20/06/14

Sepotong Ingatan

Rembang, medio 2012.

Jeans cokelat. Blus berbunga-bunga sewarna cokelat juga. Kerudung warna senada. Matahari bersinar terik. Angin menyejukkan di bawah pohon kawista. Buah-buah bulat sewarna kerudungku menggantung di dahan. Daun-daun yang kecil saling bergesek. Pantai di belakang rumah. Polisi tidur dari tambang kapal. Padang rumput.

Rumah makan berarsitektur khas hasil asimilasi Cina-Jawa. Sirup beraroma sedap, manis dan bercita rasa tak biasa, terasa tajam di lidah dan hidung. Bau garam, baru lautan, bau matahari. Deru roda kendaraan-kendaraan besar menggesek aspal. Dokar-dokar menunggu penumpang di pasar. Kelenteng. Jalan-jalan yang mulus dan lebar. Etalase-etalase kaca berisi kain-kain berwarna cerah: biru, kuning, hijau,jingga dan tentu saja, merah.

***

Rembang, akhir 2012.

Rok biru berbunga-bunga. Kaos putih dan kerudung berwarna serupa. Masih di dekat pantai belakang rumah.  Tambang-tambang besar masih siap memaksa siapapun pemakai kendaraan untuk melambatkan lajunya.

Masih di sebuah mobil yang sama, melintasi tempat yang sama. Berisi aku yang sama.

Namun aku membawa buku yang berbeda. Dan aku tidak sedikit pun merasa keberatan.

Langit Rembang makin cerah. Dan aksen khas penduduk setempat membuat mereka terdengar seperti bernyanyi.

***

Rembang, menjelang medio 2014

Tulisan, bagiku seperti halnya perkataan, adalah doa. Karena hanya beberapa hari setelah aku menuliskan Rembang pada tahun 2012, aku berkesempatan untuk mengunjunginya lagi. Tak kusangka, kupikir aku takkan lagi pernah melihat tambang kapal sengaja dibentangkan di jalan.

Warung kecil yang menjual pepes telur rajungan. Kapal-kapal kecil tertambat di dermaga pinggir jalan raya. Kendaraan-kendaraan besar masih saja menderu melintas. Kolam garam, kincir garam dan gudang garam yang tentu saja beraroma garam.

Tak banyak yang berubah dari daerah ini. Aku memakai baju yang sama dengan yang kupakai hampir dua tahun lalu, pertama kalinya aku memasuki jalan di sebelah pasar itu, tempat dokar-dokar kosong menunggu penumpang.

Ingin rasanya memutar waktu menjadi 2 tahun lalu, saat aku dengan penuh rasa ingin tahu memesan jus buah beraroma tak biasa di restoran Jawa-Cina itu dan meminumnya. Saat aku terheran melihat tambang kapal dijadikan polisi tidur.

Saat aku tak membawa buku apapun ~

1 komentar:

  1. masih pada teringat ya?
    kenangan manis dan pahit memang susah dilupakan,
    berkesann

    Gamis Baru :-)

    BalasHapus