Tampilkan postingan dengan label nerdy me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nerdy me. Tampilkan semua postingan

06/08/13

Tipe Kepribadian menurut Helen Fischer

Aha, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang sesuatu yang bertemakan pop-science. Lebih tepatnya, sudah cukup lama aku enggak menulis tentang apa-apa di blog ini, huhu. Oke, kali ini aku ingin menulis tentang tipe-tipe kepribadian lagi. Sebelumya aku sudah pernah menulis tentang tipe kepribadian juga, yaitu tentang Tipe Kepeminpinan (model DISC). Nah, kalau penggolongan kepribadian menurut model DISC dibuat untuk memudahkan kita melihat tipe kepemimpinan seseorang, kali ini aku ingin menulis tentang penggolongan tipe kepribadian Love Type menurut Helen Fischer. 

Helen Fischer berteori bahwa tipe kepribadian seseorang sangat menentukan dengan siapa ia akan jatuh cinta. Beliau juga berteori bahwa ada empat kelompok persarafan (neural system) utama yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Aktivitas saraf yang paling dominan pada seseorang akan menentukan kepribadian orang tersebut. Empat kelompok neural system itu adalah sistem dopamin, serotonin, testosteron dan estrogen/oksitoksin.

Tipe pertama, orang dengan sistem dopamin yang dominan. Orang-orang tersebut memiliki kecenderungan untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Mereka suka berpetualang, spontan, pemberani (suka mengambil resiko), berenergi tinggi tapi cepat bosan. Mereka kadang mengalami kesulitan untuk 'berpikir panjang' alias sangat impulsif sehingga sering terkesan sembrono dan boros. Oh iya, mereka juga Dianugerahi daya konsentrasi yang unik, yang mana mereka bisa begitu cepat mempelajari sesuatu dalam sekejap. Kemampuan yang juga dimotori oleh dopamin ini memang mendukung hobi mereka untuk mencoba sesuatu yang baru dan keberanian mereka untuk mengambil resiko. Kita bisa menemukan mereka di puncak gunung tertinggi, menyelam di laut lepas, main paralayang, atau sedang blusukan di daerah asing. Helen Fischer menyebut mereka sebagai "the Adventurer".

Berteman dengan mereka bisa menyenangkan, aku punya dua teman akrab yang menunjukkan ciri-ciri the Adventurer ini. Mereka selalu bersemangat dan jarang banget terlihat loyo kecuali kalau lagi sakit. Pokoknya kalau dekat-dekat dengan mereka tuh jadi ikut semangat juga, walaupun mereka tidak bisa mentoleransi kebosanan dan kadang-kadang memaksakan kehendak, wkwkwk. Sifat mereka yang random dan unpredictable juga kadang menjadi hiburan tersendiri bagiku (loh?? haha). Ya, alam berpikir mereka sangat berbeda dengan alam pikirku. Mereka hobi memutuskan sesuatu dengan sangat cepat (bahkan terkesan tanpa pertimbangan logis yang cukup di mataku), tapi kuakui, dalam keadaan-keadaan tertentu kita membutuhkan orang seperti mereka dalam kelompok :) Misalnya kita lagi travelling bareng, menurutku akan sangat menyenangkan kalau ada satu atau dua orang the Adventurer dalam kelompok kita.

Menurut Helen Fischer, the adventurer cenderung jatuh cinta dengan sesama adventurer juga. Kalau poin ini sih aku setuju banget, secara logika dan secara aktual memang poin ini benar. Temanku yang tergolong the adventurer bilang kalau dia ingin seseorang yang bisa diajak berpetualang bersama. Memang menurut Helen Fischer, the adventurer ini mencari "playing mate" alias teman bermain. Berdua bersama, mereka sama-sama menjelajahi dunia.

Berlawanan dengan the adventurer, tipe kedua yaitu orang dengan sistem serotonin yang dominan, lebih suka memastikan keamanan dan berusaha meminimalkan resiko. Helen Fischer menyebut mereka sebagai si pembangun, the builder. The builder ini sangat patuh dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. The builder selalu terlihat tenang, stabil, kalem dan terkendali. Mereka juga selalu mengkalkulasi setiap resiko dari apapun yang mereka kerjakan dan menerapkan manajemen resiko untuk meminimalkan resiko itu. Sayangnya sifat itu menjadikan mereka terkesan lambat berpikir. Mereka ingin terlihat wajar di mata orang lain, selalu menuruti peraturan dan rencana yang sudah dibuat. Pokoknya mereka itu enggak neko-neko meski kadang jadi terkesan kolot dan kaku. Tampilan mereka sehari-hari klasik dan konvensional. Oh iya, mereka juga suka membangun dan memelihara hubungan dengan orang lain. Menurutku the builder itu tipe-tipe orang yang mengangguk sopan dan minta izin ke aku sebelum mereka duduk di sebelahku ketika aku naik bus umum. Atau orang-orang yang mau repot-repot menghubungi teman-temannya untuk reuni. Mereka memang tidak keberatan untuk go out of their way untuk memelihara jaringan sosial mereka dan mereka selalu tampak sopan.

Hmm, aku kenal juga sih dengan orang-orang tipe the builder ini. Ya, mereka memang tidak keberatan untuk repot, untuk ribet, untuk rempong, asal hubungan sosial mereka terpelihara dengan baik. Pilar masyarakat, begitu Helen Fischer mendeskripsikan the builder. Menurutnya pula, the builder cenderung untuk jatuh cinta dengan sesama the builder juga. Soalnya, the builder itu mencari teman bermasyarakat, social mate. Berdua bersama, mereka bisa membangun social network yang lebih luas dan lebih stabil lagi.

Kesimpulan sementara? The adventurer dan the builder cenderung jatuh cinta pada orang-orang yang sejenis dengan mereka. Like dissolves like.

Tipe ketiga, orang yang banyak dipengaruhi oleh testosteron. Testosteron memang dikenal sebagai hormon laki-laki, tapi hormon ini ada juga pada wanita. Helen Fischer menyebut mereka sebagai the director (diterjemahkan sebagai "pengarah"). Menurutnya, otak para director banyak terpapar testosteron sehingga umumnya para director itu memiliki kemampuan spasial dan matematika yang oke. Namun mereka memiliki kemampan sosial dan berbahasa yang kurang baik. Mereka pandai memahami sistem-sistem yang didasari aturan teratur (rule-based systems), misalnya tata surya, sistem pencernaan manusia, musik, mesin, komputer, bursa efek dan lain sebagainya. Daya konsentrasi mereka sangat dalam, sekali terfokus pada suatu hal mereka akan sulit untuk mengalihkan konsentrasinya pada hal lain. Ditenggarai mereka memiliki hasrat seksual dan agresivitas yang lebih tinggi pula, mengingat seperti itulah efek testosteron pada tubuh manusia. Sebagian besar director memang laki-laki, tapi ada juga wanita yang peka terhadap pengaruh testosteron tersebut dan berkembang menjadi seorang director. Kata Helen Fischer, seorang director bisa saja berwujud sebagai seorang wanita yang terkesan lembut dan feminin di luar, namun sebenarnya ia adalah seseorang yang menuntut kesempurnaan dan sangat logis di dalam, karena otaknya sudah terlanjur terpapar testosteron. Ngomong-ngomong, jejak paparan testosteron dalam tubuh seseorang bisa dilihat dari jari jemari di tangan kanannya. Orang yang terpapar testosteron selama masih dalam kandungan, akan memiliki tangan kanan dengan jari manis yang lebih panjang daripada jari telunjuknya. Tapi tidak semua director memiliki ciri fisik itu, bisa saja otak mereka baru terpapar testosteron ketika mereka menginjak masa remaja.

The director merupakan orang yang apa adanya, tak suka berbasa-basi, praktis dan pragmatis. Mereka membanggakan diri sebagai orang yang logis. Mereka memiliki standar yang tinggi dan rela melakukan apapun untuk memperjuangkan standar itu, walaupun harus bersaing. The director memang tidak takut dengan persaingan, perdebatan atau perselisihan, karena mereka memang sangat percaya diri dengan kemampuannya.  Justru mereka menyukai perdebatan yang logis untuk mencapai suatu kesimpulan. Kata Helen Fischer, merekalah sang penggapai bintang, penggerak kemajuan berpikir dalam suatu peradaban manusia. Ciri lain dari seorang director adalah "an almost perfect separation of emotion and logical thought", mereka bisa mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh emosi alias bisa sangat objektif. Masih menurut Helen Fischer, mereka adalah individu-individu yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam menahan dan mengesampingkan rasa sakit, baik sakit fisik maupun sakit hati. Pengaruh testosteron juga menjadikan mereka seorang altruis yang suka menolong dan melindungi orang lain secara spontan. Walaupun begitu, mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang lebih rendah dibandingkan tipe kepribadian lain. Mereka bisa tampak tega menjurus kejam, asyik dengan pikirannya sendiri, enggan berbasa-basi dan tidak terlalu peduli pada orang lain. Mereka kadang tampak mengintimidasi dan tidak ramah. Mereka juga tidak peka terhadap sinyal-sinyal emosi dari orang lain. Emosi membuat mereka kebingungan dan akhirnya, ketika emosi mereka benar-benar memuncak, mereka bisa saja kehilangan kontrol dan meledak dalam kemarahan. 

Menurut Helen Fischer, the director berpendapat bahwa berkencan adalah suatu tugas (bukan suatu kesenangan), dan setelah 'tugas' itu selesai mereka ingin segera beralih menyelesaikan urusan lain. Maklumlah, mereka tidak terlalu lihai melakukan multi-tasking. Karena mereka tidak terlalu memperhatikan emosi, mereka juga enteng saja meninggalkan hubungan yang tidak sesuai standar mereka. Walaupun begitu, sekali menemukan orang yang cocok, mereka akan mengarahkan fokusnya yang dalam dan luar biasa pada orang itu. The director mendambakan pasangan yang cerdas sebagai pendamping berpikir (thinking mate).

Tipe keempat adalah the negotiator. Mereka adalah orang yang banyak dipengaruhi oleh estrogen dan oksitoksin. Memang estrogen dikenal sebagai hormon wanita, namun pria juga memiliki hormon estrogen. Beberapa pria sejati menunjukkan cir-ciri dominan the negotiator ini karena mereka terkena paparan estrogen semasa dalam kandungan. Dalam sebagian besar hal, the negotiator sangat berlawanan dengan the director. Pengaruh estrogen menjadikan mereka memiliki kemampuan sosial dan verbal yang baik. Mereka lihai berkata-kata, ekspresif dan pandai membaca emosi orang lain. Mereka berusaha mencari arti dari setiap gestur, nada bicara dan ekspresi lawan bicara. Mereka pandai berbasa-basi dan suka menyenangkan orang lain, meskipun itu artinya mereka harus mengorbankan pendapat dan kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak keberatan untuk berubah dan menyesuaikan diri demi orang lain. Hal tersebut berlawanan dengan sifat the director.

Gaya berpikir mereka konsentris dan menjaring, bukan linear seperti the director. Artinya, mereka bisa melihat berbagai kemungkinan, dari berbagai sudut pandang, untuk memecahkan suatu masalah. Mereka juga lihai melakukan multi tasking. Namun mereka agak lemah dalam hal-hal teknis seperti membaca peta atau memahami cara kerja mesin-mesin. Mereka juga sering terlihat ragu-ragu dan tak tegas, serta terlalu sensitif akan perasaannya sendiri maupun perasaan orang lain.

The negotiator berpendapat bahwa jatuh cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya pada orang yang dijatuh cintai. Mereka imajinatif dan romantis meskipun kadang tak logis. Menurut Helen Fischer, the negotiator mencari teman jiwa alias soulmate.

You know what, menurut Helen Fischer, director cenderung jatuh cinta pada negotiator, begitu juga sebaliknya. Mungkin terdengar aneh ya? Sifat mereka sangat berlawanan...tapi kenyataannya mereka memang saling menarik dan tertarik kepada satu sama lain. Mungkin ini yang namanya opposite attracts, yin-yang, perbedaan yang melengkapi, atau apalah itu istilahnya. Rupanya, baik director maupun negotiator sama-sama mencari percakapan yang berbobot dan teoritis. Mereka tidak menyukai percakapan yang dangkal tanpa substansi. Bedanya, director meninjau suatu hal dari satu perspektif dan negotiator meninjau suatu hal dari berbagai perspektif. Menurut Helen Fischer juga, dengan perbedaan gaya berpikir ini, mereka justru bisa bersinergi untuk memecahkan masalah apapun, they make a great team gitu deh. Melalui percakapan, mereka saling menarik satu sama lain. Kalau menurut Helen Fischer, fenomena ketertarikan antara dua pribadi berlawanan ini disebabkan oleh insting biologis manusia untuk mencari pasangan yang dapat melengkapi gen-gennya. Sehingga ketika nanti mereka mempunyai anak, anak mereka nantinya bisa menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik dibanding mereka. Saling melengkapi begitu, kali ya?

Penasaran dengan tipe kepribadian ini? Coba ikut tesnya di sini. Aku sudah dua kali mencoba tes itu, kali pertama memakai bukunya Helen Fischer (judulnya Why Him, Why Her?) dan yang kedua memakai kuis online di link yang aku tampilkan di kalimat sebelum kalimat ini. Hasilnya sama kok, so aku menyimpulkan bahwa tes ini cukup robust dan precise ^.^ aku sama sekali tidak kaget ketika mengetahui hasil tesku. Bener banget sih menurutku, haha. Perlu diketahui, selain tipe kepribadian utama, menurut Helen Fischer tipe kepribadian kedua juga cukup mempengaruhi kepribadian seseorang. Jadi nanti hasil tes kita akan disajikan dalam format tipekepribadian1/tipekepribadian2, misalnya negosiator/petualang, atau pengarah/pembangun. Iya sih, menurutku tidak ada seorang pun yang murni seorang adveturer, builder, director atau negotiator. Kita adalah kombinasi yang khas dari keempat traits itu.

Akhirnya..aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan "percaya enggak percaya, terserah anda", hoho. Iya sih Helen Fischer mengemukakan teori-teori yang kukemukakan di atas berdasarkan penelitiannya yang dilakukan bertahun-tahun dan melibatkan ribuan responden. Menurutku hasil penelitiannya masuk akal kok. Tapi sekali lagi, mau percaya atau tidak, semuanya terserah anda.

Semoga tulisanku ini bermanfaat. Have a good life, reader!

10/04/13

Vaseline Complete Care - Body Lotion That Works

Disclaimer: Posting ini dibuat untuk kepentingan review saja, tidak dimaksudkan untuk kepentingan promosi. Produk yang diulas dalam postingan ini dibeli dengan uang pribadi saya. Untuk masalah kulit yang lebih serius, berkonsultasilah secara langsung dengan dokter spesialis kulit dan apoteker anda :)

Tanpa terasa, sudah cukup lama juga aku tidak menulis review kosmetik. Kenapa ya? Aku sendiri juga heran. Padahal mengamati kosmetika yang beredar di pasaran itu sebenarnya minatku. Melihat-lihat komposisi kosmetik yang dipajang di rak supermarket itu menyenangkan, apalagi kalau supermarketnya lagi sepi sehingga aku tidak perlu menolak tawaran para sales girl kosmetik yang mempromosikan produknya, hehe.

Kali ini aku akan menulis tentang body lotion Vaseline Complete Care.



Body lotion ini diproduksi oleh PT. Unilever Indonesia, Cikarang, Bekasi. Namun Vaseline sendiri merupakan merk internasional yang telah ada sejak tahun 1870 dan sekarang berada di bawah bendera Unilever Global. Vaseline Complete Care merupakan salah satu varian body lotion Vaseline di Indonesia selain Vaseline Healthy White Healthy White, Vaseline Total Moisture Aloe Fresh, Vaseline Cocoa Glow, Vaseline Firming dan lain-lain.

Aku mulai memakai lotion ini kira-kira setelah ujian skripsi terbuka (inget banget ya, haha). Kenapa aku tertarik untuk membeli Vaseline Complete Care ini? Dulu aku merasa kulit tangan dan kakiku lumayan kering. Ya enggak sampai bersisik atau mengelupas sih, tapi kalau dipegang dan dielus kok kurang licin menurutku. Kalau dibandingkan dengan kulit tubuh yang lembab, halus dan licin, wah jauh banget. Padahal sudah teratur pakai body lotion lho. Maka aku pun berpikir untuk mencoba body lotion baru yang lebih ampuh untuk melembabkan dan menghaluskan kulit.

Tak lama setelah itu aku melihat body lotion yang dipakai ibuku di rumah. Saat itu beliau memakai Vaseline Complete Care ini. Dari tulisan di kemasannya, aku jadi tahu bahwa body lotion ini mengandung AHA dengan kadar 8,6%. Cring! Aku jadi ingat kuliah kosmetologi. AHA (Alpha Hydroxy Acid) atau asam alfa-hidroksi sebenarnya adalah nama golongan senyawa kimia. Menurut ilmu kimia organik yang kuketahui, AHA merupakan asam karboksilat yang memiliki tambahan gugus hidroksil di atom karbon pertama setelah atom karbon hidroksilnya, zzzzz ya pokoknya gitu deh (skip aja penjelasan ini, haha). Salah satu anggota golongan senyawa AHA yang digunakan dalam perawatan kulit adalah asam laktat, dan asam laktatlah yang terkandung dalam Vaseline Complete Care.

Lantas kenapa asam laktat dalam Vaseline Complete Care ini membuatku mau membeli dan memakai body lotion ini? Adakah hubungan antara struktur kimia asam laktat dengan aksinya dalam menghaluskan kulit? Haha, tentu saja ada, tapi aku enggak mencari tahu sampai segitunya kok. Yang jelas, sudah banyak penelitian in vivo yang membuktikan efektifitas asam laktat dalam menghaluskan dan meningkatkan kelembaban kulit. Hal ini antara lain dikarenakan oleh sifat asam laktat yang suka air (dapat menarik molekul air). Jadi, kelembaban di kulit kita tidak akan mudah hilang jika kita memakai lotion yang mengandung asam laktat. 

Asam laktat juga berfungsi sebagai chemical exfoliant alias zat yang dapat mempercepat pergantian sel kulit mati dengan sel kulit baru. Efek exfoliant dari asam laktat ini dapat menjadikan kulit lebih halus, lebih lembut, lebih ‘licin’ (istilahku sendiri, haha), membantu mencerahkan kulit dan menghilangkan noda-noda hitam di kulit. Sebenarnya secara tradisional kita juga bisa pakai lulur sebagai physical exfoliant, tapi selain memakan waktu, kadang butiran lulur juga terlalu kasar sehingga dikhawatirkan terjadi iritasi. Selain itu menurutku efek melembabkan dan menghaluskan dari lulur hanya bertahan singkat, tidak sebanding dengan waktu yang dikeluarkan untuk luluran, hehe. Hmm, kalau aku pingin efek halus dan licinnya aja sih, aku sudah suka dengan warna kulit tubuhku ini kok. Meskipun enggak putih tapi kan warnanya sudah merata, hoho.

Oh iya, hampir lupa, selain berperan dalam melembabkan kulit dan mempercepat pergantian sel kulit (exfoliant), asam laktat juga dapat mempercepat pembentukan kolagen. Oleh karena itu asam laktat kadang dipakai dalam formula kosmetika anti-aging alias kosmetik yang ditujukan untuk memperlambat proses penuaan. Kalau pembentukan kolagen dipercepat, kulit akan menjadi lebih kencang dan akan lebih lambat menua, soalnya penuaan kulit itu antara lain disebabkan oleh menurunnya produksi kolagen.

Walaupun begitu, semua zat tetap merupakan racun jika tidak digunakan dengan tepat. Asam laktat juga begitu. Walaupun menurut para ahli perawatan kulit asam laktat digolongkan sebagai AHA yang lumayan smooth alias enggak galak alias lembut untuk kulit, namun tetap saja ada efek tidak dikehendaki yang timbul pada orang-orang yang memang sensitif. Efek tidak dikehendaki itu antara lain timbulnya rasa panas, merah atau gatal pada kulit. Memang sedikit rasa panas atau gatal itu wajar saat awal-awal pemakaian, karena asam laktat itu kan exfoliant. Kadang kalau habis luluran juga kan terasa agak perih kan? Ibaratnya, kulit kita sedang digosok untuk melepaskan sel kulit matinya, kan wajar kalau timbul sedikit rasa panas atau pedih. Namun kalau gejala kemerahan, panas, perih dan gatal pada kulit dirasakan mengganggu dan terjadi terus-menerus setelah pemakaian, berarti orang tersebut memang tidak cocok dengan asam laktat dan tidak boleh memakai lotion ini.

Selain itu, asam laktat juga dapat menyebabkan hipersensitivitas terhadap sinar matahari. Maksudku, asam laktat dapat menyebabkan kulit jadi lebih peka terhadap sinar matahari, misalnya jadi kulitnya akan lebih cepat memerah dan terbakar setelah terkena sinar matahari dibandingkan dengan kulit yang tidak memakai asam laktat. Oleh karena itu, menurutku sebaiknya kita pakai lotion ini di sore hari saja. Sebaiknya jangan memakai lotion ini sebelum kita beraktivitas di bawah sinar matahari. Kalau kita sudah teratur memakai lotion ini pun, sebaiknya hindari paparan sinar matahari dengan cara memakai baju tertutup, payung, slayer dan sarung tangan.

Wah panjang juga ya penjelasanku tentang asam laktat, alasan utamaku memakai lotion ini. Aku memakai lotion ini sehari sekali, yaitu sehabis mandi sore. Saat kulit masih lembab, oleskan body lotion ini agar kelembaban sehabis mandi itu dikunci oleh asam laktat yang terkandung dalam lotion. Aku tidak memakainya di pagi hari sebelum beraktivitas untuk meminimalkan efek sensitif terhadap sinar matahari (padahal kulit tubuhku itu ala badak banget alias gak sensitif, haha..tapi jaga-jaga sajalah). Pada pagi hari aku pakai lotion atau body butter lain sesuai kebutuhan, merk-nya ganti-ganti tidak jadi masalah. Kalau sedang banyak beraktivitas di ruang ber-AC ya pakai body butter. Kalau sedang sering naik motor atau beraktivitas di luar ruangan ya pakai lotion yang mengandung tabir surya (misalnya yang mengandung etil parametoksi sinamat). Kalau lagi kumat pelitnya ya pakai lotion yang murah aja -_- haha.

Bagaimana hasilnya?
Menurutku hasilnya bagus sih. Kulitku jadi lebih halus dan tidak kering lagi. Berarti benar kalau asam laktat memang bagus untuk memperbaiki kelembaban dan kehalusan kulit. Tapi aku baru ingat kalau kulit tangan dan kakiku itu berbulu halus namun lebat dan panjang...hahaha, jadi walaupun pakai body lotion sehebat apapun ya tetap gak bisa licin banget kecuali kalau di-shave, haha. Tapi setidaknya kulit jadi lembab, halus dan tidak kering. Suka deh :D efek melembabkannya awet, bukan sekedar lembab di awal tapi beberapa jam kemudian kering lagi.

Oia, terakhir aku membeli body lotion ini seharga Rp. 21.300,- untuk kemasan 200 ml (aku beli di supermarket dekat kawasan UGM). Harganya memang sedikit lebih mahal daripada kompetitiornya, namun mengingat manfaatnya aku merasa harga segitu wajar deh buat body lotion ini. Menurutku, daripada beli body lotion merk terkenal yang mahal namun belum teruji manfaatnya, mending beli ini lah. Kandungannya jelas, asam laktat, sudah terbukti efektifitasnya. Haha, jangan-jangan manfaat yang kudapatkan setelah empat tahun lebih belajar ilmu farmasi adalah bisa memilih body lotion that works alias body lotion yang efektif ya? ;p

Dari skala 1-10 aku memberikan nilai 8,8 untuk body lotion ini. Dan aku akan selalu membeli lagi body lotion ini alias repurchase over and over again mengingat dia punya manfaat anti aging juga. Begitulah review-ku tentang body lotion Vaseline Complete Care. Semoga bermanfaat :)

16/06/12

Vaksin

Kemarin, hari Kamis 14 Juni 2012, PIOGAMA mengadakan diskusi kecil-kecilan, namanya PoPi (Pojok Piogama). Waaah, sebagai anggota yang baik (maksudku anggota yang galau enggak punya kerjaan), tentu aku datang dong, apalagi fasilitator diskusinya dosen favoritku. Menurutku, kuliah yang diberikan dosen itu keren, nyeleneh tapi membuka wawasan, I think moral of his lectures is: Sebelum mempercayai berita yang beredar di luar, kita harus berpikir kritis dan mencari dasar ilmiah dulu. Wah bakalan panjang sih kalau aku tulis semua yang membekas dari kuliah beliau...di kesempatan ini aku ingin menuliskan beberapa hal yang aku mengerti dari diskusi itu. Tapi enggak semua ya. Oh iya, diskusinya berjudul "Manfaat dan Resiko Vaksin, Mana yang Lebih Besar?".


****

Sejak pertama kali dikembangkan oleh Edward Jenner, manfaat vaksin dalam peradaban manusia yang paling remarkable sampai saat ini adalah kesuksesan vaksin dalam mengeradikasi (melenyapkan) penyakit cacar (cow pox) dari muka bumi. Pada tahun 1975, dunia dinyatakan bebas cacar (bukan cacar air lho, beda virusnya). Sekarang yang sedang diusahakan adalah mengeradikasi polio dari muka bumi ini. Kesuksesan vaksin polio dalam melindungi serangan virus tsb mencapai 100%. Vaksin sendiri merupakan salah satu preparat farmasi yang berisi agen patogen (misalnya virus dan bakteri) yang dimatikan, dilemahkan, atau berisi bagian dari agen patogen tersebut (misal dinding sel, protein dsb). Pemberian vaksin bertujuan untuk memicu tubuh menghasilkan antibodi terhadap agen patogen yang dimaksud tanpa menimbulkan penyakit seperti jika tubuh terkena penyakit dari patogen tersebut (=klo kita divaksin polio, maka tanpa terserang polio tubuh kita sudah punya antibodi terhadap virus polio, dan sewaktu-waktu jika ada virus polio yang masuk ke tubuh, antibodi itu akan menghancurkan virus tsb sehingga kita gak kena polio).

*****

Waktu paro antibodi yang dihasilkan oleh tubuh terhadap virus polio di dalam OPV (oral polio vaccine) mencapai 3000 tahun (trolololo). Sedangkan antibodi terhadap virus cacar dari vaksin cacar memiliki waktu paro 90 tahun. Artinya antibodi yang dihasilkan oleh kedua jenis vaksin tersebut sangat stabil sehingga vaksinasi hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup.

*****

Namun sayangnya tidak semua vaksin memiliki angka keberhasilan proteksi 100%. Vaksin BCG (pencegah TBC), misalnya, hanya memiliki nilai keberhasilan/kemanjuran 0-80%. Pada populasi di Georgia, Amerika Serikat, angka keberhasilan vaksin ini 0%. Namun pada populasi di Inggris, nilai kemanjurannya 80%. Di Indonesia? Seperti biasa belum ada data -__________-  Kenapa perbedaan respon orang terhadap vaksin ini bisa terjadi? Semuanya tergantung gen kita. Vaksin ini dibuat dari bakteri Mycobacterium bovis, bakteri yang menyebabkan  TB (tuberkolosis) pada sapi namun tidak menyebabkan TB pada manusia. Protein dinding sel bakteri tsb mirip dengan protein dinding sel Mycobacterium tubercolosis (yang menyebabkan TB pada manusia). Diharapkan sistem imun kita akan mengenali protein dinding sel tersebut, kemudian menghasilkan antibodi yang bisa mengenali Mycobacterium tubercolosis juga. Namun berhubung kita semua merupakan mutan (dalam artian profil genetika kita unik dan berbeda-beda satu sama lain), maka ada orang yang bisa menghasilkan antibodi jika diberi vaksin tsb, ada juga yang tidak.

*****

Bagaimana dengan kontroversi tentang mudharat vaksin? Ada beberapa kasus yang memicu hal tsb, antara lain vaksin rotavirus yang menyebabkan penyumbatan saluran cerna sehingga vaksin tsb ditarik dari peredaran. Kemudian pernah dilaporkan seorang anak meninggal setelah diberi virus DPT (vaksin kombinasi pencegah Difteri, Pertusis dan Tuberkolosis). Hal ini dapat disebabkan karema vaksin DPT dibuat dari bakteri pertusis, dimana bakteri tersebut memiliki lipid A pada dinding selnya. Lipid A merupakan suatu pirogen kuat, dapat menimbulkan demam sampai 40 derajat celcius dan mengakibatkan kematian. Sekarang telah dikembangkan vaksin DaPT ("a"-nya berarti "acellular"). Dalam vaksin DaPT, bakteri diganti dengan glikoprotein yang memiliki aktivitas imunogenik sama dengan bakteri utuh. Glikoprotein ini bukan pirogen sehingga tidak menyebabkan demam. Sayang harganya 10x lipat vaksin DPT biasa 

*****

Pernah juga dilaporkan kasus seorang anak terkena polio beneran setelah divaksin dgn OPV (oral polio vaccine, vaksin polio yang ditelan itu, kayak pas zaman kita TK). Well, OPV dibuat dari virus polio yang dimutasi. Virus polio wild type (yang asli, gak dimutasi) hidup di mukosa usus manusia dan dapat menembus sel usus, kemudian menimbulkan penyakit. Virus polio yang digunakan dalam pembuatan OPV dimutasi sehingga tidak bisa menembus mukosa usus. Lantas kalau dia tidak bisa menembus mukosa usus, bagaimana bisa memicu pembentukan antibodi? Ingat mucosal immunology (kuliahnya bu Retno, PhD, buat yang udah ambil Rek.Antibodi sih). Sel dendritik bisa mengambil virus diluar sel usus kemudian mempresentasikannya ke sel B dan sel T, kemudian sel T akan menghasilkan antibodi. Antibodi yang dihasilkan karena respon imun thd virus umumnya memiliki waktu paruh yang lama, umumnya bisa sampai seumur hidup. Karena itulah OPV dapat melindungi dari polio dengan tingkat keberhasilan 100%. Namun ingat, virus polio dalam OPV itu merupakan virus yang dimutasi, yang mana memiliki perbedaan 1 jenis asam amino dengan virus wild type. Kemungkinan terjadinya mutasi balik, yaitu virus yang sudah dimutasi itu kembali lagi sifat virulensinya alias menjadi virus wild type yang dapat menimbulkan polio, selalu ada. Oleh karena itu, sangat mungkin seorang anak yang menerima OPV justru terkena polio. karena itulah, di Amerika sekarang OPV gak dipakai lagi. Sebagai gantinya dipakai virus polio yang dimatikan dan diberikan melalui injeksi (injeksi intramuskular ya harusnya?).

*****



Vaksin dibuat dari patogen yang dimatikan, dilemahkan atau dari bagian tertentu patogen tersebut. Untuk yang dibuat dari patogen yang dimatikan, bahan tambahan yang digunakan untuk mematikan patogen antara lain adalah formaldehid. Menjelang tahap akhir pembuatan vaksin, formaldehid dipisahkan dari vaksin tersebut, namun jejak atau sisa-sisa (traces) dari  formaldehid dapat tersisa di vaksin tersebut. Nah, kata berita, formaldehid ataupun formalin (larutan formaldehid dalam air) berbahaya bagi kesehatan? Tahukah anda bahwa sebenarnya, secara normal darah kita mengandung formaldehid dalam kadar 6-10 ppm. Secara alami, makanan yang kita konsumsi sehari-hari mengandung formalin: kerang hijau, daging yang dibakar, bahkan sayuran. Demikian juga kain yang kita pakai untuk pakaian, diproses pula dengan formaldehid. Sebenarnya, formaldehid di dalam tubuh cepat dieksresi (dikeluarkan) dan penelitian pada ayam membuktikan bahwa formaldehid tidak diakumulasi di dalam otot, hepar, kulit dan telur. Formaldehid berbahaya jika masuk ke tubuh melalui pernafasan, bisa menyebabkan kanker nasofaring (walaupun hal ini juga membutuhkan waktu yang lama, bisa sampai 40 tahun). Formaldehid juga berbahaya jika uapnya terkena mata, karena bersifat iritan. Walaupun begitu, sekali lagi, formaldehid dalam vaksin tidak perlu dikhawatirkan karena kalaupun ada, kadarnya pastilah sangat kecil sekali. Jauh lebih sedikit daripada yang terdapat di dalam sate atau daging asap.

*****

Selain formaldehid, zat tambahan lain pada vaksin yang dikhawatirkan menyebabkan efek buruk adalah timerosal. Timerosal digunakan sebagai pengawet, merupakan suatu senyawa merkuri organik dan sulit dieksresi dari tubuh. Padahal, kalau seseorang divaksinasi lengkap dari sejak ia lahir sampai akil baligh, ia  akan menerima 70 vaksinasi sehingga jumlah timerosal yang masuk ke tubuhnya lumayan banyak. Diduga timerosal memicu timbulnya autis pada anak sehingga sekarang tidak digunakan lagi. Namun anehnya, walaupun sekarang timerosal sudah tidak digunakan lagi, prevalensi kasus autisme pada anak tidak berkurang. Logikanya, timerosal tidak memicu autis. Lantas kenapa kasus autisme masih ada? "Kurang perhatian dari orang tua mungkin?" (Kata dosenku).

*****


Tujuan vaksinasi sendiri adalah agar tubuh kita menghasilkan antibodi terhadap suatu penyakit tanpa harus terkena penyakit itu. Setelah antibodi terbentuk, tubuh mampu menghancurkan patogen penyebab penyakit. Pada sebagian besar kasus, manfaat vaksinasi masih lebih besar daripada mudharatnya, apalagi jika kita hendak memasuki daerah endemik penyakit tertentu. Untuk keselamatan diri sendiri kita harus divaksin terlebih dahulu. Begitu juga tenaga kesehatan yang hendak memasuki rumah sakit dan berinteraksi dengan pasien hendaknya divaksin hepatitis B (karena hepatitis B sangat mudah menular, antara lain melalui alat makan yang dipakai bersama). Namun seperti biasa kita harus kritis memilih vaksin yang hendak kita masukkan ke tubuh. Vaksin rotavirus misalnya. Vaksin yang ditujukan untuk mencegah diare karena virus ini menghasilkan antibodi yang hanya mampu bertahan selama 6-12 bulan. Kecuali kita hendak memasuki daerah endemik diare, vaksin ini tidak diperlukan. Toh melalui makanan kita sehari-hari, mungkin kita sudah terpapar virus itu dan sudah punya antibodi terhadap rotavirus. Vaksin HPV (Human Papiloma Virus) yang ditujukan untuk mencegah kanker leher rahim hanya efektif jika diberikan pada anak wanita berumur 9-16 tahun. Kenapa? Setelah menginjak usia 16 tahun, kemungkinan seseorang sudah pernah terpapar HPV sehingga sudah punya antibodi terhadap HPV. Namun sebagian besar orang yang terpapar HPV tidak menunjukkan gejala, terutama orang yang kekebalan tubuhnya bagus. Karena itu vaksinasi HPV pada gadis remaja berumur lebih dari 16 tahun perlu dikaji lagi manfaatnya mengingat biayanya yang tidak murah.

*****


07/05/12

Cerita si Glisin


Aku merupakan suatu senyawa organik. Menurutku tidak ada yang spesial pada diriku, hanya aku memiliki dua bagian tubuh yang berlawanan satu sama lain. Salah satu dari mereka dapat melepaskan hidrogennya. Sebaliknya, ada bagian tubuhku yang dapat menangkap hidrogen. Namun kedua bagian tubuh itu kumanfaatkan untuk bergandengan dengan tetangga sejenisku, prolin dan hidroksiprolin. Seperti senyawa organik pada umumnya, aku disusun dari atom karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Ada juga sih anggota keluargaku (keluargaku artinya senyawa-senyawa lain yang katanya strukturnya mirip struktur molekulku), yang punya atom sulfur. Ah, tentang ini sih, bukan urusanku. Tuhan menyuruhku begini, aku ikut saja. Meskipun tidak punya atom sulfur, aku tetap bersyukur sudah ditakdirkan menjadi diriku seperti ini. Dalam kehidupan kali ini, Tuhan Menyuruhku untuk ikut andil dalam menyusun kulit seekor sapi. Sapi itu disembelih setelah seumur hidup diambil susu dan disuruh kawin untuk kemudian diambil anaknya (setelah mati pun ia masih akan dimakan dagingnya, kasihan betul). Kulitnya pun tidak ketinggalan pula diambil seorang lelaki paruh baya dan diangkut ke sebuah bangunan yang besar sekali. Di sanalah kulit si sapi, berarti ada aku di dalamnya, diolah menjadi gelatin.

Ah, jangan tanyakan tentang proses pengolahannya. Rasanya panas dan sakit. Untung aku masih bisa bertahan. Aku pun terpisah dari tetangga-tetanggaku, yang tidak lain merupakan keluargaku juga. Sebagian besar dari kami masih hidup, namun ada juga yang mati alias terdegradasi. Kampung kami yang awalnya solid, berupa struktur triple helix yang megah, tercerai berai menjadi rantai yang tidak beraturan. Ada yang menjadi rantai tunggal (para ilmuwan menyebutnya rantai alfa), ada yang berupa rantai tunggal (disebut rantai beta), ada juga yang masih berupa triple helix namun tidak lagi beraturan seperti dulu (rantai gama), namun jumlah rantai gama sangat sedikit. Aku sendiri pasrah saja ketika nasib menghantarkanku berada pada salah satu rantai alfa. Masih bersyukur aku tetap berpegangan tangan dengan prolin dan hidroksiprolin. Sebelum diolah menjadi gelatin, selain bergandengan denganku, si prolin dan hidroksiprolin sebenarnya berpacaran dengan molekul tetangga di rantai lain atas jasa baik sebuah mak comblang, yaitu molekul air. Namun nasib molekul siapa yang tahu, proses pengolahan yang tidak berkeperimolekulan itu memisahkan cinta mereka. Sekarang siapa yang tahu keberadaan kekasih mereka. Jangan-jangan mereka sudah mati. Ah, sudahlah. Yang penting jangan pernah sebut-sebut kejadian itu lagi, kasihan mereka. Namun kami para molekul memang tegar dan menurut saja apapun yang Diperintahkan Allah. Apapun yang terjadi, yang penting tetap lakukan apa yang kami bisa. Itu saja.

Setelah menjadi gelatin, pekerjaanku hanyalah duduk manis dalam sebuah stoples plastik. Suatu pagi kucuri dengar pembicaraan manusia dalam bahasa Inggris, mereka berkata bahwa aku akan dikirim ke Indonesia. Maka dimulailah hari-hariku melintasi benua. Sayang stoplesku kedap cahaya, begitu pula kardus dan kontainer peti kemas yang digunakan untuk mengangkutku. Aku jadi tidak bisa melihat-lihat jalan. Setelah berhari-hari terus diguncang-guncang, akhirnya aku berakhir di sebuah lemari tua, di sebuah ruangan tua yang menyeramkan. Setelah beberapa hari merenung dan bertanya-tanya akan jadi apa aku nantinya, kurasakan bumi tempatku berdiri berguncang. Rupanya ada seorang manusia yang memindahkan stoples tempatku berada. Masih kuingat saat ia membuka stoplesku, kemudian membawaku keluar. Ia memindahkanku di atas kertas. Oh, rupanya ia sedang menimbangku. DI sebelahnya ada seorang manusia juga, mungkin temannya. Melihat kulit para manusia, aku jadi sedih. Aku ingat masa laluku sebagai penyusun kulit sebuah makhluk juga, meskipun beda spesies. Ah sudahlah. Mungkin ia akan memerlukanku untuk penelitiannya, siapa tahu aku masih bisa berguna.

Setelah itu ia memasukkanku dalam sebuah wadah kaca. Bukan, bukan stoples, karena wadah ini sempit sekali, alasnya pun tidak rata melainkan berupa setengah lingkaran. Kemudian ia mengangkat wadah ini dan menuangkan sesuatu. Sekonyong-konyong kulihat sebuah hidrogen nemplok dengan seenaknya ke ujung amina milik alanin, yang kali ini mengalami nasib sial. Kenapa pula aku yang berada di pinggir? Mungkin begitu keluhnya. Manusia itu menggojog wadah kaca dan kini hampir semua gugus amina, hidroksil dan segelintir sulfohidril menggandeng sebuah hidrogen. Hidrogen tampak puas, sebaliknya molekul yang ditempelinya pasrah saja. Seperti sudah kukatakan tadi, kami para molekul menurut saja dengan ketentuan dan nasib yang sudah digariskan Allah.

Kemudian ia memasukkanku ke sebuah kotak yang bau dan becek dimana-mana. Klek! Ia mengunci pintu kotak dan kemudian sekelilingku menjadi gelap. Dimulailah petaka itu. Secara cepat dan pasti aku merasakan peningkatan panas yang luar biasa. Tekanan juga naik. Prolin dan hidroksiprolin kurasakan makin renggang dariku. Panas sekali…aku tidak tahan. Akhirnya kami bertiga terpisah. Kulihat glutamin disana, lebih mengkhawatirkan nasibnya dariku. Segera setelah ia lepas dari tetangganya, tubuhnya menekuk seperti sangat kesakitan.  Ia tersiklisasi, artinya ia akan menjadi cacat dan tidak akan diakui lagi oleh keluarga kami. Beberapa molekul lain pun mulai gelisah, beberapa diantaranya kacau, menyerobot bagian tubuh molekul yang lain, semisal metionin, ia menyerang sesamanya, membentuk raksasa metionin sulfonat yang tampak besar dan mengerikan. Sesama pemilik atom sulfur, sistein, tak mau kalah. Ia membentuk tandingan, raksasa sistin. Suasana kacau balau. Ada juga yang tubuhnya rusak permanen, dan seperti nasib glutamin, ia tidak akan diakui lagi sebagai keluarga kami, keluarga asam amino. Ahhh, aku mulai melantur begini, rasanya aku hampir tak kuat. Aku terus berusaha bertahan. Namun kalaupun aku harus mati, aku ikhlas.

(12 jam kemudian)

Tiba-tiba suasana menjadi lebih tenang. Sepertinya tekanan mulai menurun, demikian pula suhu disini. Suasana di dalam wadah sempit ini lebih mirip suasana selepas peperangan. Molekul teroksidasi bergelimpangan di dasar wadah, membentuk kerak hitam, bagai tumpukan mayat. Merinding aku melihatnya. Ada juga yang rusak, sehingga tidak dapat kukenali siapa dia dahulu.

Aku sendiri, sendirian. Benar-benar sendirian. Sejak pertama kali aku lahir (maksudku ditranslasi), aku segera digandengkan dengan prolin dan hidroksiprolin. Entah dimana mereka sekarang. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Ada atom hidrogen melekat di gugus aminaku, ia turut kemana saja aku melayang-layang di dalam wadah ini. Aku tidak peduli. Di sekitarku juga ada banyak asam amino yang masih selamat sepertiku, bahkan ada pula yang masih bergandengan satu sama lain. Melihat mereka masih saja bergandengan mesra, aku jadi teringat, dimana prolin dan hidroksiprolin? Ah, belum pernah aku sesendiri ini.
Manusia yang kemarin memasukkanku dalam kotak penyiksaan yang bau dan becek itu mengambil wadah kecil tempatku berada. Aku tidak peduli. Ia kemudian menuangku ke dalam wadah yang lebih besar dan meneteskan sesuatu. Tiba-tiba kulihat ion-ion hidroksil, berenang-renang menggoda ion hidrogen yang menempel di gugus aminaku. Kurasa hidroksil jauh lebih menarik daripada diriku karena si hidrogen tadi segera meninggalkanku untuk bergabung bersamanya. Ah, memang sudah nasibku sendiri begini.

Belum selesai lamunanku, ia meneteskan lagi sejumlah cairan melalui pipa aneh yang meruncing ujungnya. Kulihat ion-ion timbal dengan ganas segera berikatan dengan rangkaian asam amino yang masih saja bergandengan satu sama lain walaupun sudah dipanaskan. Segera terbentuk endapan putih, menyeramkan sekali. Sepertinya ia marah karena rangkaian asam amino itu tidak mau menurut saja dan melepaskan gandengan satu sama lain saat dipanaskan tadi. Dengan ganas ia masih mencari-cari rangkaian asam amino yang membandel, namun mendadak ia tenang setelah manusia tadi memasukkan asam oksalat melalui pipa aneh lain yang lebih kecil dari pipa aneh tadi.

Kemudian manusia itu memasukkanku ke dalam sebuah alat dan dari ujungnya yang seperti gasing, aku keluar setelah melewati saringan berukuran pori kecil. Kecil sekali porinya, endapan putih dan kerak (mayat-mayat keluargaku T,T) tidak dapat melewatinya. Namun aku dapat lolos dengan mudah dari saringan itu. Sekarang aku berada dalam tabung plastik kecil yang lucu. Di sinilah aku dapat melihat dengan jelas, keluargaku. Setelah kuamati satu persatu, mereka semua ada, kecuali glutamin. Membayangkan nasib glutamin tadi, aku bergidik.

Manusia itu kemudian memindahkanku ke sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat. Kemudian, ia memasukkan sesuatu. Kulihat sebuah molekul yang begitu cantik, belum pernah kulihat ia sebelumnya selama hidupku. Ia memperkenalkan diri orthoftalaldehid. Melihat atom karbon karboksilnya feminin, atom nitrogenku tak dapat menahan diri untuk menggodanya. Sebenarnya ia masih memiliki satu atom karbon karboksil lagi, yang tak kalah feminin dan menarik untuk kuincar, namun apa daya nitrogenku hanya satu. Pun aku tak punya gugus lain yang cukup jantan untuk menyerangnya. Tiba-tiba sebuah molekul lain muncul, tanpa basa-basi ia memperkenalkan diri sebagai 2-merkaptoetanol dan menawarkan atom sulfurnya untuk berikatan dengan OPA. Tanpa malu-malu, si OPA, demikian panggilan sayangku padanya, menerimanya dengan suka cita. Aku tidak tinggal diam, aku pun bereaksi dan tahu-tahu kami bertiga telah bergandengan. Namun agak berbeda dengan gandengan tanganku bersama prolin dan hidroksiprolin dahulu, sekarang kami melebur menjadi satu molekul yang kaku. Aku tak dapat bergerak bebas. Yah, nasib molekul siapa yang tahu. Gara-gara kepincut dengan kecantikan si OPA aku jadi begini. Ya sudahlah.

Kemudian melalui sebuah benda yang aneh, aku disedot dan disuntikkan ke sebuah benda besar berbentuk elips. Rupanya benda itu terdiri atas bola-bola yang berukuran seragam dan diiisikan ke sebuah pipa. Permukaan bola itu berupa silika yang dilapisi rantai karbon, masing-masing berjumlah 18 buah, sehingga tampak berekor. Ada juga silika yang hanya ditutupi gugus hidroksil. Melihat rantai karbon yang lucu itu, aku jadi tertarik untuk bergandengan dengannya, karena ada bagian molekulku yang juga bersifat sama dengannya, sama-sama takut air. Molekul sejenisku pun ikut berikatan. Walaupun mereka sudah bergabung dengan OPA dan 2-merkaptoetanol, aku masih dapat mengenali mereka: asam aspartat, asam glutamat, asparagin, serin, sistein, treonin, histidin, metionin, alanin, arginin, triptofan, valin, leusin, isoleusin, dan lisin. Turunan asam aspartat, asam glutamat, dan asparagin tampak kurang antusias bergandengan dengan rantai karbon itu, namun sebaliknya kulihat turunan valin, leusin dan isoleusin terlihat sangat gembira menggandeng rantai karbon itu dengan mesra. 

Belum sempat aku mengamati lebih lanjut, tiba-tiba kami diguyur suatu cairan. Tak ambil waktu, asam aspartat kepincut dengan cairan itu dan segera melepaskan rantai karbon yang tadi dipegangnya sambil malas-malasan. Asam glutamat segera mengikuti, diikuti asparagin, serin, sistein dan histidin. Setelah histidin pergi, cairan itu menarikku. Metanol dalam cairan itu menyuruhku untuk melepaskan peganganku dengan rantai karbon yang kupegangi. Ternyata di dalam cairan itu ada pula ion asetat. Wah, aku jadi ragu. Sebenarnya aku nyaman-nyaman saja berikatan dengan rantai karbon ini, tapi metanol terus memaksaku. Ternyata ada molekul lain yang berpikiran sama denganku. Dari strukturnya, aku tahu kalau ia turunan treonin. Makin lama, makin banyak metanol yang memaksaku. Aku pun menyerah. Dengan berat hati kuucapkan perpisahan pada rantai karbon tadi. Ia tampak sedih tapi seperti atom dan molekul lain di muka bumi ini, ia pasrah saja. Turunan treonin pun menyusulku, ia juga tidak tahan terus dirongrong oleh metanol. Kami mengalir bersama-sama.

Sekarang ada sebuah lampu yang menyorotkan cahaya padaku. Aku pun tereksitasi dan energiku naik. Beberapa saat kemudian, tak dapat kutahan, aku ingin kembali seperti semula. Keadaan ini tidak nyaman. Ah! Akhirnya berhasil, aku berhasil turun satu tingkat. Namun ini belum cukup. Aku harus benar-benar kembali seperti semula. Dan aku terkejut menyadari bahwa ketika aku berusaha menurunkan tingkat energiku lagi, aku memancarkan sinar juga. Sinar ini berbeda dengan sinar tadi, lebih kecil energinya, namun aku bersinar! Kulihat sebuah alat menangkap sinar itu, maka dengan semangat aku semakin bersinar. Kulihat turunan treonin yang bersamaku sejak keluar dari kolom berisi bola-bola kecil itu juga melakukan hal yang sama. Tidak hanya itu persamaan diantara kami, rupanya kekuatan pancaran sinar kami juga sama.
Dan tanpa kutahu, manusia tadi memandangi layar komputer dengan gembira.

“Eureka! Glisin! Bersama dengan treonin!”

05/05/12

Mengenalmu, Memelukmu

Entah kenapa, melihat draft skripsiku yang cuma dijepit oleh sebuah penjepit hitam besar, ideku jadi meluap-luap.


Mengenalmu

Mengenalmu, kubagai bayi langkahkan kaki tuk menjejak bumi
Mengenalmu, kubagai menaiki bianglala mendaki puncak tertinggi
Mengenalmu, kubagai seorang awak kelasi
Mernerka bintang-bintang dalam rasi
Mengenalmu, kubaca konstelasi sempurna karya Ilahi
Mengenalmu, takkan pernah kuselesaikan sepanjang hidupku
Karena setiap kali menatapmu, seperti kujumpai sesuatu yang baru <3




Terus, mungkin ia akan membalas puisiku, dengan puisi juga seperti ini:


Memelukmu

Aku tak tahu kapan
Kapan akan ada hal lain yang akan mengalihkan energi dan waktumu untukku
Aku juga tak tahu kapan
Kapan kau akan merasa bosan dan meninggalkanku
Yang aku tahu, aku ingin memelukmu, lama
Selama mungkin
Dengan jiwaku
Selama kau mau, selama kau mau
Selama kau masih mau aku <3



Hehehe....bohong juga sih kalau inspirasi untuk menulis kedua puisi itu HANYA dari skripsi aja. Tapi pas, kan dengan situasi dan kondisi di semester delapan yang aneh ini? :)

17/03/12

Endorphin Surge (Exercising Makes You Feel Great)

Hmmm, i think i had an endorphin surge today today :D
(surge here means sudden increase, not fluctuation)  

What is endorphin, you may ask? 
Endorphin is one of many substances found in our body that acts as neurotransmitter. Means, endorphin's function is to deliver nerve signal in our body. If endorphin binds with its specific receptor, it creates effect resembling opiates' effect. Yeah, i talked about opiates that includes morphine and heroine. Similar to those two opiates, endorphin creates an analgesic effect and a "feel-good" feeling in our body. The name endorphin itself comes from two words: ENDOgenous and MORPHINe, means endorphin is a morphine-like substances produced by our own body. Thanks to Allah the Merciful, it doesn't create an addiction like any exogenous opiate does.

Endorphin's production in human's body are influenced by few things, some of them are exercise, pain, loving someone, sex, and eating spicy food. Pain? Yes. According to Wikipedia, immediately after injury happened, endorphin is released to the blood stream to stop nerve cells from releasing more pain signal. This allows the organism to be in control with him/herself and continues with his/her activity for a period of time. Hmmm, let me think...I remembered a few days ago when some skin in my hand was burnt by my motorcycle's tailpipe and immediately after the burnt i didn't feel anything. I just reflectively pulled my hand from the tailpipe and the first thing i could think is to cool my hand, so i put my hand below a running water. After a ten minutes or so, i began to feel the stinging pain T,T 
So, i think i believe that for a minutes after the burnt happen, the endorphin takes control, therefore i didn't feel any pain for the first few minutes.

The easiest and simplest way to achieve increasing endorphin production for me, though, is by exercising. With a serious exercising, i can feel great with no obvious reason but endorphin surge. The last endorphin surge i can recall before today is the afternoon when i did yoga for the first time. Mmm, i know most yoga's poses for beginners look easy to do because they are so light and seem relaxing instead. The instructor tell us not to force our body, just do the pose as our body can afford it. If our body can't, just do as what we can. With regular exercise, our body's ability will be increased. But, after about one and a half hour of doing yoga, i was drenched in sweat. And in the last minutes of yoga, the relaxation part, suddenly i felt great. I don't know why, my body felt just great. Like i got an awesome present or achieve something great, but i didn't. One word to describe that: Endorphin surge.

The "feel-great" feeling after doing that yoga session lasted quite long, even after i slept on it overnight. The morning after that, i still felt kind of great, although not as intense as the day before. The endorphin must had been metabolized by my system and the "feel-great" feeling slowly diminished. Too bad, my second and next yoga sessions didn't generate the same effect. Maybe because i didnt' enjoy the poses practiced, or because i didn't go with my friend, i don't know.

Today, though, i feel the endorphin surge again. So, after come to an event in my campus, i went to mechanic to get my motorcycle checked and the oil lubricant changed. Turned out i had to wait for a quite long time because the mechanic had many works to be done. I decided to have a walk to a supermarket to buy some fruit. In a lazy days, i would use public transportation and sit in the seat nearest to the bus door, then let my mind wandering while i watch the road. But today i wanted to take a walk. It took about 25 minutes to walk from the mechanic to the supermarket. I walked slowly and observed things. Too bad my camera was out of order so i couldn't take pictures of that cute cat i met and a demonstration held by some college student near traffic light. I met two seniors on the way and had a conversation. Nothing to hurry, right? The mechanic said that it might take a long time before i could get my motorcycle done. 

After bought some fruits, i walked back to the mechanics. Took another 25 minutes but i chose a different route. And in the way back to the mechanic, i felt it! Endorphin surge! Slowly my body felt great. I hummed happily, but slowly that i am sure nobody would hear except myself. Everything looked great. I found a kind of flower that grown in my former house when i was a little girl, about 4 or 5 years old. I touched the flower when i was little, it felt so hairy but interesting to touch, in a non hurtful way. I remembered there were white and pink flowers in front of my former house, but this afternoon i just found the pink one. I stopped for a moment to touch the flower, wow, it felt the same like when i was little (zzz, you don't say Lia??? Haha, of course it does!).

Yeah, i still feel awesome. Hmm, i am going to sleep now, ready to metabolize this precious endorphin. Maybe this is how being on drug feel like? Why being addicted of illegal things if you can achieve the same effect just by exercising? Let's get a weekly dose of our endorphin by exercising!
*a motivation for myself*

08/02/12

Mimpi

Aku pernah baca kalo manusia itu sebenarnya sering sekali bermimpi ketika tidur. Namun begitu kita bangun, mimpi itu segera dilupakan sehingga kita tidak ingat tahu dan tidak ingat kalau sebenarnya kita bermimpi (pertanyaan nomor 1: kok tahu? gimana cara menelitinya sehingga bisa dapat data itu? apakah alat untuk "mengintip" mimpi orang lain sudah ditemukan? hehe).

Tapi bersyukur juga ding karena kita bisa melupakan mimpi-mimpi yang kita alami ketika tidur. Soalnya, kalau buat aku sih, mengingat mimpi itu bisa bikin kepikiran.

Yup yup, mengingat mimpi itu bikin kepikiran. Aku sih agak percaya dengan teori yang bilang kalau mimpi itu salah satu cara otak kita untuk memberi tahu kita apa yang sebenarnya kita inginkan. Untuk dapat menjadi aktor, aktris atau obyek utama dalam mimpi yang akan kita ingat, suatu obyek harus benar-benar penting...maybe? Aku masih ingat salah satu mimpi saat aku masih TK. Salah satu mimpi saat SMP. Hmmm, kalau materi kuliah yang diajarkan dua bulan lalu saja aku lupa, lalu kenapa aku ingat mimpi-mimpi lama itu? Pasti para pemeran utama dalam mimpi itu penting banget.

Nah, akhir-akhir ini aku mengalami mimpi yang jelas banget. Malah di mimpi terakhir, aku sadar kalau aku ngimpi terus terbangun. Eh pas ketiduran lagi, mimpinya berlanjut. Bener-bener kayak film deh. Settingnya juga bagus lho, artistik gitu. Tapi pas bener-bener bangun dan 100% sadar (enggak lanjut tidur lagi) aku jadi mikir: Wah, ternyata sekeras apapun kita meyakinkan diri sendiri, dan mungkin orang lain, tapi sebenarnya kita tidak bisa membohongi diri sendiri. 

Actually we know exactly what we want. But sometimes we just repress it so it would be more acceptable and 'logic' for others, for our pride, or maybe for our 'idealism'. We can't run from our mind anyway, one that keeps remembering what we exactly want (me, 2012). 

Fakta-fakta tentang mimpi yang aku ingat (lagi males tanya om Google, so cek sendiri kebenarannya ya, siapa tahu aku salah ingat):
  1. Segala sesuatu tentang mimpi kita tidak muncul begitu saja. Sebenarnya kita sudah pernah melihatnya di dunia nyata. Jadi settingan mimpiku yang artistik kemarin itu bukan karena aku orang yang berjiwa seni tinggi, tapi sebenarnya aku sudah pernah melihatnya sebelumnya...setelah aku ingat-ingat ada salah satu tempat di mimpiku yang mirip dengan kolam dan taman di dekat PT.San*e Farma Steril di Padalarang, Bandung (salah satu destinasi KKL-ku kemarin, walaupun mimpiku ini enggak ada hubungannya sama sekali dengan KKL). Aku pernah baca kata-kata seorang ahli mimpi, intinya "the face you see in your dream, maybe he's the person you met in the street when you were little". Otak kita tidak membuat file baru di mimpi, cuma membuka folder aja, hehe.
  2. Orang buta juga bermimpi. Mimpi mereka muncul sebagai sensasi bau, rasa, sentuhan, dan suara.
  3. Otak mengatur tubuh kita agar kita tidak bergerak dengan lebai ketika bermimpi, so sebenarnya saat tidur kita mengalami paralisis alias kelumpuhan.
  4. Kita melupakan sebagian besar mimpi kita. Kalaupun saat bangun tidur kita bisa ingat mimpi kita, besar kemungkinan setelah beberapa jam kita akan lupa mimpi itu.
  5. Mimpi manusia-manusia di bumi ini ternyata mirip: mimpi jatuh/terpeleset, memimpikan orang dekat meninggal, mimpi terlambat, dan mimpi yang terkait seksualitas.
  6. Lingkungan luar mempengaruhi mimpi. Suara, sentuhan, dan bau dari luar bisa masuk ke mimpi kita. Otak bisa mengarang skenario dadakan untuk meyakinkan kita bahwa goyangan-goyangan dari tangan orang lain saat membangunkan kita adalah sentakan dari ular yang berusaha mematuk hidung kita (ini pengalaman pribadiku sendiri, mimpi dipatuk-patuk ular saat sedang dibangunkan). Pernah juga aku mimpi lagi mendengar suatu lagu, eh ternyata emang adikku lagi menyetel lagu itu keras-keras.
  7. Keadaan internal tubuh kita juga mempengaruhi mimpi kita. Misal kita haus, kita bisa mimpi sedang minum air. Saat bangun, waaa hausnya luar biasa alias ternyata kita haus beneran (pengalaman pribadi juga ini). Pernah juga mimpi pingin pipis tapi begitu nemu toilet enggak bisa pipis, ternyata saat bangun aku butuh ke toilet beneran alias kebelet banget, hehe.
Weird but interesting, right?