06/10/09

Study Oriented

Study oriented, Emang Kenapa?

Study oriented?
Hmmm...
Apakah itu?
“Study oriented banget sih, nggak mau (ikut) organisasi!”
“Apa gunanya IP segitu kalo selama kuliah cuma SO (study oriented)”
“Yakin nggak peduli ma nilai IP? Berarti nggak study-oriented dong lo? Ikut organisasi kalo gitu, biar gue percaya!”
Study oriented. Study artinya belajar. Oriented itu kalo diterjemahin jadi “berorientasi”. Study oriented ya artinya berorientasi pada (kegiatan) belajar. Dalam hal ini, kegiatan perkuliahan di perguruan tinggi. Perkuliahan itu meliputi kuliah, bikin tugas, praktikum (buat anak-anak dari jurusan tertentu), dan segala “turunan” dari semua kegiatan itu. Misalnya kalo praktikum turunannya adalah bikin laporan. Ngikutin kuliah, turunannya adalah ikut ujian, dsb, dst.
Nah, setelah memasuki suatu jenjang pendidikan yang berlabel pendidikan tinggi alias masuk universitas, aku kenal dengan istilah itu. Menurutku, disini orang yang study oriented ditafsirkan sebagai orang yang kerjaannya belajar mulu dan cemas banget akan nilai IPnya. Saking sibuknya belajar dan mikirin IP, orang yang study oriented tuh nggak sempet ikutan organisasi, ekskul, gaul, dan enggak sempet seneng-seneng. Karena semua kegiatan itu ditenggarai akan menyebabkan jebloknya IP mereka. Kenapa yang jadi sorotan adalah IP? Kalau yang jadi sorotan IP, ya seharusnya orang-orang itu dilabelin “IP oriented” dong, bukannya study oriented. Beda tuh.
Menurutku, sudah seharusnya setiap mahasiswa itu study oriented. Mahasiswa, masih ada kata siswa-nya, lho! Jadi meskipun sampean-sampean ini udah boleh petentang-petenteng dengan angkuhnya pake jeans dan polo shirt ke kampus, tetep aja sampean itu masih pelajar! Kerjaan utamanya belajar. Oke, sejarah bercerita bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Dan sejarah nggak pernah bohong, yang bohong itu yang nyeritain. Tapi gimana bisa jadi agen perubahan kalau kita nggak pinter? Kalau bisanya cuma teriak-teriak, sok-sok nggaya pake aksi mogok makan segala (mendingan puasa tau!) sampe bela-belain bolos kuliah yang segala biayanya masih ditanggung oleh orang tua kita? Agen perubahan haruslah seseorang yang pinter, yang cerdas, dan yang mau terus belajar. Kadang-kadang aku mikir, apakah jiwa dan pemikiran para agen perubahan yang bersemayam dalam fisik para mahasiswa itu bisa terus hidup sampai mahasiswa itu meninggalkan bangku kuliah? Atau jangan-jangan setelah mahasiswa itu meninggalkan bangku kuliah, jiwa dan pemikiran penuh idealisme itu juga meninggalkan fisik mereka? (Deu...bahasanya kayak apaan aja!).
Sayang banget kalau itu terjadi. Contohnya, waktu mahasiswa rajin banget demo ke pemerintah, nuntut ini itu, malah sampe pake anarki segala, eh setelah lulus kuliah malah pingin banget diangkat jadi pegawai negeri. Biar masa tua terjamin katanya. Ah, mungkin pemerintah harus bikin database, siapa aja bekas mahasiswa yang gitu. Kita perlu orang-orang loyal buat dimuliakan jadi punggawa negara, kan? Bukannya orang-orang yang cuma ngejar kenyamanan hidup. Kesannya kok maaf, matre dan munafik. Moga-moga aja nggak ada diantara kita yang berakhir seperti itu. Atau pas masih jadi mahasiswa bilang kalo dia tuh anti banget sama perusahaan-perusahaan tipe tertentu (karena masalah idealisme), eh, lha dhalah ternyata end up kerja di perusahaan setipe. Ngejar kemapanan finansial. Wah, aku nggak mau komen lagi deh.
Nah, buat mengantisipasi lunturnya idealisme itu, bukankah seseorang harus cerdas?
Sik-sik, alon-alon yo...
Idealisme sejati, dibentuk dari kecerdasan dan pengetahuan. Bukan dari hasil ikut-ikutan, bukan dari hasil training, bukan dari bujukan (kecuali kalo pake hipnotis, udah deh nggak ngerti aku).
Idealisme semacam inilah yang menurutku akan bertahan sampai orang itu mati. Bukannya luntur seiring lunturnya make up para wisudawati selesai acara wisuda dilangsungkan.
See, mahasiswa harus pinter. Dan sayangnya nggak semua orang dilahirkan dengan kemampuan otak yang diatas rata-rata. Sebagian besar orang dilahirkan dengan kecerdasan rata-rata. Karena itulah ada istilah “rata-rata”. Ngerti kan? Tapi Allah maha adil, ada jalan lain untuk menjadi pinter. Apa itu? Sinau! Belajarlah. Dari mana saja. Dari lingkungan sekitar. Dan balik ke topik awal, karena kita masih mahasiswa, belajarlah dengan baik di perguruan tinggi kita. Serap ilmu sebanyak-banyaknya dan tentukanlah idealisme yang akan kita bawa sampai mati. Menurutku idealisme itu nggak usah lah muluk-muluk. Bahkan sikap sederhana kayak “nggak mau nyontek saat ujian, soalnya nyontek adalah salah satu pencetus budaya malas dan suka yang instan-instan” pun udah bisa dikatakan sebuah idealisme.
Huff...
(capek)
Itulah menurutku pentingnya belajar.
Aku sendiri mendefinisikan diri sebagai orang yang study oriented. Tujuan utamaku di perguruan tinggi itu belajar ilmu farmasi, nggak kurang dan nggak lebih. Pokoknya gimana deh caranya biar nanti pas lulus dan jadi farmasis aku bisa nyumbang kemampuan buat bantu orang lain, bukannya malah bikin keadaan tambah susah buat orang lain (misalnya : salah formulasi, salah baca resep, salah ngasihin obat, dan salah-salah yang lain). Maka dari itu, menurutku, kalau buat aku, aku harus fokus dan bener-bener berorientasi pada satu hal itu. Aku bukan orang yang jenius, sekali baca buku langsung mudeng. Sekali diterangin pasti langsung ngerti. Enggak! Aku harus fokus belajar buat mencapai tujuan itu.
Iya, mungkin aneh buat didengar. Apa sih asyiknya sehari-hari kerjaannya cuma kuliah, praktikum, bikin laporan, ngerjain tugas? Hmm...sebenernya sehari-hari juga aku nggak cuma ngerjain 4 hal itu, tapi masih banyak lah kegiatan lain. Buka facebook, bercanda sama temen, shopping, nulis di blog, baca majalah, denger radio, dan aktivitas-aktivitas lain yang aku nikmati. Ya, aku bukan orang yang bisa ngerjain beberapa hal sekaligus dengan baik. Belajar sambil dengerin radio aja nggak bisa. Belajar di meja berantakan aja nggak masuk. Dan kebetulan juga aku ini orangnya lumayan pemales. Hihihi. So, sejembreng aktivitas diatas sudahlah cukup buatku saat ini. Beberapa kali pernah sih diberi kepercayaan jadi panitia kegiatan apa gitu, tapi saat ini aku nggak pingin gabung di organisasi tertentu. Daripada mereka kecewa. Aku bisa bayangin, kalau ada acara di H-1 ujian dan dua-duanya belum beres, aku pasti akan lebih mengutamakan belajar buat ujian itu daripada ngurusin acara. Dalam bahasa yang paling egois, aku akan berkata (dalam hati), “aku masuk kesini buat belajar, tau!”. Dan aku bertekad nggak akan bolos kuliah hanya untuk mengurusi kegiatan-kegiatan itu. Tujuanku jadi asisten praktikum juga buat bantuin orang lain dan biar aku bisa terus belajar. Aku mau nglamar jadi asisten soalnya menurutku jadwal praktikum itu “rapi”. Nggak mungkin hari Sabtu dan Minggu ada praktikum. Nggak mungkin para asisten harus bolos kuliah hanya buat jaga praktikum. Dan alhamdulillah Allah memudahkan jalan buat mencapai tujuan itu.
Oh iya, diatas aku bilang kalau study oriented itu beda sama IP oriented. Aku mahasiswa yang study oriented tapi bukan seorang IP oriented. Hmm....kayaknya dari dulu aku nggak pernah peduli deh sama nilaiku. Aku suka belajar dan aku suka kalo aku mudeng apa yang aku pelajari. Itu aja. Ngapain dibela-belain nyontek segala cuma biar dapet nilai bagus? Orang tuaku enggak pernah minta aku dapat nilai bagus. Seneng juga sih cum laude, tapi kalau nggak cum laude ya udah nggak apa-apa. Orang tuaku juga nggak pernah minta yang aneh-aneh kok. Semester 1 kemarin IPku 3,78 dan semester 2 IPku turun jadi 3,30. Shocking, ya? Awalnya aku takut orang tuaku yang bakalan kecewa, tapi ternyata enggak tuh. Aku sendiri sih nggak merasa terlalu khawatir atau gimana. Menurutku kemampuanku sama aja kok semester 1 dan semester 2. Mungkin semester 1 standarnya masih rendah, jadi dengan kemampuan yang sama dengan semester 2 bisa cum laude. Tapi enak juga kali ya ntar kalo pas diwisuda cum laude, soalnya aku pingin bikin ortuku bangga. Amin...
Aku bangga karena aku seorang yang study oriented! Aku seneng jadi orang yang tahu apa yang bener-bener dia inginkan. Tapi kalo ada yang menjadikan kegiatan berorganisasi atau kegiatan seneng-seneng sebagai poros kehidupan kampusnya, why not? Saya menghormati apapun keputusan anda. Semoga anda tahu apa yang benar-benar anda inginkan! Have a nice day.

Prosentase :
Belajar 67%
Seneng-seneng+santai 23%
Organisasi 10%

Ini saya, bagaimana dengan anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar