkan menjadi diriku seperti ini. Dalam kehidupan kali ini, Tuhan Menyuruhku untuk ikut andil dalam menyusun kulit seekor sapi. Sapi itu disembelih setelah seumur hidup diambil susu dan disuruh kawin untuk kemudian diambil anaknya (setelah mati pun ia masih akan dimakan dagingnya, kasihan betul). Kulitnya pun tidak ketinggalan pula diambil seorang lelaki paruh baya dan diangkut ke sebuah bangunan yang besar sekali. Di sanalah kulit si sapi, berarti ada aku di dalamnya, diolah menjadi gelatin.

Ah, jangan tanyakan tentang proses pengolahannya. Rasanya panas dan sakit. Untung aku masih bisa bertahan. Aku pun terpisah dari tetangga-tetanggaku, yang tidak lain merupakan keluargaku juga. Sebagian besar dari kami masih hidup, namun ada juga yang mati alias terdegradasi. Kampung kami yang awalnya solid, berupa struktur triple helix yang megah, tercerai berai menjadi rantai yang tidak beraturan. Ada yang menjadi rantai tunggal (para ilmuwan menyebutnya rantai alfa), ada yang berupa rantai tunggal (disebut rantai beta), ada juga yang masih berupa triple helix namun tidak lagi beraturan seperti dulu (rantai gama), namun jumlah rantai gama sangat sedikit. Aku sendiri pasrah saja ketika nasib menghantarkanku berada pada salah satu rantai alfa. Masih bersyukur aku tetap berpegangan tangan dengan prolin dan hidroksiprolin. Sebelum diolah menjadi gelatin, selain bergandengan denganku, si prolin dan hidroksiprolin sebenarnya berpacaran dengan molekul tetangga di rantai lain atas jasa baik sebuah mak comblang, yaitu molekul air. Namun nasib molekul siapa yang tahu, proses pengolahan yang tidak berkeperimolekulan itu memisahkan cinta mereka. Sekarang siapa yang tahu keberadaan kekasih mereka. Jangan-jangan mereka sudah mati. Ah, sudahlah. Yang penting jangan pernah sebut-sebut kejadian itu lagi, kasihan mereka. Namun kami para molekul memang tegar dan menurut saja apapun yang Diperintahkan Allah. Apapun yang terjadi, yang penting tetap lakukan apa yang kami bisa. Itu saja.

Setelah menjadi gelatin, pekerjaanku hanyalah duduk manis dalam sebuah stoples plastik. Suatu pagi kucuri dengar pembicaraan manusia dalam bahasa Inggris, mereka berkata bahwa aku akan dikirim ke Indonesia. Maka dimulailah hari-hariku melintasi benua. Sayang stoplesku kedap cahaya, begitu pula kardus dan kontainer peti kemas yang digunakan untuk mengangkutku. Aku jadi tidak bisa melihat-lihat jalan. Setelah berhari-hari terus diguncang-guncang, akhirnya aku berakhir di sebuah lemari tua, di sebuah ruangan tua yang menyeramkan. Setelah beberapa hari merenung dan bertanya-tanya akan jadi apa aku nantinya, kurasakan bumi tempatku berdiri berguncang. Rupanya ada seorang manusia yang memindahkan stoples tempatku berada. Masih kuingat saat ia membuka stoplesku, kemudian membawaku keluar. Ia memindahkanku di atas kertas. Oh, rupanya ia sedang menimbangku. DI sebelahnya ada seorang manusia juga, mungkin temannya. Melihat kulit para manusia, aku jadi sedih. Aku ingat masa laluku sebagai penyusun kulit sebuah makhluk juga, meskipun beda spesies. Ah sudahlah. Mungkin ia akan memerlukanku untuk penelitiannya, siapa tahu aku masih bisa berguna.

Setelah itu ia memasukkanku dalam sebuah wadah kaca. Bukan, bukan stoples, karena wadah ini sempit sekali, alasnya pun tidak rata melainkan berupa setengah lingkaran. Kemudian ia mengangkat wadah ini dan menuangkan sesuatu. Sekonyong-konyong kulihat sebuah hidrogen nemplok dengan seenaknya ke ujung amina milik alanin, yang kali ini mengalami nasib sial. Kenapa pula aku yang berada di pinggir? Mungkin begitu keluhnya. Manusia itu menggojog wadah kaca dan kini hampir semua gugus amina, hidroksil dan segelintir sulfohidril menggandeng sebuah hidrogen. Hidrogen tampak puas, sebaliknya molekul yang ditempelinya pasrah saja. Seperti sudah kukatakan tadi, kami para molekul menurut saja dengan ketentuan dan nasib yang sudah digariskan Allah.

Kemudian ia memasukkanku ke sebuah kotak yang bau dan becek dimana-mana. Klek! Ia mengunci pintu kotak dan kemudian sekelilingku menjadi gelap. Dimulailah petaka itu. Secara cepat dan pasti aku merasakan peningkatan panas yang luar biasa. Tekanan juga naik. Prolin dan hidroksiprolin kurasakan makin renggang dariku. Panas sekali…aku tidak tahan. Akhirnya kami bertiga terpisah. Kulihat glutamin disana, lebih mengkhawatirkan nasibnya dariku. Segera setelah ia lepas dari tetangganya, tubuhnya menekuk seperti sangat kesakitan.  Ia tersiklisasi, artinya ia akan menjadi cacat dan tidak akan diakui lagi oleh keluarga kami. Beberapa molekul lain pun mulai gelisah, beberapa diantaranya kacau, menyerobot bagian tubuh molekul yang lain, semisal metionin, ia menyerang sesamanya, membentuk raksasa metionin sulfonat yang tampak besar dan mengerikan. Sesama pemilik atom sulfur, sistein, tak mau kalah. Ia membentuk tandingan, raksasa sistin. Suasana kacau balau. Ada juga yang tubuhnya rusak permanen, dan seperti nasib glutamin, ia tidak akan diakui lagi sebagai keluarga kami, keluarga asam amino. Ahhh, aku mulai melantur begini, rasanya aku hampir tak kuat. Aku terus berusaha bertahan. Namun kalaupun aku harus mati, aku ikhlas.

(12 jam kemudian)

Tiba-tiba suasana menjadi lebih tenang. Sepertinya tekanan mulai menurun, demikian pula suhu disini. Suasana di dalam wadah sempit ini lebih mirip suasana selepas peperangan. Molekul teroksidasi bergelimpangan di dasar wadah, membentuk kerak hitam, bagai tumpukan mayat. Merinding aku melihatnya. Ada juga yang rusak, sehingga tidak dapat kukenali siapa dia dahulu.

Aku sendiri, sendirian. Benar-benar sendirian. Sejak pertama kali aku lahir (maksudku ditranslasi), aku segera digandengkan dengan prolin dan hidroksiprolin. Entah dimana mereka sekarang. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Ada atom hidrogen melekat di gugus aminaku, ia turut kemana saja aku melayang-layang di dalam wadah ini. Aku tidak peduli. Di sekitarku juga ada banyak asam amino yang masih selamat sepertiku, bahkan ada pula yang masih bergandengan satu sama lain. Melihat mereka masih saja bergandengan mesra, aku jadi teringat, dimana prolin dan hidroksiprolin? Ah, belum pernah aku sesendiri ini.
Manusia yang kemarin memasukkanku dalam kotak penyiksaan yang bau dan becek itu mengambil wadah kecil tempatku berada. Aku tidak peduli. Ia kemudian menuangku ke dalam wadah yang lebih besar dan meneteskan sesuatu. Tiba-tiba kulihat ion-ion hidroksil, berenang-renang menggoda ion hidrogen yang menempel di gugus aminaku. Kurasa hidroksil jauh lebih menarik daripada diriku karena si hidrogen tadi segera meninggalkanku untuk bergabung bersamanya. Ah, memang sudah nasibku sendiri begini.

Belum selesai lamunanku, ia meneteskan lagi sejumlah cairan melalui pipa aneh yang meruncing ujungnya. Kulihat ion-ion timbal dengan ganas segera berikatan dengan rangkaian asam amino yang masih saja bergandengan satu sama lain walaupun sudah dipanaskan. Segera terbentuk endapan putih, menyeramkan sekali. Sepertinya ia marah karena rangkaian asam amino itu tidak mau menurut saja dan melepaskan gandengan satu sama lain saat dipanaskan tadi. Dengan ganas ia masih mencari-cari rangkaian asam amino yang membandel, namun mendadak ia tenang setelah manusia tadi memasukkan asam oksalat melalui pipa aneh lain yang lebih kecil dari pipa aneh tadi.

Kemudian manusia itu memasukkanku ke dalam sebuah alat dan dari ujungnya yang seperti gasing, aku keluar setelah melewati saringan berukuran pori kecil. Kecil sekali porinya, endapan putih dan kerak (mayat-mayat keluargaku T,T) tidak dapat melewatinya. Namun aku dapat lolos dengan mudah dari saringan itu. Sekarang aku berada dalam tabung plastik kecil yang lucu. Di sinilah aku dapat melihat dengan jelas, keluargaku. Setelah kuamati satu persatu, mereka semua ada, kecuali glutamin. Membayangkan nasib glutamin tadi, aku bergidik.

Manusia itu kemudian memindahkanku ke sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat. Kemudian, ia memasukkan sesuatu. Kulihat sebuah molekul yang begitu cantik, belum pernah kulihat ia sebelumnya selama hidupku. Ia memperkenalkan diri orthoftalaldehid. Melihat atom karbon karboksilnya feminin, atom nitrogenku tak dapat menahan diri untuk menggodanya. Sebenarnya ia masih memiliki satu atom karbon karboksil lagi, yang tak kalah feminin dan menarik untuk kuincar, namun apa daya nitrogenku hanya satu. Pun aku tak punya gugus lain yang cukup jantan untuk menyerangnya. Tiba-tiba sebuah molekul lain muncul, tanpa basa-basi ia memperkenalkan diri sebagai 2-merkaptoetanol dan menawarkan atom sulfurnya untuk berikatan dengan OPA. Tanpa malu-malu, si OPA, demikian panggilan sayangku padanya, menerimanya dengan suka cita. Aku tidak tinggal diam, aku pun bereaksi dan tahu-tahu kami bertiga telah bergandengan. Namun agak berbeda dengan gandengan tanganku bersama prolin dan hidroksiprolin dahulu, sekarang kami melebur menjadi satu molekul yang kaku. Aku tak dapat bergerak bebas. Yah, nasib molekul siapa yang tahu. Gara-gara kepincut dengan kecantikan si OPA aku jadi begini. Ya sudahlah.

Kemudian melalui sebuah benda yang aneh, aku disedot dan disuntikkan ke sebuah benda besar berbentuk elips. Rupanya benda itu terdiri atas bola-bola yang berukuran seragam dan diiisikan ke sebuah pipa. Permukaan bola itu berupa silika yang dilapisi rantai karbon, masing-masing berjumlah 18 buah, sehingga tampak berekor. Ada juga silika yang hanya ditutupi gugus hidroksil. Melihat rantai karbon yang lucu itu, aku jadi tertarik untuk bergandengan dengannya, karena ada bagian molekulku yang juga bersifat sama dengannya, sama-sama takut air. Molekul sejenisku pun ikut berikatan. Walaupun mereka sudah bergabung dengan OPA dan 2-merkaptoetanol, aku masih dapat mengenali mereka: asam aspartat, asam glutamat, asparagin, serin, sistein, treonin, histidin, metionin, alanin, arginin, triptofan, valin, leusin, isoleusin, dan lisin. Turunan asam aspartat, asam glutamat, dan asparagin tampak kurang antusias bergandengan dengan rantai karbon itu, namun sebaliknya kulihat turunan valin, leusin dan isoleusin terlihat sangat gembira menggandeng rantai karbon itu dengan mesra. 

Belum sempat aku mengamati lebih lanjut, tiba-tiba kami diguyur suatu cairan. Tak ambil waktu, asam aspartat kepincut dengan cairan itu dan segera melepaskan rantai karbon yang tadi dipegangnya sambil malas-malasan. Asam glutamat segera mengikuti, diikuti asparagin, serin, sistein dan histidin. Setelah histidin pergi, cairan itu menarikku. Metanol dalam cairan itu menyuruhku untuk melepaskan peganganku dengan rantai karbon yang kupegangi. Ternyata di dalam cairan itu ada pula ion asetat. Wah, aku jadi ragu. Sebenarnya aku nyaman-nyaman saja berikatan dengan rantai karbon ini, tapi metanol terus memaksaku. Ternyata ada molekul lain yang berpikiran sama denganku. Dari strukturnya, aku tahu kalau ia turunan treonin. Makin lama, makin banyak metanol yang memaksaku. Aku pun menyerah. Dengan berat hati kuucapkan perpisahan pada rantai karbon tadi. Ia tampak sedih tapi seperti atom dan molekul lain di muka bumi ini, ia pasrah saja. Turunan treonin pun menyusulku, ia juga tidak tahan terus dirongrong oleh metanol. Kami mengalir bersama-sama.

Sekarang ada sebuah lampu yang menyorotkan cahaya padaku. Aku pun tereksitasi dan energiku naik. Beberapa saat kemudian, tak dapat kutahan, aku ingin kembali seperti semula. Keadaan ini tidak nyaman. Ah! Akhirnya berhasil, aku berhasil turun satu tingkat. Namun ini belum cukup. Aku harus benar-benar kembali seperti semula. Dan aku terkejut menyadari bahwa ketika aku berusaha menurunkan tingkat energiku lagi, aku memancarkan sinar juga. Sinar ini berbeda dengan sinar tadi, lebih kecil energinya, namun aku bersinar! Kulihat sebuah alat menangkap sinar itu, maka dengan semangat aku semakin bersinar. Kulihat turunan treonin yang bersamaku sejak keluar dari kolom berisi bola-bola kecil itu juga melakukan hal yang sama. Tidak hanya itu persamaan diantara kami, rupanya kekuatan pancaran sinar kami juga sama.
Dan tanpa kutahu, manusia tadi memandangi layar komputer dengan gembira.

“Eureka! Glisin! Bersama dengan treonin!”

04/05/12

2 Kali untuk Selamanya (Ujian Skripsi Tertutup)

Zingggg!
Pikiran yang pertama kali terlintas begitu bangun tidur pada tanggal 2 Mei 2012! Apalagi kalau bukan tentang "itu"!, yah, benar, "itu"! Pikiran itu bukanlah "Waduh, Hardiknas, upacara jam 7 nih, hwaahhh" (emang aku anak sekolahan, sayangnya sudah bukan, hehe). Ya, hari itu bukan sekedar Hari Pendidikan Nasional buatku. Hari itu juga merupakan hari ulang tahun PIOGAMA, tapi bukan itu pikiran yang terlintas di pikiran ketika pertama kali bangun tidur. Hari itu merupakan hari ujian skripsiku. Hari itu penting buatku, soalnya tertanggal sejak 15 September 2011 aku sudah mulai melakukan sesuatu untuk menghasilkan skripsi ini. Sudah hampir 9 bulan, dan mungkin aku tidak punya cukup kekuatan untuk memikirkannya lebih lama.

Kuakui, kadang aku semangat banget dan menikmati proses pembuatan skripsi ini. Tapi sering juga aku mikir yang enggak-enggak, misalnya, "gimana ya kalau seandainya dulu aku ... dan bukannya ...", pokoknya berandai-andai lah. Padahal setelah dipikir lagi, nikmat Allah mana yang akan kudustakan, lha wong penelitian juga gratis, dosennya baik hati, hebat dan keren lagi. Dosenku praktis orangnya, enggak ribet, cocok banget buat aku. Temen nge-labku juga baik, sahabatku sendiri, manis dan yang paling penting, tulus orangnya. Paling enggak aku kerja bersama dua orang (teman ngelab dan dosenku) yang baik hatinya, kan? Namun kadang aku merasa enggak tahan lagi dan pingin teriak sekeras-kerasnya serta ingin mengubur semua hal yang berkaitan dengan skripsi itu dalam-dalam kemudian enggak akan aku ambil lagi seumur hidupku. Sayangnya (atau untungnya?) aku enggak punya pilihan itu kan? Hehe....konon katanya, satu-satunya pilihan untuk menghilangkan kegalauan skripsi adalah dengan mengakhirinya secara baik-baik. Jadi? Kumpulkan saja draftnya. Selesaikan apa yang sudah kita mulai.

Begitu aku memasukkan draft skripsiku ke akademik (artinya, aku menyerahkan diri dan skripsi untuk dieksekusi alias disidang), mendadak aku bermimpi buruk dan jerawatan gedeeee banget di pelipis kiri. Tiba-tiba segala jenis hiburan menjadi kurang menarik. Aku pernah baca, kehilangan minat pada hobi atau hal-hal yang disukai merupakan gejala-gejala orang depresi! Masyaallah, amit-amit jangan sampai. Tapi memang aku membatalkan rencana dolan bersama teman-teman ke Gua Pindul tanggal 28 April. Untung acaranya akhirnya beneran dibatalin. Jadi enggak nyesel deh, hehe. Sebut saja aku lebai, tapi memang begitu kenyatannya. Setelah lari-larian selama beberapa untuk janjian dengan ketiga dosen penguji (dua dosen penguji dan satu dosen pembimbing, sebenarnya) serta mengurus administrasi di fakultas, akhirnya dipastikan aku akan ujian tertutup pada tanggal 2 Mei 2012. Aku senang, karena hari itu bertepatan dengan Hardiknas. Lagipula pada hari itu, ketiga dosen pengujiku free alias enggak ada agenda lain sampai jam 3 sore. Later, aku tahu kalau dosen pembimbingku ada acara jam 10 pagi (bertepatan dengan waktu ujianku), tapi akhirnya beliau membatalkan acara lain itu. Kurang baik gimana coba?

Persiapanku untuk menghadapi ujian sih, mungkin standar. Enggak ada cerita begadang sampai pagi, seharian membaca buku, atau kisahku sedang melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim lainnya. Pola hidup tidak berubah, cuma jadi panik aja. Untuk meyakin-yakinkan diri, selain bertanya ke para kakak kelas yang sudah pernah menghadapi ujian tertutup, ya....aku baca-baca skripsi sendiri dan baca referensi. Enggak ngoyo juga sih, masih sempat buka FB dan 9gag kok. Kan buat selingan biar enggak stres, hehe...tidak lupa menyiapkan presentasi juga. Setelah sekitar seminggu berada pada fase panik dan merasa rendah diri (alias enggak siap), akhirnya aku pun move on ke fase pasrah. Dan setelah melewati fase pasrah, move on lah aku ke fase (agak) percaya diri. Sengaja aku tulis (agak) percaya diri, karena sebenarnya, seyakin-yakinnya aku terlihat bagi orang lain dan sekecil apapun ketidak yakinan itu, tapi ketakutan itu pasti ada. Wajar ah menurutku.

Aku bersyukur banget ada dukungan dari orang tua, temen-temen dan dosen pembimbing. Aku ingat, dosen pembimbingku bilang, "Wajar saja kalau mahasiswa masih salah-salah (ngomong), kan baru pertama kali itu ikut ujian skripsi. Kalau saya kan sudah tiga kali (maksudnya beliau sudah pernah ujian skripsi, tesis dan disertasi-Red)", dan "Mahasiswa enggak bisa menjawab pertanyaan saat ujian itu wajar terjadi, enggak usah khawatir". Kalau enggak ada mereka, mungkin selamanya aku akan berada pada fase panik (sehingga malah enggak bisa konsentrasi belajar), atau lebih buruk lagi, terpuruk di fase pasrah sehingga enggak berusaha sama sekali. Pokoknya, kumpulkan dukungan sebanyak-banyaknya, lah. Kalau ditanya kabarnya gimana, ceritakan aja kalau kita mau ujian skripsi terus minta didoain, hehe. 

Fase (agak) percaya diriku sebenarnya muncul agak terlambat, menurutku. Tapi fase itu menyenangkan karena rasanya apapun yang kupelajari nyangkut di otak karena aku rileks (sebenarnya emang aku cuma belajar hal-hal yang kiranya bakal aku mengerti sih, yang sulit-sulit aku tanyain ke dosen atau teman yang lebih mengerti aja, haha...daripada malah stres lagi kan?). Dan pada fase itu terasa ketenangan yang sangat menolongku untuk tidur nyenyak dan berpikir jernih menjelang ujian. Menjelang ujian, lagi-lagi aku merasa sangat bersyukur punya orang tua, saudara dan teman-teman yang baik hati banget, enggak ragu buat menawarkan bantuan apapun yang kiranya aku perlukan. Mulai dari doa, dana, kata-kata penyemangat, nasihat, ilmu, jasa (belikan snack, ngatur LCD, meminjamkan laptop sampai ngambilin draft skripsi yang disebabkan atas kecermatanku (baca dengan nada sarkastik) ternyata tertinggal di kost saat ujian, dan lain-lain), pokoknya top. 

Dan sekarang ujian tertutup sudah selesai. Rasanya Allah dan semesta-Nya mendukungku karena para dosen pengujiku sepertinya ceria banget pagi hari itu. Atau karena hari itu Hari Pendidikan? Wallahu'alam, tapi saat mulai mengucap salam untuk mereka, tenang rasanya. It just felt right, berdiri di situ, mulai presentasi dan ditanya-tanya. Walaupun sebenarnya ada juga pertanyaan yang enggak bisa kujawab dan ada juga yang kujawab dengan ragu-ragu. Haha, entah kenapa hal itu enggak mengurangi kelegaanku ketika akhirnya tidak ada lagi pertanyaan dan dosen pengujiku menutup sesi ujian tertutup itu. Beliau kemudian memintaku keluar ruangan sebentar karena mereka akan memutuskan hasil ujianku. Ketika aku keluar, teman-teman menunggu di depan ruangan, dan dari mereka aku tahu bahwa ternyata aku hanya menghabiskan waktu sekitar 70 menit saja di dalam ruangan itu. Entah sudah matang atau belum hasil dadaran ini, haha. Tapi malah bagus ding, cepat begitu. Aku malah suka. 

Alhamdulillah sudah selesai ujian tertutup, tinggal mempersiapkan ujian terbuka. Oh iya lupa, ada revisi juga, hehe. Ingat pesan bapak dosen pembimbing dan ibu dosen penguji saat hendak meninggalkan ruangan, "Cepat diselesaikan ya mbak".
Oke, challenge accepted! Good luck to myself :D 

17/11/10

Patient Counseling Event

Pada tanggal 13-14 November 2010, Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) "Ars Praeparandi" Sekolah Farmasi ITB mengadakan Patient Counseling Event. Rangkaian acara meliputi stadium generale dan kompetisi konseling pasien. Fakultas Farmasi UGM mengirimkan 9 wakilnya dalam acara tersebut, yaitu:

Tingkat Profesi:

1. Mbak Dewi

2. Mbak Rosana

3. Mbak Elok

4. Mbak Novi

5. Mbak Ana a.k.a mbak Nawang

Tingkat S1:

1. Mbak Fitria

2. Mbak Lathifa a.k.a mbak Fafa

3. Amalia

4. Setyowati

Sebelum mengikuti lomba, kami para peserta telah mendapat bimbingan intensif dari dosen kami tercinta, ibu Susi Ari Kristina. Walaupun latihan sempat terganggu karena bencana letusan Merapi yang mengakibatkan kegiatan perkuliahan dan praktikum ditiadakan selama 1 minggu lebih, namun kami tetap optimis dalam mengikuti lomba tersebut. Berangkat dari stasiun kereta api “Tugu” Yogyakarta pukul 21.45 WIB, akhirnya kami tiba di kota Bandung, setelah menempuh sekitar delapan jam perjalanan.

Disambut dengan ramah oleh teman-teman calon rekan sejawat kami di ITB, kami mengikuti stadium generale dan babak penyisihan di hari pertama (13 November 2010). Pada hari kedua (14 November 2010) dua wakil UGM, mbak Fitria dan mbak Elok mengikuti babak final. Kami yang tidak masuk babak final sempat menikmati sejenak keindahan kota Bandung yang dikenal memiliki “everlasting beauty”. Setelah itu kami datang lagi ke kampus ITB di jalan Ganesha yang asri dan sejuk untuk menyaksikan penampilan dan mendukung kedua teman kami tersebut.

Singkat cerita alhamdulillah UGM mendapat kehormatan dapat membawa pulang beberapa piala yang disediakan J Gelar juara 2 tingkat S1 kompetisi konseling pasien diraih oleh mbak Fitria Nur Hidayah (Farmasi Klinik Komunitas 2007). Gelar juara 1 tingkat profesi kompetisi konseling diraih oleh mbak Elok. Atas kemenangan di tingkat profesi ini maka UGM berhak membawa pulang piala bergilir dari dekan Sekolah Farmasi ITB ^^

Rasa syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberi segala kesempatan bagi kami. Ucapan terima kasih kami haturkan pada ibu Susi yang dengan terampil dan sabar telah membimbing kami dan bersedia mengantarkan dan mendukung kami dalam mengikuti acara tersebut. Terima kasih kami haturkan pula pada Fakultas Farmasi UGM, teman-teman dan keluarga kami yang telah memberikan dukungan moril dan materil sehingga kami bisa mengikuti kompetisi tersebut.

Patient Counseling Event Sekolah Farmasi ITB:

“GOOD PHARMACIST, GOOD COUNSELING”

02/11/10

Anti-Epileptic Drugs

Thanks to molecular pharmacology for explaining this. Ah, you have to know how i love pharmacology...the lessons and the lecturer (hahaha). Basic pharmacology taught me about many types of drugs and their names too...molecular biology explain its mechanism of action in detail, in molecular detail. Yeah it can be complicated sometimes, but i think it's kind of fun.

I want to write a brief review about some of anti-epileptic drugs' mechanism. My favorite lecturer explained a few types of anti-epileptic drugs. Here they are (caution: may be very boring, but who cares, it is for my archieve):

#Phenytoin and Carbamazepin
These drugs prevents seizures by prolongs (and stabilizes) the inactivation time of sodium channels. In an epilepsy sufferer, the impulse in their nerve cells travel so fast and uncontrollable, causing a sudden, involuntary, and uncontrollable body and extremities movement (called grand-mal seizures). Sodium channels have an important role in this process; the traveling of impulse in nerve cells depends on how fast the propagation happens. Propagation happens when a sodium channel opens (activation), letting a sodium (Na+) ion enters the nerve cells and causing depolarization (reducing of electric potential/voltage between intracellular and extracellular milieu). This depolarization causing the next sodium channels to open, letting another sodium ion in and causing depolarization of that channel. Again, this depolarization open the next sodium channel to open. This event happens simultaneously until the impulse reaches the nerve cell ending. I imagine propagation as impulse running from channel to channel from axon to nerve cell ending.
Prolonged inactivation by those drugs causing the inhibition of impulse to travels, so they prevent seizures.

#Etosuksimid
Phenytoin and Carbamazepin, as told above, are used to treat grand-mal epilepsy (seizures of all parts of the sufferer's body). Beside grand-mal epilepsy there is another type of epilepsy, petit-mal epilepsy. In this epilepsy, the sufferer does not experience seizures. Instead, they are unconsious for a brief period of time. This may be accompanied by steady facial expressions and eyes staring blankly. People around them, or maybe themselves, may be unaware of this attack. Based on articles i read, 75% of petit-mal sufferers will experience grand-mal seizures later in their life :(
Petit-mal epilepsy's mechanism of occurance involves T-type (tiny/transient type) calcium channel. This type of calcium channels is an ion channel that can be activated by minor depolarization (slight reduction of electric potensial/voltage between intracellular and extracellular milleu). When it is activated, it opens and a calcium ion (Ca++) from extracellular milleu goes inside. Etosuksimid inhibits this channel to be open, thus prevents petit-mal attack.

Okay...those are from my lecturer. Then i searched in internet about valproic acid. Here it is:

# Valproic Acid
I am fond of this drug. Why? Because later i knew how great it really is. Valproic acid is able to prolongs and stabilizes the sodium channels (like phenytoin and carbamazepin). It is able to inhibits the opening of T-type calcium channels (like etosuksimid). Therefore, valproic acid can prevent both grand-mal and petit-mal seizures. It's also inhibits metabolism (transamination) of GABA by inhibits GABA transaminase enzyme. GABA is known for its effect on inactivating nerve cells. So, if we inhibits GABA metabolism, there will be more active GABA, causing greater nerve cells inactivation (good way for preventing seizures). To make it sounds greater, it also shows transquillizing effect like lithium. It is also now being investigated as a potent medication for HIV, lupus and cancer (because it inhibits Histone-Diacetylase enzyme). W.O.W :D
What's more? Valproic acid has minimum sedative properties and geberally has no intolerable side effects (but using this medication on patient with hepatic dysfunction is not recommended). I thing it will be cool to my industry to synthesize this drug so there will be more epilepsy sufferer saved, hehehe :P

But, what's bad about those drugs? They are all TERATOGENIC. Yeah, i know there is no such thing like 100% safe drug. Every drug (and food) has its own side effect. Just like Paracelcus said "Poison is in everything, and no thing is without poison. The dosage makes it either a poison or a remedy"