Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

16/09/15

HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi (Personal Review)

(1)
Ketika ku mendengar bahwa, kau sudah tak lagi dengannya
Dalam benakku timbul tanya
Masih adakah dia, di hatimu bertahta?
Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu?
Namun, siapkah kau tuh jatuh cinta lagi? :)

Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(2)
Kini ku tak lagi dengannya, sudah tak ada lagi rasa ;)
Antara aku dengan dia
Siapkah kau bertahta di hatiku, adinda?
Karena ini saat yang tepat untuk singgah di hatiku
Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku :)

(1)
Pikirlah saja dulu, hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku, melangkah menuju ke hatimu

(1) (2)
Pikirlah saja dulu, hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku, melangkah menuju ke hatimu
Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada, di hidupku

(1) (2)
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah, jangan buat sia-sia :)

(1) (2)
Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?
:D


*****
Kali pertama mendengar lagu ini, aku sudah menduga kalau lagu ini pasti lagunya HiVi. I think they nailed it again, menurutku lagu ini keren banget. Liriknya, musiknya, dan tentu saja vokalnya. Rasanya aku bisa melihat dan merasakan si penyanyinya tersenyum kala selesai menyanyikan satu larik lagu. Persis seperti yang kurasakan saat mendengarkan lagu mereka yang berjudul "Mata ke Hati". Bener deh, suara mereka tuh, terkesan riang banget gitu. Seperti sedang menyanyi sambil tersenyum. Menimbulkan rasa ceria di hati dan bikin pingin senyum, hehe. Menurutku, karakter vokal dari kedua vokalis utama HiVi sangat cocok dengan mood lagu mereka yang sebagian besar bersifat riang gembira ala orang ketemu jodoh gitu, hahaha. Oh iya, video klipnya juga bagus lho. They play with silhouettes. 



Enggak bosan-bosannya aku mendengar dan menyanyikan lagu ini. Sehabis mandi, sebelum berangkat ke kantor, saat bersiap-siap hendak pergi, saat memasak, saat mencuci, aku selalu memutar dan menyanyikan lagu ini, Dua kali karaokean, dengan orang-orang berbeda, inilah lagu pertama yang terlintas di otakku saat menyusun playlist. Saat berjalan kaki ke kantor, saat mandi, i sing this song without thinking. Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi (dengan lagu HiVi)? Jawabannya, mengutip dari video klipnya, adalah #SIAP, hihi.

27/03/15

Pixy Perfect Eyeliner

Sudah cukup lama aku tidak menulis review kosmetik. Apakah itu artinya aku semakin jarang menggunakan kosmetik? Hahaha...jujur, yang ada sih kebalikannya. Akhirnya, setelah 23 tahun hidup di dunia ini aku baru menyadari bahwa lipstik itu benda yang cukup ajaib. Sebelumnya aku hanya menggunakan lip balm saja. Pertama kali beli lipstik sendiri, aku agak terheran melihat hasilnya. Ya, sama seperti dulu ketika aku pertama kali menyadari keajaiban bedak two-way cake seperti yang pernah kutulis pada posting terdahulu. 

Make up tools really are an amazing tools. Tools to be used wisely. Aku tetap pada pendirianku bahwa make-up itu sebaiknya jangan dipakai setiap hari. Menurutku make up itu cukup dipakai saat hang out dan pada saat menghadiri acara-acara tertentu saja. Kalau dipakai setiap hari, nanti jadinya enggak spesial. Kalau ke kantor atau cuma pergi sebentar saja, aku cuma memakai bedak tabur warna putih (bedak bayi juga bisa) dan lip balm. Tapi kalau akan pergi hang out, aku sekarang sering berdandan terlebih dulu, Menurutku, seorang wanita yang sehari-hari enggak pernah dandan cukup membutuhkan empat tools saja untuk terlihat "sudah dandan". Keempat tools itu adalah bedak, pensil alis/eye shadow warna hitam pekat (untuk membentuk alis, menurutku warna hitam lebih cocok untuk orang Indonesia, jika dibandingkan dengan warna cokelat), eye liner dan lipstik. Pada kesempatan kali ini aku akan menuliskan tentang eye liner favoritku yaitu Perfect Eyeliner dari Pixy.

Pixy Perfect Eyeliner (diambil dari website resmi Pixy Indonesia, http://pixy.co.id/)

Aku sudah menggunakan eye liner ini sejak tahun 2012, walaupun dulu aku cuma pakai eye liner pas datang kondangan dan pemotretan buku tahunan. Dulu kemasannya masih berwarna pink muda polos, kalau tidak salah pada pertengahan tahun 2014 Pixy meluncurkan desain kemasan baru. Bagus sih, kebetulan cocok dengan seleraku yang senang dengan perpaduan warna hitam dan pink. Terkesan feminin dan agak centil, tapi kokoh karena ada unsur hitamnya. Kenapa dulu aku membeli produk ini? Tidak salah lagi, aku bertanya dulu pada tante Google tentang eye liner yang bagus. Setelah membaca banyak review positif tentang produk ini, baru aku membelinya. Dan aku puas dengan hasilnya :D

Hal pertama yang aku suka saat pertama kali menggunakan produk ini adalah bentuk aplikatornya. Aplikatornya berbentuk mirip tongkat, terlihat keras dan kaku dengan ujung yang meruncing. Walaupun demikian, ternyata ujungnya masih cukup luwes, bisa sedikit meliuk saat digunakan. Karena bentuk aplikator yang sedemikian rupa, menurutku Perfect Eyeliner ini relatif lebih mudah digunakan daripada eye liner lain yang aplikatornya serupa kuas. Menurutku aplikator kuas terlalu lentur sehingga lebih sulit digunakan, terutama saat kita perlu membuat garis yang tipis. Oh iya, aplikator Perfect Eyeliner ini cukup runcing kok, sehingga kita bisa menarik garis tipis dengan tingkat presisi yang bagus. Berbagai gaya memakai eye liner pun bisa kita dapatkan dengan eye liner ini.

Winged style..so wearable for daily look

Double trouble bold style (dipadu dengan eye shadow hitam)...sepertinya hanya cocok digunakan pada pesta indoor di gedung pada malam hari :p

Garis tipis yang presisi (eye liner hanya sebagai komplemen untuk lebih menegaskan bentuk mata, karena pada foto ini sudah dipakai eye shadow dengan warna-warni yang cukup mencolok)

Hal kedua, dan sebenarnya merupakan hal utama yang membuatku begitu setia me-repurchase produk ini adalah stabilitasnya. Eye liner ini sangat awet ketika kupakai, mampu bertahan dari pagi sampai malam, padahal kulit wajahku berminyak. Pernah aku mencoba eye liner merek lain (merk internasional) yang harganya jauh lebih mahal, namun eye liner mahal tersebut sudah luntur ketika kupakai dari sore sampai malam. Tentu saja hal tersebut sangat mengganggu penampilan, mending enggak usah pakai eye liner sekalian. Kalau diamati, eye liner ini membentuk lapisan tipis (film) yang melekat di kulit kelopak mata. Ketika dihapus menggunakan make up remover (aku memakai Maybelline Make Up Remover Eye & Lip), lapisan tipis Pixy Perfect Eyeliner ini terkelupas menjadi lempengan-lempengan hitam. Hal ini berbeda dengan eye liner lain yang jenisnya menyatu dengan kulit dan larut menjadi kehitaman jika dihapus dengan make up remover. Aku menghindari jenis eye liner semacam itu karena eye liner semacam itu pasti akan larut oleh minyak yang dihasilkan oleh kulit (smudge). Oh iya, Pixy Perfect Eyeliner  ini bersifat water proof juga ya :)

Satu hal kecil yang agak kurang kusuka dari produk ini adalah warna hitamnya yang sangat intens dan mengkilap (glossy). Haha, ini merupakan pendapat yang sangat subyektif berdasarkan seleraku karena produk ini sengaja diformulasikan agar menghasilkan "warna hitam glossy yang pekat" (dikutip dari website resmi Pixy Indonesia). Hal ini semata penilaian subyektifku karena aku suka dengan tampilan alami, istilahnya tampilan "my face but better" gitu...jadi kalau pembaca juga sealiran denganku, sebaiknya aplikasikan produk ini tipis saja untuk penggunaan sehari-hari agar penampilan kita tidak terkesan lebai alias berlebihan sehingga ujung-ujungnya wajah kita jadi terlihat menyeramkan. 

Terkait dengan hal tersebut di atas, seperti sudah membaca pikiranku, Pixy pun meluncurkan produk baru pada tahun 2014 lalu (ih aku kegeeran banget ya, hoho). Namanya Bold to Last Gel Eyeliner. Pertama kali aku tahu produk ini ketika berbelanja di counter Pixy. Petugas SPG menawarkan produk eye liner baru yang katanya, menghasilkan tampilan yang matte, tidak glossy seperti Perfect Eyeliner yang sudah biasa kupakai. Bentuknya gel dan aplikatornya berupa kuas, tapi kaku. Karena tertarik dengan iming-iming bahwa produk tersebut menghasilkan "hasil matte yang natural", aku pun membeli produk itu. Namun jujur, aku tidak terlalu suka dengan produk Bold to Last Gel Eyeliner. Mengapa? Produk tersebut lebih susah untuk dioleskan (aplikatornya tidak senyaman aplikator Perfect Eyeliner), lebih ribet (aplikatornya harus dibersihkan sehabis digunakan), dan warna hitamnya sama pekatnya dengan Perfect Eyeliner. Jadi, tujuan awalku membeli produk ini yaitu ingin mendapatkan hasil akhir yang tampak lebih natural, tidak tercapai. Justru aku agak kesulitan membentuk garis tipis menggunakan Bold to Last Gel Eyeliner. Memang tampilan paling natural didapat jika kita memakai eye liner pensil, namun eye liner pensil tidak seawet Pixy Perfect Eyeliner. Hiks-hiks, inilah akibatnya jika membeli peralatan make-up tanpa berkonsultasi pada tante Google terlebih dahulu. 

Karena eksperimen yang tidak sukses tersebut, jadilah aku tetap setia menggunakan Pixy Perfect Eyeliner dan tidak jadi beralih ke produk lainnya. I think I will forever use this eye liner :) Oh iya, harga produk ini cukup terjangkau lho. Seingatku harganya sekitar tiga puluh lima ribu rupiah saja :D tidak mahal kan? Menurutku harga yang mahal bukan jaminan kualitas suatu peralatan make up. Kalau membeli produk perawatan mahal masih oke lah, karena kebutuhan kulit dan tubuh kita berbeda-beda dan perawatan memang jalan agar tubuh kita tetap terjaga. Namun untuk membeli produk make up, aku lebih memilih untuk percaya pada rekomendasi tante Google daripada percaya pada harga yang selangit.

Dari skala 1 sampai 10, aku memberikan nilai 9 untuk produk ini :) This product is totally recommended.
 

02/03/15

Cooking is Fun! and Sweet :)

Sejak bekerja di sini, sejak tinggal di bangunan mess ini, aku jadi gemar berjalan-jalan dan memasak. Kegemaranku berjalan-jalan ke tempat baru dan menghafalkan peta sebenarnya sudah ada sejak dahulu, Bedanya kini aku sudah punya uang sendiri untuk membeli tiket perjalanan. Rasanya berjalan-jalan adalah cara ternikmat untuk menghabiskan sisa uangku yang mungkin tak seberapa, setelah dipotong tabungan rutin, ongkos makan dan ongkos-ongkos yang lain.

Jika sedang tidak berjalan-jalan di akhir pekan, aku gemar bereksperimen membuat masakan-masakan baru. Begitu juga ketika aku masuk kerja shift 2 (masuk jam 3 sore), sebisa mungkin aku berusaha untuk membawa bekal makanan sendiri. Rupanya di zaman "kekinian" seperti sekarang, kemampuan dan kegemaran memasak dianggap cukup langka untuk dimiliki oleh seorang wanita berumur 24 tahun. Cukup banyak orang yang terkejut saat mengetahui bahwa aku sering memasak makananku sendiri. Cukup banyak orang yang terheran kala mendapatiku membawa suatu bekal makanan yang mungkin tampak tidak biasa. Dan tentu saja orang-orang heran kala mengetahui bahwa ternyata aku hafal harga terkini komoditas-komoditas pangan seperti beras, kacang hijau, udang, daging ayam, daging sapi dan lain sebagainya :p 

Dahulu saat aku kuliah di Yogyakarta, aku sama sekali tidak pernah memasak di kost. Sebabnya, tidak ada kompor dan peralatan-peralatan memasak di sana. Lagipula, jauh lebih mudah untuk membeli makanan di warung-warung sekitar kost. Paling-paling aku hanya memasak ketika sedang pulang kampung, itupun hanya makanan sederhana seperti sayur bayam, spaggeti saus Bolognese, nasi goreng, ayam goreng, sup dan sayur asam. Namun di sekitar tempat tinggalku di sini, hanya ada sedikit pilihanku untuk "makan di luar", Warung-warungnya begitu-begitu saja, tidak ada warung makan yang benar-benar sesuai seleraku. Maka aku pun bertekad untuk memasak. Dengan kemampuan bahasa Sunda yang minimal saat itu (sekarang juga masih belum jago sih), aku mencoba berbelanja ke warung dan pasar tradisional. 

Sebagai pemasak pemula saat itu, masakanku pun itu-itu saja. Tumis sayuran pertamaku rasanya tidak enak. Ya iyalah, mana ada orang lain yang memasak tumis sayuran berbumbu bawang putih, kecap dan jahe? Seharusnya aku memakai lengkuas. Mendoan pertamaku juga terasa aneh di lidah. Menu andalanku cuma 2: ayam dan udang saus asam manis. Itulah masakanku yang paling pantas dibanggakan. Selain itu aku hanya bisa memasak sayur bayam, sayur asam, sayur sop dan aneka lauk yang digoreng. Sampai akhirnya aku menemukan metode ampuh untuk menyelamatkan rasa masakanku: bertanya pada ibuku! Alhasil, setiap hari aku bertanya pada Ibuku, bumbu apa saja yang diperlukan untuk menghasilkan suatu masakan dengan rasa yang wajar. Perlahan-lahan, aku akhirnya bisa membuat tumis kangkung, tumis kacang panjang dan aneka masakan yang umum disajikan di meja makan keluarga Indonesia (keluarga Jawa pada khususnya). Rasa mendoanku pun mulai membaik, bahkan kini tempe mendoan buatanku sudah mendapat reputasi di kalangan penghuni mess, haha. Khasanah pengetahuanku juga bertambah kala Ibu petugas kebersihan di mess mengajariku untuk membuat tahu bacem, sayur bobor, bakwan dan lotek. Hmmm...

Setelah beberapa saat aku memasak menu-menu "wajar" seperti itu, lama-lama aku merasa bosan juga. Maka aku pun mulai mencari-cari variasi menu untuk dimakan sehari-hari. Tempat pertamaku bertanya tentang resep-resep masakan aneh, tentu saja Chef Google. Cukup masukkan kata kunci seperti "resep spaghetti carbonara", "resep nasi goreng rempah", "resep ikan bakar teflon", dan lain sebagainya, dalam hitungan detik akan muncul resep yang kita inginkan. Berdasarkan pengalaman, resep online yang memiliki jaminan sukses tertinggi justru berasal dari blog-blog pribadi. Dengan masing-masing cerita personal tersendiri di tiap resep yang di-publish. Resep-resep itu pasti sudah berhasil di-trial dengan sukses oleh para penulisnya. Disertai dengan foto-foto (yang umumnya) sederhana, justru resep itu terkesan jujur dan meyakinkan di mataku. Semoga suatu saat aku bisa mengembalikan semua knowledge yang kudapat dari internet itu dalam bentuk posting resep.

Ya, memasak itu menyenangkan. Demikian juga menyusun menu untuk seminggu, berandai-andai mau makan apa seminggu ke depan. Berbelanja di pasar tradisional, meski kadang pasarnya becek dan bau. Makanan yang dulu kukira hanya bisa dimakan di "luar" seperti selat Solo, nasi goreng rempah, aneka macam pasta, penyetan, chicken cordon blue, steam boat, pizza, tahu aci, cireng, pancake, ikan bakar, martabak mini, nasi kuning, jamur crispy dan lain-lain, ternyata dapat dibuat sendiri di rumah. Memasak itu bagaikan me time buatku, saat memasak yang ada di pikiranku hanyalah berusaha untuk mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan tentu saja menebak-nebak, seperti apa rasanya nanti. Kalau hasilnya enak dan bagus, pasti senang sekali. Jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, tentu saja agak kecewa. Namun tetap saja waktu-waktu memasak itu menenangkan dan mengasyikkan. Just me and myself, with the stove and kitchen utensils, listening to the music in my headset and the fizzle of water forced out of the raw groceries. Suara pisau memotong daun sawi, suara ulekan beradu dengan alasnya, suara bahan yang mendidih, suara sutil menggaruk penggorengan. Aroma bawang yang ditumis, aroma nasi yang baru matang, aroma ikan yang digoreng. Aroma tomat segar, aroma vanili yang terkena panas, aroma daun salam yang direbus. Begitu tenang dan perlahan, memungkinkan kita untuk menikmati setiap proses. It is like i am in my own, quieter word. And I like it.

Kegemaranku memasak ternyata bersambut kala ada teman messku yang mengajakku membeli oven dan mixer. Semenjak itu, kami rajin membuat kue, dengan harapan tinggi bahwa suatu saat nanti kami akan menjadi juragan bakery. Terakhir pulang kampung, aku membawa kue sukade buatanku sendiri. Terakhir kali temanku berulang tahun, aku membuatkannya cake ulang tahun buatanku sendiri. Mungkin teman-temanku dulu juga tidak akan menyangka, ternyata aku yang dulu jarang sekali memasak sekarang begitu antusias turun ke dapur. Aku yang dulu baru hafal aroma kencur setelah melakukan praktikum di laboratorium Analisa Kandungan Tanaman Obat itu, kini mempunyai koleksi bumbu-bumbu yang cukup lengkap, mulai dari jahe, kunyit, lengkuas, temu kunci, bawang merah, bawang bombay, jeruk nipis, daun jeruk, daun salam sampai kembang lawang (star anise), kayu manis, kapulaga, jintan, ketumbar dan tentu saja merica berbentuk butiran-butiran utuh. Belum lagi bahan-bahan membuat kue yang cukup lengkap.

Sekali lagi, masakanku tidak selalu sukses. Namun rasa excited sekaligus ketenangan yang kurasakan saat memasak begitu adiktif, sehingga aku tidak pernah kapok. Saking niatnya, aku membeli juga pancake dan muffin dari kafe dan bakery yang sudah cukup terkenal agar aku tahu, bagaimana sih rasa dan tekstur pancake dan muffin yang "benar" itu? Ternyata pancake harus cokelat merata bagian dasarnya, agar ketika dibalik tampak cokelat mulus nan cantik juga licin berkilap, bukan kuning berbintik-bintik hitam. Pancake juga harus mengembang, bukan bantat. Muffin harus cukup ringan dan berpori teksturnya, bukan padat seperti pound cake. Di dapur, aku dapat bertindak seperti formulator industri-industri farmasi me-too di Indonesia yang berusaha meniru persis produk inovator, haha. Membuat masakan me-too alias KW juga berguna untuk mengobati rasa kangen akan makanan-makanan kesukaanku yang susah kutemukan sekarang, misalnya capjay ndeso pakai kekian palsu (bukan cap cay Cina) ala warteg dekat kost-ku dulu; atau rujak kangkung yang di Jogja disebut sebagai "plecing kangkung", padahal ternyata keduanya merupakan dua jenis makanan yang berbeda. 

Satu lagi hal yang kusadari setelah aku belajar memasak adalah, ternyata benar bahwa setiap orang yang mau belajar memasak, pasti akhirnya akan bisa memasak. Practice makes perfect, walaupun aku belum perfect banget juga haha. 

Oh iya, kenapa umumnya orang menganggap bahwa orang-orang yang hobi belajar masak itu merupakan orang-orang yang sedang bersiap-siap berumah tangga ya? Bukan berarti mereka 100% salah sih, namun sepertinya dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan memasak untuk mengarungi kehidupan berumah tangga, bukan? Meskipun memang aku yang suka makan ini yakin bahwa ketersediaan dan kualitas makanan yang kita masukkan ke tubuh itu merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan ini :p A great food awakes your sense of taste and your soul as well. Makan enak aja sudah bisa bikin kita lebih happy, kan? Terus kan kasihan kalau anak-anak tidak mendapat asupan makanan yang halal, bergizi, bersih dan enak ("enak"-nya memang sengaja digaris bawah). Sedangkan menurutku memasak untuk suami adalah salah satu cara konkrit untuk menyatakan cinta. Thing I'll do after marriage. Soalnya, I want him to be the first man I am cooking for (selain adikku, ayahku dan mungkin beberapa orang lain yang beruntung kecipratan mencicipi masakanku walaupun tak pernah kubuatkan masakan secara khusus). Ternyata sebegitu pentingnya arti makanan buatku ya? Hehe...dasar aku suka makan.

Memasak untuk seseorang itu benar-benar merupakan tanda cinta
Bukankah menyenangkan, pulang saat petang dan ditawari makanan hangat yang baru saja dimasak?
Bukankah rasanya dicintai, ketika dibuatkan camilan kesukaan di sore hari?
Bukankah menentramkan, kala mengetahui makanan kita malam ini disiapkan secara teliti dan hati-hati oleh seseorang yang kita cintai?

Dan...sampai di akhir tulisan ini, tiba-tiba aku merasa lapar lagi.

22/10/14

Past and Present

Masa lalu takkan begitu menggiurkan, jika sekarang kita berbahagia.

Kangen Kampus

Beberapa saat yang lalu aku membaca sebuah artikel di internet tentang sisi-sisi kehidupan anak UGM. Bagi yang berminat bisa membacanya  di sini. Setelah membaca artikel itu, mataku berkaca-kaca karena rindu. Huaaa, aku kangen sekali dengan masa-masa kuliah di UGM dulu. Bukan berarti aku tidak bersyukur atas keadaanku yang sekarang, tapi sampai saat ini aku masih merasa bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa yang menyenangkan. Ibarat bayi yang harus lahir dari rahim ibu, saat meninggalkan masa kuliah dan memasuki dunia kerja aku pun menangis. Sebabnya, aku seperti dipaksa untuk keluar dari rahim ibu, dari kenyamanan. Siapa lagi yang memaksa kalau bukan diriku sendiri, hehe. But actually, I like to force myself like that :p

Kembali ke topik utama. Aku merasa beruntung dan senang sekali karena bisa belajar di UGM selama 5 tahun. Kuliah di UGM merupakan cita-citaku sejak SD. Saat ibuku kuliah S2, aku sering diajak pergi ke Jogja, sekalian untuk berlibur. Ibuku selalu mengajakku ikut ke kampusnya, kampus Fakultas Pertanian UGM. Saat memasuki kampus UGM yang luas, aku yang masih berusia 10 tahun langsung terkagum, Kampusnya sangat luas, bus kota masuk dengan bebas. Sejauh mata memandang, tampak para mahasiswa. Mereka tampak begitu dewasa dan pintar-pintar semua. Sepanjang jalan berdiri bangunan-bangunan sederhana yang papan namanya memuat nama-nama luar biasa, misalnya "Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam". Sungguh mengesankan. Dulu, perpustakaannya masih berupa bangunan lama, tapi tentu saja besar dan mengesankan. Sayang dulu, ketika aku masih kelas 5 SD, tak banyak buku-buku di sana yang bisa kubaca. 

Fakultas Pertanian kala itu pun tak kalah mengesankan. Di berbagai penjuru tampak kelompok-kelompok mahasiswa berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak mengerti karena mereka menggunakan banyak istilah teknis bidang keilmuan mereka. Teman-teman ibuku di pasca sarjana pertanian, seperti umumnya para mahasiswa di Jogja, juga ramah-ramah dan baik. Sembari menunggu ibuku mengurus entah apalah di suatu ruangan, aku memandangi rumput di bawah kakiku sembari bertekad. Besok kalau sudah besar, aku mau kuliah di UGM! Keinginan itu menancap benar di pikiranku. I must and I will. Meskipun saat itu aku belum tahu kalau aku akan ingin menjadi seorang Apoteker,

Ketika tiba saatnya bagiku untuk memilih universitas tempatku melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, dengan percaya diri aku memilih UGM, kampus impianku sejak kecil. Bukan, aku bukan murid terpintar di kelas, apalagi di sekolah, Tapi aku, yang selalu berusaha mengandalkan logika ini, ada kalanya bertindak berdasarkan intuisi. Intuisi "I must and I know I will" itu tadi. Seperti lagu Savage Garden yang judulnya I Knew I Loved You before I Met You, hehe. Menurutku, pada pandangan-pandangan pertama, kita telah memutuskan apakah sesuatu atau seseorang itu akan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan kita. Berdasarkan pengamatan kita di awal-awal, kita sudah tahu, kelak kita akan menganggapnya sebagai apa. When I saw UGM for the first times, I know that I must and I will, be there. Intuisi. Walaupun soal UM (Ujian Masuk)-nya susah sekali, tapi entah kenapa aku tenang-tenang saja. Mungkin karena saat itu umurku baru 17 tahun? Bisa jadi.

Aku merasa bahagia sekali ketika ibuku membangunkanku malam itu, dan memberi tahuku bahwa aku diterima di Fakultas Farmasi UGM. Saking bahagianya, aku tak bisa tidur lagi sampai pagi.

Dan tanpa terasa, sudah lebih dari setahun lalu aku lulus dari UGM. Waktu berjalan sangat cepat. It feels just like yesterday when I first spending the night alone in Jogja. I was alone, but I didn't feel alone at all. Semuanya mengalir saja. Senang, sedih, bahagia, galau, warna-warni lah. Semuanya mengalir saja. Beraneka mata kuliah datang dan pergi. Semuanya penting dan jujur, sebagian besar menarik buatku. Sekarang kusadari betapa nikmatnya berangkat pagi untuk kuliah dan praktikum seharian. Belajar dalam keadaan yang tenang dan nyaman. Di dunia kerja, belajar dilakukan sambil melakukan hal lain. Bahkan terkadang, untuk belajar tentang sesuatu yang sebenarnya berkaitan dengan pekerjaan kita, kita harus mencuri-curi waktu. I can't imagine a better place to pursue my bachelor and Apotechary degree, really. Just like I can't imagine to take another major besides pharmacy. Maybe it's my intuition speaking again, tapi beneran deh UGM itu keren banget. Googling sendiri sajalah, kenapa UGM itu keren, hehe.

Oh iya, aku sadar bahwa UGM, meskipun menurutku kerennya selangit, tetap saja mempunyai kekurangan, Kekurangan yang menurutku paling mengganggu dan mendesak untuk segera diperbaiki adalah kurangnya pengenalan terhadap dunia nyata. Dari percakapanku dengan beberapa teman sejawat Apoteker dari universitas lain, UGM (khususnya Fakultas Farmasi) memang lebih unggul di ranah teoritis. Mendalam sekali kami mempelajari orbital yang terlibat dalam reaksi kimia, proses pembelahan sel, proses terpicunya sistem imunitas spesifik, eksitasi elektron yang mendasari suatu analisa kimia, kinetika kimia dalam stabilita suatu zat aktif farmasi, apa yang terjadi antar molekul air dan minyak pada proses terbentuknya korpus emulsi. Mendalam sekali kami mempelajari teori balance score card, hierarki kebutuhan manusia, teori ciri-ciri profesi, teori komunikasi. Well, semua itu penting, namun waktu kami habis untuk mempelajari teori. Kurangnya persentuhanan kami dengan dunia nyata menjadikan kami sedikit kikuk dan terkaget ketika memasuki suatu industri, rumah sakit atau apotek. Maka sekarang aku setuju jika masa PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di industri atau rumah sakit akan ditambah durasinya menjadi 6 bulan dari semula hanya 2 bulan. Aku pun setuju jika sebaiknya kuliah tamu dari berbagai golongan praktisi ditambah frekuensinya. Sedangkan bagi mereka yang memang tertarik untuk mendalami teori, dapat melanjutkan studinya ke jenjang master alih-alih mengambil program profesi Apoteker. 

Praktikum-praktikum yang ada pun menurutku terlalu sederhana dan perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini di dunia nyata. Memang mahasiswa yang cerdas akan mampu menyari prinsip dari praktikum-praktikum yang ada untuk kemudian diterapkan dalam pengujian-pengujian lain yang lebih canggih di kemudian hari. Namun ada baiknya Farmasi UGM juga memperbaiki diri dengan memperbarui topik-topik praktikum yang telah ada. Akan lebih baik jika praktikum yang ada dirancang untuk lebih menggali kemampuan mahasiswa dalam berpikir mandiri, namun dengan tetap memelihara budaya teamwork. Mata praktikum yang telah menerapkan hal ini antara lain adalah praktikum Analisis Farmasi dan Analisis Obat, Kosmetika dan Makanan. Yang mana pada dua praktikum ini (which I proudly had ever been working at, as a technical assistant, hehe), praktikan harus mencari metode analisa untuk menganalisa suatu sediaan farmasi. Setelah itu, mereka harus mengkonsultasikannya pada dosen pembimbing sebelum menerapkan metode itu saat praktikum. It was fun, really. Meskipun ada juga yang masih mengandalkan laporan kakak kelas sebagai sumber metode analisa, tapi lumayan lah, enggak terlalu copy-paste banget. Karena kita harus mempertahankan metode itu di depan dosen pembimbing praktikum, jadi setidaknya kita harus paham tentang metode yang kita usulkan dan akan kita terapkan. Kira-kira seperti itu juga tahap pengembangan metode analisa di the real laboratory.

Ah, lagi-lagi tulisanku melebar kemana-mana.
Intinya, aku akan membeli kalender UGM 2015 di Kopma, untuk kemudian dipajang di meja kantor sebagai penawar rindu (atau malah akan semakin menambah rindu?).

Well,Have a nice day, readers :)

29/10/13

Jogja Memang Istimewa

Lima tahun lamanya aku menetap di Jogja untuk kuliah. Pulang ke Kudus sekali-sekali. Waktu hendak pertama kali pergi ke Jogja untuk menetap, sama sekali tidak ada rasa takut. Entah kenapa. Mungkin karena aku sangat excited untuk kuliah di fakultas impianku, di kampus impianku. Aku tidak terlalu memikirkan, bagaimana kalau aku homesick, bagaimana kalau aku tidak bisa menyesuaikan diri, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Aku mantap-mantap saja berangkat. Mungkin karena di sana aku mendapat teman-teman yang bener-bener tulus dan baik, karena ibu kosku care, atau karena Jogja memang kota yang menyenangkan, aku langsung merasa kerasan. Ternyata jadi mahasiswa yang ngekos itu enggak susah kok. 

Lima tahun di Jogja, banyak sekali kenangan yang kubuat bersama orang-orang di sana. Tidak semuanya indah sih, sekali lagi tidak semuanya indah, tapi pasti secara keseluruhan, kenangan-kenangan itu manis buatku dan aku enggak yakin apakah aku bisa melupakan semuanya. Di kampus, di kos-kosan dan di berbagai sudut di seluruh penjuru Jogja, aku membuat kenanganku sendiri bersama orang-orang yang kukenal di sana. Kadang pula aku pergi sendirian, tak jadi masalah. Aku kangen pada beberapa jalan di Jogja, kangen sekali. Thanks to ingatanku yang kadang enggak penting, setiap kali melewati jalan tertentu, kadang ingatanku tentang kejadian-kejadian yang terjadi di jalan itu muncul sedetail-detailnya di otakku. Lengkap dengan ingatan exact tentang hal yang kupikirkan dan kurasakan saat itu. Ah! 

Jogja benar-benar istimewa buatku.

Mungkin orang yang belum pernah tinggal beberapa lama di Jogja dan tidak menjalin hubungan dengan orang-orang di Jogja, tak akan bisa mengerti keistimewaannya.

Jujur saja, menjelang kepergianku dari kota ini, berhari-hari lamanya aku cuma tidur kurang dari 5 jam sehari (rekor banget buat aku). Aku susah tidur dan ketika terjaga, mataku langsung melek semelek-meleknya menyadari bahwa aku akan segera pergi dari Jogja. I was crying on the train that taking me away from Jogja. Perjalanan yang berat buatku. Bukan karena aku malas atau takut memulai pekerjaanku, tapi...meninggalkan sesuatu yang telah lama kita pegang itu berat sekali, kan? Makin menjauhi Jogja, kurasakan makin kuat cengkeraman daerah itu padaku. Aku ingin turun di stasiun terdekat dan asal naik saja kereta apapun yang menuju ke timur, aku mau tinggal di Jogja saja. Tapi aku enggak punya pilihan itu, kan.

Sekarang sudah sebulan lebih dua puluh hari aku tidak menginjak tanah Jogja. Rekor terlamaku, bahkan dulu ketika aku mendapatkan libur akhir semester selama dua bulan, aku masih mencari alasan untuk pergi ke Jogja. Sekedar untuk mengisi KRS dan tentu saja menemui teman-teman. Sekedar tidur semalam di kosku yang nyaman. 

Tak bisa kupungkiri bahwa hal yang membuatku sangat mencintai Jogja adalah orang-orang yang kutemui di sana. Aku bersyukur banget karena aku mendapatkan beberapa (lumayan banyak) sahabat dan teman baik selama kuliah di Jogja. Persahabatan yang dalam dan tulus itu benar-benar ada, persahabatan-persahabatan itu bersemi dan tumbuh di Jogja. Entah kenapa, persahabatan yang kubentuk dari bangku kuliah itu terasa lebih dalam dan mengasyikkan. Mungkin karena aku makin bertambah usia, sehingga aku makin memerlukan orang untuk berbagi. Untuk bercerita dan menceritakan sesuatu padaku. Mengenal orang sedalam-dalamnya sehingga akhirnya kita bisa mengenalnya lebih dari sekedar "yang terlihat dari luar" itu ternyata menyenangkan dan fulfilling. Serasa hidup lebih berarti deh, hehe. Ah, beruntungnya aku sudah mengenal mereka. Namun kenapa ya, ketika satu persatu dari mereka mulai meninggalkan Jogja sepertiku, aku masih cinta dan kangen sekali sama Jogja? Mungkin Jogja itu memang merupakan setting yang pas untuk kenangan-kenangan indah. 

Menurutku, kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul (3 kota dan kabupaten yang paling sering kukunjungi di provinsi DIY), semua relatif bersih dan teratur. Seperti Kudus juga, enggak jorok lah kotanya. Tidak semua kota dianugerahi ke-tidak-jorok-an seperti itu lho. Di Jogja, kita bebas berjalan kaki kemanapun tanpa takut akan menginjak sampah atau terkena lumpur hitam yang baunya enggak enak. Walaupun sekarang mulai sering macet, tapi jalanan di Jogja masih relatif teratur. Makanan di Jogja juga enak-enak dan masih relatif murah. Aku enggak suka gudeg, tapi itu bukan halangan, masih banyak pilihan lain. Terus orang Jogja itu mayoritas ramah-ramah banget. Ya ada juga sih yang judes, tapi mereka yang judes itu adalah para outlier yang jumlahnya enggak banyak, haha. Di Jogja, mau cari apa-apa juga gampang. Dari barang paling sederhana sampai paling canggih, bisa didapat. Maklumlah, Jogja kan kota pelajar sekaligus kota pariwisata. Jadi para pengusaha kreatif di Jogja pun berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhan para pendatang maupun para turis yang maunya kadang aneh-aneh, hehe. 

Parahnya, sepertinya aku lebih hafal tempat-tempat di Jogja daripada di Kudus :o Ya, buatku Kudus itu akar, asal. Sejauh apapun aku melangkah hari ini dan nanti, aku akan selalu ingat akarku. Dasarku. Kudus juga rumah buatku, kan ayah dan ibuku ada di sana (meskipun sekarang ibu dan adikku pun sedang menuntut ilmu di Jogja, ahhh beruntungnya mereka). Kudus adalah tempat aku akan selalu kembali. Kudus yang tenang dan simpel, Kudus yang kecil dan nyaman untuk ditinggali. Kudus itu ibarat orang tua. Namun Jogja ibarat teman. Teman yang selalu menyambut kita kapanpun kita meninggalkan rumah. Teman yang selalu siap sedia menemani kita bersenang-senang, juga menampung kesedihan kita. If Kudus is calm and reserved, then Jogja is fun and friendly.

Aku enggak tahu siapa yang menciptakan slogan "Yogyakarta Berhati Nyaman", mungkin ia seseorang yang lama tinggal di Jogja kemudian pernah pergi meninggalkan Jogja; kemudian tiap kali kembali ke Jogja, hatinya terasa nyaman kembali. Mungkin. Bukan cuma aku lho yang kangen sekali sama Jogja, banyak teman-teman kuliahku yang sekarang sudah meninggalkan Jogja sepertiku juga merasakan hal yang sama. Jogja memang istimewa. Jogja selalu menarikku untuk kembali. Tak lama lagi, insyaallah. Walau sekedar tuk memuaskan mata, hati dan telingaku akan suasana Jogja. Dan tentu saja untuk menemui sahabat-sahabat :)

Akhir kata, aku ingin menutup postingan lebai penuh kerinduan ini dengan sebuah lagu dari band Everyday, judulnya "Kapan ke Jogja Lagi". Ah, lagu ini aku banget.


Kapan ke Jogja Lagi
(Everyday)

Berbagi manisnya secangkir teh hangat
Menikmati canda dan tawa di sudut jalan
Duduk dan santai, sekedar cerita bersama sahabat
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Oh, kali ini aku jatuh cinta
Bukan pada orang, tapi pada suasana dan kota
Kenangan indah dan manis hias tawaku penuh riang
Hatiku nyaman, hatiku senang, dududududu

Seribu kenangan dan kisah buatku ingin kembali
Nikmati lagi, jatuh cinta lagi
Hati indah dan ceria kan selalu aku rindukan
Hatiku senang, hatiku nyaman, dududududu

Dan hatiku bertanya, kapan ke Jogja lagi? 
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan ke Jogja lagi?
Kapan?

Jogja menyimpan banyak cerita
Kisahku, kisahmu dan mereka....

:))))

15/09/13

Rantau 1 Muara by Ahmad Fuadi (A Far From Professional Review by Me)

I am so into Indonesian auto-biography novels. I had ever written how much i like Laskar Pelangi and Negeri Lima Menara series. I love to read or listen other people's success stories: how they struggled and succeed, their ups and downs. I like real stories better than fiction. 

So, right after my big exam some months ago i bought a really, really good novel. It is the last novel of Negeri Lima Menara Trilogy. I think this book is the best between the three books of the trilogy. And i am so thankful that i read that book at the right time, right at the time i needed it the most. This book is so inspiring for me. Ahmad Fuadi, the writer, wrote his hope on writing his last novel:

"Bagi anda yang sedang heboh mencari kerja, yang sedang harap-harap cemas menanti jodoh dan yang sedang berjuang mencari makna hidup. Mungkin novel ini bisa jadi penggelora pencarian-pencarian besar itu" (Fuadi, 2013).

Well, I can say that his hope is coming true, at least for one of his readers. Me :)
I want to emphasize again that i think i read (verb-2) this novel at the right time. That times, I was about to graduate from university and i was questioning many things. Some big, fundamental things regarding my future and I was confused. This novel was kind of..inspiring and saving me, haha. 

This novel, just like the two previous novel, tells us about Alif's life, adapted from Ahmad Fuadi's real life stories. This novel tells his life after he finished his glorious university years (due to his hard work and determination he had been joining student exchange program and earned some great experiences and achievements). Yep, he had to go back to Indonesia to get a job because he should support his mother and his sister financially. Unfortunately for him, he graduated in the wrong time. The time that Indonesia had a monetary crisis and political instability, so it was so hard to find a job. He caught in debt. Once a multinational company would hire him, but before he even started working, he was fired due to economic and political instability. I could imagine how he felt at that time. I think I know exactly how he felt, haha. He was the best student in his class, yet he got rejected everywhere. He had to face rejection, desperation and debt collector...reading his story, I couldn't help but think that I am luckier, at least my financial condition is better than his. My parents are perfectly capable of supporting me. But to get a job is not just about the money and financial independence, right?

Well, everything happens for a reason. For Alif, the reason why he didn't make it to that multinational company was because Allah had made a beautiful scenario for his life. He ended up got a job as a journalist in a well-known idealist media. A job that brought him to the love of his life. Yup, he met Dinara, a woman journalist and fell in love with her. The first time he looked into her eyes, he couldn't get his mind off her. They came from different background. Alif was a new journalist whose salary had to be shared with his mother and sisters; yet Dinara was a rich people's daughter. But they had tons of meaningful yet fun conversations and got to know each other better. Alif then found out that Dinara was not another trendy girl. She was different. Tons of conversations later brought them closer than ever and eventually everyone in their office knew that there was something special between them. 

Just when everything about them seemed right, Alif had to go to United States to pursue his dream to study there. Knowing he was about to go to US, Dinara pulled back from him. She didn't even talked to him and acted so aloof until his last day in Indonesia. Honestly, I cried on the last paragraph of page 193, haha. Does everyone in their 20-s have to experience that feeling? Galau, ragu, takut, bingung, ingin menyerah? Maybe.

Thank God, just before he left for his flight, DInara told him, "call me!". He thought about her and her last message on his flight and called her right after he landed in US. Long story short, Alif said that he felt so close to her regardless the fact that they were on two different sides of the world. They communicated via e-mail, chat and phone call. But deep down, Alif felt unsure about their relationship. He called their relationship by "Undefined Long Distance Relationship", a phrase he coined by himself. That was until he attended a pengajian in Indonesian Embassy titled "Lima Langkah Mencari Jodoh dan Memulai Rumah Tangga". Allah has always make a way to make something happens. Allah will grant our wishes, at his own time, by his own style. Kun Fayakun, Alif proposed to DInara via webchat and after negotiating with Dinara's parents, they got married in Indonesia. 

After marriage, Alif and Dinara went to US. Ahmad Fuadi conveyed that marriage is not easy. Life doesn't magically turn beautiful, fairy tale-like stories after marriage. After their first fight, Alif found out that marriage really is about sharing and understanding, not about asking and hoping. Together, they faced everything in their life. Just like Billy Joel's song, they took the good times and bad times. Together, they live their live for one purpose, God. The Entirely Merciful, The Sovereign. Muara segala muara.

"Hidupku kini ibarat mengayuh biduk membelah samudra hidup. Selamanya akan naik-turun dilamun gelombang dam ditampar badai. Tapi aku tidak akan merengek pada air, pada angin, dan pada tanah. Yang membuat aku kukuh adalah aku tahu ke mana tujuan akhirku di ujung cakrawala. Dan aku tahu aku tidak sendiri. Di atas sana, ada Tuhan yang menjadi tempat jiwa ragaku sepenuhnya bertumpu. Di sampingku ada Dinara. Temanku merengkuh dayung menuju muara. Muara di atas muara. Muara segala muara" (Fuadi, 2013).

I have read this novel several times, over and over again everytime I feel like I need. Sometimes, I compare my own stories with Alif's stories. I haven't reached my final conclusion about my life, and I probably won't reach it immediately. But I will keep walking for my life, or keep running for that matter, if it is what it takes. Because "man saara ala darbi washala", siapapun yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Whoever walks in his/her way will eventually reach his/her destination. 

Thank you Ahmad Fuadi, for sharing your life stories through this beautifully written novel. I might not have reached my destination(s) yet, but I am sure I will. Because I will keep walking and I have Allah With me :)



References:
Fuadi, A., 2013, Rantau 1 Muara, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

12/04/13

Outfit Effect

Jujur ya, menurutku kuliah profesi itu lebih membosankan daripada kuliah s1. Really, kecuali untuk beberapa mata kuliah seperti farmakoterapi, kadang aku ingin membuang handout dan berkata "Forget these theories, I will do it my way".  Tapi tenang aja, aku enggak pernah benar-benar melakukannya kok. Haha, enggak usah ditiru ya. Untunglah ada kegiatan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) yang walaupun awalnya menakutkan untuk dibayangkan namun ternyata sangat memberikan warna pada  kuliah profesi ini.

Oh iya, aku itu orang yang suka mencari-cari alasan untuk tetap semangat dan bahagia. Mmm, sebenarnya salah satu hal yang membuatku lebih semangat dan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk kuliah profesiku ini adalah....my outfit alias pakaian yang aku pakai untuk kuliah. Hahaha, I sound so shallow, ain't I? Tapi enggak apa-apa dong. Meskipun mungkin alasanku itu konyol, tapi selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, kenapa tidak? :)

Nah, di kuliah profesi ini, aku tidak diperbolehkan memakai jeans dan kaos. Awalnya aku merasa agak sedih. Berakhir sudah masa-masa kuliah yang indah dalam balutan celana jeans (lebai deh, haha). Tapi lama kelamaan aku menikmatinya. Toh kalau main kan masih bisa pakai jeans. Saat memakai pakaian buat kuliah profesi, kayaknya aku terlihat lebih rapi dan lebih dewasa. Begitu pula dengan teman-temanku. Kelihatan beda deh. Tapi meskipun aku terlihat lebih serius, who was I lying to, the girl in office outfit that bought ice cream and Chiki balls after class? Hahaha, habis es krim dan 'jajan anak kecil' itu enak sih. Kayaknya berapapun umurku, jajanan semacam itu akan tetap menjadi guilty pleasure-ku.

Style favoritku selama kuliah profesi sangatlah simpel:
  • Blouse bermotif bunga-bunga berbahan katun yang nyaman dan bagus menurutku
  • Jilbab polos yang berwarna senada dengan blouse bunga-bungaku
  • Long skirt polos berbahan tebal dan kaku (aku enggak tahu jenis kainnya)
  • Creamy-colored wedges

Simpel kan? Aku emang enggak mau memakai pakaian yang membuatku ribet saat duduk, jalan atau berlari. Enggak, memakai rok tidak membuatku jadi lemot kalau jalan kok. Bahkan berlari atau loncat-loncat pun masih bisa, haha. Awalnya ribet juga pakai rok, harus pakai legging segala, tapi lama-lama terbiasa juga. Dan enggak tahu kenapa, efek berpakaian ala wanita karir saat kuliah itu unik juga. Rasanya aku ingin menjadi lebih baik. Malu dong kalau pakaian sudah rapi dan elegan begitu tapi enggak bisa jawab pertanyaan dosen. Atau dapat nilai jelek. Atau ketauan bengong di kelas. Pokoknya kalau sudah berpakaian niat banget gitu, rasanya ada tambahan semangat buat berusaha dengan lebih baik selama kuliah deh :)

BTW, aku jadi sadar kalau aku belum pernah foto sendirian dengan style favoritku ini. Selalu aku berfoto bareng teman-teman. Seringnya sih, aku yang jadi fotografernya, haha. Foto ini aja hasil cropping.


Menurutku, sedikit banyak pakaian itu punya kemiripan dengan makanan. Iya, keduanya memang sama-sama merupakan kebutuhan pokok. Namun pilihan yang kita buat atas keduanya juga memberikan dampak bagi kita. Makanlah sesuatu yang sehat, dan kita akan menjadi dan merasa sehat. Pakailah suatu pakaian yang bagus menurut kita dan kita akan merasa bersemangat :D

10/11/12

Never Too Old to Learn?

Pernah baca sebuah posting di 9gag, bahwa di dunia ini ada "billions of character to play with, indefinite ways to make you feel alive". Bener juga sih, terutama klausa kedua tuh, perlu digaris bawahi...begitu banyak yang bisa kita lakukan di dunia ini. Begitu banyak yang bisa kita nikmati dan pelajari, begitu banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik. 

Kemana saja ya aku kemarin-kemarin? Saat masa domisiliku di kota ini (mungkin) sudah tidak lama lagi, berbagai kesadaran bermunculan di kepala. I want this, I want that...yah, meskipun penyesalan selalu datang terlambat (karena kalau datang lebih awal namanya perjanjian -_-) namun tidak apa-apa. Kan katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar. Meskipun ternyata kata-kata pamanku bertahun-tahun lalu sekarang terbukti benar: Banyak belajar, banyak bingung. The more I learn, the more I don't know. Jadi biar tidak bingung, sebaiknya kita tidak usah belajar. Tapi kita jadi enggak tahu kalau kita belum tahu kan.

So, what will you choose, readers? To know or happily not to know? :)

15/07/12

Authentic Fashion Style from Indonesia (Batik and Kebaya)

Fashion of Indonesia? I used to think that it's batik, batik and batik. Honestly i am quite fond of batik. When I enter a batik store, i can say that every batik has its beauty, all of them are exquisite and I can't decide which one is the worst. Of course, it would took me at least 20 minutes to choose one batik to buy, but really! It's not because all of them are boring. All of them are beautiful and it will cause me a confusion in deciding which batik to choose. The style of batik motif differs significantly in every area, that's why we know Cirebon's batik, Yogyakarta/Solo's batik, Kalimantan's batik, etc. My lecturer had ever worn an unique batik shirt once, he said that it is Irian's batik. It has a cenderawasih (Irian's specific bird species) motif on it, so unique :)

Once i went to Lasem (a kecamatan in Rembang, a city in the eastern part of central java), and I instantly fell in love with Lasem's batik. heir motif are so beautiful and their colors...yeah, their colors are amazing. Not like Yogyakarta's or Solo's batik which are mostly dominated by earth-colored color tone, Lasem's batik always has this colorful, fresh and bold color combination in every one of them. The only thing that makes my love to Lasem's batik broke into pieces was only its price. My favorite fabric costed Rp 300.000,- (about 30 US$). Were you kidding me? So far, I don't have, and have never bought any top costed more than Rp 130.000,- (about 13 US$). Actually the price of Lasem's batik was reasonable in my opinion, because it's a batik tulis (i mean the motif was drawn manually by hand, so do the whole making processes, they were done manually too). The Lasem's batik artist  are using natural colorant too, so the price is higher than other batik from other areas of Indonesia. But Rp.300.000,- for a piece of clothing was still too expensive for me. It's better used as home decoration, not as clothing material because it's so beautiful and expensive. So Lasem's batik...if you'll excuse me, I am going to study and work hard so I can be rich and bring you into my closet. 

A few days ago, I went to a boutique with my friends. Mmm, wait, can I call it a boutique? Actually it's just a little shop who sells and rentals kebaya and suit, the room is not arranged artistically, so let me just call it a shop, okay? We were planning to hire a make-up artist to do some make-up on us for our graduation, which is supposed to be held on August 28th (amin). One of my friend rented a kebaya too. I didn't rent a kebaya because i am planning to wear my mother's kebaya (which is now MY kebaya because she gave it to me) in my graduation. My mother brought the kebaya from Kudus on last thursday. With minimal equipment (a belt) I tried to wear the jarik (long fabric, usually batik or tenun used as long skirt), then I wore the kebaya. I got a little bit too excited and asked my mother to take a picture of me wearing kebaya. As if it wasn't enough, I took a mirror picture of myself like an alay girl I was. 

"Alay Picture" (according to my brother, but let's not focusing on him, haha)

Actually the kebaya I wore in the picture above is older than me. My mother wore it at her wedding, at the ceremony called midodareni (my parent's wedding was based on Javanese tradition). Personally, i really love this kebaya. I think it is kind of romantic to wear my mother's wedding dress (wedding kebaya in this context, LOL).  I have ever worn this kebaya before in my junior and senior year of high school, in Kartini's day celebration. Actually it needs a little adjustment in order to fit petite-me perfectly, but I really like to wear it and I feel comfortable and confident on it. I love its color as well, combination of black and fuschia. I had ever had a wallet with the same color combination too. I think black represents toughness and mystery, but fuschia adds a feminine touch in a right dose, gives it a nice balance. In bahasa Indonesia, I called it berkarakter. Hahaha, what an amateur opinion from a girl who thinks she know many things (sok tahu). 

And since last thursday, i decided that I love kebaya too...it is designed for woman (you don't say Lia?? of course it is -____- ). Haha, i meant that kebaya is gorgeous and elegant..and it suits a woman well. When a woman wearing a set of kebaya, she will walk more gorgeously, watching her every step. Not that I am an activist of female right suppression, but wearing kebaya makes a woman look and act more feminine, and I like it. Not to mention that when a woman wearing kebaya, she will look perfectly-dressed.

"Dress shabbily and they remember the dress; dress impeccably and they remember the woman" - Coco Channel

I ended up renting a more glamorous kebaya for my graduation, as my mother's advice, but I think I will wear my own kebaya for special occasions. So, anyone throw a wedding party? Invite me, if i think my kebaya suits your party, I'll wear it happily, haha :)




11/05/12

Music for Ear and Eye

Ternyata tidak harus menunggu sampai tanggal 26 Juli untuk menunggu video klip lagu Payphone dirilis. Iya sih, memang album terbaru Maroon 5 baru akan dirilis pada tanggal tersebut, tapi video klip hits pertamanya sekarang sudah bisa dilihat di Youtube. Senangnya :-D





Ini liriknya (tapi tanpa bagian rap-nya ya, maaf, hoho). Seperti biasa, khas Maroon 5, kalaupun harus galau, maka galaunya pun bukan galau menyerah pasrah. Namun, menurutku galaunya berkata, "come back to me, you know i'll always treat you like a queen", seperti juga lagunya yang lain, Misery, She Will be Loved, Won't Go Home Without You...haha, sok tahu banget ya aku.





Payphone

(Maroon 5 feat. Wiz Khalifa)


I'm at a payphone trying to go home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we've made for two?



Yeah, I, I know it's hard to remember

The people we used to be
It's even harder to picture
That you're not here next to me
You say it's too late to make it
But is it too late to try?

And in our time that you wasted
All of our bridges burned down
I've wasted my nights, you turned out the lights, now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to go home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of s**t
One more fu**ing love song I'll be sick

You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow
But just gave it away
You can't expect me to be fine
I don't expect you to care
I know I've said it before

But all of our bridges burned down
I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to go home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we've made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
And all those fairytales are full of sh*t
One more fu**ing love song I'll be sick
Now I'm at a payphone...

Nice lyrics...meskipun menurutku videonya enggak nyambung sama liriknya, tapi aku tetep heboh dalam hati waktu lihat adegan si Adam berusaha keluar dari scene perampokan itu. Aaaaaaaaaaaa banget deh :D
Di youtube sendiri banyak pendapat orang-orang yang berusaha memahami arti video itu. Mungkin ada sebuah metafor di dalam video itu. Tapi gimana aku bisa berpikir keras untuk memikirkan metafora di balik video klip itu kalau Adam levine yang jadi aktornya, hahaha. I ended up commenting like this in youtube:


How about this: Adam is the bad guy, he is the robber also. Other robbers were shooting at him, but not even one bullet hit him (just so people won't think that Adam is on their team). Adam could care less about other people, but he saved the office girl. At 0.51, watch his expression as he saw her. Maybe they were a lover..but something happened and their relationship ended. He still love her though. When he survived from the cops, he called her, spend all of his changes to make sure she's fine
widyaninggar148 1 second ago

This song just makes me like Maroon 5 more :) 

08/02/12

Mimpi

Aku pernah baca kalo manusia itu sebenarnya sering sekali bermimpi ketika tidur. Namun begitu kita bangun, mimpi itu segera dilupakan sehingga kita tidak ingat tahu dan tidak ingat kalau sebenarnya kita bermimpi (pertanyaan nomor 1: kok tahu? gimana cara menelitinya sehingga bisa dapat data itu? apakah alat untuk "mengintip" mimpi orang lain sudah ditemukan? hehe).

Tapi bersyukur juga ding karena kita bisa melupakan mimpi-mimpi yang kita alami ketika tidur. Soalnya, kalau buat aku sih, mengingat mimpi itu bisa bikin kepikiran.

Yup yup, mengingat mimpi itu bikin kepikiran. Aku sih agak percaya dengan teori yang bilang kalau mimpi itu salah satu cara otak kita untuk memberi tahu kita apa yang sebenarnya kita inginkan. Untuk dapat menjadi aktor, aktris atau obyek utama dalam mimpi yang akan kita ingat, suatu obyek harus benar-benar penting...maybe? Aku masih ingat salah satu mimpi saat aku masih TK. Salah satu mimpi saat SMP. Hmmm, kalau materi kuliah yang diajarkan dua bulan lalu saja aku lupa, lalu kenapa aku ingat mimpi-mimpi lama itu? Pasti para pemeran utama dalam mimpi itu penting banget.

Nah, akhir-akhir ini aku mengalami mimpi yang jelas banget. Malah di mimpi terakhir, aku sadar kalau aku ngimpi terus terbangun. Eh pas ketiduran lagi, mimpinya berlanjut. Bener-bener kayak film deh. Settingnya juga bagus lho, artistik gitu. Tapi pas bener-bener bangun dan 100% sadar (enggak lanjut tidur lagi) aku jadi mikir: Wah, ternyata sekeras apapun kita meyakinkan diri sendiri, dan mungkin orang lain, tapi sebenarnya kita tidak bisa membohongi diri sendiri. 

Actually we know exactly what we want. But sometimes we just repress it so it would be more acceptable and 'logic' for others, for our pride, or maybe for our 'idealism'. We can't run from our mind anyway, one that keeps remembering what we exactly want (me, 2012). 

Fakta-fakta tentang mimpi yang aku ingat (lagi males tanya om Google, so cek sendiri kebenarannya ya, siapa tahu aku salah ingat):
  1. Segala sesuatu tentang mimpi kita tidak muncul begitu saja. Sebenarnya kita sudah pernah melihatnya di dunia nyata. Jadi settingan mimpiku yang artistik kemarin itu bukan karena aku orang yang berjiwa seni tinggi, tapi sebenarnya aku sudah pernah melihatnya sebelumnya...setelah aku ingat-ingat ada salah satu tempat di mimpiku yang mirip dengan kolam dan taman di dekat PT.San*e Farma Steril di Padalarang, Bandung (salah satu destinasi KKL-ku kemarin, walaupun mimpiku ini enggak ada hubungannya sama sekali dengan KKL). Aku pernah baca kata-kata seorang ahli mimpi, intinya "the face you see in your dream, maybe he's the person you met in the street when you were little". Otak kita tidak membuat file baru di mimpi, cuma membuka folder aja, hehe.
  2. Orang buta juga bermimpi. Mimpi mereka muncul sebagai sensasi bau, rasa, sentuhan, dan suara.
  3. Otak mengatur tubuh kita agar kita tidak bergerak dengan lebai ketika bermimpi, so sebenarnya saat tidur kita mengalami paralisis alias kelumpuhan.
  4. Kita melupakan sebagian besar mimpi kita. Kalaupun saat bangun tidur kita bisa ingat mimpi kita, besar kemungkinan setelah beberapa jam kita akan lupa mimpi itu.
  5. Mimpi manusia-manusia di bumi ini ternyata mirip: mimpi jatuh/terpeleset, memimpikan orang dekat meninggal, mimpi terlambat, dan mimpi yang terkait seksualitas.
  6. Lingkungan luar mempengaruhi mimpi. Suara, sentuhan, dan bau dari luar bisa masuk ke mimpi kita. Otak bisa mengarang skenario dadakan untuk meyakinkan kita bahwa goyangan-goyangan dari tangan orang lain saat membangunkan kita adalah sentakan dari ular yang berusaha mematuk hidung kita (ini pengalaman pribadiku sendiri, mimpi dipatuk-patuk ular saat sedang dibangunkan). Pernah juga aku mimpi lagi mendengar suatu lagu, eh ternyata emang adikku lagi menyetel lagu itu keras-keras.
  7. Keadaan internal tubuh kita juga mempengaruhi mimpi kita. Misal kita haus, kita bisa mimpi sedang minum air. Saat bangun, waaa hausnya luar biasa alias ternyata kita haus beneran (pengalaman pribadi juga ini). Pernah juga mimpi pingin pipis tapi begitu nemu toilet enggak bisa pipis, ternyata saat bangun aku butuh ke toilet beneran alias kebelet banget, hehe.
Weird but interesting, right?

23/01/12

Dyatlov Pass Incident

Aku akan jadi orang pertama yang mengakui kalau aku itu takut nonton film horor. Alasannya sederhana, aku enggak pingin jadi orang penakut yang takut pergi ke kamar mandi sendirian kalau malam, atau pergi kemana-mana sendirian. Pokoknya aku pingin menghilangkan ketakutan pada hal-hal tidak rasional seperti takut tidur di tempat gelap (sekarang sudah enggak lagi, ternyata tidur dalam kegelapan itu baik untuk kesehatan lho), takut cacing (eww, kalau ketakutan tidak rasional yang ini sih belum sembuh benar), dan takut-takut enggak penting yang lain. Menurutku nonton film horor itu bikin paranoid enggak jelas.

Tapi, aku suka Detective Conan. Walaupun menurutku gambarnya itu creepy alias nyeremin abis, sadis dan bisa menimbulkan ketakutan tidak rasional seperti yang sudah aku ceritakan diatas. Tapi ceritanya bikin penasaran! Aoyama Gosho is a genius. Berarti kecerdasan setara Conan (Shinichi) itu benar-benar ada di dunia ini, lha wong ada orang yang bisa bikin ceritanya kok, lengkap dengan skenario cara membunuh korban segala, hiii serem! 

Kesimpulannya, secara teori, semua pembunuhan dan kematian di dunia ini bisa dijelaskan penyebabnya. Tapi ternyata ada banyak unsolved deaths di dunia nyata yang menyeramkan ini. Hmm, dunia ini butuh lebih banyak orang yang bisa berpikir seperti Shinichi Kudo.

Saat ini, baru saja aku membaca salah satu kisah unsolved death tentang kasus kematian 9 orang pendaki pada bulan Februari 1959, di Dyatlov Pass, Pegunungan Ural, Rusia. Siapa yang bisa memecahkan kasus ini? berikut data dari kejadian tersebut:
  1. Ketika tenda para korban ditemukan, tampak bahwa tenda itu dirusak dari dalam, seolah mereka sangat terburu-buru untuk keluar dari tenda tersebut.
  2. Mereka ditemukan dalam keadaan (maaf) tidak berpakaian lengkap, bahkan ada yang ketika ditemukan hanya memakai pakaian dalam. Padahal suhu saat itu sekitar -15 derajat celcius alias dingin sekali. 
  3. 2 Korban yang ditemukan pertama kali dinyatakan meninggal karena hipotermia. Ada sedikit retak di tulang tengkorak, namun itu bukan luka fatal. Namun, tanpa ada bekas-bekas penganiayaan dan pembelaan diri, korban ketiga sampai keenam ditemukan dalam keadaan patah tulang dan mengalami internal injuries yang sangat parah. Anehnya, tidak ada kerusakan pada jaringan lunak. Menurut tim forensik, kerusakan seperti itu disebabkan oleh terkena benda kecil yang bergerak sangat cepat. Perkiraan lain menyatakan bahwa diperlukan kekuatan setara sebuah mobil yang bergerak cepat untuk menimbulkan kerusakan seperti itu. Yang paling menyeramkan, salah seorang diantara mereka ditemukan dalam keadaan tidak berlidah lagi (hiii!). 
  4. Tidak ada jejak kaki yang ditemukan di TKP, kecuali jejak kaki kesembilan korban. Dan jejak kakinya itu seperti jejak kaki orang berjalan, bukan jejak kaki orang yang sedang berlari. Ingat, mereka berada pada suhu -15 derajat celcius tanpa pakaian lengkap. Kalau dilogika kan seharusnya mereka berlari-lari cari tempat yang lebih hangat. Yang lebih aneh lagi, jejak kaki itu mengarah ke arah tenda mereka, seolah mereka ingin kembali ke tenda.
  5. Ditemukan radioaktifitas dalam intensitas tinggi pada pakaian mereka, namun tidak ada jejak radioaktif ditemukan di TKP.
  6. Kulit mereka terlihat sun-kissed, alias tanned, alias warnanya berubah kecoklatan seperti orang yang baru saja berjemur di bawah sinar matahari. Padahal, sekali lagi, saat itu musim dingin bersuhu -15 derajat celcius!
  7. Kelompok pendaki lain yang berada sekitar 50 kilometer dari tenda kelompok ini melihat ada lingkaran  berwarna jingga di langit, dari arah TKP (ada yang bilang ini cuma gosip, bikinan orang-orang yang pingin membuat cerita ini jadi lebih menakutkan dari yang sebenarnya).
Cukup membingungkan, pembaca? Untuk poin nomor 2, ada sebuah fenomena perilaku yang sepertinya bisa menjelaskannya. Namanya paradoxical undressing (link dari wikipedia: klik ini). 20-50% orang yang meninggal akibat hipotermia ditemukan melakukan hal ini. Jadi alih-alih mencari pakaian lain untuk dipakai agar mereka tidak semakin kedinginan, mereka justru berusaha melepaskan semua pakaian yang melekat di badan. Akibatnya, mereka semakin kehilangan panas tubuh, dan akhirnya meninggal dunia. Penyebab fenomena ini belum diketahui pasti, namun diduga orang yang hipotermia parah itu hipotalamusnya (bagian otak yang mengatur suhu) mengalami malfungsi sehingga mereka melakukan hal tersebut. Teori lain menjelaskan bahwa ketika kedinginan, otot akan menyempitkan pembuluh darah agar tubuh tidak semakin kehilangan panas tubuh. Pada keadaan hipotermia, otot-otot itu kelelahan, sehingga akhirnya otot-otot tersebut akan berelaksasi secara spontan dan menjadikan pembuluh darah yang semula menyempit jadi melebar kembali. Selanjutnya terjadi aliran darah dan panas yang sangat mendadak, dan hal ini dipersepsikan sebagai sensasi kepanasan. Akibatnya orang yang hipotermia tadi ingin melepaskan baju hangatnya. Ya, sesuai namanya, paradoxical undressing, benar-benar sebuah paradoks.

Opini lain menyatakan, bisa saja mereka menjadi korban dalam percobaan senjata baru Uni Soviet, you know, the radioactivity...tapi menurutku itu belum menjelaskan semuanya. Kalau aku kok malah kepikiran UFO ya, hehehe...jangan-jangan itu kerjaan alien yang lagi penelitian. Dunia ini kan luas, egois banget kalo kita mikir bahwa cuma kita saja yang punya kehidupan. Siapa tahu di galaksi lain ada bentuk kehidupan lain yang benar-benar berbeda dari kita? Mungkin mereka enggak butuh air dan oksigen, who knows? Tapi masak mereka menghancurkan para pendaki itu tanpa sebab, apakah ada salah paham? Membingungkan juga.

Atau mungkin ini perbuatan manusia, tapi dia kejam dan psikopat sehingga pekerjaannya begitu rapi. Atau ada informasi yang ditutupi dari investigasi kasus ini? aku bingung dan penasaran! 

Yang ingin tahu lebih banyak, bisa klik disini:
atau tanya om Google dengan kata kunci "Dyatlov Pass Incident"